
Seorang perempuan berparas cantik itu tersenyum pada pelayan yang membukakan pintu untuknya. Namun pelayan itu hanya menatapnya menelisik dari ujung kepala hingga kaki.
"Danish nya ada Bi?" tanyanya. Perempuan itu adalah Amora. Di pagi buta seperti ini, ia sudah menunjukkan batang hidung di kediaman Danish.
"Maaf Nona, Tuan Danish pergi sejak semalam dan sekarang belum kembali," jawab pelayan itu dengan sopan. Tapi raut wajah perempuan itu seketika asam. Bibirnya sengaja di kerucutkan lalu mencebik.
"Ck! ya udah deh. Saya titip ini ya buat Danish," ucap Amora seraya menyerahkan buah tangan yang dibungkus oleh paper bag berwarna coklat itu kepada pelayan rumah.
Tangan pelayan itu pun terulur untuk menerima buah tangan dari Amora. "Baik Nona, nanti akan saya berikan kepada Tuan."
"Okey, kalau gitu saya pergi dulu." Amora berbalik badan lalu melangkahkan kaki menuju halaman rumah dan pergi dari kediaman Danish mengendarai mobilnya kembali.
Pintu rumah pun ditutup kembali oleh pelayan. Tiba-tiba saja ...
"Hah! Nyonya." Pelayan itu begit terkejut dengan kehadiran Arifa yang kini telah berada di depannya. Entah sejak kapan nyonya nya itu berada di sana, ia berusaha mengatur napas karena jantungnya seakan hampir terlepas.
"Amora sering ke sini Bi?" tanya Arifa dengan raut wajahnya yang datar. Ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak terlihat cemburu.
Ketika napas pelayan itu sudah normal kembali. Barulah ia menjawab pertanyaan dari sang nyonya. "Tidak Nyonya, baru tadi saya melihatnya ke sini. Dulu sewaktu Tuan akan menjadikannya tunangan pun, dia tidak pernah ke sini sama sekali," paparnya sambil menatap Arifa.
Sebab, sejak Arifa tinggal di rumah ini, para pelayan selalu berbicara dalam keadaan kepala menunduk. Ia tidak suka seperti itu, maka dari itu selama yang diajak bicara tidak membuat kesalahan besar padanya, ia menghimbau untuk berbicara sambil menatap.
Bukan karena tidak sopan, tetapi Arifa sangat tidak biasa seperti itu. Baginya semua yang ada di rumah besar ini sama, hanya tugasnya saja yang membedakan.
"Oh." Arifa mengangguk paham lalu pergi dari hadapan pelayan itu hendak menuju kamar tamu kembali.
"Nyonya, mari saya bantu," usul pelayan mempercepat langkahnya untuk menyusul sang nyonya.
Arifa yang masih sedikit tertatih pun menolak dengan halus, "Gak usah Bi, terima kasih ... saya bisa jalan sendiri kok."
"Benar begitu Nyonya?" tanya pelayan yang seakan tidak percaya.
__ADS_1
Arifa pun mengangguk, "Kalau kata dokter, saya harus banyak gerak supaya otot-otot pasca operasi tidak kaku. Lagi pula saya juga harus segera sembuh," ucapnya kemudian.
"Nyonya hebat ya, bisa bertahan dengan Tuan Danish selama ini. Padahal Tuan sangat dingin dan kaku," seloroh pelayan itu. Tanpa dirinya katakan pun, Arifa sudah menyadari itu.
Ucapan pelayan tadi hanya di respon sebuah tawa dari Arifa. "Bukannya pernikahan memang harus saling menerima satu sama lain, benar kan Bi?"
"Iya Nyonya benar, sama seperti saya ... sampai sekarang masih setia dengan suami, walau orangnya telah terbaring tanpa nyawa dibawah liang lahat," ujar pelayan yang tiba-tiba wajahnya menjadi murung.
"Maksud Bibi, udah meninggal?" tanya Arifa memastikan. Pelayan itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Maaf ya Bi, saya gak tahu. Saya turut berduka cita ya," ucapnya lagi. Kali ini pelayan itu pun mengangguk seraya tersenyum.
"Saya juga turut berduka cita ya Nyonya atas kepergian si kecil," kata pelayan itu. Mendengar kata 'si kecil' hatinya terenyuh kembali.
Arifa hanya menghela napas panjang. "Kehilangan itu gak enak ya Bi, hampa," ucapnya kemudian. Rasanya air mata yang sejak kemarin mengalir sudah kering. Ia bahkan tidak mampu lagi menangis, yang beberapa hari ini ia keluarkan dalam diam.
Tidak terasa, keduanya telah berada di depan pintu kamar tamu. Arifa menoleh ke arah pelayan yang ada di sampingnya.
"Bi, minta tolong ambilkan air putih ya. Saya mau minum obat," titahnya. Tubuh perempuan itu masih dalam masa penyembuhan, wajahnya pun masih terlihat pucat.
Bersamaan ketika Arifa memegang handle pintu, saat itu juga Danish baru masuk ke dalam rumah. Perempuan itu mendengar kedatangan suaminya. Namun sayangnya laki-laki itu memilih langsung pergi ke kamarnya yang berlawanan arah dengan kamar tamu tanpa menoleh ke istrinya yang masih berdiri di depan pintu.
"Kamu darimana?"
Pertanyaan dari suara yang sudah ia kenali itu mampu menghentikan langkahnya lalu menoleh tanpa berbalik badan.
"Bukan urusanmu!" tegas Danish kemudian berjalan kembali menuju kamar. Sementara itu, napas Arifa terasa berat dan sesak.
"Kenapa kamu berubah? kenapa kamu berbeda? salahku apa? kenapa kamu sekarang malah menghindar dariku? apa karena kehilangan anak kita, kamu jadi seperti ini? apa ini semua salahku? salah membiarkan anak kita pergi, yang padahal bukan inginku juga?" Arifa bermonolog dalam hatinya, seraya masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur.
Tidak lama berselang, ketukan pintu terdengar dari depan kamar, lalu terbuka. Tampak seorang pelayan dengan membawakan nampan yang berisi segelas air putih dan menghampiri Arifa.
"Ini Nyonya minumnya," ucap pelayan itu sembari menaruh gelas berisi air putih itu ke atas nakas kecil.
__ADS_1
"Terima kasih Bi." Arifa kemudian tersenyum pada pelayan itu.
"Sama-sama Nyonya." Pelayan itu keluar dari kamar sambil membawa kembali nampan kosongnya. Arifa pun segera meminum obat sesuai dengan resep dokter.
Ketika pintu kembali ditutup oleh pelayan tadi dan juga telah selesai meminum obatnya, Arifa meraih ponsel yang ada di atas kasur. Ia mengetikkan nama seseorang pada ponsel itu.
Ternyata Farhan yang akan ia hubungi saat ini. Panggilan telah terhubung, namun tidak ada jawaban. Arifa menghela napas panjang lalu menaruh ponselnya kembali ke atas kasur, lalu membaringkan tubuhnya kembali.
...----------------...
Danish baru saja tiba di kantor. Setelah tadi sempat pulang ke rumah, ganti pakaian lalu langsung berangkat tanpa makan terlebih dahulu. Jangankan makan, untuk berpamitan dengan istrinya pun tidak.
"Rinto ke ruangan saya sekarang!" perintah Danish sambil melangkahkan kakinya ketika melewati meja kerja Rinto.
Sekertarisnya itu langsung berdiri dan mengekor Danish dari belakang.
Brak!
Danish membuka pintunya cukup kencang, Rinto yang ada di belakangnya menunjukkan ekspresi meringis dan takut.
"Pesankan saya makan." Danish duduk di kursi kebesarannya dan menyandarkan tubuhnya di sana.
"Mau pesan makanan apa Pak?" tanya Rinto yang kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Makanan dari negara tirai bambu. Segera! saya lapar sekali." Wajah Danish seketika berubah menjadi garang.
Rinto segera memesan makanannya lewat aplikasi. Setelah itu menunjukkan layar ponselnya kepada Danish.
"Sudah ya Pak .. oh ya Pak boleh saya tanya sesuatu?"
... Bersambung ......
__ADS_1