Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Kembali Ke Asalnya


__ADS_3

Malam yang semakin larut, tak juga membuat sepasang mata laki-laki yang tengah terbaring di atas tempat tidur tidak kunjung terpejam. Perasaannya sangat gelisah dan serba salah. Berkali-kali dia memejamkan mata, tetap saja tidak bisa.


Hanya karena sebuah rasa, Eliezer dihadapkan sebuah pilihan. Entah benar ataupun salah. Dia ingin memiliki perempuan yang telah mengubah hidupnya seutuhnya. Tapi rasanya semesta malah ingin memisahkan, dengan menghadirkan rasa kecewa dan menyerah diantara keduanya.


*Ting Tong*


Suara bel apartemennya berbunyi. Eliezer turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang bertamu malam ini.


Setelah dilihat menggunakan kamera CCTV kali ini, ternyata orang kepercayaan nya lagi. Eliezer membukakan pintu untuknya.


"Malam Bos, maaf ganggu tengah malam gini," sapa orang itu dengan wajah yang tak kalah dingin dari tuannya.


"Malam. Masuk!" sahut Eliezer kemudian orang itu pun mengangguk patuh. "Ada kamu malam-malam menemuiku?" tanyanya kemudian, saat keduanya telah berada di ruang tamu.


"Orang yang Anda cari ada di sebuah club malam ini. Dia bersama seorang laki-laki yang mungkin Anda akan terkejut jika tahu siapa laki-laki itu. Dan yang lebih menyedihkan, dia dibayar untuk sebuah kesenangan belaka."


"Cepat katakan, siapa laki-laki yang bersamanya itu?" Eliezer mulai geram dan hatinya mulai panas seperti tersulut api.


"Ayah Anda."


Kedua telapak tangan Eliezer mengepal. Ingin rasanya ia memukul sang ayah saat ini juga. Walau laki-laki itu ayah kandungnya, akan tetapi karena keserakahan yang menguasai egonya.


"Brengsek! beraninya si tua bangka itu masih mengusikku! ... Antar aku sekarang ke hadapannya!"


Orang itu mengangguk. Eliezer pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Tak lama ia pun keluar dengan memaki sebuah setelan jogger juga hoodie, sneakers dan topi berwarna hitam.


Mereka pergi ke club yang telah di pantau oleh orang kepercayaannya itu. Sepanjang perjalanan, Eliezer merasa sedikit gelisah. Walau backing-an yang ia miliki memang tidak se-sangar sang ayah, ia tetap harus maju demi kebenaran dan nama baiknya.


Setibanya di sebuah club yang terletak di ujung kota J, Eliezer turun dari mobil diikuti dengan orang kepercayaannya. Ia langsung diarahkan ke sebuah ruangan khusus di sana.


"Apa kamu telah melapor ke pihak yang berwajib?" tanya Eliezer yang sambil terus melangkahkan kakinya.


"Sudah."


"Bagus! apa mereka telah menuju ke sini?"

__ADS_1


"Anda benar sekali."


Para anggota pihak berwajib beserta Eliezer dan orang kepercayaannya itu telah berpencar di sekitar ruangan khusus tersebut. Semuanya telah bersiaga supaya target tidak lari, yaitu Putra. Selain dia, itu adalah urusan Eliezer sendiri.


BRAK! Pintu berhasil di buka paksa oleh Eliezer hanya dengan satu tendangan kaki. Walau dia tidak jago bermain bola, tapi tendangan kakinya cukup jago untuk mendobrak pintu.


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut bukan main. Termasuk beberapa perempuan sewaan.


"Angkat tangan semuanya!" ucap salah seorang anggota sambil menodongkan pistol ke arah mereka. Beberapa anggota lain pun ikut masuk. Eliezer masih berada di belakang para anggota itu.


"Cepat tangkap dia!" Dengan secepat kilat, dua orang anggota menghampiri Putra yang tampak gelisah bahkan sampai panas dingin. Nyalinya menciut seketika. Dalam sekejap borgol pun telah terpasang di pergelangan tangan Putra. Kedua anggota itu kemudian membawa Putra pergi dari sana.


Sekarang tinggallah Eliezer juga ayahnya di ruangan itu. Para perempuan sewaan tadi telah ikut keluar bersama pihak berwajib, sedangkan orang kepercayaannya menunggu di luar ruangan dengan pintu yang tertutup.


Laki-laki paruh baya itu masih duduk bersantai di sofa panjang dengan kedua tangan yang ia rentangkan di sandaran sofa. Kedua kakinya di lipat dan saling menopang. Ia masih berani tersenyum menyeringai pada anak yang sekarang ia anggap sebagai musuhnya. Haruskan seorang ayah kandung sendiri seperti itu?


"Hai, Ayah," sapa Eliezer sambil tersenyum namun tatapan matanya bak busur panah yang sangat tajam. Sangat menusuk dan mematikan. Melebihi tajamnya mata elang yang hendak menikam targetnya.


"Masih berani kamu menampakkan muka di depanku?" tanya sang ayah yang kemudian berdiri mensejajarkan Eliezer yang masih berada di dekat pintu. Kini keduanya berada dalam satu garis lurus. Saling berhadapan. Dibenak keduanya bahkan tidak ada lagi sebuah kasih anak kepada orang tua ataupun sebaliknya. Yang ada rasa saling ingin menghancurkan satu sama lain.


"Jangan sebut aku ayahmu! kamu bukan anakku!" bentak laki-laki yang kini berdiri di depan Eliezer.


"Gak ada yang bisa menyangkal keadaan yang sebenarnya bukan? ya memang nyatanya kita ini adalah ayah dan anak. Tapi karena sebuah rasa iri dan egois yang tinggi. Jangan salahkan saya, jika suatu saat nanti gak akan menganggap Anda ayah saya sendiri!" Matanya memerah, namun sekilas ada air mata yang membuat mata itu berkaca-kaca. Eliezer mengepalkan tangannya. Kemudian pergi dari ruangan itu dan kembali ke apartemennya.


...----------------...


Arifa terbangun dari tidurnya, perlahan ia mengejapkan mata.


"Hah! dimana aku!" pekiknya lalu terperanjat duduk di atas tempat tidur. Tak lama ia pun ingat kalau sedang bersama Danish. Rasa khawatir tiba-tiba muncul, ia melihat ke balik selimut. Pakaiannya masih utuh dan masih sama.


Ternyata sejak kemarin sore, ia sampai tidak sempat mandi dan malah ketiduran. Dilihatnya jam dinding model zaman dulu yang terbuat dari kayu, menunjukkan pukul 5 pagi.


Seingatnya laptop dan ponsel masih menyala sebelum ia tidur. Lantas siapa lagi kalau bukan Danish yang merapihkannya.


Lama juga ya Arifa tidur, atau jangan-jangan dia pingsan. Padahal dia gak diapa-apain sama Danish. Apalagi kalau diapa-apain? bisa jadi tidur sehari semalam.

__ADS_1


PRANG!


"Suara apa tuh? aduh kok tiba-tiba merinding," kata Arifa yang merasa terkejut dan ketakutan saat mendengar suara tutup panci jatuh ke lantai. "Coba ah aku lihat, kali aja ada kucing yang iseng cari makanan," sambungnya seraya turun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu. Membukanya dengan hati-hati untuk meminimalisir keluarnya suara yang dihasilkan dari pintu tersebut.


Dengan langkah perlahan Arifa pergi ke dapur. Tampak sosok laki-laki bertubuh tinggi, hanya berpakaian kaos oblong serta celana training panjang. Tak hanya itu, jika dilihat dari rambutnya yang basah dan klimis. Sepertinya laki-laki itu baru saja selesai mandi.


Udara pagi di daerah itu lebih dingin dibanding malam hari. Padahal di rumah ini tidak memakai pendingin ruangan sama sekali. Lantai yang di pijakkan pun membuat kaki seakan tersengat listrik. Dinginnya hingga terasa sampai ke tulang.


Cukup lama Arifa berdiri di balik dinding. Laki-laki itu pun berbalik badan, dan ternyata dia adalah Danish. Entah pukul berapa ia terbangun, bahkan bisa kuat mandi pada saat masih sangat pagi. Arifa buru-buru melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar lagi.


Rupanya langkah kaki Danish lebih lebar dibanding dirinya. Secepat kilat kini Danish telah berada di depannya, menghadang jalan Arifa. Rasa gugup mulai menghantui perempuan berwajah tirus itu.


"Sudah pagi, gak boleh masuk ke kamar lagi. Ayuk sarapan, tadi orang suruhanku sudah memasakkannya untuk kita. Setelah itu, segera mandi dan bersiap untuk pulang. Bukannya kamu ada jadwal kuliah hari ini."


Arifa tersenyum dengan menunjukkan barisan giginya. "Oke." Hanya satu kata itu yang merangkum dari sekian banyak jawaban yang harusnya ia utarakan.


Keduanya pun duduk bersama di dalam sebuah meja makan. Makanan khas pedesaan sangatlah kental. Mulai dari rebusan, nasi, lauk pauk hingga hidangan penutup pun telah tersedia di atas meja.


"Ini serius kita habisin berdua?" tanya Arifa lalu menatap Danis, merasa tidak percaya.


"Iya benar sekali," jawab Danish yang kemudian menyantap makanannya.


"Apa semua orang di desa ini bisa makan sebanyak ini Om?" tanya Arifa lagi, namun Danish hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lebih baik sekarang kamu makan yang banyak, karena setelah ini perjalanan kita cukup jauh untuk tiba di kota J," titah Danish disela-sela mulutnya yang penuh dengan makanan.


Sarapan pagi ini, adalah sarapan ternikmat bagi Danish. Karena kali ini ia memiliki teman, tidak sendirian lagi.


Andai aku bisa menikmati makan seperti ini setiap hari. Mungkin aku akan menjadi laki-laki beruntung bisa memiliki teman hidup seperti perempuan yang ada di hadapanku ini. If you know Arifa, aku gak tahu kapan perasaan ini muncul, tapi yang jelas ... aku gak pernah mau perasaan ini berhenti mencintai kamu. batin Danish penuh harap.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Arifa pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap pulang ke kota J.


Aku belum bisa memilih, karena hatiku masih belum siap untuk menerima nama seseorang supaya tetap tinggal di sana. Bagiku, sebuah pernikahan bukanlah hal main-main. Harus ada ketulusan, pengorbanan dan juga tanggung jawab. Kalau salah satunya belum menopang, apa pernikahan itu tidak akan kata pisah? Seperti berkaca pada kedua orang tuaku, harta memang bukan segalanya. Namun kebahagiaan yang terus ada setiap hari, adalah harta yang paling berharga dari apapun di dunia ini. Arifa bermonolog, mencoba berpikir ulang sepanjang perjalanan pulang menuju tempat kost.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2