
"Kamu telat datang bulan Sayang?" tanya Danish yang seakan tidak percaya. Laki-laki itu menatap istrinya sangat lekat, menelusuri manik mata hitam didepannya, berharap ada jawaban yang pasti.
"Iya, Sayang," jawab Arifa dengan santainya. Akhir-akhir ini memang perempuan itu sedang sibuk dengan tugas kuliahnya. Bahkan untuk berlama-lama marah kepada suaminya pun rasanya enyah begitu saja.
"Apa kamu sudah cek pakai testpack? bisa jadi kamu hamil Sayang .... " Mata Danish berbinar. Iya, diusia yang tidak lagi muda, ia ingin segera memiliki keturunan. Dibalik sebagai penerus perusahaan, Danish pun begitu menginginkan anak-anak. Supaya ia bisa 'balas dendam' kepada anaknya, untuk tidak merasakan seperti masa kecilnya dulu yang mungkin jauh dari kata bahagia.
Arifa mengangkat kedua bahunya, "Aku belum cek Sayang. Maybe yes maybe no. Bisa juga karena aku stres memikirkan tugas kuliah yang begitu banyak," jawabnya membuat Danish menghela napas panjang.
Sebenarnya, laki-laki itu tidak tahu harus bahagia ataupun sedih malam ini. Ketika ia begitu menginginkannya sekarang, tapi istrinya sedang ragu.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku mau ke luar dulu," ucap Danish kemudian mulai berjalan keluar dari kamar.
"Ih aku ditinggalin sendiri dong Sayang." Arifa merajuk karena ia ingin bersama suaminya sekarang. Danish pun menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Sebenar aja Sayangku, Cintaku, Bidadariku yang cantik jelita tiada tara ... ten minutes okay?"
"Huh!" Arifa menghempaskan napasnya kasar. "Kalau lebih dari sepuluh menit aku pulang!" ujarnya. Merasa kesal dan juga lapar.
"Oke Sayang, oke ... baik-baik ya di sini jangan pulang," kata Danish seraya menghampiri sang istri yang masih dengan wajah cemberutnya lalu mengecup kening, pipi kanan dan kiri dan yang terakhir bibir tipisnya.
Setelah itu, Arifa hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum simpul. Danish kemudian pergi dari kamar itu.
Arifa menatap nanar kepergian Danish hingga menghilang dari pandangannya. Kemudian, ia berjalan ke tempat tidur lalu duduk di tepinya sambil menghela napas panjang dengan mata memandang lemari yang masih terbuka dihadapannya
...----------------...
__ADS_1
Danish pergi ke sebuah apotek yang jaraknya tidak begitu jauh dari hotel diantar oleh sopir. Suasana di apotek itu sangat ramai. Bahkan terlihat antrean yang panjang di sana.
Dilihatnya smartwatch yang melingkar ditangan kiri, telah menunjukkan pukul sembilan malam. Sedangkan untuk apotek yang lebih dekat dari sini pun tidak ada lagi selain yang sedang ia kunjungi saat ini.
Danish terpaku pada waktu yang hanya sepuluh menit diberikan toleransi oleh Arifa. Tapi mau gimanapun nanti, laki-laki itu bertekad untuk mendapatkan alat testpack malam ini juga. Ia benar-benar sangat menginginkannya sekarang.
Tepat pukul sepuluh malam, Danish baru mendapatkan alat pendeteksi kehamilan itu. Dirinya telah telat berpuluh-puluh menit. Tapi perasaannya bilang, Arifa tidak akan pergi dari sana tanpanya. Maka dari itu, ia segera kembali ke hotel.
Tidak sampai sepuluh menit, mobil berhenti di depan lobby hotel. Danish turun dan mempercepat langkahnya menuju kamar yang tadinya dijadikan tempat surprise untuk ulang tahun sang istri.
Dengan tergesa-gesa, laki-laki itu masuk ke dalam lift. Namun, lift itu tidak langsung menuju lantai dimana tempat kamarnya berada. Ada orang lain yang hendak turun ke bawah, dilihat dari tanda panah yang menyala ke bawah.
Danish merasa gelisah karena telah membuat istrinya menunggu terlalu lama. Ketika pintu lift terbuka, seorang perempuan memakai dress span dengan panjang setengah paha begitu membuat lekuk tubuhnya terekspose, apalagi pada bagian dada yang mengembul ke luar membentuk sebuah belahan pada tengahnya.
Danish mengenal perempuan itu. Ia segera menutup liftnya kembali. Beruntung perempuan itu menghadap ke samping sedang bicara dengan seseorang dan tidak melihat keberadaan dirinya yang ada di dalam lift.
Letak tempat tidur pada kamar hotel yang dipilih olehnya memang terpisah, ada ruangan tersendiri dan terdapat pintu. Ketika masuk ke dalam, suasana kamar begitu sepi. Ia melihat ke arah meja dan kursi yang sebelumnya terdapat makanan.
"Habis semua? yakin ini semua dihabiskan oleh istriku?" Danish terkejut ketika melihat meja itu telah tidak ada makanan sama sekali. Hanya terdapat tumpukan piring kotor dan tatakan kue ulang tahun yang berisi pisau dan lilinnya saja. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala kemudian dengan langkah perlahan mendekati kamar tidur
Danish memegang handle pintu itu, lalu menekannya perlahan hingga hampir tidak ada suara yang keluar dari engsel pintu. Kemudian dirinya bernapas lega karena melihat Arifa masih ada di sana, telah tertidur pulas sambil membungkus tubuhnya dengan selimut hingga menutupi dadanya.
Ia menghampiri istrinya lalu duduk di samping, bersebelahan dengan sang istri kemudian mengecup kening cukup lama.
"Terima kasih masih mau menungguku di sini. Aku semakin sayang dan cinta padamu," ucapnya dengan lembut dan suara yang sedikit parau.
__ADS_1
Arifa hanya menggeliat dan merubah posisi tidurnya. Tidak sengaja selimut pun disibakkan olehnya. Danish bersusah payah menelan salivanya ketika melihat Arifa memakai salah satu pakaian haram dari dalam lemari itu. Apalagi warna pakaian itu sangat kontras dengan kulit putih dan mulusnya itu.
"Sayang kamu bikin aku ingin ... boleh ya? ... aku akan melakukannya dengan pelan dan hati-hati," ucap Danish yang perlahan merangkak naik ke atas tubuh Arifa sambil menyibakkan selimutnya. Laki-laki itu bicara seolah istrinya benar-benar sedang hamil muda.
Seketika Arifa terbangun dan melihat suaminya telah mengukungnya di atas.
"Hah! kamu mau ngapain Sayang?" tanya Arifa yang berusaha keluar dari tawanannya. Perempuan itu terkejut yang masih setengah sadar.
"Siapa suruh kamu pakai baju seperti ini Sayang. Aku sudah gak tahan lagi .... " Danish justru merengek layaknya seperti anak kecil yang ingin meminta sesuatu yang menarik baginya.
"Eh tapi kan--"
Arifa belum juga menjelaskan. Bibir tipisnya keburu dibungkam lebih dulu oleh Danish. Kalau sudah begini, menolak pun rasanya percuma. Danish lebih berkuasa dan dominan.
Tapi sayangnya tidak untuk malam ini. Arifa mencoba mengimbangi permainan suaminya dan berusaha mengambil alih atas permainan tersebut. Sepertinya ini efek minum anggur dan makan yang banyak.
Pantas saja tubuhnya sekarang berisi. Setiap merasa kesal atau marah yang kerap ia alami, selalu saja dialihkan dengan makan yang banyak. Bahkan lebih banyak dibanding sebelum mereka menikah.
Nyanyian merdu yang penuh pergulatan panas yang membuat sprei terasa lembab itu terus berlangsung hingga dini hari. Arifa benar-benar meluapkan perasaan serta emosi pada dirinya dalam permainan malam ini.
Danish pun tidak mau kalah, bagai sambung menyambung menjadi satu. Berharap setelah ini, akan hadir hasil benih yang Danish tanamkan dalam rahim Arifa.
...Bersambung ......
...****************...
__ADS_1
...Yaampun mereka gempor gak itu ya habis ini? Terus gimana ya hasil testpacknya setelah cek nanti?...