Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Sabarnya Seorang Istri


__ADS_3

Balutan dress berwarna marun sebatas lutut dengan model V neck, menjadi pilihan Arifa saat ini. Walau dia tidak tahu akan kemana Danish membawanya pergi, tapi perempuan itu mencoba menyesuaikan selera suaminya yang lebih senang melihatnya selalu tampil cantik juga wajah yang berseri. Meski tanpa suaminya tahu, banyak hal yang sedang dia tahan saat ini.


Hal-hal yang ingin dipertanyakan nya. Namun Arifa paham, menjadi seorang istri tidaklah mudah. Menahan ego, meredam amarah, dan harus selalu tampak bahagia.


Setelah Arifa selesai bersiap, Danish baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapan laki-laki itu terhenti ketika melihat istrinya begitu cantik, laki-laki itupun terpana. Tertegun sejenak, lalu berlalu dari hadapan istrinya tanpa ada senyuman maupun sepatah katapun.


Arifa mengerutkan alisnya. Perempuan itupun menghela napas. Belum saatnya ia bertanya pada suaminya itu. Ia pun berjalan menuju tempat tidur lalu duduk ditepinya. Meraih ponsel yang ada di atas nakas


"Sayang, bisa minta tolong gak ke sini sebentar?" panggil Danish dar ruang ganti pakaian. Arifa yang mendengar itu segera menaruh ponselnya dan pergi ke ruang ganti.


"Ada apa Sayang?" tanya Arifa ketika dirinya telah berdiri di gawang pintu. Perempuan itu tidak melihat hal yang aneh. Dia pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Danish. "Apa yang harus aku bantu?" lanjutnya sambil menatap suaminya menelisik dari ujung kepala hingga kaki.


"Sini lebih dekat lagi," jawab Danish sambil merentangkan kedua tangannya. Sang istri pun patuh. "Selamat ulang tahun Sayang. Maafin aku ya sudah cuekin kamu seharian ini," lanjut laki-laki itu. Merasa tidak tega melakukan hal yang membuat dirinya merasa jauh dari sang istri.


Seketika Arifa melepaskan pelukannya. Danish pun menatap heran dengan kedua tangan yang sengaja dia kunci di pinggang Arifa.


"Ih! kamu nyebelin. Kenapa baru sekarang minta maafnya? sebel deh! terus tadi kamu ngapain sama perempuan di toko pakaian dalam, mesra-mesraan lagi. Malam ini gak akan aku kasih jatah, titik!" Arifa spontan berkata demikian sambil memukul-mukul dada bidang suaminya. Sekuat apapun dia tahan, tetap saja lebih lega jika dikeluarkan. Karena bisa membuat pusing kepala. Belum lagi dengan tugas kampus yang cukup membuatnya hampir stres.


Danish malah terbahak. Kemudian laki-laki itu kembali membawa istrinya ke dalam pelukan. Mungkin akan sedikit lebih lama, sampai istrinya benar-benar bisa lebih tenang.


"Apa sudah lebih baik Sayang?" tanya Danish sambil terus memberi ciuman bertubi-tubi pada kepala istrinya. Namun Arifa hanya bergumam seraya mengangguk. Danish merasa lebih lega lalu melepaskan pelukannya. "Kalau gitu, yuk kita berangkat sekarang!" ajaknya, kemudian merangkul pinggang istrinya keluar dari kamar.


...----------------...


Setibanya di depan lobby hotel, Danish tidak membiarkan Arifa turun sendiri. Ia bahkan bela-belain turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk istrinya.


"Terima kasih, Sayang."


"Sama-sama, sini aku bantu."


Layaknya seorang putri yang diperlakukan istimewa oleh pangerannya. Arifa sangat beruntung memiliki seorang suami yang begitu pengertian padanya dari hal sekecil apapun.


"Selamat malam, selamat datang ... ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang resepsionis ketika Danish beserta Arifa menghampirinya.

__ADS_1


"Kamar atas nama Danish."


Laki-laki berwajah oriental itu sengaja seolah ia baru saja memesan kamar hotel itu untuk berdua dengan Arifa. Padahal tadi siang ia lah yang mengontrol dekorasi untuk kamar hotel tersebut. Ya! ini adalah bagian dari rencananya.


"Baik, mohon di tunggu." Resepsionis itu mengalihkan pandangannya ke layar komputer yang ada di atas meja. Mencari nama Danish di sana, tak lama ia pun menemukannya. "Kamar atas nama Danish di kamar nomor dua kosong satu enam. Tapi mohon di tunggu sebentar ya Tuan dan Nyonya, biar pegawai hotel kami yang akan mengantarkan Tuan dan Nyonya ke kamar," lanjutnya seraya tersenyum.


Sementara itu, Danish hanya mengangguk sebagai jawaban. Namun di sisi lain, Arifa mengernyit dan merasa heran. Dia kira, Danish akan membawanya ke restauran hotel untuk dinner. Eh rupanya akan check in di hotel.


Tidak selang berapa lama, petugas hotel yang dimaksud oleh resepsionis itu datang menghampiri mereka.


"Mari Tuan, Nyonya ... saya antarkan ke kamar," ucap pegawai hotel laki-laki itu yang tertera nama Yian pada nametag di bagian dadanya.


"Iya," jawab Danish lalu mengikuti langkah Yian dari belakang sambil menggenggam tangan sang istri.


Arifa masih terdiam dan patuh akan perintah Danish. Sebab, ia pun tahu betul kalau suaminya itu lebih dominan dibanding dirinya. Akan tetapi dibalik itu, Danish tetap memberikan sebuah 'dispensasi' untuk sang istri melakukan hal yang ia sukai. Selain ... melihat live streaming Haechan.


Perempuan itu bisa kuat berjam-jam jika telah melihat sosial media milik Haechan, laki-laki yang ia anggap sebagai 'selingkuhannya'. Tak heran sih, Danish bisa sebegitu cemburunya.


"Tutup matanya dulu ya Sayang," titah Danish lalu mengeluarkan sehelai kain berwarna merah dari dalam saku celananya.


"Okey." Arifa memejamkan kedua matanya, membiarkan Danish memasang penutup mata itu. Kemudian, pintu kamar pun dibuka.


Danish menuntun Arifa masuk ke dalam kamar, tak lupa menutup pintunya kembali. Langkah keduanya pun terhenti ketika telah memasuki sebuah ruangan yang diminta khusus oleh Danish untuk diadakan dinner bersama sang istri di sana.


"Udah sampai Sayang?" tanya Arifa setelah tidak ada pergerakan lagi pada dirinya.


"Sudah, sebentar ya!" Danish menarik kursi sedikit ke belakang. Lalu memapah Arifa supaya duduk di kursi tersebut. "Aku buka ya penutup matanya?" tanyanya kemudian dan Arifa pun mengangguk setuju.


Perlahan helai kain berwarna merah terlepas, dan mata Arifa terbuka. Ia sampai ternganga setelah melihat hal terindah yang kini ada di depannya. Sepasang kursi yang saling berhadapan, dengan meja yang ada di tengahnya berisi sebuah tiramisu cake, dua gelas kosong serta sebotol wine dengan alkohol rendah, dua porsi steak dengan tingkat kematangan well done, dua buah piring kosong dan juga dua pasang sendor, garpu ditambah pisau.


"Apa semua ini kamu yang menyiapkannya Sayang?" tanya Arifa, menatap lekat manik mata milik suaminya. Seakan tidak percaya dan seketika menghempaskan rasa keraguan serta kegundahan yang seharian ini ia rasa.


"Iya, aku ... minta maaf sekali lagi. Terlebih dengan sikapku yang seharian ini. Aku yakin sekali kalau kamu marah, tapi kamu hebat Sayang! Kamu lolos untuk tetap senyum dan menyambutku pulang seperti biasanya ... sekali lagi aku minta maaf dan ... selamat ulang tahun!"

__ADS_1


Danish meraih tangan sang istri di atas meja. Menggenggam dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih atas semuanya, suamiku," ucap Arifa dengan penuh haru. Danish pun tidak segan mengecup tangannya yang sangat lembut itu.


Masa-masa romantis malam ini sangat mereka nikmati dengan penuh suka cita. Setelah makan malam selesai, Danish mengajak Arifa untuk berdiri di depan sebuah lemari yang ada di samping tempat tidur.


"Kita ngapain di depan lemari Sayang?" tanya Arifa mengerutkan alisnya, menatap Danish untuk menuntut jawaban.


Tanpa menjawab dengan sebuah kata-kata, Danish langsung membuka isi lemari tersebut. Begitu jelas terpampang nyata di depannya. Barisan li*ngerie berbagai macam model tertata rapih di sana. Sontak membuat Arifa refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan. Lalu melihat sang suami seraya menggeleng tidak percaya.


"Jadi, kamu ada di toko itu untuk membeli ini?" tanya Arifa lagi. Danish pun mengangguk membenarkan kemudian terbahak.


"Kalau gitu ... aku berhasil dong bikin kejutan gak terduga kayak gini?" timpal Danish sambil memainkan kedua alisnya naik turun.


"Ck!" Arifa berdecih. "Iya sampai-sampai aku merasa sesak rasanya, terus mikir salah aku apa kamu tiba-tiba cuekin aku kayak gini," keluhnya lalu memberi hantaman yang tidak keras pada lengan suaminya.


"Uluh, uluh, Sayang ... sini peluk!"


Keduanya pun saling berpelukan.


"Sayang, gimana kamu pakai salah satu dari semua ini untuk ... kita bermain malam ini? apa kamu setuju?" ujar Danish yang memberikan tantangan pada istrinya.


"Apa kamu yakin Sayang?" tanya Arifa dengan wajah yang tampak keragu-raguan.


"Ya, kenapa tidak! aku belum berhasil membuatmu mengandung," seloroh Danish yang wajahnya sangat menyakinkan.


"Tapi .... " Arifa tidak melanjutkan ucapannya dan itu mengundang tanda tanya besar pada Danish.


"Tapi apa Sayang?" tanya laki-laki itu dengan lembut. Namun Arifa hanya menunduk murung.


"Aku telat datang bulan, udah dua minggu ini."


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2