Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Mengunjungi Kakak


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Arifa baru saja tiba di bandara, negara tempat Farhan berada. Liburan semester pertamanya kali ini ia putuskan untuk mengunjungi kakak semata wayangnya itu. Walau awalnya terjadi perdebatan karena jadwal Farhan yang sangat sibuk di sana, membuat Arifa harus sedikit mengalah karena kemungkinan besar untuk pergi ke tempat-tempat wisata menunggu jadwal Farhan senggang.


"Arifa!" panggil sang kakak di depan pintu kedatangan.


Arifa mencari sumber suara itu. Farhan yang sambil mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, membuat Arifa cepat menangkap keberadaan kakaknya.


"Kak Farhan!" Arifa berlari menghampiri sang kakak lalu memeluknya sangat erat.


"Gimana kabar adiknya Kakak ini?" tanya Farhan, pelukan pun dilepasnya lalu merangkul sang adik.


"Baik Kak, sangat Baik!" jawab Arifa dengan penuh semangat.


"Kalau hatinya gimana? sekarang berarti ada tiga orang laki-laki yang bikin adik Kakak sering galau ya?" Pertanyaan Farhan sangat menyentil Arifa. Seketika sebuah cubitan yang cukup menyakitkan mendarat di lengan Farhan. Bukannya meringis, kakaknya itu justru malah ketawa.


"Kalau ngomong ya! Rifa tuh gak galau tahu!" Arifa berkilah, padahal tiga bulan pertama masa kuliahnya itu begitu berat baginya. Ada Danish, Eliezer dan tak lain Haechan yang memadatkan pikirannya.


"Eh Fa, Kakak mau dengar dong cerita kamu itu tentang dua laki-laki itu. Sekarang mereka gimana terus dimana?" tanya Farhan yang sangat penasaran, pasalnya jika Arifa ditanya dan disuruh bercerita, sang adik hanya bilang 'nanti aja Rifa ceritain kalau liburan ke tempat kakak'.


"Tapi sebelum itu, traktir Rifa dong Kak! lapar tahu. Sebilan belas jam perjalanan loh kak terus cuma transit sekali," ujar Arifa, memohon sambil memegang perutnya yang memang telah mengeluarkan bunyi cacing demo sejak tadi.


"Baiklah, mau makan di restauran di sini atau di luar?" tanya Farhan kembali.


"Memang makanan disini enak-enak?" Arifa malah bertanya balik, karena memang dia tidak pernah makan di sekitar area bandara.


"Ya seperti makanan yang disajikan di pesawat. Gak beda jauh lah," jawab Farhan yang sudah terbiasa melakukan perjalanan keluar negeri karena tugas kantor.

__ADS_1


"Rifa mau yang enak terus kenyang Kak," kata Arifa yang merengek sambil menggoyangkan lengan kakaknya.


"Oke, oke. Kakak punya rekomendasi makanan yang enak buat kamu. Pokoknya dijamin ketagihan!" bujuk Farhan kemudian Arifa pun terdiam.


"Kamu tunggu disini ya, Kakak mau ambil mobil. Biar kamu gak capek jalan ke tempat parkir. Soalnya lumayan jauh," kata Farhan dan Arifa pun mengangguk patuh.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Farhan pun telah berhenti tepat di depan sang adik. Ia kemudian turun tanpa mematikan mesin mobilnya.


"Kak, ini mobil Kakak atau kantor?" tanya Arifa yang terkejut ketika mengetahui orang yang keluar dari dalam mobil mercedes benz tipe terbaru dengan menggunakan listrik sebagai pendukung utamanya itu dikendarai oleh Farhan.


"Biasa aja, di negara ini memang udah support segala hal menggunakan listrik dan juga otomatis. Setelah keluar dari bandara ini, kamu akan lebih kaget lagi melihat sembilan puluh delapan persen masyarakat yang tinggal ketergantungan dengan listrik," jelas Farhan seraya memasukkan koper ke dalam bagasi, lalu menutup bagasinya kembali.


"Oh gitu ya Kak? apa semacam di sebuah kota modern kartun favorite Rifa?" Pikiran Arifa langsung terbang, membayangkan dirinya berada dalam satu kota modern yang apa-apa hanya tinggal menekan tombol.


"Ya ... kurang lebih seperti itu. Ayuk masuk!" jawab Farhan kemudian mengajak sang adik masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping kursi kemudi yang ada di sebelah kanan. Lalu mobil pun dilajukan olehnya.


"Ya, tentu. Setelah itu ... Rifa ketemu sama om Danish yang udah nungguin Rifa di depan tempat kost." Pandangannya menoleh ke arah luar jendela. Menghela napas dan raut wajahnya seketika murung.


"Terus gimana?" tanya Farhan dengan hati-hati.


"Dia pamit, katanya mau pergi ke luar negeri. Tapi gak bilang sih negara mana yang dia maksud itu."


"Kamu ada rasa Fa sama dia? terus yang namanya Eliezer itu gimana? apalagi kamu bilang si Eliezer itu yang udah bantu kamu awal merintis bisnis." Farhan mencoba menjadi penengah.


"Enggak tahu Kak, mereka tuh datang tiba-tiba terus ngasih harapan habis itu menghilang. Apalagi Eliezer, Rifa sih udah maafin dia waktu kejadian di lamaran Bianka waktu itu. Tapi ... buat buka hati lagi ke dia tuh kayaknya susah banget. Rifa tuh susah banget percaya lagi sama orang yang udah buat Rifa kecewa Kak." Kali ini Arifa menoleh dan menatap sang kakak yang sesekali melihat ke arahnya karena sambil fokus mengendarai mobil.


Farhan mengelus rambut Arifa dengan lembut. "Kalau saran Kakak, ikuti kata hatimu. Cintai orang yang juga mencintaimu. Hargai perasaan orang yang lebih menghargai dirimu, lebih dari dirimu sendiri. Dengan begitu, hatimu gak akan gelisah. Ketika kamu dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit."

__ADS_1


Arifa mengangguk pelan. "Rifa akan coba."


Tidak terasa, mobil yang dikendarai Farhan telah tiba di sebuah restauran. Arifa terperangah ketika melihat deretan mobil yang ada di tempat parkir restauran itu memang sebagian besar sama seperti milik Farhan.


"Biasa aja! kalau ekspresi kamu kayak gitu nanti dianggap norak sama orang-orang sini," kata Farhan sambil mengusap seluruh wajah Arifa.


"Ih Kakak!" Arifa memekik lalu berdecak.


"Ayuk turun! inga mukanya biasa aja," ajak Farhan sambil mengingatkan adiknya kembali.


Ketika masuk ke dalam restauran, mereka di sambut oleh pelayan. Akan tetapi pelayan itu bukan manusia, melainkan robot. Mereka bisa langsung memesan makanan melalui robot tersebut.


Setelah itu, mereka pun akan mendapat sebuah nomor yang harus diletakkan di atas meja. Barulah mereka bebas memilih tempat duduk yang masih kosong.


Negara tempat Farhan berada, memang sudah sangat modern dan maju. Tak heran jika penghasilan yang di raup saat bekerja di negara ini memanglah sangat fantastis. Namun dibalik itu semua, populasi manusia di negara ini tergolong sedikit. Karena alat-alat canggih dalam keseharian penduduknya sangat menopang kehidupan di sini.


Tidak butuh waktu lama, makanan pun diantar oleh seorang pelayan. Kali ini yang mengantar masih menggunakan tenaga manusia.


"Selamat menikmati hidangannya," ucap pelayan itu setelah menaruh menu yang dipesan oleh kakak beradik itu.


"Kak disini kokinya manusia kan?" tanya Arifa yang tiba-tiba membuat perut Farhan tergelitik untuk tertawa.


"Ya manusialah Fa, masa iya robot. Tenang aja, walau udah masuk zaman modern dan popularitas manusia disini sedikit, asal kamu tahu mereka tidak pernah suka orang yang bermalas-malasan," jawab Farhan sambil memberikan tatapan tajam seolah-olah menakuti Arifa yang lebih senang merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan melihat live streaming 'suami masa depan' nya.


"Mengerikan juga ya tinggal di negara ini," ucap Arifa lalu menyantap makanannya. Begitu pula dengan Farhan.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2