Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Harapan Garis Dua


__ADS_3

Sepasang suami istri itu masih tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan. Keduanya telah memakai pakaiannya kembali. Karena sebelum tidur, mereka sempat mandi bersama untuk menghilangkan sisa-sisa keringat setelah pergulatan panas itu.


Memang hal itu pun selalu mereka lakukan ketika di rumah dan sudah menjadi kebiasaan. Rasanya sungguh tidak nyaman kalau setelah 'bermain' langsung tidur. Karena pernah mereka rasakan sendiri ketika pertama kali melakukannya dan langsung tertidur.


Suara nada dering dari ponsel Danish membangunkan keduanya.


"Siapa sih yang telepon pagi-pagi gini Sayang?" tanya Arifa. Perempuan itu menyibakkan selimut lalu duduk di atas kasur sambil menggeliatkan tubuhnya. Sedangkan sang suami masih enggan membuka mata.


"Gak tahu Sayang. Kamu jawab aja ya, aku masih ngantuk banget," ucap Danish dengan matanya yang masih terpejam. Arifa mengangguk paham lalu meraih ponsel Danish yang ada di atas meja, sebelahnya.


Tertera nama Rinto pada panggilan itu. Arifa pun menjawabnya.


"Hallo Pak?" sapa Rinto. Laki-laki itu tidak tahu kalau istri bosnya itu yang menjawab.


"Iya hallo, Pak Danish nya masih tidur. Ada pesan atau nunggu suami saya bangun?" jawab Arifa yang kemudian bertanya kembali.


"Oh Bu Arifa, maaf ganggu. Saya hanya ingin menanyakan perihal meeting siang ini sama para divisi lanjut yang kemarin, bisa datang gak ya? soalnya sudah pukul sepuluh, tapi pak Danish belum datang juga," jelas Rinto. Laki-laki itu sebenarnya sudah tahu kalau bosnya masih berada di hotel bersama istrinya. Tapi mengingat meeting itu cukup penting, ia menghubungi bosnya lebih dulu.


"Nanti biar suami saya telepon balik aja ya Pak Rinto. Saya juga gak bisa mutusin suami saya bisa datang atau enggak." Arifa merasa tidak enak hati sekaligus terkejut juga setelah Rinto bilang sudah pukul sepuluh pagi. Karena saat bangun, ia tidak langsung melihat jam dinding yang terpasang di kamar itu.


"Ya sudah kalau begitu, saya tunggu informasi lebih lanjutnya ya Bu. Kalau bisa sebelum jam makan siang, terima kasih. Maaf sekali lagi sudah mengganggu waktunya."


"Iya Pak. Gak apa-apa."


Kemudian sambungan telepon pun berakhir. Kini Danish telah duduk di atas kasur dengan selimut yang masih menutupi separuh tubuhnya.


"Siapa yang telepon Sayang?" tanyanya dengan mata yang terbuka sebelah. Laki-laki itu masih terlihat sangat mengantuk sekali.


"Sekertarismu Sayang. Katanya dia mau konfirmasi meeting siang ini sama divisi lanjut yang kemarin. Kira-kira kamu bisa datang atau enggak, segera kabari dia. Gitu," jelas Arifa sambil memberikan ponsel itu kepada pemiliknya. Lalu tatapannya tidak sengaja melihat plastik putih yang tergeletak di lantai.


Dengan rasa penasaran, Arifa menghampiri plastik itu. Matanya seketika membola setelah melihat isi yang ada di dalamnya.


"Sayang! ini testpack?" Arifa mempertanyakan benda yang memang sudah jelas tertera pada dus yang membungkusnya.


"Kamu bacanya apa Sayang?" Danish bertanya balik, namun Arifa malah tersenyum lebar.


"Testpack, hehehe." Perempuan itu juga menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Ya udah deh, aku cek sekarang ya?" tanyanya kemudian.


Danish hanya mengangguk sambil tersenyum, mengiyakan. Karena laki-laki itu sedang memanggil Rinto untuk berbicara.


Sewaktu Danish sibuk dengan teleponnya, Arifa bergegas menuju kamar mandi dengan membawa testpack yang belum terbuka sama sekali segelnya.


Kebetulan ia juga ingin buang air kecil. Jadi, sekalian menaruh sedikit sampel pada gelas kecil yang tersedia di dalam dus itu.


Sebelum melakukan tes, Arifa membaca lebih dulu petunjuk pemakaian pada selembar kertas yang juga ada di dalamnya. Ini adalah pengalaman pertama memegang sekaligus memakai alat pendeteksi kehamilan itu.


Setelah paham, Arifa mulai memasukkan alat itu. Sesuai petunjuk, ia harus menunggu maksimal tiga menit untuk dapat melihat hasilnya.


Arifa begitu memperhatikan cara kerja dari alat itu. Ia mulai harap-harap cemas ketika satu garis telah muncul dengan jelas. Ia pun mondar mandir sambil menutup matanya.


Hingga tepat tiga menit, perlahan ia membuka sebelah matanya lebih dulu lalu keduanya. Mulutnya terbuka lebar tanpa bersuara sambil ditutupi oleh sebelah tangannya. Air mata pun menetes tanpa permisi.

__ADS_1


Arifa masih syok dengan hasil yang tertera pada alat itu. Ia tidak menyangka sama sekali. Ia pun bingung cara menyampaikan pada Danish akan seperti apa caranya.


Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandi. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati sang suami telah berdiri, menunggunya di depan pintu kamar mandi sejak tadi.


"Bagaimana?" tanya Danish melihat mata sang istri lebih dalam, menginginkan secercah harapan yang begitu besar.


Arifa menunduk dengan raut wajah murung. Ia pun menggelengkan kepalanya.


Lalu terdengar ******* kecewa dari laki-laki itu yang kemudian memutar balik tubuhnya membelakangi sang istri. Dirinya benar-benar merasa kecewa.


Akan tetapi ketika hendak melangkah, Arifa langsung memotong jalannya. Berdiri dihadapannya sambil menunjukkan hasil dari alat itu.


Seketika kedua matanya berbinar, sesaat kemudian menjadi berkaca-kaca. Seolah tidak percaya, alat yang ada ditangan sang istri langsung direbut olehnya dan dilihatnya dengan seksama.


"Apa ini benar Sayang?" tanyanya untuk memastikan kalau laki-laki itu sedang tidak bermimpi.


Arifa pun mengangguk, tangis haru pun begitu jelas terlihat dikedua matanya. Terlebih Danish yang langsung memeluk sang istri sangat erat.


Ya! garis dua pada testpack itu menandakan kalau Arifa saat ini benar-benar sedang hamil.


"Aaaaaa! turunin aku Sayang. Kamu bisa nyakitin anak kita kalau terlalu erat memelukku!" pekik Arifa yang berusaha membuat Danish melonggarkan pelukannya.


"Astaga! maafin Daddy ya Sayang," ucap Danish melepaskan pelukannya pada sang istri. Lalu bicara berhadapan dengan perut Arifa yang masih terlihat datar itu, kemudian memberi ciuman kasih sayang di sana dan juga kening istrinya.


"Iya Daddy, gak apa-apa kok!" seru Arifa, menirukan suara anak kecil. Seakan janinnya yang bicara.


Danish pun memeluk istrinya kembali. "Terima kasih Sayang, semoga kamu dan calon anak kita sehat selalu. Jaga dia baik-baik ya," ucapnya seraya mengelus perut istrinya.


"Iya Sayang, sama-sama."


"Oke Sayang. Tapi ... baju aku yang semalam itu kotor terkena tumpahan anggur," jelas Arifa, ada kegelisahan di dalam sorot matanya.


Danish sedikit memiringkan kepalanya, "Apa semalam kamu minum anggur Sayang?" tanyanya sambil mendelik.


"Iya, tapi cuma satu tegukan. Habis itu anggurnya tumpah semua ke bajuku. Makanya aku kaget banget pas tahu hamil gini, semalam aku gak bakal minum anggur," keluh Arifa sambil merumat-rumat kedua tangannya.


Hembusan napas panjang pun Danish keluarkan. "Sebentar, aku akan membelikan pakaian ganti untuk kita lewat aplikasi. Sepertinya butik langganan kakak iparku ada di dekat sini," ucapnya kemudian pergi ke kamar untuk mengambil ponsel.


Arifa pun mengangguk lalu menuangkan air putih yang ada di botol ke dalam gelas. Ia pun meminumnya hingga habis.


...----------------...


Setelah mendapatkan pakaian ganti, keduanya check out dari kamar. Pakaian kotor serta yang Danish taruh di dalam lemari, telah Arifa masukkan ke dalam koper. Kini sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri, lalu sebelah lagi menarik koper.


Tiba di lobby, Danish memberikan kunci pada resepsionis, kemudian bergegas keluar dari sana. Mobil yang dikendarai oleh sopir pribadinya pun telah menunggu di depan lobby.


"Mari Tuan saya bantu membawakan kopernya," ucap Lee dengan sigap mengambil koper dari tangan Danish, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Sementara itu, Danish dan Arifa langsung masuk ke dalam mobil. Setelah bagasi ditutup kembali, Lee pun masuk ke dalam mobil, mengambil alih kemudi.


"Maaf Tuan, setelah ini kemana tujuan kita?" tanya Lee dengan sopan, seraya menoleh.

__ADS_1


"Ke rumah sakit ibu dan anak Pak," jawab Danish. Wajah laki-laki itu tampak berseri-seri, begitu pula dengan Arifa yang duduk disebelahnya.


"Baik Tuan," Kata Lee patuh, sebelah tangannya mulai mengatur persneling lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang dimaksud oleh tuannya.


...----------------...


Sudah lama sekali Danish tidak menginjakkan kakinya di rumah sakit ini. Terakhir yang ia ingat ketika ibunya menghembuskan napas terakhir. Sejak saat itu, ia jadi enggan ke tempat ini lagi.


Sebuah kartu dikeluarkan oleh Danish dari dalam dompetnya. Ya, kartu itu adalah asuransi yang sengaja ia buat untuk masa depan dirinya beserta keluarga kecilnya.


"Boleh minta kartu asuransinya Tuan?" tanya seorang pegawai perempuan bagian administrasi. Tanpa berkata, Danish pun memberikan kartu itu padanya. "Mohon di tunggu ya," ucapnya lagi.


Setelah beberapa saat menunggu.


"Pasien atas nama Arifa Nazwa, benar?" tanya pegawai itu. Matanya melihat ke arah monitor untuk mengkonfirmasi data.


"Iya, benar."


"Tujuan periksa ke dokter Sindy ya Tuan. Nanti untuk dapat nomor antrian, Nyonya Arifa akan ke bagian perawat untuk di periksa tensi dan berat badan. Dan ini struk token nya," ucap pegawai itu mengarahkan Danish dan Arifa sambil memberikan struk token tersebut. Sedangkan kartu asuransinya masih tertahan sementara sampai proses pembayaran selesai.


Setelah hampir setengah jam menunggu, Arifa pun akhirnya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter. Ketika pintu dibuka, tampak seorang perempuan memiliki wajah bersahaja, menggunakan jas putih dengan stetoskop yang dikalungkan pada lehernya, menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramahnya.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya," sapa dokter Sindy. "Silahkan." Ia memberi kode pada sepasang suami istri itu untuk duduk dengan tangannya.


"Siang Dok," sahut Danish dan juga Arifa yang kemudian duduk di depan meja dokter.


"Tuan dan Nyonya ada keluhan apa?" tanya dokter Sindy. Danish dan Arifa pun saling bertukar pandang.


"Begini Dok, istri saya sudah telat datang bulan selama dua minggu terakhir ini. Jadi saya mengajaknya mengunjungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut," papar Danish. Istrinya pun menganggukkan kepala mengiyakan.


"Kapan terakhir Nyonya datang bulan?" tanya dokter Sindy lagi. Kali ini pertanyaannya khusus untuk Arifa.


"Pas banget dua minggu yang lalu Dok," jawab Arifa dengan yakin.


"Oh, baik ... mari kita periksa lewat USG," ajak dokter Sindy beranjak dari kursinya lalu berpindah duduk di kursi yang ada di depan alat USG.


Arifa dan Danish pun ikut berdiri. Seorang perawat pendamping dokter mengarahkan Arifa untuk berbaring di atas tempat tidur. Sedangkan Danish berdiri di samping istrinya pandangannya terarah ke monitor yang terpasang di dinding.


"Maaf ya Nyonya, celananya sedikit saya turunkan ke bawah," ucap perawat itu meminta izin pada Arifa.


"Iya, Sus."


Kemudian selimut berwarna putih pun tak lupa dipasangkan oleh perawat itu sebatas celana hingga kaki. Lalu menaruh gel di atas perut Arifa yang masih terlihat rata.


Dokter Sindy mulai mengoperasikan alat USG pada perut Arifa. Akan tetapi, sebuah kantong tempat janin yang seharusnya ada pada rahim sama sekali tidak terlihat.


"Kok belum ada ya Nyonya." Dokter Sindy tampak serius. Ia terus mencari letak janin itu berada. "Kalau dicek USG belum terlihat seperti ini, saya belum bisa memastikan usia janin sudah berapa lama. Tapi kalau dihitung dari hari terakhir menstruasi, seharusnya sudah terlihat Nyonya," paparnya kemudian sambil terus mencari dan memutar alat itu dengan lembut di atas perut Arifa.


"Lantas bagaimana Dok?"


...Bersambung ......

__ADS_1


...****************...


...Kira-kira janin Arifa ada gak ya? Duh Author jadi ikut deg deg an....


__ADS_2