Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Akhirnya Pulang


__ADS_3

Arifa langsung menghampiri Bianka dan juga Aldi. Ia pun segera menghabiskan makan dan minum yang telah dipesan sebelumnya.


Tak lama berselang Arifa duduk, Danish bergabung dengan mereka. Namun Arifa tetap fokus menghabiskan makanannya, tidak memperdulikan Danish yang duduk bersebelahan dengannya.


Sesekali laki-laki berwajah oriental itu melirik ke samping. Memperhatikan Arifa, yang tanpa sadar ia tersenyum. Tidak ada yang melihatnya saat ini. Mereka yang ada di hadapannya, tengah sibuk menikmati makanan.


"Makan Om, gak usah lihatin saya kayak gitu," ucap Arifa dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan. Ternyata dugaan Danish salah. Walaupun diam, tebakan Arifa benar karena ia telah merasa. Danish terkejut dan langsung membenarkan posisi duduknya. Bianka dan Aldi pun saling bertukar pandang.


"Kenapa Om ?" tanya Bianka yang mulai penasaran.


"Tidak, tidak ... lanjutkan makannya," elak Danish, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan melihat sebuah notifikasi. "Om ke luar dulu ya. Kalau sudah selesai bilang, nanti biar Om yang bayar," lanjut Danish yang kemudian berdiri dan berjalan ke luar restauran.


Setelah selesai makan, Danish membayar nya ke kasir. Sementara yang lain langsung pergi ke mobil dan menunggu di dalamnya.


"Bianka, aku mau ke toilet sebentar ya, kamu duluan aja ke mobil," kata Aldi yang izin pada Bianka saat mereka bertiga telah berada di samping pintu mobil.


"Oke deh ... ayuk Fa!" sahut Bianka lalu mengajak Arifa sambil membuka pintunya. Aldi pun pergi setelah Bianka dan Arifa masuk ke dalam.


"Ka, om kamu lagi diet ya?" tanya Arifa sambil mengatur posisi duduknya senyaman mungkin, saat telah berada di dalam mobil.


"Gak tau aku juga, Fa ... dia juga gitu jarang makan, padahal dia juga ada sakitnya. Kalau dulu mendiang nenekku masih ada, aku sering lihat om dimarahi karena jarang makan dan terlalu 'gila' kerja," jelas Bianka yang mengingat masa kecilnya dulu.


"Oh gitu ya. Memang om kamu sakit apa kalau boleh tau?" Arifa bertanya kembali.


"Apa ya itu, hem ... es ... es ... "


"Es teler ?" sahut Danish yang tiba-tiba membuka pintu. Arifa segera mengalihkan pandangannya ke lain arah, sedangkan Bianka tergelak tawa.


"Itu enak om, seger diminum pas matahari lagi terik," kata Bianka di tengah tawanya. Berbeda dengan Arifa yang menahan tawanya. Setelah semuanya masuk ke dalam, mobil pun mulai melaju.

__ADS_1


Perjalanan pulang, kondisi jalan utama cukup padat di akhir pekan ini. Apalagi tak jauh dari restauran itu sedang ada pasar dadakan di sepanjang trotoar jalan.


Arifa menolehkan wajah ke samping kiri, memandangi segerombolan orang-orang yang berjalan tergesa-gesa di trotoar yang telah berubah fungsi menjadi pangkalan pedagang kaki lima. Para pejalan kaki itu bahkan harus memiringkan tubuhnya karena lebar trotoar menjadi sangat sempit.


Sudah hampir setengah jam bersabar dengan kondisi jalanan yang padat merayap, mobil pun akhirnya bisa melaju dengan normal. Semua penumpang yang ada di dalamnya bisa bernapas lega.


"Ka, aku turun di kampus ya. Aku harus ambil motor yang kemarin sempat aku tinggal di parkiran," kata Arifa sambil melihat Bianka.


"Oke, Fa ... Pak tolong berhenti di depan kampus ya!" Bianka kemudian memberi perintah pada sopirnya.


Hanya dalam waktu lima menit, mobil pun berhenti di depan gerbang kampus.


"Terima kasih ya Bianka, om Danish. Saya duluan," pamit Arifa kemudian turun dan pintu di tutup kembali.


Bianka membuka kaca pintu mobilnya, "Hati-hati Arifa, jangan ngebut-ngebut!" katanya lalu melambaikan tangan. Begitupun dengan Arifa.


Ketika mobil telah pergi, Arifa masuk ke dalam dan berjalan ke tempat motornya terparkir. Namun sebelum itu, tenggorokannya yang merasa kering membuat Arifa pergi ke mini market yang ada di samping area parkir.


Sebuah mini market terkonsep kafetaria, sangat terasa nyaman. Arifa pun duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Tak jauh dari tempatnya berada, ada dua orang yang tengah asik bicara. Satu perempuan menghadap ke Arifa dan satunya laki-laki yang membelakanginya. Ia pun duduk di belakang laki-laki yang keduanya saling berlawanan arah.


Arifa membuka minumannya sambil menyalakan layar ponsel. Tanpa sengaja karena jarak yang cukup dekat, Arifa bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Zaman sekarang apa sih yang gak mungkin. Kamu masih muda, cantik, energik dan penuh semangat. Banyak laki-laki di kampus ini yang naksir sama kamu, tapi kamunya malah ngedekin El terus. Aku aja sampai ngiler kalau lihat kamu, hehehe," ucap laki-laki yang terdengar kurang ajar, tapi sepertinya hanya gurauan semata.


"Tapi aku maunya sama El. Bambaaaaaang!" sergah perempuan dengan nada yang pura-pura marah, namun sama halnya hanya sebuah gurauan.


Tunggu, El? apa itu si buldozer? Wah ada juga yang mau sama dia, bahkan kayaknya perempuan dibelakang ini udah cinta mati banget sama dia. Ya ampun segitunya.


Arifa berdesis pelan sambil melihat live streaming Haechan. Tiada hari tanpa melihat wajah kekasih halunya itu. Baginya, Haechan adalah pelipur lara saat penat hadir menyapa.

__ADS_1


Setelah menghabiskan minumannya. Arifa beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kasir.


"Ini kembaliannya, Mbak," ucap penjaga kasir sambil memberikan beberapa keping uang koin dengan nominal lima ratus rupiah.


"Makasih," kata Arifa seraya tersenyum.


"Sama-sama."


Arifa keluar dari mini market itu, kemudian menghampiri motor matic kesayangannya. Segera ia memakai helm saat telah berada di atas motor, lalu pergi dari tempat parkir kampus.


"Akhirnya kamu pulang, setelah semalaman aku merasa khawatir sama kamu," kata Arifa yang berbicara dengan motornya.


Baru saja Arifa keluar dari gerbang kampus, Eliezer yang kali ini mengendarai motor, masuk ke dalam dan memarkirkannya di sana. Setelah melepas helm, ponselnya pun berdering.


"Hallo?" sapa Eliezer sat menjawab telepon dari Putra.


"Kita di dalam mini market ya!" kata Putra kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Dengan raut wajah serta suasana hati yang tidak bersahabat, Eliezer menghampiri Putra yang ada di dalam mini market. Tak ia sangka sebelumnya, ternyata Putra sedang duduk berdua dengan Naura. Rasa tidak suka pun tidak bisa ia sembunyikan.


"Gue kira lo sendiri Ka." Eliezer yang telah berdiri di samping Putra, melihat Naura yang tersenyum manis padanya, namun hanya di respon dengan sikap tak acuhnya.


"Duduk, El! Dia tuh tadi telepon lo tapi gak diangkat-angkat. Lo jadi lari pagi?" seloroh Putra sambil menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.


Eliezer melirik sekilas ke arah Naura, lalu menoleh ke Putra kembali. "Jadi kok," jawabnya singkat.


"Muka kamu kenapa El? kok kayaknya sedih gitu?" tanya Naura yang sejak tadi memperhatikan Eliezer.


"Gak apa-apa kok."

__ADS_1


Putra yang menjadi penengah pun langsung mengalihkan pembicaraan mereka untuk kegiatan ospek selanjutnya.


...Bersambung ......


__ADS_2