Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Ospek Last Day


__ADS_3

Bangun di pagi hari, olahraga ringan, mandi serta sarapan enak dan bergizi telah selesai Arifa lakukan. Hatinya sedang merasa bahagia, sebab hari ini adalah hari penutupan kegiatan ospek. Rasanya sudah tidak sabar untuk belajar di dalam kelas untuk mata kuliah hari pertama esok hari. Pasti menyenangkan, bukan? terlebih menjadi seorang mahasiswi jurusan hukum, yang nantinya akan berkutat dengan pasal-pasal dan melihat problematika dunia dari cara pandang yang luas.


Kini, Arifa baru saja selesai mengikat sepatu sneakers berwarna putihnya. Ia pun berdiri sambil meraih tas ransel yang ada disebelahnya, kemudian ia pakai. Oh iya, kunci motor yang ia taruh di atas nakas yang berada di samping kasur tak lupa juga ia ambil. Saat keluar tempat kost, tak lupa mengunci pintu.


Arifa mengangkat kedua tangan seraya menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia juga menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri sehingga bunyi KRETEK dan membuatnya merasa pegal dibagian pinggangnya menjadi lebih baik. Arifa naik ke atas motor sambil menaikkan juga standartnya ke atas. Memakai helm, menyalakan starter dan kemudian berangkat.


Udara pagi yang sangat sejuk membuat Arifa sepanjang jalan terus menghirupnya hingga merasuki paru-paru dan menenangkan pikirannya. Sesekali ia sambil bersenandung, menyanyikan lagu kesukaannya sampai tak terasa ia telah masuk melewati gerbang kampus dan memarkirkan motornya.


Setelah melepas helm, Arifa turun dan berjalan masuk ke dalam. Ia juga sebenarnya belum acara penutupan ospek akan dilakukan dimana. Namun pergi ke kantin kampus menjadi tujuannya kali ini.


Setibanya di kantin, Arifa melihat Eliezer sedang duduk berdekatan dengan perempuan yang kemarin ia lihat di mini market, Arifa masih ingat betul wajah perempuan itu. Melihat dua orang di depannya, ia berjalan begitu saja melewati mereka seolah tidak kenal. Sementara Eliezer yang melihat Arifa lewat mengalihkan pandangannya yang sejak tadi terpaku pada Naura.


Sekilas Arifa mendengar perempuan yang berbicara dengan Eliezer memperbincangkan tentang acara hari ini. Lagi-lagi Arifa tidak perduli. Ia pergi ke salah satu kedai yang menyediakan camilan.


"Bu, saya mau beli keripik pisang koin satu sama air mineral ya," ucap Arifa. Ibu penjaga kedai itu mengangguk, lalu ia mengambil makan dan minum yang akan ia beli. "Ini uangnya, Bu," sambungnya sambil memberikan satu lembar uang lima puluh ribu rupiah.


Ibu itu melihat uang yang masih berada di tangan Arifa, lalu melihat wajah tirus nan mungil yang ada di depannya dengan guratan sedih di wajahnya. "Neng, apa gak ada uang pas? Ibu belum ada pelanggan sepagi ini. Jadi belum ada kembaliannya."


Arifa merasa terenyuh, masih ada orang lain yang berjuang lebih keras lagi dibanding dirinya. Ia merasa tidak tega lalu berkata, "Uang kembaliannya buat Ibu aja ya."


Ibu itu bernapas lega, ucapan syukur pun keluar dari mulutnya. Rona bahagia seketika terpancar, ia kemudian mengelus lengan Arifa dengan lembut. "Terima kasih ya Neng, semoga rezeki Neng lancar terus."


Arifa ikut terharu, "Aamiin Bu." Kemudian tersenyum.


"Ngomong-ngomong nama Neng siapa? Ibu baru lihat, mahasiswi baru ya di kampus ini?" tanya ibu penjaga kedai. Arifa mengangguk pelan.


"Iya Bu. Saya Arifa ... Bu saya sambil duduk ya," kata Arifa lalu berjalan menuju kursi panjang yang ada di depan kedai. Kemudian membuka bungkus camilan.


"Iya silahkan." Ibu penjaga kedai pun ikut duduk di kursi semata. "Ambil jurusan apa Neng?" tanyanya lagi.


"Hukum, Bu," jawab Arifa disela mengunyah camilannya.

__ADS_1


"Bagus dong, nanti jadi pengacara ya Neng," seloroh ibu itu lalu tersenyum. Perbincangan mereka semakin lama membangun keakraban antara keduanya. Hingga tak terasa camilan yang berada di tangan Arifa telah habis.


"Aamiin Bu, semoga tercapai," sahut Arifa setelah selesai minum. "Bu, saya ke dalam dulu ya," pamitnya dan diberi anggukan kepala oleh ibu penjaga kedai.


Arifa beranjak dari tempat yang tadi ia duduki, berjalan keluar dan melewati Eliezer yang masih ada di sana bersama perempuan yang sama. Arifa sama sekali tidak menoleh ataupun melirik. Berbeda dengan Eliezer yang refleks melihat Arifa. Namun kali ini pandangannya tertangkap oleh perempuan disebelahnya.


"Kamu kenal sama dia El?"


Pertanyaan itu membuat Eliezer tersadar dan menoleh ke sebelahnya. Ia tidak membantah maupun mengiyakan. Hanya tatapan datar yang ia tunjukkan.


"Lanjut aja Ra. Mana lagi yang belum fix?" tanya Eliezer tidak menghiraukan pertanyaan Naura tadi.


"Oh, oke." Naura merasa aneh, pikiran negatifnya pun mulai berputar-putar dikepalanya. Seketika, ia ingin mencari tahu tentang Arifa yang membuat Eliezer melihatnya sampai sebegitunya. Naura mulai menjawab pertanyaan Eliezer barusan.


Sementara Arifa kini telah bergabung dengan teman-teman satu kelompoknya selama kegiatan ospek di pinggir lapangan.


"Mulai jam berapa ini penutupannya? kalian tahu gak?" tanya Arifa sambil melipat kedua tangan di dadanya.


"Eh iya Fa, kamu tahu gak nama kakak panitia yang tempo hari ngasih peralatan ke kamu itu loh?" tanya yang lainnya. Arifa langsung teringat siapa orang yang dimaksud temannya itu. Eliezer.


"Oh, sekilas sih aku dengar dari kakak panitia yang lain namanya Eliezer," jawab Arifa sekenanya. Ia enggan untuk menceritakan kejadian sebenarnya pada mereka.


"Oh namanya Eliezer," ucap mereka bersamaan.


"Tapi kok tahu nama kamu, Fa?" tanya yang lainnya lagi karena saking penasarannya.


"Mungkin dia lihat dari daftar nama, kan diantara kalian cuma aku yang namanya berawal dari huruf A," timpal Arifa membuat mereka mengangguk bersamaan.


Selama kegiatan ospek, Arifa digabungkan bersama beberapa orang perempuan yang memiliki gaya hight sosialita. Semuanya pun tak lepas dari make up yang on. Mungkin karena mereka semua masuk ke dalam jurusan yang berbeda dengan Arifa, yaitu Bisnis Ekonomi yang fokus pada bidang perkantoran dan juga sekertaris.


Walau demikian, Arifa dan teman-teman satu kelompoknya itu tetap saling menghargai tanpa saling menjatuhkan satu sama lain. Namun, setelah tahu mereka memiliki ketertarikan pada Eliezer. Entah apa yang terjadi pada sikap mereka kalau Arifa menceritakan yang sebenarnya. Apa bisa jadi perang dunia ke tiga?

__ADS_1


Saat tengah asik berbincang, salah seorang panitia berbicara menggunakan pengeras suara yang ia kaitkan di bahu.


"Untuk para mahasiswa dan mahasiswi baru segera berkumpul di gedung aula. Karena sebentar lagi pelaksanaan penutupan kegiatan ospek akan segera dimulai."


"Ayuk kita ke sana!" ajak Arifa dan mereka mengikutinya.


Kegiatan mereka dimulai dari sebuah permainan kekompakan kelompok, uji kecerdasan hingga penyematan ratu dan raja dari para mahasiswa dan mahasiswi baru sebagai penghujung acara. Dan pengumuman penyematan itu akan dibawakan oleh dua orang, perempuan dan laki-laki dari seksi acara panitia ospek.


"Baiklah, untuk mempersingkat waktu. Kita akan mengumumkan yang akan menjadi raja dan ratu sebagai perwakilan dari kalian semua."


"Iya benar, langsung saja kita bacakan ya ... yang kita sebut namanya langsung maju ke depan ya?"


"Iya!" sahut semua yang hadir.


"Rizky Oktian dan Arifa Nazwa!" ucap pembawa acara itu berbarengan.


Teman-teman satu kelompok dengan Arifa langsung berteriak histeris karena salah satu dari kelompok mereka ada yang terpanggil. Mereka pun saling merasa bahagia. Namun berbeda dengan Arifa yang sangat terkejut dan diam seolah tidak percaya.


"Arifa ayuk maju!" kata salah satu temannya.


Rizky yang telah maju, membuat yang lainnya meneriaki nama Arifa dipandu dengan para pembawa acara yang bertugas.


"Arifa!"


"Arifa!"


"Arifa!"


Arifa beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan maju ke depan podium. Sementara di sudut gedung, ada Eliezer yang berdiri bersama Naura. Tak sadar ia menyunggingkan senyumannya saat Arifa telah naik ke atas podium. Wajah yang menurut Eliezer sangat cantik dan menarik itu berhasil membuat Naura terbakar api cemburu.


Apa setelah ini Naura akan membuat perhitungan pada Arifa? Dilihat, wajahnya yang kini merah padam dan hati yang bergemuruh hebat. Sebab Eliezer seakan mengabaikan ia yang berdiri disampingnya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2