
Malam pun mulai semakin larut. Tapi perempuan berwajah tirus, masih nyaman menatap layar laptop yang masih membuatnya enggan berpaling. Rasa kantuk pun belum mampu menguasainya. Mungkin bisa jadi sebaliknya, dia akan sulit tidur malam ini.
Tidak dapat dipungkiri, kenyataan pahit menyaksikan serta merasakan satu per satu orang yang disayangi telah pergi untuk selamanya. Dia merasa sendiri, dimasa sulitnya mencari jati diri. Sebab, satu-satunya kakak laki-laki berada sangat jauh dari Arifa.
Tujuan awal menyalakan laptop kembali, memang untuk melakukan video call dengan sang kakak. Tapi sejak tadi, panggilan itu tidak kunjung dapat jawaban. Arifa yang kini memposisikan tubuhnya tengkurap di atas kasur serta kedua tangan yang menopang dagunya.
Tiba-tiba ...
"Hai, Fa. Gimana kabarnya?" Farhan menyapa sambil melambaikan tangannya. Terlihat jelas wajah kakaknya yang lumayan tampan dan hampir memiliki kemiripan dengannya, versi laki-laki.
"Kakak, Rifa baik. Tapi hati Rifa yang gak baik," jawabnya dengan memasang wajah cemberut pada laki-laki yang berada di dalam panggilan video itu.
"Kenapa sih? Haechan punya pacar? atau dia mau menikah?" Kali ini ledekan Farhan membuatnya berdecak kesal.
"Rifa harap itu gak akan pernah terjadi, selain Rifa orangnya," sahutnya sambil menjulurkan lidah.
"Ah, kamu ini mimpi aja bisanya!" kilah Farhan, tidak terima dengan keinginan adiknya.
"Sirik aja sih! makanya punya pacar lagi, wuuu." Arifa membalas ledekan Farhan barusan.
"Terus kenapa itu hati jadi gak baik? coba cerita sama Kakak," kata Farhan, melipat kedua tangan di atas sebuah meja dan sedikit mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Mamah kak ... Mamah udah gak ada," lirih Arifa dengan wajah sendunya.
"A--apa? yang benar kamu, Fa? maksudnya, gak ada itu meninggal?" tanya Farhan yang seketika gelagapan dan tidak percaya dengan ucapan adiknya.
"Aku lihat sendiri makam mamah. Kakak tahu? mamah meninggal dibawah tangan Danish, orang yang pernah meminta ganti rugi perusahaan papah kepada kita waktu itu."
"Tunggu, Kakak masih belum paham, coba ceritakan yang jelas Fa." Tampak jelas tatapan Farhan yang begitu penasaran pada layar laptop Arifa.
__ADS_1
"Jadi gini ... " Arifa mulai menceritakan sesuai dan persis seperti yang diceritakan Danish padanya tadi sore. Hatinya terenyuh kembali, dan lagi-lagi tangis pun pecah. Ia sampai tergugu. "Aku mau pindah tempat kost Kak," kata Arifa disela tangisannya.
Farhan pun ikut bersedih dan menitikkan air mata. Walau sebisa mungkin dia tahan dan disembunyikan, tetap saja tidak luput dari Arifa. Anak mana yang tidak sedih jika orang tuanya meninggal dunia? seburuk apapun mereka semasa hidupnya, tetaplah sebagai anak tidak boleh membenci apalagi mencaci. Karena anak dan orang tua kandung tidak ada istilah mantan.
Cukup lama kakak beradik itu berbincang, meluapkan rasa sedihnya. Karena kini hanya tinggal mereka berdua. Walaupun ada Lina, tetap saja berbeda. Ada rasa segan jika ingin meminta bantuan.
"Udah ya, jangan sedih. Kapan-kapan kalau Kakak libur, Kakak bakal kunjungi Rifa. Atau kalau Rifa libur, boleh kok liburan ke tempat Kakak, oke? be strong my girl. Kamu perempuan hebat, tetap jaga diri, jaga hati juga supaya gak jatuh cinta pada orang yang salah."
Arifa tersenyum mendengar nasehat yang diutarakan kakak semata wayangnya itu.
"Sekarang istirahat ya, besok kan harus ke kampus. Untuk pindah tempat kost, nanti Kakak coba bantu cari-cari info dari teman-teman," sambung Farhan.
"Iya Kak. Okey ... aku juga udah mulai ngantuk. Bye, Kak." Arifa melambaikan tangan, begitu pun dengan Farhan. Lalu panggilan berakhir.
Arifa menutup kembali laptopnya lalu menaruhnya kembali di atas meja belajar, kemudian pergi tidur.
...----------------...
Tiba-tiba sebuah gedoran pada kaca mobil, membuatnya terperanjat kaget yang kemudian langsung duduk dan merasa sakit pada bagian kepala. Dia menoleh ke arah samping.
Hembusan napas kasar pun keluar begitu saja bersamaan dengan rasa kesal yang mendera. Lalu dia pun membuka kaca jendelanya.
"Lo ngapain masih pagi udah disini El?" tanya Putra, merasa aneh dengan laki-laki di dalam mobil yang tak lain adalah Eliezer.
"Ganggu aja lo Kak! gue lagi tidur, habis kabur dari rumah," jawab Eliezer sambil berdecak kesal. Ia menutup kaca jendela, meraih tas ransel yang ada di samping kemudi, lalu keluar dari dalam mobil.
Masih sangat jelas terlihat kantung mata serta muka bantal pada Eliezer. Putra yang melihat itu pun seketika mengulum bibirnya karena menahan tawa.
"Lo sendiri ngapain ke kampus pagi-pagi Kak?" Kali ini Eliezer yang bertanya pada kaka seniornya itu.
__ADS_1
"Ada yang mau gue kerjain," jawab Putra dengan entengnya. Eliezer hanya menganggukkan kepala.
"Ya udah deh, gue ke restoran junkfood sebrang kampus dulu ya Kak," kata Eliezer yang kemudian pergi meninggalkan Putra. Tidak lama berselang, Putra pun pergi dari sana.
...----------------...
Arifa bisa bernapas lega, karena dia tidak melihat keberadaan Danish di tempat kostnya. Dia pun kini bersenandung riang sepanjang mengendarai motornya menuju kampus. Seakan tengah menyuarakan kemenangan telak atas dirinya.
Dua puluh menit kemudian, dia telah sampai di halaman kampus yang digunakan sebagai tempat parkir di sana. Di pagi yang belum ada sinar matahari yang menyilaukan, menambah suasana kampus terasa sangat sepi dan hening.
Arifa turun dari motornya lalu berjalan menuju kantin. Dia akan menjalankan misi berjualan online mulai hari ini.
Padahal jika Farhan tahu, pasti akan marah. Sebab, kakak laki-lakinya itu hanya ingin dirinya fokus dengan kuliah dan bisa segera sampai pada sebuah titik akhir, yaitu wisuda.
Seketika kedua bola mata Arifa membola saat melihat kedai yang biasa jualan camilan itu porak poranda dan tidak beraturan dari ujung kantin. Kursi yang tergeletak, meja terbalik, hingga beberapa camilan yang tadinya ada di atas meja juga berceceran di lantai.
Terenyuh, itulah yang Arifa rasakan saat ini. "Kenapa bisa terjadi seperti itu? dimana ibu penjaga kedai itu sekarang?" ucapnya dalam hati sambil menghampiri kedai tersebut.
"Neng lagi ngapain di sini?"
Suara seorang perempuan paruh baya menoleh. Sedangkan perempuan itu menghampirinya.
"Ibu tahu gak kemana perginya yang jualan camilan ini?" tanyanya dan perempuan itu terdiam, tampak berpikir.
"Kalau saya sih gak tahu alamat rumahnya dimana, yang saya tahu cuma gang ke arah rumahnya aja, Neng," jelas perempuan itu menjawab pertanyaan Arifa.
"Dimana Bu, kalau boleh tahu?"
...Bersambung ......
__ADS_1