
Setelah acara penyematan selesai, Arifa duduk kembali di tempatnya. Begitu pula dengan Rizky. Keduanya mendapatkan masing-masing mendali emas, sertifikat, mahkota, karangan bunga, parcel serta uang tunai sebesar lima juta rupiah. Sungguh hadiah yang menggiurkan bukan? Suatu kebanggan untuk Arifa, namanya akan dikenal banyak orang di kampus ini. Hadiah yang Arifa terima pun tidak ia gunakan sendiri. Melainkan bersama teman-teman satu kelompoknya, dan ia pun berniat memberikan sebagian lainnya kepada ibu penjaga kedai yang tadi pagi sempat berbincang dengannya.
Semuanya pun membubarkan diri. Sementara Arifa bersama temannya yang lain masih berkumpul di gedung aula. Ia membagi rata hadiahnya pada mereka.
"Teman-teman, ini ada sisa lima ratus ribu. Apa kalian setuju kalau uang ini aku berikan pada ibu penjaga kedai camilan di kantin kampus?" tanya Arifa dengan hati-hati, bagaimana pun ia tidak ingin membuat keputusan sendiri. Tanpa mereka, Arifa tidak akan mendapatkan hadiah ini. Ya, ada kenyamanan dan kebahagiaan sendiri bagi Arifa berkumpul dengan orang-orang yang memiliki selera humor seperti mereka.
Semuanya saling bertukar pandang, lalu salah satu diantaranya berkata, "Kalau kami terserah kamu Fa. Tapi bagus juga sih, bisa berbuat baik terhadap sesama. Benar gak gaes?"
"Iya benar, dikasih kamu aja kami udah bersyukur. Artinya kamu menganggap kami teman baik. Terima kasih ya Fa."
Arifa tersenyum bahagia. "Iya sama-sama, jadi gak apa-apa ya sisa uangnya aku berikan kepada beliau?" tanyanya dan mereka mengangguk cepat.
"Kalau gitu, aku mau ke tempat ibu tadi, sekalian mau minum, haus," kata Arifa seraya berdiri.
"Fa ini mahkota, bunga sama mendali siapa yang bawa?"
"Buat kalian aja yang mau siapa, hehe."
"Eh jangan gitu! gimana kalau mendali kamu yang bawa. Kan kamu yang menang uji kecerdasan tadi, kalau mahkota buat aku aja ya hehe."
Lalu mereka menyerukan. "Uuuuuuu, hahhhaahaha."
"Eh bunganya buat aku aja sini, biar disangka gak jomblo!" seloroh yang lainnya.
__ADS_1
Mereka pun tergelak dengan tawanya. Arifa yang merasa perutnya agak mules segera pergi dari sana sebelum rasa mules itu semakin menjadi. Setelah kepergian Arifa, mereka semua membubarkan diri dan pergi dengan urusan mereka masing-masing.
Di kantin, Arifa hendak menghampiri kedai yang akan ia tuju. Tapi tiba-tiba seorang perempuan yang ia kenali wajahnya memotong jalan dan berdiri tanpa memperbolehkan Arifa lewat.
"Ikut gue!" Perempuan itu menarik tangan Arifa. Dengan cepat Arifa melepaskannya dengan sedikit kasar, sebab sebuah cengkeraman yang barusan diterima membuat lengannya memerah.
"Bisa bicara baik-baik gak?" tanya Arifa dengan nada yang sopan namun tatapannya cukup tajam.
"Gak bisa!" sentak perempuan itu membuat Arifa menyeringai.
"Tunggu disini, saya ada urusan sebentar. Nanti kita bicara lagi," kata Arifa dengan tegas lalu berjalan sambil menabrak bahu perempuan itu hinga yang ditabrak memekik kesakitan.
"Sialan!" umpat perempuan itu. Arifa berdesis setelah mendengarnya.
Ibu penjaga kedai itu terlihat sedang duduk di sebuah kursi semata menunggu pelanggan yang akan membelinya. Tampak sepi memang. Karena hanya dia yang berjualan aneka camilan ringan serta minuman dingin yang ada di kulkas. Harga yang dijual pun bervariasi. Dan bagi Arifa harga-harga itu cukup standar serta tidak terlalu mahal.
"Eh Neng Arifa, mau beli camilannya?" tanya ibu itu dengan sikap ramahnya.
"Enggak Bu," jawab Arifa. Wajah ibu itu seketika murung dan menghela napasnya. "Jadi, tadi saya dapat hadiah. Sebagian udah saya bagi-bagi untuk saya dan juga teman-teman. Nah ini ada sebagian buat Ibu, semoga bisa membantu ya Bu," sambungnya. Seketika mata ibu itu berkaca-kaca saat Arifa menyodorkan sebuah amplop ke tangannya.
"Benar ini Neng?" tanya ibu itu seakan tidak percaya. Arifa mengangguk cepat dengan senyumnya yang sangat tulus dari hati. Dan lagi ucapan syukur terus keluar dari mulutnya. "Terima kasih banyak ya Neng, semoga rezekinya lancar dan Neng bisa mudah menggapai cita-cita sesuai keinginan Neng," sambungnya. Mendoakan Arifa kembali.
"Aamiin, sama-sama. Makasih juga ya Bu doanya, mungkin karena tadi Ibu doain saya, eh saya dapat hadiah, hehe," sanggah Arifa membuat ibu itu menyunggingkan senyumannya yang lebar.
__ADS_1
Arifa melirik ke arah Naura yang masih menunggunya di ujung kantin. Raut wajahnya masih sama, bahkan lebih merah dari yang tadi. Ibu penjaga kedai menangkap ara pandang Arifa.
"Itu namanya Naura, orang tuanya pemilik semua kedai di kantin ini. Neng hati-hati ya kalau berurusan sama dia. Terutama ayahnya, dia sangat memihak pada anaknya se-salah apapun, tetap dia bela," ucap ibu penjaga kedai yang begitu saja bercerita pada Arifa.
"Iya, Ibu tenang aja ya," kata Arifa sambil mengelus lembut lengan ibu itu. "Kalau begitu, saya ke sana dulu ya Bu, permisi," pamitnya kemudian.
Setelah mendengar tentang keluarga Naura dari ibu tadi, sebenarnya ada sedikit rasa ragu di hati Arifa untuk melawan sikap Naura yang entah kerasukan apa. Arifa tidak tahu apa alasan Naura bersikap demikian padanya. Atau mungkin memang tabiat Naura sepertu itu? sering menyepelekan orang? Tapi sejauh ia mengikuti ospek, tidak ada panitia satupun yang melakukan tindakan bullying kepada semua mahasiswa baru. Pikir Arifa yang terus menerka-nerka seiring mendekati Naura yang telah menunggunya sejak tadi.
"Ada urusan apa lo sama tukang kedai? lo anaknya?" tanya Naura yang semakin geram. Kedua tangannya berkacak pinggang.
"Gak usah bawa-bawa orang lain! Sekarang mau bicara apa? disini aja, cepat saya tunggu," jawab Arifa sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ia masih bisa bersikap santai kepada perempuan yang kini dihadapannya.
Tiba-tiba dua orang perempuan datang dan berdiri dibelakang Naura. Arifa bingung. Ada apa sebenarnya?
"Tunggu, tunggu. Ini kenapa bawa pasukan ya? kalau kamu ada urusan sama saya, ya kita aja berdua. Kenapa harus bawa pasukan segala?" kata Arifa lagi, napasnya mulai naik turun. Emosinya pun sedikit terpancing. Ia memejamkan kedua matanya sejenak sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Lo jangan sok kecantikan! apalagi kalau lewat di depan Eliezer. Dia itu tunangan gue!"
Mendengar kata Eliezer, Arifa seketika tergelak dengan tawanya.
"Hah? siapa tadi? Eliezer? orangnya yang mana aja saya gak tahu. Lagi pula siapa yang kecantikan helow! Ada saran lain?" kata Arifa sambil mengibaskan tangannya. "Dengarnya Mbak Naura yang terhormat, saya gak pernah berlagak sok kecantikan seperti yang kamu katakan. Toh memang dasarnya saya udah cantik kok, kecuali ada yang bilang saya ganteng. Hahahaha ... lucu ya kamu. Udahlah, permisi saya mau pulang! Bye!" sambungnya lalu menerobos ketiga orang yang ada di depannya.
Naura hanya mematung mendengar yang diucapkan oleh Arifa barusan. Telapak tangannya mulai mengepal, kakinya pun turut dihentakkan.
__ADS_1
"Awas lo ya! berani-beraninya sama gue!" Ancam Naura yang kemudian pergi dari sana diikuti kedua dayang-dayangnya. Ia tidak ingin semakin malu karena kondisi kantin semakin ramai.
...Bersambung ......