
"Biarkan aja. Lagi pula ada crew EO yang mengurus semuanya," jawab Eliezer, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Kamu belum tiup lilin dan potong kue, loh?" kata Arifa yang memang sepengetahuan kata 'ulang tahun' dibenaknya seperti itu.
Eliezer tergelak dengan tawanya kembali. "Gak Fa. Ulang tahun dalam acara ini tuh hanya sekadar berpesta. Kami menyebutnya ulang tahun, macam di club malam gitu. Karena sistemnya bergilir, jadi hari ini adalah jatah aku," ucapnya membuat Arifa terperangah.
"Jadi ada minuman alkohol juga di dalam?" tanya Arifa yang merasa tidak percaya. Lantas untuk apa dia membawa kado yang sangat besar tadi?
"Ada dong, minuman yang tadi sempat kamu bawa itu sebenarnya mengandung alkohol tapi hanya beberapa persen aja, gak sampai bikin kamu mabuk kok walau minum lima gelas sekaligus," jawab Eliezer dan benar-benar membuat Arifa tidak percaya. "By the way, terima kasih ya hadiahnya. Padahal ulang tahunku yang sebenarnya masih beberapa bulan lagi," sambungnya seraya tersenyum.
"Aih! kamu udah bohongin aku ternyata. Ya udahlah, aku marah sama kamu!" kata Arifa lalu melangkah pergi meninggalkan Eliezer yang masih di sana.
"Arifa! jangan marah!" teriak Eliezer lalu mengejar Arifa secepat kilat. Setibanya di dekat mobil, tangannya pun dengan cepat meraih lengan perempuan berwajah tirus itu.
"Eeeeh!" Arifa tersentak kaget, apalagi entah sengaja atau tidak, Eliezer membawanya ke dalam pelukan, nyaman.
Tak lama kemudian Arifa mendorong kuat-kuat hingga tangan yang tadinya melingkar di bahunya kini terlepas seketika.
"Jangan cari kesempatan dibalik kesempitan deh!" ucap Arifa yang masih merasa kesal.
"Okey, maaf." Eliezer memasang wajah yang sangat menyedihkan. "Yuk silahkan masuk duluan ke mobil Tuan Putri," katanya sambil bertekuk lutut, berlagak seperti pangeran.
"Apaan sih kamu El!" Arifa salah tingkah kembali. Setelah itu, Eliezer tersenyum melihatnya sudah tidak memasang raut wajah marah lagi.
Keduanya pun masuk ke dalam mobil, lalu pergi dari villa itu.
...----------------...
Di sebuah kamar yang ada di dalam villa itu, Naura baru saja dibaringkan oleh Putra. Benar apa kata Eliezer, tapi Putra tidak membawanya ke hotel karena awalnya tidak percaya dengan penuturan temannya itu.
"El, kamu harus tanggung jawab. Ah! tolong ... panas."
Naura terus meracau, Putra sendiri malah kebingungan. Hal yang tidak terduga pun terjadi, Naura langsung melepaskan pakaian yang tengah dikenakannya.
"Astaga, Naura!" pekik Putra yang semakin bingung dan salah tingkah, apalagi saat melihat lekuk tubuh Naura yang sangat ideal bagi seorang laki-laki. Ditambah hanya tersisa kacamata haram dan segitiga berenda.
__ADS_1
Naura seketika bangun lalu menarik tangan Putra hingga keduanya terjatuh ke atas kasur dengan posisi Putra yang menindih tubuh Naura. Kulit putih, mulus dan terasa sangat lembut menandakan kalau Naura memang sangat merawat tubuhnya dengan sangat baik. Mungkin produk yang digunakan pun tidak akan murah harganya.
"Naura! lepasin gue!" Putra berusaha bangun dan melepaskan kedua tangan Naura yang melingkar di pinggangnya. Tapi entah karena pengaruh obat, tenaga Naura sangat kuat. Putra jadi kelagapan sendiri.
"Aduh gimana ini. Malah idoy ikut bangun lagi. Kalau sampai kebablasan bisa fatal. Apa yang harus gue katakan pada ibu dan ayah. ****! Naura!" kata Putra yang menggerutu dan mencoba berpikir keras.
Tanpa aba-aba, Naura langsung melahap langsung bibir Putra yang sempat terbuka sedikit. Merasa tidak ada perlawanan, Naura terus memperdalam permainannya mengikuti naluri hasratnya itu.
Semakin lama, Putra menjadi terpancing dengan Naura yang semakin agresif. Dia pun membalas permainan bersilat lidah hingga tanpa sadar keduanya telah tidak berpakaian lagi.
"Come on, El. Aku udah siap. Aku harap, kalau setelah ini akan ada anak kita dalam rahimku. Dan kita akan segera menikah."
Putra mendadak menghentikan sentuhannya setelah mendengar nama Eliezer disebut kembali oleh Naura. Ia merasa marah dan tidak terima, lalu memegang wajah Naura dengan kedua tangannya. Memastikan kalau perempuan itu menatapnya dalam-dalam dibalik kabut gairahnya yang telah mampu menutupi kesadarannya itu.
"Gue bukan El, Ra! panggil gue Putra!"
"Hah? Putra!" Naura memekik yang setengah sadar. Hasratnya hilang seketika, tapi sayang itu tidak bertahan lama. Obat pembangkit rangsangan itu mulai bereaksi kembali. "Ah! panas. Bantu aku tolong!" teriaknya.
Putra pun menyeringai, dalam hitungan detik sebuah terong melesat bebas masuk ke dalam palung. Tiba-tiba laki-laki itu merasa aneh, dia kira Naura masih bersegel. Tapi nyatanya tidak ada lenguhan rasa sakit yang dikeluarkan oleh perempuan itu.
Namun Putra tidak menghentikan permainannya, dia terus berusaha supaya mencapai puncak. Walau rasa nikmat itu tidak benar-benar dirasakannya. Akan tetapi dia pun tidak serta merta mengeluarkan cairannya di dalam, melainkan di atas perut putih nan mulus itu.
"Maaf Naura, gue gak akan membiarkan lo hamil. Dan sepertinya gue bukan orang yang pertama mencicipi tubuhmu. Buktinya gak ada bercak darah sedikit pun yang keluar," kata Putra seraya memakai pakaiannya kepada Naura yang tengah tertidur setelah permainan panasnya.
Putra yang telah selesai memakai pakaiannya, menyelimuti tubuh polos Naura lalu pergi dari kamar itu untuk pulang ke rumahnya karena malam sudah sangat larut.
...----------------...
Keesokan harinya, Naura terbangun dan merasa terkejut saat melihat pakaiannya tergeletak di lantai.
"Astaga! siapa yang udah tidur sama aku semalam? Lagi-lagi aku melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya. Bodoh, Naura bodoh, Naura bodoh!" hardiknya pada diri sendiri. Dia bahkan setengah menyadari akan kegiatan panasnya semalam bersama Putra.
"Tunggu, ini bukannya jam tangan Putra?" Naura menepuk keningnya saat melihat jam tangan analog di atas lantai. Karena memang keduanya cukup dekat, ia tahu betul benda itu yang biasa dipakai oleh Putra sehari-hari. "Bagaimana bisa aku melakukannya sama Putra? kenapa gak sama Eliezer?" tanyanya lalu berdecak sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Naura segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Akan tetapi ada sedikit kelegaan dalam hatinya saat tangannya tidak sengaja memegang cairan yang lengket serta kental pada bagian perutnya.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Naura memakai pakaiannya kembali lalu menghubungi supir pribadi keluarganya agar menjemputnya di villa itu.
"Pak, bisa jemput saya gak sekarang?" tanya Naura lewat sambungan teleponnya.
"Bisa, tapi jemput dimana Non?"
"Nanti saya share location ya."
Sambungan telepon pun diputus oleh Naura. Kemudian beralih ke aplikasi WhatsApp untuk mengirimkan lokasinya saat ini.
Kali kedua Naura melakukan kesalahan, sang ayah sebenarnya tidak pernah tahu menahu tentang pergaulan Naura di luar. Dia akan pasang badan jika Naura sendiri yang meminta bantuan. Tak banyak yang tahu, ayah Naura memiliki kekayaan tidak sebanding dengan Eliezer. Sebab, kekayaan yang keluarganya miliki hanya masih milik keluarga besar bukan pribadinya. Tanpa itu semua, mereka bukan siapa-siapa.
Ketika keluar dari kamar, Naura melihat banyak sekali tamu undangan yang semalam datang masih tertidur pulas di kursi serta sofa. Ia berjalan perlahan, supaya semuanya tidak sampai terbangun.
Sebuah mobil pun tiba di halaman villa, Naura tahu betul itu mobilnya, segera masuk ke dalam. Kemudian mobil pun melaju meninggalkan halaman villa itu.
...----------------...
Seminggu kemudian.
Pagi hari di tempat kost, Arifa masih enggan membuka matanya. Suara ayam yang sejak tadi sudah berkokok pun bagai dianggap angin lalu baginya.
Hari ini tepat satu minggu setelah acara Eliezer. Dikarenakan hari minggu, alun-alun kota J sedang melaksanakan car free day menyambut hari ulang tahun kota tersebut. Arifa pun baru mengetahuinya lewat sebuah sosial media semalam.
Akan tetapi rasa malasnya untuk bangun, sungguh menyita waktu. Perlahan dia membuka matanya. Melihat waktu pada ponsel yang tergeletak di atas sebuah meja kecil sebelah tempat tidurnya.
"Udah jam delapan ternyata. Gagal olahraga deh. Mending aku mandi terus cari sarapan di sana. Siapa tahu banyak makanan enak dan juga murah." Arifa bergumam seraya bangun dan beranjak ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Arifa telah siap. Setelan hoodie dan jogger berwarna abu-abu serta rambut yang ia kuncir menyerupai buntut kuda dan juga tak lupa memakai topi berwarna hitam. Ditambah lagi sneakers warna putih, semakin memperlihatkan sisi tomboy-nya seorang Arifa.
Dia segera mengunci pintu lalu pergi menggunakan sepeda motornya menuju acara tersebut. Alun-alun kota pun tidak jauh dari tempat kostnya. Walau awalnya ia ingin pindah, tapi karena Danish tidak muncul lagi. Niat itupun diurungkan.
Suasana hatinya sedang membaik hari ini, sebab mengingat closing barang yang ia jual bisa mendapat dua kali lipat dari modal awal. Walau uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.
Tiba di tempat parkir alun-alun, Arifa turun dari motor dan berjalan menuju sebuah loket di pintu masuk. Ternyata car free day ini gratis dan yang bayar itu hanya untuk parkir motor saja.
__ADS_1
"Hai, Arifa!"
...Bersambung ......