
Seorang perempuan berparas cantik tengah duduk di ruang meeting bersama seorang laki-laki yang merupakan asistennya. Raut wajahnya tampak bosan, dia telah menunggu lama demi bertemu seseorang di kantor itu.
Senyum sumringah pun terbit kala pintu terbuka, namun seketika bibirnya mengerucut. Ternyata orang yang muncul dari pintu itu bukanlah orang yang dia cari.
"Maaf Bu Amora, Pak Danish masih libur untuk satu minggu ke depan. Mungkin Anda bisa menemuinya setelah dia pulang berlibur," jelas Rinto dengan sopan.
Napas perempuan itu tertahan sejenak lalu dihembuskan dengan keanggunan yang tiada tara. "Oke, baiklah. Minggu depan, beri tahu bosmu aku ingin menemuinya." Dia berdiri lalu pergi dari ruang meeting itu diikuti dengan asistennya yang menyunggingkan senyum dan mengangguk sopan.
Rinto menggelengkan kepala. Sebelum menemui Amora, laki-laki itu telah memberitahu Danish terlebih dahulu. Ia mengira, Danish sudah pasti tahu apa yang akan dibicarakan perempuan itu.
Di dalam lift, Amora mendengkus kesal. Setelah berita mengenai dirinya tersebar karena gagal bertunangan, membuat teman-teman sosialitanya pergi satu per satu. Ayahnya pun kecewa. Bagi laki-laki yang sudah berumur itu, Amora tidak bisa diandalkan dalam segi memikat kaum pengusaha kaya raya.
"Nona, kita harus kembali ke kantor. Ayah Anda memberi pesan pada saya, kalau beliau telah menunggu di sana sekarang," ucap asistennya. Walau laki-laki itu tahu kalau Amora pasti sedang buruk suasana hatinya. Tapi mesti ia lakukan, karena sebenarnya ia bekerja untuk ayah dari perempuan yang berdiri di sebelahnya.
"Hmm!" Amora hanya bergumam dengan nada kesalnya sambil melipat kedua tangan di dada.
...----------------...
Seminggu sudah Danish dan Arifa merasakan babymoon di negeri yang cukup jauh dari tanah air tercinta. Sejak tadi pagi, Arifa telah mengemas barang-barang yang akan dibawa kembali ke dalam koper.
Danish yang baru saja masuk ke kamar, menggelengkan kepalanya. Sebab Arifa masih sibuk dengan koper-koper itu.
"Sayang, sudah dong. Jangan sampai kelelahan. Kan aku sudah bilang kalau barang-barangnya biar nanti aku aja yang beresin. Sekarang kamu istirahat ya. Nanti malam kita akan pulang, perjalanan kita cukup jauh Sayang," papar Danish. Laki-laki itu memeluk sang istri dari belakang guna menghentikan aktifitasnya.
Dipeluk sang suami memang terasa nyaman dan menenangkan hati. Arifa pun patuh lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Perempuan itu tidak sendiri tentunya, ada sang suami yang ikut tidur bersamanya.
Kali ini Danish membiarkan Arifa untuk beristirahat. Sebab selama seminggu kemarin, laki-laki itu sungguh sangat bringas. Dalam satu hari bahkan bisa melakukannya dua hingga tiga kali. Benar-benar luar biasa.
Langit sudah gelap, hanya ada taburan bintang yang menghiasi malam. Danish dan Arifa keluar dari penginapan. Sebuah mobil yang termasuk fasilitas tempat mereka menginap pun telah menunggu di depan teras. Koper-koper yang akan dibawa, telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu masuk ke dalam kursi penumpang yang ada di belakang, disusul dengan sopir di kursi kemudi. Kemudian mobil pun melaju menuju bandara.
...----------------...
Tiba di bandara yang berada di kota J, Danish dan Arifa di jemput oleh Lee, sopir pribadinya di depan lobby kedatangan. Lee pun membantu Tuannya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Setelah itu, mobil melaju menuju kota D, rumah mereka berada.
Sepanjang perjalanan, Arifa hanya bersandar pada dada bidang sang suami. Namun tiba-tiba, ia merasa kram pada bagian perut bawahnya.
"Au!" pekik Arifa. Kedua tangannya memegangi perut.
"Kenapa Sayang?" tanya Danish. Raut wajah pria itu mendadak khawatir dan panik.
"Gak tau Sayang, rasanya sakit sekali." Arifa mengeluh, bahkan sampai meringis kesakitan.
"Pak kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Danish pada Lee. Laki-laki itu mulai kalut.
Tak sengaja, Danish menyentuh betis Arifa. Ketika tangannya terangkat, ada darah yang mengalir di sana. Keduanya saling pandang.
"Kamu tenang ya, kita akan menuju rumah sakit sekarang," ucap Danish begitu lembut. Arifa pun mulai mengatur napasnya untuk meredakan rasa sakit.
Setibanya di rumah sakit, Arifa lalu digendong Danish masuk ke dalam ruang IGD.
"Tolong istri saya!" seru Danish yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
Para dokter jaga serta perawat yang ada di sana langsung bergegas.
"Baik Tuan, mari!" ajak salah satu perawat.
Ada yang menyiapkan tempat tidur, kemudian Danish menaruh istrinya di sana disusul dengan dokter yang akan memeriksa.
__ADS_1
"Maaf Tuan, bisa tunggu di luar sebentar? soalnya dokter akan memeriksakan kondisi tubuh Nyonya."
Danish mengangguk patuh pada perintah perawat tadi sebelum menutup tirainya. Mereka sangat fokus memeriksa, terlebih ada darah yang mengalir dari jalan lahir.
Beberapa saat kemudian, perawat itu keluar dan tak lupa untuk menutup tirainya kembali. Danish mengerutkan alis, tiba-tiba perasaannya merasa tidak enak ketika melihat perawat tadi berlarian.
Dokter pun ikut keluar untuk memberitahu Danish.
"Dok apa yang terjadi pada istri saya dan calon anak kami?" Danish menatap nanar dokter tersebut. Saat ini ia benar-benar sangat gelisah.
"Istri Anda harus segera diambil tindakan. Dan satu hal lagi ... besar kemungkinan anak Anda tidak bisa diselamatkan. Sebab, kontraksi yang istri Anda rasakan cukup kuat. Bahkan cairan ketubannya pun sudah mulai merembes," papar dokter itu. Danish tertegun sejenak. Itu artinya dia akan kehilangan seorang anak yang selama ini didambakannya.
"Baik Dok, lakukan yang terbaik!" tegas Danish dan dokter itupun mengangguk.
"Mengingat kondisi istri Anda sudah sangat lemah karena kehilangan banyak darah, jadi semuanya akan dilakukan tindakan saat ini juga ... Oh iya, dokter kandungan untuk istri Anda akan namanya dokter Fitri. Mengingat dokter Sindy tidak melakukan praktek di rumah sakit ini," papar dokter itu lagi.
"Iya gak apa-apa Dok."
Oke. Dua orang perawat langsung membawa Arifa menuju ruang operasi di lantai tiga, rumah sakit ini. Danish pun menghubungi Farhan dan juga kakaknya untuk meminta doa pada mereka supaya Arifa dapat dilancarkan operasinya.
Namun Farhan tidak bisa datang karena pekerjaannya sukar untuk ditinggalkan. Begitu pula dengan kakaknya, tapi dia bilang akan menjenguk istri adiknya itu, besok.
Dua jam sudah operasi berjalan, tidak ada tanda-tanda Danish dipanggil oleh perawat yang ads didalam. Laki-laki itu duduk termenung menunggu hasil.
Ditengah hatinya yang gundah gulana, ponsel yang ada di genggaman tangannya itu berdering. Danish melihat ke layarnya tertera nama Rinto, sekertarisnya.
"Hallo To, ada apa?" sapa Danish yang kemudian bertanya.
"Jadi begini Pak, tadi ... "
__ADS_1
...Bersambung ......