Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Kita Berteman?


__ADS_3

"Temanmu terkena magh, dia bilang sejak tadi belum makan terus maksain masuk kelas dalam perut masih kosong," kata bidan yang tadi memeriksa Arifa, sembari menaruh kembali stetoskop serta lampu senter kecil ke tempat semula.


"Saya gak apa-apa kok," sanggah Arifa, berusaha duduk dan sedikit meringis karena terasa sakit di bagian kepala. Sebelah tangannya refleks memegangi kepala yang seolah akan jatuh.


"Eh, jangan bangun dulu Arifa. Lihat tuh, wajahmu aja masih pucat!" sergah Eliezer, karena terlalu khawatir.


Arifa berdecak. "Saya gak apa-apa, El!" sentaknya, kali ini membuat laki-laki yang berdiri di sampingnya itu terkejut sekaligus bahagia.


"Fa, kamu sebut namaku?" tanya Eliezer dengan suara yang direndahkan hingga batas terlembutnya. Perempuan berwajah tirus itu menjadi kikuk, dia salah tingkah dan memegang lehernya yang seolah terasa sakit.


"Ehem, kayaknya Eliezer suka nih sama kamu," ledek bu bidan yang melihat sorotan mata yang diberikan Eliezer sungguh berbeda.


Jelas, Arifa sangat membuatnya tertarik dan begitu sangat penasaran. Sayangnya, cara Eliezer mengajaknya berkenalan sangat kaku dan membuat dia selalu emosi acap kali bertemu.


"Ah, Ibu bisa aja! mana mungkin," kilahnya seraya tertawa.


"Kok mana mungkin? kalau mungkin bagaimana?"


Makjleb! pertanyaan Eliezer seolah menusuk dan terpatri di hatinya. Bagaimanapun dia seorang perempuan yang belum pernah merasakan manisnya cinta dari seorang laki-laki, yang bukan keluarganya. Dia tersipu malu, dan hanya mengulum senyum atas respon dari pertanyaan laki-laki itu.


"Kenapa aku bisa senang? apa aku jatuh cinta? sama ... Eliezer?" gumamnya dalam hati pada laki-laki yang selama ini disebutnya buldozer.


"Udah ah, saya mau ke kantin!" ucap Arifa terburu-buru turun dari tempat tidur lalu menepuk bahu Eliezer. "Makasih ya udah nolongin saya," katanya lalu tersenyum. Lalu melangkah ke luar ruang UKS. "Bu, makasih ya," katanya lagi kali ini pada bu bidan saat ia hendak membuka pintu.


Eliezer mengejarnya. "Fa, tunggu aku!"


Arifa tetap tidak menghiraukannya dan berjalan lebih cepat supaya laki-laki yang terus meriakinya tidak sanggup mengejarnya lagi. Tapi ternyata dia salah, Eliezer malah berlari hingga keduanya berjalan beriringan menuju kantin.


"Kamu ngapain sih ngikutin saya?" tanya Arifa, hanya melirik dan enggan menoleh ke laki-laki yang ada disampingnya.


"Mau nemenin kamu aja, gak apa-apa kan?"


Arifa menarik napas panjang, kakinya masih tetap melangkah.


"Terserah kamu deh."


Eliezer tersenyum kegirangan. Dengan keluarnya kata 'terserah' dari mulut Arifa, baginya seperti mendapat lampu hijau sekaligus angin segar. Dia tidak akan melewati kesempatan kali ini.

__ADS_1


Setibanya di kantin, Arifa pergi ke salah satu kedai khusus makanan berat.


"Bu, soto mie sama nasi 1 porsi, terus minumnya es jeruk ya."


"Iya, Neng."


"Eh kok satu sih, Fa ... bu tambah satu lagi jadi dua ya."


"Es jeruknya juga Bang?" tanya penjaga kedai pada Eliezer, sebelum membuatkan pesanan.


"Iya Bu."


Saat mereka selesai pesan makan dan juga minum, tiba-tiba ada tiga orang perempuan yang sudah dapat dikenali baunya datang menghampiri.


Arifa memutar malas bola matanya, lalu pura-pura tidak menyadari kehadiran mereka dan pergi mencari tempat duduk yang kosong. Begitu pun dengan Eliezer yang juga malas akan kehadiran tiga orang itu.


"Sialan! mereka udah go publik sekarang. Awas lo ya, Arifa! perempuan murahan, gak tahu diri!" umpat perempuan yang mendapat julukan kuntilanak dari Arifa, yaitu Naura.


Sayangnya umpatan itu hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. Kedua ajudannya pun bahkan langsung ikut memberi tatapan sinis pada Arifa dan juga Eliezer yang tengah duduk bersama.


"Sabar Naura, nanti kita beri perhitungan pada bocah ingusan itu!" kata salah satu ajudan Naura.


Tak lama makan serta minum pun telah tersedia di atas meja. Arifa yang sejak tadi sudah terasa sangat lapar, langsung menyantapnya. Disini yang patut di beri tepuk tangan adalah Eliezer. Mungkin hanya hari ini dia akan menjadi laki-laki yang sedang bahagia bisa dekat dengan seorang perempuan yang disukainya.


...----------------...


Hari mulai beranjak sore, selesai makan Arifa membayar makanannya sendiri. Walau sempat dicegah oleh Eliezer, tapi dia lebih bersikukuh untuk tidak menggunakan uang orang lain, supaya tidak berutang budi.


"Fa, kamu mau langsung pulang?" tanya Eliezer, ketika sudah berada di tempat parkir. Arifa hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mau nonton dulu gak sama aku?"


"Sorry, saya gak bisa. Tugas dari dosen banyak banget, dedline besok pagi," jawab Arifa, menolak halus ajakan Eliezer. Ia sambil memakai helm.


"Oke, semoga lancar ngerjain tugasnya." Eliezer salah tingkah. "Oh iya, Arifa!" sambungnya, membuat yang dipanggil menoleh. "Kalau kamu gak mau nonton sama aku, gimana kalau aku jadi teman kamu?"


"Kita berteman?" Arifa mengulang pertanyaan laki-laki itu. Dengan cepat Eliezer mengangguk.

__ADS_1


Lalu Arifa menggeleng-gelengkan kepala seraya mengulum senyumannya. Dia sama sekali tidak menjawab iya ataupun tidak. Karena memang Arifa termasuk sulit mendapatkan seorang teman yang satu frekuensi dengannya. Dia memundurkan motornya, membuat Eliezer juga ikut mundur ke belakang. Lalu menyalakan klakson dan mengemudikannya.


Di seberang jalan, sebuah mobil sedan berhenti. Penumpang di dalamnya begitu fokus memperhatikan Arifa sedang berbicara dengan Eliezer di tempat parkir yang terjangkau oleh pandangannya. Senyum smirk pun terbit dari sebelah sudut bibirnya.


"Jalan, Pak. Ikuti perempuan itu!" titah seorang tuannya dan sopir pun mengangguk patuh.


Tidak lama berselang, mobil masuk ke halaman sebuah tempat kost. Di sana terlihat perempuan yang diikutinya tadi membuka helm dan hendak masuk ke dalam. Seorang laki-laki turun dari mobil dan berjalan menghampiri perempuan itu.


"Duh mana sih kuncinya, perasaan udah ditaruh ke dalam tas deh tadi pagi." Perempuan itu mengeluh sambil merogoh dan mengaduk-aduk isi tasnya. Tidak lama, kunci yang dicari pun ketemu. "Nah kan!"


CETREK. CETREK.


Pintu pun berhasil di buka. Dia segera membuka sepatu kemudian masuk ke dalam. Sementara laki-laki yang tadi turun dari mobil, berdiri tepat di samling motornya.


Ketika membalikkan tubuh, hendak menutup pintunya kembali. Perempuan itu tersentak kaget.


"Astaga!" Jantungnya terasa ingin copot. Detaknya pun semakin cepat. Dia mencoba mengatur napas sambil mengelus-elus dadanya.


"Sejak kapan Om Danish ada disitu?"


Laki-laki yang kini dihadapannya bersilang dada sambil berjalan mendekati dirinya. Rasa takut mulai muncul, tapi sekuat tenaga harus bisa dia kalahkan dengan keberanian.


"Kalau ada tamu itu disuruh masuk, bukan hanya di diamkan."


Arifa memutar malas kedua bola matanya. Sungguh benar-benar malas. Tunggu dulu! apa Danish benar-benar datang sesuai apa yang dikatakannya kemarin? Kalau pun benar, ini bisa jadi mimpi buruk untuk Arifa.


"Om mau apa datang ke sini?" Arifa memberanikan diri untuk bertanya.


"Memangnya salah kalau saya datang ke sini?" Danish malah bertanya balik. Arifa mulai kesal dibuatnya.


"Kalau gak ada keperluan, mending Om balik deh," kata Arifa yang mencoba mengusir Danish dari sana.


"Gak ada yang bisa mengusir saya dari manapun! termasuk kamu."


Lagi-lagi dia bicara soal kekuasaannya. Arifa sangat malas sekali mendengarkan hal itu dan segera menutup pintu. Tapi secepat mungkin Danish menahannya. Mereka saling dorong satu sama lain.Hingga akhirnya sesuatu hal tak terduga pun terjadi.


Apa ya? Jangan-jangan mereka membuat ulah di sana?

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2