
Di tengah keramaian kota J sore ini, banyak kendaraan berlalu lalang memadati jalan yang terasa sudah semakin sempit, sesak bahkan sulit mencari celah untuk saling mendahului. Akan tetapi semua itu tidak ada artinya bagi Arifa yang kini tengah duduk di sebuah taman kecil yang cukup ramai, dekat dengan kafe tadi.
Pemandangan anak-anak dengan usia sekitar 2 sampai 3 tahun tengah berlarian di depan Arifa. Tanpa sadar, senyum itu mengembang dari kedua sudut bibirnya.
Dulu, ia pun pernah merasakan diposisi anak-anak itu. Bahagia, tanpa beban sekalipun sedang menangis. Beranjak dewasa, ia merasa kalau dunia semakin menjerat dirinya, memaksa agar menjadi perempuan yang lebih kuat lagi ketika kenyataan pedih datang. Terlebih ketika mengenal sebuah rasa yang tumbuh dalam hatinya. Untuk menangis saja rasanya tidak mampu, apalagi tertawa?
Bukankah rasa adalah hal yang tersulit untuk dihentikan dalam detik itu juga? sekalipun ada darah yang keluar dari sebuah luka yang tampak menganga, tapi hati? tidak mudah untuk menjabarkan juga mengobatinya.
Sesekali ia menghela napasnya. Lalu menghembuskannya perlahan bersamaan dengan punggung yang ia sandarkan ke sandaran kursi tempat duduknya.
Ish! kenapa aku jadi galau gini sih? tuh kan, kan, kan. Menyebalkan. Gak, gak, gak aku gak boleh terhanyut sama perasaan sendiri. Come on! ubah cara pandang kamu Arifa!
Ia beranjak dari sana, karena matahari kini telah berganti bulan. Langit yang tadinya masih berwarna jingga, kini berubah menjadi biru kehitaman. Hamparan bintang yang tersebar di langit pun, telah menandakan malam telah datang.
Tak disangka saat dirinya hendak berbalik badan, seorang laki-laki tengah berdiri tegak di depannya. Pandangan mereka seketika terkunci, tidak menghiraukan keramaian yang ada di taman itu.
Arifa terkesiap dari lamunannya. Mencoba tersenyum dan bersikap seperti biasanya.
"Terima kasih Om udah nolongin saya tadi dari siraman air yang dilakukan Naura." Itulah kata pembuka yang menurutnya patut untuk dijadikan awal perbincangan.
Laki-laki itu selangkah maju ke depan. Menaruh kedua tangan ke dalam sakunya lalu menarik napasnya dalam-dalam. Entah kenapa jika diperhatikan lebih dekat, rasa di dekat laki-laki itu telah berbeda, tidak ada rasa dan hambar, pikir Arifa demikian.
"Iya sama-sama, yang datang bersamamu itu, pacar?"
"Oh bukan Om, cuma teman." Arifa berkilah, tapi memang benar kenyataannya, hanya teman.
"Oh saya kira itu pacar kamu. Serasi. Tapi sayangnya terakhir saya lihat dia ... lagi asik ngobrol berdua sama perempuan yang tadi hampir melukaimu."
(Kruyuk Kruyuk)
Arifa tersenyum meringis setelah mendengar suara perutnya yang berbunyi karena kosong.
__ADS_1
"Maaf ya Om efek belum makan," ucapnya, tidak enak hati.
Danish hanya tersenyum seraya menghela napasnya. "Kalau gitu kita ngobrol di kedai yang ada di sebrang aja gimana ?" usulnya, Arifa mencari keberadaan kedai yang Danish maksud, tak lama menemukannya.
"Oh iya, oke."
Keduanya berjalan menuju kedai yang dimaksud oleh Danish. Setibanya di sana, mereka langsung memesan menu yang tersedia lalu mencari tempat duduk yang berada di lantai 2 karena di lantai itu modelnya lesehan.
"Omong-omong, kamu sama laki-laki itu kenal dimana? kampus?" Kali ini Danish yang membuka pembicaraan .
"Iya, kakak senior."
"Oh, terus kuliah kamu gimana? tempo lalu saya pernah menawarkan pekerjaan ke kamu, tapi ternyata pekerjaan yang aku butuhkan itu sudah terisi dari pegawai yang di rekrut oleh Rinto."
"Ya, lancar Om. Iya gak apa-apa. Saya juga ... " Arifa menghentikan kata-katanya. Karena ia belum siap memberitahukan bisnisnya yang masih pemula itu. Walau pendapatan perbulan yang diterimanya cukup menggiurkan, tapi dari arahan Farhan untuk seorang pembisnis sukses itu hanya tolak ukur dan batu loncatan saja. Belum resmi jadi pengusaha sukses.
"Juga apa?" tanya Danish penasaran. Setelah kematian Sinta tempo hari, ia memang menghentikan segala informasi yang berkaitan dengan Arifa. Memilih fokus pada karirnya dan juga perempuan yang digadang-gadang akan menjadi tunangannya itu.
"Juga belum butuh pekerjaan," jawab Arifa sambil menghembuskan napasnya.
"Permisi, pesanannya Kak," ucap salah seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Danish juga Arifa.
"Iya terima kasih," kata mereka bersamaan.
"Waktu di acara car free day, bukannya Om bilang kalau Bianka sama Aldi putus? kenapa sekarang mereka jadi lamaran?"
"Yang saya tahu begitu, tapi ternyata ada fakta lain yang membuat keduanya diharuskan untuk segera diadakan acara lamaran. Terus seminggu kemudian juga mereka akan menikah dan tinggal di negeri tempat tinggal kedua orang tuanya Bianka."
Arifa mengerutkan keningnya, perasaannya berharap prasangkanya mungkin salah. Tapi dari pada penasaran, bertanya lebih baik daripada dipendam jadi pikiran.
"Fakta apa itu Om? Bianka hamil?" tanya Arifa dengan penuh hati-hati. Tidak maksud menyinggung, karena bagaimanapun Danish adalah om satu-satunya bagi Bianka.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Yuk sambil di makan," jawab Danish dengan yakin, lalu mempersilahkan Arifa untuk menyantap makanannya.
"Kita selesaikan makannya lebih dulu ya, setelah itu bisa bicara lagi. Soalnya saya gak suka kalau lagi makan sambil bicara," sambungnya dan Arifa hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
...----------------...
Di kafe tempat acara, ayah Naura menghampiri anaknya yang sedang bersama Eliezer.
"Ya ampun Naura. Ayah cariin ternyata kamu disini? nah ini siapa? laki-laki yang menghamili kamu itu?"
Deg. Eliezer seperti ditikam oleh ratusan jarum ke dalam hatinya. Sejauh itukah drama yang dibuat Naura? hingga ayahnya sendiri berhasil dikelabui? sungguh penipu yang ulung.
"Hamil? kamu beneran hamil Ra?" tanya Eliezer pada Naura, merasa tidak percaya karena mereka sama sekali tidak pernah melakukan apa-apa.
"Ih kok kamu kaget gitu sih El. Ini kan anak kamu juga," jawab Naura dengan nada manjanya sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
Kebetulan tepat di saat musik berhenti dan hanya suara mereka yang menggema di seluruh ruangan. Kali ini mereka menjadi pusat perhatian di acara itu.
"Salah Ra! kamu itu udah ngelakuinnya sama Putra, bukan sama aku!" kata Eliezer yang membantah dengan tegas.
"Jahat kamu El! anak sendiri aja gak kamu akuin, huhuhu." Naura tiba-tiba menangis, sedangkan Eliezer yang merasa dipermalukan langsung berdiri.
"Benar-benar sakit jiwa!" sentak Eliezer.
PLAK!! tamparan mendarat mulus di pipi Eliezer oleh ayahnya Naura.
"Dasar laki-laki gak tahu diri! udah hamilin anak saya, sekarang bilang kalau anak saya sakit jiwa. Jangan lari dari tanggung jawab kamu! cepat nikahi anak saya!"
"Sorry Om, seumur hidup saya sampai detik ini pun saya gak pernah menyentuh perempuan manapun. Walau saya menyukai satu perempuan, tapi saya menghormatinya dan gak akan menyentuhnya sebelum pernikahan. Besok saya akan ke perusahaan Om, dan Om akan tahu sendiri kenyataannya seperti apa. Permisi!"
Ayah Naura hanya tercengang mendengar itu, kemudian menatap putri semata wayangnya dengan tatapan yang penuh keraguan.
__ADS_1
"Ikut Ayah! kita bicara di rumah!"
...Bersambung ......