
"Permisi, dengan Tuan Farhan?"
Seketika orang yang dipanggil menoleh ke arah pintu. Sepertinya dia lupa untuk menutup pintu saat masuk ke dalam kamar beberapa menit yang lalu. Karena cukup sibuk berkemas, sehingga pintu yang terbuka dia biarkan begitu saja.
Perempuan itu merupakan pegawai hotel yang berpakaian menyerupai pramugari itu terlihat cukup seksi di mata Farhan.
"Ada apa memangnya?" tanya Farhan, seraya jalan ke arah perempuan itu yang masih berdiri di gawang pintu.
Tak disangka, dia terpesona dengan sosok Farhan yang tampan serta kharismatik. Sampai-sampai dirinya terkesiap saat Farhan telah berdiri di tepat dihadapannya.
"Oh iya ini ... " Dia memberikan sebuah dompet khusus kartu pada Farhan, dan laki-laki itupun menerimanya. Ternyata dompet itu milik adiknya, terlihat dari sebuah foto anak perempuan yang tertempel di depan sampul dompet.
"Tadi ada crew WO yang menemukan ini di kamar ganti pengantin dan memberikannya pada saya. Setelah saya tanyakan pada resepsionis, hanya tinggal Tuan Farhan yang masih belum check out dari sini ... makanya saya menghampiri kamar Tuan, dan tidak sengaja saya melihat pintu kamar terbuka. Jadi saya tidak menekan bel, malah langsung bersuara. Mohon maaf ya Tuan, sekali lagi," lanjut perempuan itu sambil menunduk sopan.
"Oh iya gak apa-apa, lagi pula saya yang lupa menutup pintu," ucap Farhan, memaklumi.
"Terima kasih Tuan. Kalau begitu saya permisi," pamit perempuan itu. Farhan hanya menganggukkan kepalanya. Lalu perempuan itupun keluar dari kamar Farhan.
Sheila, nama yang cantik dan juga seperti wajahnya. Gumam Farhan dalam hatinya, ketika membaca nametag yang terpasang di bagian dada sebelah kiri perempuan tadi.
...----------------...
Sepasang pengantin baru itu baru saja tiba di kota Y, tepatnya di sebuah rumah yang pernah dikunjungi bersama beberapa bulan yang lalu. Rumah itu tak lain peninggalan mendiang ibu dari Danish. Saat keduanya turun dari mobil, para tetangga menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
"Selamat ya Mbak, Mas. Semoga pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin. Terima kasih ya ucapan serta doanya," ucap Danish lalu tersenyum bersamaan dengan sang istri.
"Iya Mas, Mbak. Semoga cepat diberi keturunan ya. Mumpung masih muda Mbak-nya jangan sampai ditunda, ndak baik."
"Iya Bu." Arifa menjawabnya dengan senang hati.
__ADS_1
"Bapak, Ibu sekalian. Nanti malam kami akan mengadakan syukuran. Bapak, Ibu semua bisa datang ya! ajak sanak saudara juga gak apa-apa," seru Danish membuat hati mereka yang mengerumuni saling bertukar pandang dan merasa sangat bahagia.
"Iya Mas. Kalau begitu kalian silahkan beristirahat saja terlebih dahulu, kami juga harus kembali ke ladang," sanggah salah satu tetangga lainnya.
"Oh iya, silahkan."
Para tetangga pun akhirnya pergi dari sana. Lalu Danish dan Arifa pun masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam, kedua orang yang bertugas membersihkan rumah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Aden dan istri. Selamat menempuh hidup baru," ucap Bowo membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Terima kasih Pak Bowo dan juga Bu Angki," sahut Danish lalu tersenyum, begitu pun dengan Arifa. "Oh iya saya minta tolong untuk pasangkan tenda di depan rumah terus beri hiburan musik serta siapkan makanan dengan bentuk prasmanan untuk malam ini ya," titahnya pada kedua orang itu.
"Baik Den. Saya akan mengerjakannya sekarang."
"Terima kasih."
Danish pun langsung membawa Arifa pergi ke kamar untuk beristirahat. Sebab laki-laki itu tahu kalau perjalanan yang cukup panjang ini membuatnya sama-sama lelah serta tidak terburu-buru untuk melakukan hubungan suami istri. Dan inginnya laki-laki itu pula, segera membuat Arifa mengandung walau saat ini sang istri masih kuliah di semester dua.
Arifa masuk lebih dulu kemudian diikuti oleh Danish. Ketika sang suami telah menutup pintu dan menguncinya, ada debar yang membuat Arifa mendadak resah serta gelisah. Kamar ini adalah kamar yang masa kecilnya. Sebab hanya kamar ini yang ukurannya cukup luas dibanding kamar mendiang ibunya.
"Malas sekali rasanya, aku juga mau langsung tidur, ngantuk sekali," timpal Arifa. Perempuan itu ikut merebahkan tubuhnya di samping Danish. Detak jantungnya bahkan bisa di dengar oleh dirinya sendiri atau mungkin Danish juga.
"Kamu kayaknya lagi gugup. Benar begitu Sayang?" tanya sang suami, memiringkan tubuhnya menghadap istrinya. Sang istri pun merasa semakin gugup. Aneh rasanya baru kali ini berdua dengan seorang laki-laki dalam satu kamar bahkan satu tempat tidur dengannya.
Karena sejak kecil, kamar dirinya dan juga Farhan sudah terpisah. Bahkan tidur dalam tempat tidur yang sama pun tidak pernah. Dan ini pertama kalinya.
"I-iya Sayang. Kamu jangan lihatin aku kayak gitu dong, malu tahu!" seru Arifa kemudian membelakangi Danish karena merasa salah tingkah.
"Gak boleh loh tidur membelakangi suami." Danish semakin mendekatkan tubuhnya pada punggung sang istri lalu melingkarkan tangannya di perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Laki-laki itu bahkan merasakan sekali detak jantung Arifa yang sulit untuk tenang. Apalagi hembusan napas yang keluar dari hidung Danish membuat bulu halus di lengan perempuan itu berdiri seketika.
__ADS_1
Ada segelintir rasa yang begitu menggelitik untuk memejamkan mata sejenak, menikmati deru napas itu hingga merasuki alam bawah sadarnya. Kemudian, keduanya tertidur dengan posisi Danish memeluk tubuh Arifa dari belakang.
...----------------...
Malam pun tiba, para tetangga datang satu per satu lalu dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan. Danish dan Arifa pun menyambut kedatangan mereka dan langsung mengarahkannya ke meja prasmanan untuk menikmati jamuan makan malam sebagai tanda rasa syukur atas kebahagiaan sepasang pengantin baru tersebut.
"Ternyata tetangga sekitar rumah aja ramai banget ya Sayang?" tanya Arifa yang sangat begitu antusias melihat tamu yang bahkan lebih banyak dari acara yang mereka langsungkan di hotel kemarin.
"Iya, walaupun keadaan rumah disini jaraknya cukup berjauhan, tapi kebersamaannya sangat erat bahkan seperti keluarga sendiri."
"Iya kah?" Arifa terperangah, sementara Danish hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Iringan suara gamelan, menambah malam yang cerah ini semakin meriah. Terlebih saat dua orang sinden mulai mengibing, menghibur para tamu yang hadir.
Tiba-tiba Bowo menghampiri Danish lalu membisikkan sesuatu ke telinga tuannya itu.
"Ada keluarga dari mendiang nyonya datang ke mari Den."
"Dimana?" tanya Danish, mengerutkan kening merasa heran.
"Mari Aden ikut saya," ajak Bowo yang membawa Danish serta Arifa masuk ke dalam rumah.
Terlihat ada kurang lebih delapan orang yang duduk di ruang tamu berukuran cukup luas itu. Danish tersenyum kepada mereka, begitu pula dengan Arifa. Tidak ada yang tampak aneh, mereka bahkan terlihat hanya ingin mengunjungi keponakannya itu yang sedang mengadakan pesta dadakan.
"Apa kabar Paman dan Bibi?" sapa Danish sambil berjabat tangan satu persatu kepada mereka.
"Baik, sangat baik Danish," ucap salah seorang paman Danish.
"Ayuk makan dulu di luar! Paman, Bibi," seru Arifa dengan senyumannya yang sangat sumringah.
Akan tetapi tiba-tiba, raut wajah mereka berbeda seratus delapan puluh derajat ketika melihat Arifa tersenyum dengan lebarnya. Danish yang menyadari hal itu, langsung mengalihkan pembicaraan untuk menjaga perasaan perempuan yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Jadi, ada apa kalian datang menemuiku?"
...Bersambung ......