
Dua hari berlalu setelah acara car free day itu. Arifa kembali menjalani aktifitasnya di kampus seperti biasanya. Tak lupa bisnis online yang sedang digelutinya saat ini membuat Arifa semakin bersemangat untuk menjadi seorang perempuan yang tidak haus akan harta yang dimiliki laki-laki. Termasuk sebuah pernyataan cinta.
Sebelum berangkat ke kampus, ponsel Arifa tiba-tiba berdering. Dikeluarkannya ponsel itu dari dalam saku celana lalu dilihat nama pemanggil di sana.
"Bianka? ada apa ya? bukannya dia udah pindah kampus?" Arifa bertanya-tanya, namun akhirnya panggilan itu dijawab olehnya.
"Hallo, Bianka?" sapa Arifa yang sedikit hati-hati.
"Hai, Fa. Apa kabar? udah lama ya kita gak saling tegur sapa," kata Bianka diujung sambungan telepon.
"Iya nih, kabarku baik. Kamu sendiri?" Arifa bertanya balik pada Bianka.
"Sama, kabarku baik juga. Oh iya, kamu tahu kafe yang dekat kampus itu kan? yang waktu itu aku pernah ajak kamu tapi kamunya gak mau."
Arifa mencoba mengingat-ingat kembali. "Iya, iya aku ingat!" serunya. "Tapi sampai sekarang aku belum pernah ke sana, maklum banyak tugas jadi belum sempat kemana-mana," sambungnya demikian.
"Haha iya, paham kok. Anak hukum pasti lebih sibuk."
"Memangnya kenapa Ka?" tanya Arifa yang mulai penasaran.
"Lusa, aku mau lamaran di sana. Kamu dateng ya?"
"Sama Aldi, Ka?"
"Iyalah sama siapa lagi, Fa."
Arifa mengerutkan keningnya. Pasalnya setelah ia mengingat apa yang diucapkan oleh Danish, sungguh sangat berbeda. Bahkan kedengarannya Bianka sangat bahagia sekali.
"Ya, kalau gak ada halangan aku datang kok, Ka," kata Arifa sambil tersenyum walau Bianka tidak melihatnya.
"Aku acaranya sore, Fa. Terus malamnya, acara tunangannya om Danish di kafe yang sama."
__ADS_1
"Oh." Tenggorokan Arifa tiba-tiba kering dan seketika dia menjadi orang yang irit bicara.
"Jadi nanti setelah acaraku selesai, langsung di sambung oleh acaranya om Danish. Jadi para tamu disarankan untuk tetap berada di tempatnya."
"Okey." Singkat, padat dan jelas.
"Udah itu aja, nanti kalau kamu belum tahu alamatnya dimana, aku akan share location pas di hari H-nya ya, Fa."
"Okey Arifa, bye."
"Bye, Ka." Sambungan telepon pun terputus.
Arifa memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu bergegas berangkat ke kampus.
...----------------...
Setibanya di kampus, Arifa memilih langsung pergi ke kelasnya karena sebentar lagi mata kuliah akan segera dimulai. Terlebih dosen yang akan masuk ke kelas kali ini, merupakan dosen killer.
"Eh perempuan udik! mana gebetan baru lo?" Naura tidak pernah lelah terus menghardik Arifa dengan sebutan 'perempuan udik'.
"Siapa sih? saya gak pernah ngerasa punya gebetan tuh," jawab Arifa dengan santai lalu berjalan kembali karena sudah dikejar waktu sebelum dosen yang masuk ke kelas duluan.
"Jangan sok polos deh lo! mana buruan bilang," kata Naura yang mulai gregetan, kali ini ia mencengkeram kuat lengan Arifa.
"Aw! sakit. Lepasin gak!" pekik Arifa sambil berusaha melepaskan tangan Naura dari lengannya . Kuku Naura terasa sangat tajam. Walaupun Arifa telah memakan kaos lengan panjang yang cukup tebal, tapi kuku jari tangan itu terasa sangat menyakitkan.
Astaga ini kuku manusia apa nenek lampir sih! tajam banget. Malah susah banget lagi di lepasinnya. Si Naura kerasukan setan apa sih dia. Terus buat apa dia nyari Eliezer? batin Arifa bermonolog.
Lalu tak disangka oleh Arifa, secepat kilat sebuah tangan mendarat di atas tangan Naura dan sekuat tenaganya melepaskan dengan kasar. Arifa langsung mengusap lengannya yang terasa perih.
"Dasar kuntilanak gila!" Arifa yang tersulut emosi ikut melontarkan kata-kata kasar padanya.
__ADS_1
"Ada apa lo nyariin gue?" tanya Eliezer yang datang masih tepat waktu.
"Lo harus tanggung jawab!" jawab Naura yang mulai to the point dan langsung menunjukkan dua garis pada sebuah test pack ditangannya.
"Apa-apaan lo? kemarin-kemarin adem ayem aja. Kenapa sekarang jadi binal begini?" Eliezer tidak terima, jelas terlihat dalam test pack itu kalau Naura hamil yang tiada lain pasti anaknya Putra, pikir Eliezer demikian.
"Ah! udah saya mau ke kelas. Ganggu aja. El urusin tuh perempuan yang gak pernah ngaca ini. Permisi!" kata Arifa kemudian berlari menuju ruang kelasnya.
Setelah Arifa pergi, Eliezer mengeluarkan ponsel lalu mulai menghubungi Putra.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif dan berada di luar jangkauan, mohon periksa kembali."
****! nomor gue jangan-jangan diblokir sama kak Putra. Malah gue belum lihat dia lagi dari tadi. Batin Eliezer mulai ketar-ketir.
"Eh, Ra. lo ingat-ingat lagi deh ngelakuinnya sama siapa. Kalau udah pasti orangnya baru deh kasih tahu gue, siapa. Kalau lo asal nuduh kayak gini, bisa gue pastiin itu yang hamilin lo bakal terus ngumpet dari kesalahannya."
Mendengar kata-kata dari Eliezer, Naura membuka mata serta mulutnya bersamaan lebar-lebar.
"Eh lo tuh yang harusnya ingat-ingat, malam itu lo kan yang bikin gue sembuh dari obat sialan itu?"
"Hahahah, benar apa yang dibilang Arifa. Dasar gila! udahlah gue malas ngomong sama lo. Mending gue ngomong sama tembok deh." Eliezer membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi meninggalkan Naura yang masih ada di sana.
"Ih! sialan sialan sialan. Terus ini anak siapa dong! bodoh Naura bodoh. Putra juga sialan, dugaan gue salah besar pada El. Dia jadi benar-benar marah kan." Naura bermonolog merasa frustasi.
Sudah seminggu lebih Putra tidak terlihat di kampus oleh pandangan Naura maupun para antek-anteknya. Entah karena menghindar atau memang bersembunyi.
Akan tetapi, Eliezer tidak akan takut dengan apa yang dituduhkan oleh Naura padanya. Dia tidak salah, pastinya setelah ini dia akan mencari Putra sampai ke lubang semut sekalipun.
Sementara itu, Arifa baru saja mendapat hukuman karena kalah langkah oleh dosen yang mengajar mata kuliahnya pagi ini. Karena hal itu pula, hukuman untuk Arifa berdiri di depan kelas sambil memegang kedua telinga dan kaki yang diangkat satu ke atas.
Awas lo Naura! gara-gara lo gue jadi dihukum gini. Memalukan!
__ADS_1
...Bersambung ......