
"Hallo?" sapa Arifa. Terdengar suara bising kendaraan di ujung telepon itu.
"Ini Arifa Nazwa bukan?" Kini suara laki-laki yang bertanya padanya dan terdengar asing.
"Maaf ini siapa ya?" Arifa bertanya kembali pada laki-laki itu. Namun, lagi-lagi suara bising kendaraan terdengar cukup kencang di telinganya.
Arifa menjauhkan ponselnya lalu memutar malas bola matanya. "Hallo ini siapa?" tanyanya lagi dan kali ini sambil berteriak.
Saat tidak ada jawaban di ujung telepon, Arifa akhirnya mengakhiri panggilan dari laki-laki yang tidak ia kenal. "Orang gak jelas!" umpatnya kemudian.
Tanpa memperdulikan orang itu lagi, Arifa kembali melihat live streaming Haechan hingga akhirnya tanpa sadar iapun tertidur.
Namun, baru saja tertidur selama dua jam, ponsel Arifa kembali berdering. Dengan keadaan masih setengah sadar, ia menjawabnya.
"Hallo, ini siapa sih! ganggu orang tidur aja," ucap Arifa yang bahkan enggan membuka lebar kedua matanya dan tubuhnya pun masih terbaring.
"Rifa, tolongin aku dong. Aduh aku bingung harus minta tolong ke siapa," kata seorang perempuan disana. Arifa langsung terperanjat duduk dan melihat kembali ke layar ponselnya. Ternyata Bianka yang sedang meneleponnya.
"Eh, Bianka. Ya ampun maaf maaf, aduh. Kamu kenapa Ka?" tanya Arifa yang ikut panik, namun kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih.
"Sekarang kamu bisa ke rumahku gak? aku ke kunci di kamar, pelayan di rumah ini gak ada yang nyahut. Aku lapar banget, Fa," jelas Bianka membuat Arifa berpikir ulang.
"Kenapa bisa ke kunci Ka? memangnya telepon di rumah kamu gak bisa sama sekali di pakai? coba telepon om kamu atau pacarmu mungkin, aku gak tahu rumah kamu kan," ujar Arifa yang tidak mudah setuju tanpa ada alasan yang jelas. Sekalipun membantu itu perbuatan mulia, tetapi akal sehatnya harus tetap berjalan.
"Panjang kalau dijelasin, please Fa tolongin aku, hiks ... hiks ... hiks."
Mendengar Bianka menangis, Arifa pun bingung harus bagaimana. Padahal sebenarnya ia tidak ingin berada dalam ruang lingkup keluarga pak Brama lagi. Makanya sebisa mungkin Arifa menghindarinya. Dan sekarang apa boleh buat?
Tolongin gak ya, tapi kok perasaan aku gak enak gini ya. Apa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sama Bianka? Ya Tuhan tolong aku.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Arifa pun membuat keputusan. "Ya udah tolong kamu share location rumahmu Ka ke WhatsApp aku ya," ucapnya kemudian.
"Oke Fa, thanks a lot Arifa," kata Bianka.
"You're very welcome, udah ya? jangan lupa di share loc." Arifa memutuskan panggilan teleponnya.
__ADS_1
Saat Arifa bangun dari tempat tidur, ia merasa sedikit pusing di kepalanya. Mungkin, karena baru tidur sebentar. Tubuhnya terasa goyang ketika berdiri, Arifa memejamkan matanya sejenak sambil menyeimbangkan tubuhnya, lalu berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaian serta mengambil sebuah jaket di sana.
Suara jatuhnya air hujan pun sudah tidak terdengar lagi. Udara di luar malam ini, pasti terasa sangat dingin. Apalagi seharian ini hujan turun tanpa henti.
Setelah siap, Arifa mengecek kembali ponselnya untuk melihat share location yang dikirimkan oleh Bianka.
Owalah, ternyata dekat juga ya dari sini.
Arifa pun keluar dan tak lupa mengunci pintu. Dengan matanya yang masih terasa ngantuk, Arifa melajukan motor maticnya itu ke rumah Bianka.
Ketika masuk ke jalur jalan utama, Arifa sengaja melajukan motornya sedikit lambat. Sebab, jalanan di sini cukup licin. Jika tidak berhati-hati dalam berkendara, alhasil nanti terkena nasib apes seperti yang kini banyak diberitakan oleh penyiar televisi.
Tak lama ia tiba di depan sebuah rumah mewah. Arifa pun melihat kembali share location yang dikirim oleh Bianka pada Maps.
Rumahnya disini sama seperti rumahnya yang ada di kota D. Apa mereka sekeluarga pencinta model rumah glamor seperti ini?
Gumam Arifa sambil memarkirkan motornya di halaman rumah itu. Saat melihat ke sekeliling, memang tidak ada siapapun disana.
Arifa memberanikan diri berjalan hingga tepat di depan pintu utama. Entah kenapa hatinya ragu. Ingin rasanya kembali ke tempat kost dan berbaring nyaman di atas tempat tidur sambil bergulung dengan selimut. Rasa gelisah pun mulai menghantuinya terlebih saat ia hendak memegang handle pintu.
Arifa pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu mulai mencari kontak Bianka pada panggilan terakhir di sana, kemudian memanggilnya.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Bianka tidak menjawab telepon Arifa sama sekali.
"Duh, Bianka kemana sih! Diteleponin gak diangkat-angkat. Eh, tunggu ... Apa jangan-jangan dia pingsan lagi. Astaga!" Arifa bermonolog yang kemudian berkacak pinggang. Ia kebingungan sendiri berada di depan rumah orang sambil menoleh ke kanan dan kiri. Sepi, benar-benar sepi.
Tanpa berpikir panjang, Arifa langsung menerobos masuk ke dalam yang ternyata tidak terkunci. Setelah Arifa masuk, seorang satpam yang baru saja keluar dari toilet sangat terkejut saat melihat ada sebuah motor yang tidak ia kenali terparkir dihalaman rumah majikannya. Satpam itu langsung berlari ke dalam pos dan menghubungi seseorang.
Sementara itu, Arifa sibuk mencari kamar Bianka di dalam rumah. Setelah lantai satu ia jelajahi, kini mulai naik ke lantai dua.
__ADS_1
Ini rumah apa hotel sih, banyak banget kamarnya.
Arifa yang tadinya terasa sangat ngantuk, kini sirna seketika. Peluhnya pun mulai bercucuran di sekitar pelipis lalu mengalir ke pipi. Napasnya bahkan sudah tersengal-sengal.
Terakhir ada satu ruangan lagi yang berada di sudut lantai dua. Arifa bergegas mendekat ke arah ruangan itu lalu membukanya. Sayangnya pintu terkunci, Arifa berusaha untuk mendobraknya sekuat tenaga.
Ketika Arifa sedang berjuang, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya. Seketika ia berhenti, tubuhnya menegang. Debar jantungnya pun sudah tak keruan.
"Aaaaaaaaaaaaaa!"
Karena sudah terlalu panik, Arifa berteriak sekeras mungkin.
"Jangan bunuh saya, jangan bunuh saya. Aduh, saya cuma mau nolongin Bianka. Katanya dia lapar, terus terkunci di dalam kamar."
Tangan itu menyingkir dari bahunya. Perlahan Arifa membalikkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Minggir!"
Deg. Arifa tersentak saat mendengar suara baritone, lalu membuka matanya lebar-lebar.
Kenapa dia ada disini? perasaan tadi di depan gak ada mobil siapa-siapa.
Arifa bergeser ke samping memberikan jalan untuk laki-laki yang tidak salah lagi, dia adalah Danish. Dan ternyata tidak sendirian, namun bersama seorang satpam dibelakangnya.
Danish mulai membuka pintu dengan sebuah kunci yang ada di tangannya. Ketika berhasil terbuka, Arifa maupun Danish merasa terkejut dengan apa yang mereka lihat di depannya.
"Bianka!" ucap Arifa dan Danish bersamaan.
Seperti dugaan Arifa, Bianka pingsan tak jauh dari tempat tidurnya. Danish segera menghampiri keponakannya itu dan mengangkatnya, kemudian ia taruh di atas tempat tidur.
"Cepat panggil dokter!"
Dengan cepat Arifa mencari rumah sakit terdekat lewat google. Setelah di dapat, barulah ia menghubungi rumah sakit itu sambil mondar-mandir di hadapan Danish.
...Bersambung ... ...
__ADS_1