
"Jadi gini Pak, tadi Amora datang lagi ke kantor. Dia minta perusahaan kita bisa bekerja sama lagi dengannya. Investasi yang dia berikan pun jauh lebih besar dari sebelumnya. Namun proposalnya belum dia berikan, katanya sih besok ... "
Danish masih mendengarkan penjelasan Rinto dengan seksama.
"Pah Danish bukannya pulang hari ini? apa sudah sampai?" Rinto mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan pada bosnya itu.
"Iya, tapi istri saya masuk rumah sakit. Dia pendarahan, sekarang lagi tindakan operasi. Mohon doanya ya To," jawab Danish yang lebih memilih menjawab pertanyaan Rinto terlebih dahulu.
"Astaga, iya Pak saya bantu doa. Semoga istri dan anak yang ada di kandungannya bisa selamat." Rinto memberi dukungan pada Danish.
"Oh iya untuk urusan Amora, kamu slow respon aja ya. Nanti kalau keadaan istri saya sudah membaik dan dalam kondisi tenang. Biar saya yang menemuinya langsung ... untuk sementara waktu saya minta tolong ya To, handle semua kerjaan sendiri. Atau kalau kamu mau ambil salah seorang dari divisi lain juga boleh buat bantuin kamu. Tapi ingat harus yang bisa dipercaya." Danish pun menanggapi perihal Amora.
Disisi lain laki-laki itu merasa kalau Amora memiliki niat lain selain bekerja sama itu. Pasalnya setelah memutuskan tidak jadi bertunangan dengan wanita itu, Danish sudah memutuskan juga kerjasama dengan perusahaan ayah dari Amora.
"Baik Pak, saya doakan semoga Nyonya Arifa dan bayinya sehat dan selamat," kata Rinto sebelum sambungan telepon itu berakhir.
"Terima kasih To, sudah dulu ya." Danish pun memutuskan sambungan telepon itu.
Sudah biasa memang bagi Rinto, maka dari itu setiap kali menyampaikan informasi lewat telepon, dia langsung pada ke intinya. Sebab Danish tidak ingin bertele-tele, begitupun dengan istrinya.
Baru saja Danish memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, pintu ruang operasi terbuka. Danish reflek melihat ke arah pintu itu.
"Dengan Tuan Danish?" tanya dokter yang masih memakai pakaian khusus di ruang operasi.
Danish mengangguk seraya berdiri. "Iya saya sendiri."
"Ada yang ingin saya sampaikan ... " Dokter itu melepas maskernya lalu menarik napas dalam-dalam. "Kami para dokter dengan tim medis lainnya telah berusaha semaksimal mungkin. Namun, seperti yang sudah diberitahukan di awal, mohon maaf anak yang ada di dalam kandungan Nyonya Arifa tidak bisa diselamatkan ..." Dokter pun menghela napasnya. Danish seketika terdiam tanpa kata. Laki-laki itu masih menunggu penjelasan dokter selanjutnya. "Untuk keadaan istri Anda saat ini masih belum stabil, karena pendarahan yang ia alami tadi cukup banyak. Dikarenakan istri Anda melakukan pembiusan total, waktu sadarnya pun akan lebih lama dibanding bius setengah. Kalau Anda ingin melihat bayi untuk yang terakhir kalinya, silahkan menuju ruang jenazah."
__ADS_1
Hancur sehancur-hancurnya hati Danish. Buah hatinya telah pergi. Laki-laki itu bagai terombang-ambing menapaki kesadarannya. Penjelasan dokter tadi pun tidak sepenuhnya ia terima.
Setelah dokter pergi dari hadapannya. Danish terduduk kembali di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi. Hati dan pikirannya masih berusaha mencerna, ini kenyataan atau mimpi?
Laki-laki itu sangat benci dengan sebuah kehilangan. Hal itu mengingatkan dirinya pada saat sang ibu meninggalkannya juga.
Cukup lama Danish tertegun, akhirnya hatinya berusaha bangkit. Kemudian pergi ke kamar jenazah untuk melihat anaknya.
...----------------...
Setelah dua hari berada di rumah sakit, keadaan Arifa berangsur membaik. Perempuan itu berusaha menerima tentang kepergian anak yang terpaksa dilahirkannya secara mendadak. Disisi lain, ia merasa beruntung karena masih diberikan kesempatan hidup setelah hampir meregang nyawa.
Di hari kedua ini, Arifa sendiri di kamar rawat inapnya. Dirinya bahkan belum bisa berjalan, karena sejak kemarin Danish selalu pergi dari sisinya. Entah kemana, mentalnya benar-benar digembleng habis-habisan. Terus terang saat-saat seperti itu, sangat butuh sekali support system yang luar biasa.
"Sus, apa tadi pagi suami saya sempat ke sini?" tanya Arifa. Perawat yang sejak awal menanganinya itu hanya menggelengkan kepala. Dia tahu wujud suami pasiennya seperti apa, tapi seperti yang ditanyakan oleh perempuan itu. Laki-laki yang di maksud memang belum menunjukkan batang hidungnya sejak tadi pagi.
"Tapi Sus, apa suami saya benar-benar gak akan datang? sejak kemarin Suster selalu bantu saya buat belajar bergerak." Arifa bicara namun pandangannya hanya tertuju pada satu titik dan itu tampak kosong.
Perawat itu merasa iba pada Arifa, ia bahkan sampai menghela napas panjang. Kalau bisa menangis, mungkin ia akan ikut menangis. Bisa dikatakan perawat yang bersama Arifa sekarang tampak sudah paru baya.
Mungkin usia anaknya pun sebaya dengan Arifa. Makanya selama setelah operasi, hanya dia yang paling aktif mengecek kondisi dan tahu perkembangan apa saja yang terjadi pada Arifa.
"Semoga Nyonya, yang terpenting sekarang adalah kesehatan Nyonya. Pasca operasi ini akan membutuhkan waktu penyembuhan yang lumayan lama, tidak seperti melahirkan normal pada umumnya. Maka dari itu, yuk Nyonya sehat terlebih dahulu," ucap perawat itu. Senyumnya mengembang, memberikan semangat pada Arifa.
"Hah!" Arifa men des ah pelan. Lalu menoleh ke arah perawat itu lalu mengangguk sebagai jawaban.
Sambil menahan rasa sakit, Arifa berusaha bangun dari tepat tidur dengan kedua tangan yang memegang erat tangan perawat itu. Perlahan tapi pasti, perempuan itu mulai bisa berdiri, lalu dilepas oleh perawat itu supaya Arifa bisa mengimbangi tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Hingga satu jam kemudian, Arifa telah mampu berjalan walau masih tertatih. Awalnya terasa mengambang berdiri menjajakan kaki di atas lantai. Namun lama kelamaan bisa terbiasa.
"Good job Nyonya!" seru perawat itu seraya bertepuk tangan. Hatinya gembira dan riang tak terkira, bagai melihat seorang balita berusia satu tahun yang baru bisa berjalan.
"Terima kasih Sus." Arifa tersenyum. Perempuan itu seperti mendapat sebuah kekuatan tersendiri.
"Sama-sama Nyonya. Apa sekarang ada keluhan Nyonya?" tanya perawat itu membantu Arifa naik ke atas tempat tidur.
"Kepalanya masih terasa pusing Sus," jawab Arifa. Karena memang sampai saat ini perempuan itu masih memakai kantung darah untuk mengganti banyaknya darah yang terbuang cukup banyak saat operasi kemarin.
"Oh gitu. Sekarang lebih baik Nyonya istirahat terlebih dahulu ya. Sebentar lagi masuk jam makan siang, nanti obatnya akan saya masukkan kembali lewat selang infus ya," kata perawat itu. Arifa hanya mengangguk sebagai jawaban. "Baik kalau begitu saya permisi ya Nyonya," pamitnya kemudian pergi dari ruang kamar.
...----------------...
Di kantor, tepat di dalam ruangan Danish. Laki-laki itu menyibukkan dirinya bekerja. Hatinya masih terasa hampa karena kehilangan anak yang menjadi sumber harapannya selama hampir enam bulan ini.
Hingga ia sendiri sampai tidak ingat, ada seorang perempuan yang lebih sangat membutuhkannya saat ini. Untuk saling menguatkan dan saling mendukung. Bukan untuk sendiri, melainkan untuk hati bersama.
Tanpa sadar Rinto sudah berada di depannya dengan membawa beberapa berkas yang harus ditanda tanganinya. Laki-laki itu menaruh berkasnya sungguh hati-hati.
Karena memang setelah peristiwa itu membuat Danish kembali menjadi bos yang dingin serta penuh amarah.
"Pak, besok siang perempuan yang bernama Amora itu ingin bertemu dengan Bapak. Tapi saya juga belum memberinya jawaban," ucap Rinto.
"Iya. Temui saya di kafe aja," jawab Danish dengan pandangannya yang masih ke layar laptop.
"Oh iya, ini sudah mau waktunya makan siang. Apa Pak Danish gak ke rumah sakit lihat istri Bapak?"
__ADS_1
...Bersambung ......