Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Arifa Pingsan


__ADS_3

Satu jam berlalu, kini waktunya Arifa bersiap untuk pergi ke kampus. Hujan di luar pun sudah reda. Akan tetapi belum ada tanda-tanda matahari akan muncul dengan sinarnya. Karena terlalu sibuk dengan tugas dari dosen, dia sampai tidak ingat kalau belum sempat sarapan sejak bangun tidur. Dan sekarang cacing di perutnya sudah berbunyi.


Selesai bersiap, Arifa melihat waktu pada jam analog yang melingkar ditangannya.


"Masih cukup gak ya buat makan dulu. Aduh udah lapar banget lagi," rintihnya berbicara pada diri sendiri, saat cacing di perut berbunyi kembali.


Dia kemudian keluar dari tempat kost sambil mengendap-ngendap, melihat ke sekeliling dan memastikan tidak ada Danish di sana. Dia pun bernapas lega, lalu naik ke atas motor sambil memakai helm. Motor pun dikendarainya menuju kampus.


BYUR!!


Apes. Ditengah perjalanan Arifa diguyur oleh air yang menggenang di jalanan. Mobil yang berasal dari arah yang berlawanan melesat cukup kencang. Bajunya basah semua termasuk tas ransel yang dibawanya.


"Aaaaa! ngeselin!" pekiknya. Dengan pakaian yang kotor dan basah, rasanya tidak mungkin kalau dipaksakan pergi ke kampus. Arifa memutar balikkan motornya kembali ke tempat kost.


Rasa kesal bercampur dingin telah menghilangkan selera makannya. Setibanya di tempat kost, dia segera masuk ke dalam tak lupa mengunci pintu. Dengan cepat Arifa mengganti pakaian kemudian menaruhnya ke tempat pakaian kotor. Waktu yang dia miliki tidak banyak lagi. Setelah selesai, dia keluar dan mengunci pintunya lagi. Sejak kejadian kemarin, dia agak sedikit trauma, apalagi dengan kelancangan Danish. Arifa semakin mem-protect dirinya sendiri, untuk pencegahan. Kemudian motor pun dikemudikannya lagi menuju kampus.


Kedua kalinya berangkat, akhirnya dia tiba di kampus tepat waktu dan tanpa hambatan. Kekesalannya pun berangsur membaik. Sekarang yang harus dilakukan, segera bergegas pergi ke kelas sebelum dosen yang lebih dulu datang.


...----------------...


Dokter menggelengkan kepalanya setelah memeriksa Sinta. Kedua pelayan menatap penuh ragu lalu saling bertukar pandang, seolah tidak percaya.


"Cepat kabari Tuan kalian, kalau perempuan ini telah tiada," titah dokter, setelah melepaskan stetoskop-nya lalu dikaitkan dilehernya.


"Baik Dok."


Salah satu dari pelayan itu pergi keluar ruangan, melakukan panggilan dan memberitahukan Danish menuruti perintah dokter. Benar-benar malang, karena kesalahannya sendiri yang terlalu mengikuti ego, Sinta meregang nyawa dibawah tangan Danish.


"Ha--lo, Tuan," ucap pelayan yang terdengar sangat gugup di telinga Danish.


"Ada apa?" tanya Danish dengan sikap dinginnya.


"Nyonya yang ada di ruangan itu ... " Pelayan menjeda perkataannya. Dia benar-benar gugup sekali.

__ADS_1


"Bicara yang benar!" sentak Danish yang memotong ucapannya. Laki-laki itu sangat benci dengan orang yang berbicara bertele-tele. Padahal sendirinya sering tidak sadar dan selalu membuat teka-teki diluar dugaan atas ucapan itu sendiri.


"Nyonya di ruangan itu meninggal dunia," ucap pelayan itu dengan cepat.


Danish berdecak kesal. "Kenapa bisa? bukankah setiap hari kamu beri makan!" Emosi yang sempat mereka, kini tersulut kembali.


"Maaf Tu--Tuan ... sudah beberapa hari ini memang tidak pernah menghabiskan makanannya. Hanya segelas air putih yang dia sentuh." Pelayan itu baru berkata jujur pada Danish.


"Siapa yang memeriksanya?"


"Dokter Sindy, Tuan."


"Bilang padanya, saya menunggunya di ruang kerja. Sekarang!"


"Ba--baik Tuan."


Tut, tut, tut, tut, tut. Sambungan telepon diputus oleh Danish. Pelayan itu pun segera kembali ke ruangan sambil berlari untuk memberitahukan perintah tuannya kepada dokter Sindy.


"Dok ... dipanggil Tuan di ruang kerjanya, sekarang," ucapnya. Rasanya sesak sekali setelah berlari dari ujung ke ujung yang ada di lantai itu, sehingga membuat napasnya tersengal-sengal. Dokter Sindy hanya mengangguk lalu pergi dari sana.


Tok, tok, tok.


"Masuk!"


Pintu terbuka. Wajahnya terangkat lalu melihat ke arah perempuan yang berdiri di ambang pintu.


"Permisi, Tuan," sapa dokter Sindy, setelah menutup pintunya kembali.


Danish menaruh bolpoin ke atas meja, lalu berdiri dan berjalan ke sebuah sofa yang ada di ruangannya. "Silahkan duduk!" sambungnya. Dokter Sindy mengangguk pelan lalu duduk berhadapan dengan Danish.


"Jadi, apa yang terjadi sebenarnya? kenapa perempuan itu bisa meninggal?" tanyanya. Dokter berusia dua puluh tujuh tahun dan berstatus janda anak satu itu, terdiam. Bukan karena berpikir, akan tetapi dia terpesona dengan ketampanan dan kesuksesan karir Danish.


"Dok!" panggil Danish, orang yang dipanggilnya tersentak kaget.

__ADS_1


"Hmm." Dokter Sindy melonggarkan tenggorokannya sejenak sebelum mulai menjelaskan. "Setelah saya periksa tadi, kemungkinan besar pasien mengidap penyakit asam lambung kronis. Ironisnya menurut kesaksian pelayan tadi, kalau pasien sudah beberapa hari tidak makan nasi sedikitpun dan ... "


"Dan hanya minum air putih saja? saya sudah mendengarnya tadi." Danish memotong ucapan dokter Sindy. Ada raut kekesalan pada wajah perempuan itu seraya menahan napas sejenak dan mata terpejam sesaat.


"Iyaaah."


Napas yang tadi sempat tertahan, dihembuskan bersama kata yang singkat, padat, jelas dan ... seksi? tentu tidak, dokter Sindy hanya bernapas lega.


"Baiklah, tolong bantu para pelayan supaya Sinta dapat segera dikebumikan," titahnya lalu berjalan dan duduk di kursi kekuasaannya. Dokter Sindy pun mengangguk lalu pergi, kembali ke ruangan tempat Sinta berada.


...----------------...


Matahari di siang ini cukup terik. Jalanan yang tadi sempat basah karena air hujan, kini telah mengering. Kelas untuk hari ini pun telah usai, Arifa keluar dari kelas.


Ditengah ramainya disepanjang koridor, dia tetap percaya diri berjalan di tengah mereka. Mengabaikan suara risih olok-olokan tentangnya, siapa lagi kalau bukan Naura yang ada di sana. Perempuan yang terlalu terobsesi dengan Eliezer. Sang pujaan hati, tambatan dan pelabuhan terakhirnya. Begitu sangat lucu, setelah tahu kalau itu semua hanya bertepuk sebelah tangan.


Tujuannya sebelum pulang yaitu kantin. Sejak tadi pagi, perutnya kosong. Akan tetapi saat akan tiba di kantin, pandangannya tiba-tiba kabur dan terasa gelap.


BRUK!!


Arifa jatuh tergeletak ke lantai. Tak jauh dari tempatnya, Eliezer tak sengaja melihat. Laki-laki itu berlari sekencang mungkin, tak lupa ia mengerem supaya tidak bertubrukan dan menindih tubuh ramping perempuan berwajah tirus.


"Arifa! Arifa kamu kenapa? Bangun Arifa!"


Berkali-kali tubuhnya digoyangkan. Tapi nyatanya masih tetap terpejam. Eliezer langsung mengangkat tubuh Arifa ala-ala pangeran mengangkat tubuh sang permaisuri. Kemudian berjalan menuju ruang UKS yang letaknya dekat gedung direktorat kampus. Semua pasang mata menjurus ke arah Eliezer dan Arifa. Termasuk Naura.


Amarahnya seketika mendidih, melihat Eliezer dan Arifa yang tampak mesra di hadapannya. Padahal nyatanya, laki-laki itu hanya membantu saja. Raut wajah Arifa pun sudah putih pucat, telapak tangan yang dingin dan kening serta leher yang terasa panas saat tadi dicek oleh Eliezer.


Sesampainya di UKS, seorang bidan yang ada di sana langsung mengintruksikan Eliezer untuk menaruh Arifa di atas tempat tidur lalu tirai pun ditutup.


Beberapa saat kemudian, tirai terbuka kembali. Eliezer menghampiri Arifa yang perlahan mulai tersadar dari pingsannya.


"Jadi apa yang terjadi pada temanku ini Bu?"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2