
Akhirnya, Eliezer bersama Arifa pergi menemui Naura terlebih dahulu. Sementara si ibu pulang naik angkutan umum menuju rumahnya, karena dia mau kembali berjualan di pasar membantu anaknya.
"Fa, kamu jangan cuek-cuek lagi dong sama aku, terus kalau ngomong jangan saya kamu, tapi aku kamu," kata Eliezer sepanjang jalan menuju kelas Naura, memecah keheningan diantara mereka.
Arifa mendadak menghentikan langkahnya. Kedua telapak tangannya mengepal, dia menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan.
"El, kamu kan cuma mau berteman sama saya. Jadi suka-suka saya. Kalau memang saya cuek, anggap aja itu bawaan lahir yang gak bisa diganggu gugat. Terus soal sebutan saya kamu, itu juga terserah saya. Kenapa kamu ikut ngatur? memangnya kamu pacar saya, hah?" kata Arifa yang menjawab setenang serta selugas mungkin. Tak lupa senyum yang selalu terbit dari kedua sudut bibirnya.
"Okey, okey. Maaf kalau aku lancang. Aku salah." Eliezer pun merendahkan hatinya untuk mengalah.
Terkadang sifat buruknya itu yang membuat setiap perempuan yang akan menjalin hubungan dengannya akan kabur duluan. Sifat bossy, dan memang dia adalah seorang bos besar sekarang. Tapi di kampus, dia hanya seorang mahasiswa biasa.
"Omong-omong, kamu mau dateng kan ke pesta ulang tahunku, Fa?" tanya Eliezer kemudian. Arifa mulai sedikit mencair, tatapannya pun sudah biasa saja. Tidak seperti beberapa saat yang lalu.
"Ya, kalau gak ada urusan mendadak aku pasti datang."
"Gak bercanda kan Fa?" tanya Eliezer memastikan, kedua matanya pun ikut berbinar. Arifa menoleh, tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tak terasa keduanya berjalan sambil bersenda gurau, kini telah tiba di depan kelas Naura yang masih ada dosen di dalamnya. Rupanya kelas itu belum selesai, mereka pun menunggu di sebuah kursi panjang yang ada di depan kelas.
"El, boleh nanya sesuatu gak?"
Dia sedikit ragu sebenarnya ingin menanyakan hal yang sedikit sensitif, tapi kalau tidak ditanyakan bisa jadi nantinya akan salah paham.
"Nanya apa tuh, Fa?" Eliezer menoleh dengan raut wajah yang serius.
"Hubungan Naura sama laki-laki yang sering sama dia itu, pacaran?" Agak sedikit tidak enak sebenarnya, benar-benar tidak enak. Makanya dia bertanya dengan sangat hati-hati.
"Laki-laki yang sering sama dia?" Eliezer mengulangi pertanyaan Arifa. Terlihat dia berpikir sejenak, mencoba mengingat sesuatu.
"Apa yang dimaksud Arifa itu kak Putra?" Eliezer bertanya dalam hatinya.
"Memangnya kenapa Fa? aku sih gak terlalu memperhatikan dia."
"Hm ... tadi pagi soalnya ... " Arifa menjeda ucapannya sejenak.
"Duh kenapa rasanya canggung sama ambigu banget ya pas mau bilang kalau aku lihat Naura ciuman pagi-pagi sama laki-laki itu," resah Arifa yang bermonolog dalam hati.
__ADS_1
"Soalnya kenapa Fa?" tanya Eliezer yang kini jadi ikut penasaran. Ia terus menatap kedua mata Arifa dan mencari jawaban di sana.
"Soalnya tadi pagi saya ..."
"Eh ada kamu El, sama ... perempuan ini," sapa Naura yang baru keluar dari kelas menatap Eliezer dengan penuh cinta sedangkan saat melihat Arifa, tatapannya sangat sinis.
Ucapan Arifa pun terhenti dan segan untuk dibicarakan lagi.
"Naura, kita perlu bicara sama kamu," kata Eliezer dengan tegas.
"Kita maksudnya aku sama kamu El?" tanya Naura dengan kedua matanya yang tampak bahagia sekali, seperti tidak terjadi apa-apa tadi pagi.
"Cih! Benar-benar perempuan ular dan bermuka dua. Kayaknya Eliezer masih kokoh pertahanannya. Aku jadi penasaran sampai dimana kekuatan Eliezer buat bertahan dari si perempuan ular ini," umpat Arifa dalam hatinya. Senyum menyeringai pun sengaja ia tunjukkan seraya memperhatikan Naura yang mulai bersikap manja pada Eliezer.
"Bukan, tapi kita bertiga. Kamu, aku dan Arifa."
"Dih kok dia di ajak sih! Aku kan maunya sama kamu aja berdua, El." Naura mulai melingkarkan kedua tangannya pada Eliezer. Seketika, tepisan kasar dari sang empunya pun diberikan padanya.
Arifa yang melihat itu tertawa puas dalam hati. Bahkan dia hampir kelepasan, lalu memilih mengulum bibirnya sambil melihat ke lain arah.
"Kita bicara di belakang aula aja, di sana sepi dan jarang orang berlalu lalang," usul Eliezer lalu memberi tatapan tajam pada Naura. Kemudian mulai melangkahkan kakinya.
Setelah mereka tiba di belakang aula yang dimaksud oleh Eliezer, ketiganya membentuk lingkaran. Raut wajah Eliezer dan Arifa sudah sangat serius, sementara Naura hanya bersikap santai sambil melihat kuku jari tangannya yang habis di manicure pedicure.
"Naura, kenapa kamu tega memporak porandakan kedai yang ada di ujung kantin itu? apa kamu gak punya belas kasihan sama sekali? dia itu udah tua, punya tanggungan yang harus dia hidupi, maksud kamu apa sih melakukan semua itu?" kata Arifa yang berusaha berbicara setenang mungkin.
Naura mendelik tajam sambil tersenyum menyeringai. "Suka-suka gue lah, lo yang mulai duluan. Dan lo harus tanggung akibatnya!" bentaknya kemudian tepat di depan wajah Arifa. Eliezer yang melihat kelakuan Naura yang sudah melampaui itu, langsung menarik tangannya supaya bisa menjauh dari Arifa.
"Lo udah keterlaluan Naura! dia udah bicara baik-baik sama lo, tapi lo sendiri jadi marah. Setelah ini, kalau lo masih ganggu hidup gue ataupun Arifa. Lo akan lihat sendiri akibatnya!" kata Eliezer, tersulut emosi sampai memberikan sebuah ultimatum kepada Naura.
Seketika membuat napas perempuan itu mulai naik turun, kedua tangannya mengepal serta wajahnya yang sudah merah padam. Dia benar-benar sudah sangat emosi.
Aria menghembuskan napasnya perlahan dari mulut. "Kamu boleh marah sama saya, tapi ingat hanya kamu dan saya. Jangan bawa orang lain sebagai pelampiasan kamu, Ra. Kalau kamu mau dianggap baik dan diperlakukan baik sama orang, ya kamu ngaca dulu. Udah baik belum sama orang di sekeliling kamu."
Naura mendekat kembali dan berdiri di depan Arifa. "Lo gak usah nasehatin gue. Inget lo itu lebih muda dari gue. Lo harusnya hormatin gue sebagai senior!"
"Hahahaha ... " Arifa tergelak dengan tawanya. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan kelakuan Naura yang membuatnya merasa lucu. "Apa kamu bilang? hormatin senior macam kamu gini? apa masih pantas mendapat penghormatan dari yang lebih muda?"
__ADS_1
"Sialan! perempuan udik! miskin gak punya sopan santun sama senior!" sarkas Naura lalu mengangkat sebelah tangannya, hendak memberi tamparan untuk Arifa. Seketika Eliezer langsung menahannya.
"Ingat perkataan gue barusan Naura! berani lo tampar dia, gue akan keluar dari organisasi dan anggap aja kita gak saling kenal. Paham?"
Naura tersentak kaget, karena baru kali ini dia mendengar marahnya seorang Eliezer. Bahkan saat ini, dia sampai tidak bisa berkata-kata, meski hanya menjawab iya atau tidak.
"Sekarang, lo ikut gue. Minta maaf sama si ibu itu, lalu ajak dia buat jualan lagi di kantin," kata Eliezer yang kali ini nada bicaranya sedikit lebih rendah dibanding tadi.
"Gak mau, biarin aja. Biar perempuan udik yang ada di sebelah lo ini yang tanggung jawab atas hidupnya!" ujar Naura kemudian pergi dari hadapan Arifa dan Eliezer.
"Fix, dia benar-benar sakit jiwa. Hati nuraninya udah mati. Kalau terus-terusan emosi, amit-amit deh kalau sampai ikut sakit jiwa juga." Arifa menggerutu sesaat setelah Naura pergi dari hadapannya.
Eliezer menahan tawa, menyaksikan raut wajah Arifa yang baru saja dilihatnya saat ini. "Udah biarin aja, kalau sampai setelah ini ada kejadian yang lebih parah dari sebelumnya. Siap-siap aja dia berurusan sama aku."
Arifa langsung melihat wajah Eliezer, memberi tatapan seolah tidak percaya. "Memangnya kamu siapa? kok berani sama dia?" tanyanya. Merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang saat ini bersamanya itu bisa dilakukan sesuai ucapannya.
"Gak tau aku juga siapa ya? aku ngomong aja dulu. Siapa tahu kalau dia benar-benar tidak jera dan makin menyerang, semoga aku dapat backing-an," jawab Eliezer sekenanya. Ia sedang tidak ingin Arifa tahu siapa dia saat ini. Mungkin melindungi perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta itu lebih baik, ketimbang terus-terusan hanya berkata cinta tapi tindakannya nol.
Nah loh, di hidup Arifa saat ini ada Eliezer dan juga Danish, keduanya sama memiliki peran yang kuat dalam bidangnya. Siapa ya yang nantinya akan dijadikan pelabuhan terakhirnya? atau mungkin bisa jadi tidak pada keduanya?
...----------------...
Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian di kantin itu. Akhirnya si ibu memutuskan untuk tidak berjualan lagi di kantin kampus.
Arifa juga telah meminta maaf dan mengutarakan niatnya untuk bekerja sama dalam bisnis camilannya. Si ibu pun menyetujuinya dan mengikhlaskan kejadian itu.
Sudah hampir dua hari ini, Arifa mulai memasukkan beberapa item produk camilan pada akun sosial medianya. Sedikit demi sedikit, dia mulai mendapat orderan. Sebanyak apapun itu, dia pun tetap mensyukurinya.
Dibalik semua itu, ada Eliezer yang memberinya dukungan. Sebab hanya dia yang tahu awal mula bisnisnya ini bisa berjalan. Bukan Arifa yang mau dibantu oleh Eliezer, akan tetapi ini semua adalah kemauan dari Eliezer sendiri.
Sejauh ini, Naura pun seperti tertelan oleh bumi. Tidak ada lagi kelakuan konyol ataupun ulahnya. Apa dia takut akan ancaman Eliezer?
Sore ini, Arifa tengah bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun Eliezer. Sempat beberapa kali menolak dan laki-laki itu malah jadi membantu, rasanya tidak enak kalau sampai tidak datang ke acara yang menurut dia sangat penting. Mungkin ini tanda penghargaan dari Arifa sebagai temannya.
Pukul tujuh malam, sebuah mobil berhenti tepat di depan tempat kost Arifa. Sang kemudi pun turun dan berjalan ke arah pintu, lalu mengetuknya.
Ketika pintu terbuka, dirinya kaget akan seorang perempuan yang biasanya tampil sedikit dengan gaya tomboy-nya. Kini berubah drastis menjadi sangat feminim.
__ADS_1
Tentunya sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Eliezer jadi tahu tempat kost Arifa. Niatnya ingin pindah dari sana karena untuk menghindari Danish, Arifa justeru semakin nyaman dan enggan. Apa ini pengaruh dengan hadirnya seorang Eliezer?
...Bersambung ......