
Naura diseret paksa keluar dari acara itu oleh ayahnya. Meski berkali-kali minta dilepaskan, tapi cengkraman tangan sang ayah begitu sangat kuat malah tetap tidak perduli dan langsung menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Eliezer yang pergi keluar kafe lebih dulu melihat dua orang itu hanya tersenyum menyeringai di samping pintu masuk. Naura yang melihat keberadaannya, menunjukkan wajah memelas, minta di tolong. Benar-benar muka tembok.
Eliezer pun kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana untuk menghubungi Arifa. Dirinya merasa bersalah karena sempat membela Naura dan malah mengacuhkan perempuan berwajah tirus itu.
Berkali-kali di hubungi, Arifa tidak kunjung menjawabnya. Eliezer merasa kesal sendiri. Kemudian, ia memilih pergi dari sana dan menuju tempat kost Arifa.
Mungkin Arifa sudah pulang ke tempat kost-nya. Pikir Eliezer yang kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dari parkiran kafe itu.
Beberapa menit kemudian, dia sampai di depan tempat kost. Masih sepi dan belum ada tanda-tanda kalau Arifa telah sampai di sana. Eliezer pun memilih menunggunya.
...----------------...
Di kedai, Danish dan Arifa baru saja menyelesaikan makanannya. Keduanya masih duduk bersama menikmati hamparan bintang di langit yang terlihat dari lantai 2 itu.
"Kamu masuk jurusan hukum, memang cita-cita kamu mau jadi pengacara Fa?" tanya Danish memecah keheningan. Entah kenapa semakin lama bersama laki-laki berwajah oriental itu, membuat Arifa semakin canggung. Walau sebisa mungkin sikapnya dicairkan, tetap saja kejadian atas kematian Sinta, membuat Arifa tidak membuka diri pada Danish.
"Ya begitu, tapi gak tahu sih ya kedepannya. Hukum kan gak terfokus pada satu profesi aja, seorang jurnalis juga bisa berasal dari bagian hukum. Tergantung minat mau bawanya kemana sih Om kalau kata saya."
Perempuan ini pemikirannya cukup dewasa juga. Tapi kenapa rasanya sulit sekali ingin menggenggamnya? batin Danish bermonolog.
"Iya juga sih, di perusahaan saya juga lulusan fakultas hukum ada juga yang menjadi manager pemasaran dan juga manager HRD."
"Nah itu, sama halnya seperti hidup. Kalau kita hanya berfokus pada satu hal yang bisa menyita semua waktu yang hanya diberikan sekali, kita gak akan tahu hal lain apa yang lebih berguna, bisa dilakukan. Walau tujuannya sama demi sebuah kebahagiaan."
Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulut Arifa. Sedangkan Danish hanya menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Arifa yang baru saja dilontarkan.
Melihat jam yang terpasang di dinding kedai itu, Arifa ingin segera pulang ke rumah. Mengingat ada tugas yang harus dikumpulkan esok hari.
"Om, saya pamit pulang ya. Soalnya lagi banyak tugas dari dosen," pamit Arifa, meraih tas yang sejak tadi ada disebelahnya.
"Oke, makanmu biar saya yang traktir," kata Danish, tersenyum sebelum Arifa pergi.
__ADS_1
"Gak usah Om, biar saya aja. Sekalian ke bawah," tolak Arifa yang tidak ingin merepotkan Danish seraya berdiri.
Akan tetapi Danish hanya terdiam dan menatap dingin hingga Arifa pergi dan menghilang dari pandangannya.
Hadirmu terlambat masuk ke dalam hidupku. Bisakah aku meminta pada Tuhan untuk memutar waktuku kembali? Mengobati segala luka yang pernah ku toreh dalam hatimu, dan membuat hatimu yang retak kembali utuh. Batin Danish menerawang.
Ponselnya berdering, meleburkan lamunan panjang yang membuatnya tertegun cukup lama. Melihat ke benda pipih persegi panjang yang bergetar itu, tertera nama Amora.
"Ya, hallo?" Danish menjawabnya, bersikap seperti biasa.
"Kamu dimana? sebentar lagi acara tunangan kita akan dimulai. Jangan membuat orang tuaku kecewa, kalau tidak ..."
"Kalau tidak semua aset yang kamu tanam pada perusahaanku akan dicabut, seperti itu?" Danish bisa menebak ancaman yang akan diberikan Amora padanya.
Perempuan yang menyetujui sebuah perjodohan bisnis dengannya. Danish awalnya tidak setuju, tapi karena waktu awal karirnya sedang butuh investor yang mampu menopang bisnisnya. Dia pun menyetujui akhirnya dan berlangsung hingga kini.
Sekarang, bisnisnya telah maju. Besar modal yang pernah ditanam kepada perusahaan Danish pun sebenarnya telah bisa dikembalikan sejak lama. Tapi sengaja ia tahan. Akan tetapi dengan kehadiran Arifa saat ini, perasaan yang tidak nyaman bertahun-tahun lamanya itu akan ia lepaskan sekarang juga.
"Danish!" Perempuan itu berteriak cukup kencang hingga Danish menjauhkan layar ponsel dari telinganya.
"Aku akan kembalikan semua aset kedua orang tuamu. Setelah itu kita tidak akan ada hubungan apa-apa lagi."
Sambungan telepon pun sengaja diputus oleh Danish. Rasa lega begitu terasa nyaman bagi dirinya saat ini. Ia segera beranjak dari kedai itu, lalu turun ke lantai bawah menuju kasir.
"Boleh minta bill-nya? meja nomor tujuh."
"Maaf Pak, meja nomor tujuh telah dibayar oleh seorang perempuan tadi."
"Semuanya?" tanya Danish memastikan, ia masih tidak menyangka.
"Iya semuanya."
"Oke baiklah, permisi."
__ADS_1
"Terima kasih, ditunggu kedatangannya kembali."
...----------------...
Arifa baru saja tiba di depan tempat kost dengan ojek online yang sempat ia pesan di depan kedai tadi.
"Terima kasih ya Pak!" ucap Arifa seraya memberikan uang pada ojek online itu.
"Sama-sama. Terima kasih juga, mari Mbak," kata ojek online lalu pergi dari sana.
Eliezer yang merebahkan tubuhnya di dalma mobil langsung bangun setelah mendengar suara Arifa. Dia segera keluar dan menghampiri perempuan yang telah dia buat kecewa itu.
"Fa, maafin aku ya," kata Eliezer, memohon.
Namun Arifa hanya diam dan berusaha membuka kunci pintu tempat kost-nya itu. Setelah pintu berhasil dibuka, Arifa langsung masuk ke dalam. Akan tetapi pintunya di tahan oleh Eliezer.
"Sana pulang! aku lagi banyak tugas. Kalau mau bicara besok aja, sekarang aku sibuk!" kata Arifa yang menolak kehadiran Eliezer di sana.
"Sebentar aja Fa, aku minta maaf." Kali ini Eliezer merengek seperti anak kecil. Arifa hanya memutar malas bola matanya jika sikap kekanakan laki-laki itu muncul.
"Tahu besok gak? urus aja sana si Naura. Tanggung jawab sekalian."
BRAK!!!
Eliezer menutup matanya rapat-rapat saat Arifa membanting pintunya cukup kencang hingga salah seorang tetangga menghampirinya.
"Kalau lagi berantem jangan disini Mas. Udah malem, waktunya istirahat. Perempuan kalau udah ngambek jangan di tekan buat maafin kita sebagai kaum laki-laki. Gak akan ada gunanya. Biarin aja dia sendiri dulu, tunggu tenang, nanti juga baik sendiri."
Ucapan laki-laki itu membuat Eliezer seakan tertampar. Ia kemudian sadar, dan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan tetangga Arifa itu barusan.
Beberapa saat setelah laki-laki itu pergi, Eliezer pun pergi dari tempat kost Arifa menuju apartemennya.
...Bersambung ......
__ADS_1