Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Apa Ini Lamaran?


__ADS_3

"Apa harus Om?" tanya Arifa, menatap lekat kedua mata Danish. Sorot matanya begitu teduh. Nyaman sekali untuk dipandang.


"Iya, kalau kamu mau," jawab Danish, tiba-tiba memberi kedipan sebelah mata pada Arifa.


Perempuan berwajah tirus itu tersipu malu, karena merasa tidak enak hati melihat tangan Danish sejak tadi telah di lipat, Arifa pun mengaitkan tangannya di sana. Kemudian keduanya melangkahkan kaki masuk ke dalam lobby hotel.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Sudah melakukan reservasi sebelumnya?" sapa seorang pelayan hotel.


"Iya, sudah tapi bukan pesan kamar, melainkan untuk dinner di restauran," jawab Danish lalu menunjukkan sebuah kartu bukti pemesanan, menempelkannya ke sebuah tablet yang tertera barcode. Setelah berhasil terkonfirmasi, Danish dan Arifa di persilahkan untuk masuk ke dalam restauran.


Keduanya di arahkan duduk pada meja yang sudah mendapat nomor. Seorang pelayan yang mengantar, memberikan dua buah tablet pada mereka. Itu merupakan tablet khusus memesan menu.


"Wah makanannya menggoda semua. Pesan semua gak ya? tapi kalau dilihat dari harganya mahal banget. Kasian juga om Danish kalau sampai bangkrut cuma gara-gara traktir aku." Arifa bermonolog dalam hatinya.


"Gimana Arifa kamu sudah selesai memesan?" tanya Danish yang telah memberikan tablet itu pada pelayan.


Arifa masih asik men-scroll layar tablet melihat semua menu makanan yang ada di sana. Karena tampilannya terlihat sangat enak, ia jadi kebingungan sendiri.


"Makanan di sini ada lima kelompok, coba kamu tarik lagi ke atas," ucap Danish mengarahkan Arifa. "Yang paling atas ada menu appetizer silahkan kamu pilih sesuka hati ... lalu kalau dibawahnya menu soup ... dibawahnya lagi ada menu main course ... kemudian ada menu dessert dan yang terakhir mau hot beverage ... sudah?"


Arifa mengangguk sambil menghela napasnya. "Udah Om, hehe," ucapnya lalu cengengesan.


Kalau tidak di arahkan oleh Danish, bisa-bisa dia akan memberi tanda centang pada kolom pemesanan itu. Bukan karena harganya, melainkan sungguh 'sayang' kalau sampai tidak di makan. Sebab makanan di hotel ini tidak menerima makanan yang tidak habis untuk di bungkus.


Kemudian Arifa memberikan tablet itu pada pelayan yang menunggunya sejak tadi.


"Terima kasih, mohon di tunggu untuk pesanannya," ucap pelayan itu sebelum pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Sambil menunggu, Danish memperhatikan Arifa dengan lekat. Kedua sudut bibirnya terangkat, membuat sebuah senyuman yang selama ini sangat jarang ia tunjukkan.


"Arifa ... " panggil Danish dengan sangat lembut. Perempuan yang dipanggilnya merasa terenyuh sampai tersipu malu.


"Iya, kenapa Om?" tanya Arifa sambil melipat kedua tangan di atas meja.


"Maaf ya, kalau telah lama menunggu." Beberapa kata pembuka yang keluar dari mulut Danish, membuat Arifa mengerutkan keningnya, sebab dia tidak merasa laki-laki berwajah oriental itu menyuruhnya untuk menunggu. Dia hanya tersenyum, menunggu Danish melanjutkan ucapannya.


"Setelah kita pergi ke kota Y, aku merasa kalau kamu mulai menghindar. Akhirnya aku putuskan tiba-tiba untuk pergi dari tempat kost, karena membiarkan kamu memiliki ruang dan waktu untuk melakukan apapun yang kamu mau. Aku yakin itu yang terbaik untuk kita, dan karena aku tahu, kamu belum siap jika aku menikahimu saat itu juga ... Setelah aku pergi, rasanya sepi sekali. Apalagi saat gak melihatmu satu hari pun. Terlebih terakhir ingin ku temui kamu, ada seorang laki-laki yang menunggu di depan tempat kost. Aku yakin kamu mengenalnya, sangat mengenalnya," jelas Danish, merasa bersalah dan diakhiri rasa cemburu.


"Apa yang dimaksud om Danish itu Eliezer?" tanya Arifa dalam hati.


"Om ... kalau memang sekarang Om hadir lagi tapi untuk pergi, please jangan kasih saya harapan kayak kemarin. Apapun alasan Om. Saya sebagai perempuan di usia yang masih dibawah dua puluh tahun, sangat menolak tegas kalau Om datang lagi cuma kasih harapan palsu. Biarin aja yang berlalu untuk kenangan. Perjalanan saya masih panjang Om," ujar Arifa yang berbicara sesuai perasaan yang selama ini memenuhi memori otaknya, memaksa menyuruh jatuh cinta tapi nyatanya ia hanya menggenggam sebuah bayang-bayang yang tak nyata untuk di raih.


"No! Arifa, no ... " Danish kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin yang waktu itu sempat ia bawa dari rumah peninggalan mendiang ibunya di kota Y. "Arifa, will you marry me?" ucapnya sambil menyodorkan cincin itu tepat di tengah meja mereka.


Arifa seketika tercekat, Danish yang tiba-tiba melamarnya membuatnya bahkan sulit untuk menelan saliva. Bahagia dan terharu menjadi satu. Rasanya ingin teriak saat ini juga. Mengeluarkan segala penat yang selalu membuat hatinya resah dan entah dibawa kemana hati yang selama ini terombang ambing.


"Tentu, aku butuh jawabanmu sekarang," jawab Danish seraya tersenyum.


"Ya! aku mau Om." Arifa mengangguk cepat. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Pikirannya seolah bersih tersapu dengan kata ajakan nikah yang baru saja dilontarkan oleh Danish.


"Terima kasih, Sayang." Danish meraih tangan Arifa lalu menyematkan cincin itu di jari tangannya dan ternyata sangat pas. Kemudian mengelus jemari Arifa dan menciumnya.


"Sama-sama."


"Baiklah mulai sekarang, mungkin kita bisa menggunakan kata 'Sayang' untuk panggilan kita masing-masing. Kalau kamu belum terbiasa, aku masih bisa maklumi," kata Danish dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Arifa.

__ADS_1


Setelah itu menu yang di pesan pun tiba. Mereka menikmati makam malam dengan rasa bahagia yang begitu membuncah.


...----------------...


Kini, mobil yang Danish kendarai telah terparkir di tempat parkir depan apartemen kediaman Farhan. Keduanya kemudian turun lalu berjalan dengan tangan yang saling menaut.


"Om, eh Sayang. Hm ... apa Kak Farhan tahu soal ini sebelumnya?" tanya Arifa yang sedikit kikuk dengan panggilan barunya.


"Ya kita lihat aja nanti, Sayang," jawab Danish yang terdengar seperti sudah biasa untuk mengatakan panggilan itu pada Arifa.


Setibanya di depan pintu lift, Danish menekan bel. Tak lama muncul wajah Farhan yang ada di layar berukuran 10 inchi tertempel di samping pintu lift.


"Kalian udah selesai jalan-jalannya?" tanya Farhan, yang masih menggunakan pakaian yang sama seperti sebelum Arifa pergi dengan Danish.


"Iya Kak," jawab Arifa sambil tersenyum.


Farhan mengangkat sebelah alisnya saat melihat tangan sang adik tertaut mesra dengan tangan laki-laki yang menjemput adiknya beberapa jam yang lalu. "Coba kalian naik ke atas," ucapnya kemudian pintu lift pun terbuka.


Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu, menuruti apa yang dikatakan Farhan. Masuk ke dalam lift bersama. Sementara itu, Farhan menunggu kedatangan mereka di depan pintu lift apartemennya dengan tangan yang bersilang dada.


*Ting* Pintu lift pun terbuka. Arifa tidak sengaja melihat raut wajah sang kakak tampak tidak suka, ia pun berusaha melepaskan tautan tangannya dari tangan Danish. Akan tetapi, Danish malah semakin mengeratkannya. Namun ternyata sebenarnya itu ...


"Selamat ya! akhirnya adikku yang labil ini punya pacar asli bukan halu lagi!" kata Farhan sambil memeluk Danish dengan rasa bahagianya. Kali ini Arifa yang merasa marah karena tertipu dengan raut wajah Farhan yang tadi sempat membuatnya mati kutu.


"Kakak! jangan bongkar kartuku!" pekik Arifa membuat Danish tertawa.


"Asal kamu tahu Fa, pacarmu ini udah tahu semuanya tentang kamu dan pacar halumu itu," seloroh Farhan yang semakin membuat Arifa geram, kini bukan hanya pada kakaknya tapi juga pada Danish.

__ADS_1


"Kalian berdua ternyata bersekongkol ya!"


...Bersambung ......


__ADS_2