
Beberapa hari kemudian, Arifa dan Danish akan bertolak dari negara yang serba modern tempat Farhan berada.
"Maaf ya Kakak gak bisa antar kalian ke bandara. Hari ini mendadak jadwal Kakak padat, jadi waktunya gak memungkinkan," kata Farhan merasa bersalah, padahal beberapa hari yang lalu dirinya sudah berjanji pada adik semata wayangnya akan mengantar ke tempat oleh-oleh dan juga ke bandara.
Di sisi lain, ada hal yang paling membuatnya merasa lega. Ada Danish yang bisa diandalkannya sekarang.
"Iya baiklah, Kakak yang super sibuk!" ledek Arifa lalu menjulurkan lidahnya. Namun dengan tangan yang menggelayut manja pada lengan Danish.
"Gak udah ngeledek, nanti juga kamu ngerasain punya suami yang juga sama sibuk ya. Apalagi kalau dia itu pemilik perusahaan langsung," timpal Farhan. Begitulah kakak beradik itu kalau diteruskan bisa tidak jadi pulang ke Indonesia.
"Farhan, terima kasih banyak sudah mempercayakanku untuk menjaga adik kecilmu ini," ucap Danish yang kemudian mengacak rambut Arifa.
"Iya sama-sama. Kalau dia nakal, tolong jangan di kerasin ya. Bicara sama dia baik-baik. Nanti juga nurut kok." Layaknya pesan kakak pada pendamping adiknya.
"Tapi saat pernikahan kami, kamu datang kan?" tanya Danish, menatap Farhan penuh harap karena tidak ingin membuat Arifa bersedih serta berkecil hati.
"Tenang aja, di hari yang penting untuk adikku. Akan aku usahakan datang demi dia," kata Farhan dengan penuh keyakinan dan dapat meyakinkan mereka.
"Ya sudah, kami pamit ya. Tetap jaga kesehatan dan sampai bertemu nanti," ucap Danish, memberi tepukan pelan pada bahu Farhan.
"Iya, kalian hati-hati di jalan ya!" seru Farhan kemudian memberi pelukan pada Danish dan juga Arifa.
"Kakak jangan terlalu sibuk, tetap jaga kesehatan, jaga pola makan. Rifa sayang Kak Farhan," kata Arifa di dalam pelukan Farhan.
Danish merasa terenyuh melihat kedua orang kakak beradik yang ada di hadapannya. Mungkin jika Farhan orang lain, Danish akan merasa cemburu berat. Akan tetapi karena Farhan adalah saudara kandung dan satu-satunya dari calon istrinya itu, lenyap sudah dan berganti pada rasa sayang juga terhadap Farhan yang nantinya akan menjadi iparnya.
"Iya, udah deh jangan melow gini. Kakak paling gak bisa lihat kamu sedih. Makanya Kakak begitu selektif memilih seorang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak," sanggah Farhan lalu mengusap kepala Arifa dengan penuh rasa sayang.
"Terima kasih banyak Kak, atas semuanya."
"Iya sama-sama." Farhan kemudian melepaskan pelukannya. "Udah sana berangkat, nanti keburu pesawatnya lumutan karena kelamaan nunggu kalian yang masih betah di sini!" lanjutnya.
"Ih Kakak ini! bisa aja deh," timpal Arifa lalu mencubit pinggang sang kakak. Bukan sakit yang dirasa Farhan, melainkan rasa geli yang begitu terasa menggelitik.
"Iya iya ampun Rifa! hahaha."
__ADS_1
Danish langsung menggenggam tangan Arifa dengan sangat erat. "Farhan kami pergi dulu!"
Sepasang sejoli itu masuk ke dalam mobil yang sejak tadi menunggunya di depan lobby apartemen. Farhan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan, begitu pula dengan Danish juga Arifa yang sengaja membuka kaca jendela mobil.
Mobil pun melaju, meninggalkan apartemen itu menuju bandara yang terletak di ujung kota. Sepanjang perjalanan, Arifa bersandar pada bahu Danish yang besar serta empuk.
"Sayang, kabarnya Bianka bagaimana? kapan dia akan menikah dengan Aldi?" tanya Arifa yang kemudian bangun lalu menatap Danish.
"Baik, rencananya sih setelah pernikahan kita tentunya," jawab Danish dengan penuh percaya diri.
"Terus sekarang Bianka masih ikut kedua orang tuanya?"
"Iya benar, karena Aldi pun sedang bekerja di dalam satu negara yang sama dengan Bianka serta calon mertuanya."
"Oh, lantas apa kakakmu udah tahu akan rencana pernikahan kita?"
"Tahu, dia yang menjadi mentorku sendiri Sayang. Aku bahkan gak tahu kalau gak ada dia akan bagaimana."
"Apa kalian gak pernah bertengkar saat sedang bersama?" tanya Arifa, seketika ingat dengan sang kakak yang selalu menjadi lawan beradu mulut, walau masalah sepele sekali pun.
"Ah masa? Yang benar?" tanya Arifa yang memang tidak menyadari wajah kakak dari Danish saat di acara tunangannya Bianka beberapa bulan yang lalu.
"Ya nanti kamu juga akan tahu kalau sudah bertemu dan berkenalan dengannya secara langsung," jawab Danish yang tersenyum kemudian.
"Kalau kakak iparmu bagaimana? Apa dia juga sekaku suaminya?"
"Gak, jauh banget malah. Mami-nya Bianka itu perempuan sosialita banget. Dia bahkan gak pernah absen di setiap arisan para kelas atas. Tapi, aku juga gak tahu setelah bertemu denganmu akan bagaimana. Aku hanya berharap semoga dia bisa se-humble seperti dengan teman-temannya yang lain."
Pertanyaan demi pertanyaan terus Arifa lontarkan bukan hanya untuk mengenal calon suaminya saja, akan tetapi keluarga daripada calon suaminya pun juga. Sebab, ia tidak seperti Danish yang dengan mudah mencari informasi tentang orang yang dimaksud melalui orang kepercayaannya.
Tak terasa, keduanya telah tiba di depan lobby keberangkatan di sebuah bandara terbesar di negara itu. Tampak sangat ramai, mungkin karena akhir pekan banyak orang yang keluar masuk negara yang mayoritas kelas elit tersebut.
Keduanya pun masuk ke dalam, lalu bergegas pergi ke pesawat pribadi milik Danish yang telah terparkir di landasan pesawat yang ada di sana. Semua koper dan barang bawaan mereka, terutama Arifa telah dibawa masuk lebih dulu oleh pegawai bandara yang bertugas untuk melakukan itu.
Setelah semuanya telah berada di kursinya masing-masing. Pesawat pun akhirnya take off. Waktu yang panjang untuk pulang ke tanah air hingga 17 jam lamanya tanpa transit.
__ADS_1
...----------------...
Arifa tertidur sangat pulas saat tiga jam terakhir perjalanan. Hingga ketika telah tiba di bandara yang terletak di kota J, perempuan berwajah tirus itupun dibangunkan oleh Danish yang sejak tadi tengah asik membaca berita bisnis serta bursa saham di pasaran.
"Sayang bangun, kita sudah sampai," ucap Danish dengan lembut sambil mengelus lembut kepala Arifa, lalu yang dibangunkan pun menggeliat, meluruskan otot-otot yang terasa kaku selama di perjalanan.
Meskipun berada di dalam pesawat pribadi itu sungguh sangat nyaman, tetap saja berada di atas tempat tidur kamar kost-nya lah yang paling nyaman. Walau demikian, Arifa tetap tidak bisa hanya merebahkan tubuh sepanjang hari seperti sebelum peristiwa itu terjadi.
"Kita sampai di Indo?" tanya Arifa, memastikan. Ia masih mengumpulkan segenap kesadaran, karena perjalanan kali ini cukup membuatnya jet lag.
"Iya Sayang, kenapa? apa kepalamu terasa pusing?" tanya Danish saat Arifa tiba-tiba memijat keningnya.
"Iya nih, tumben banget aku kena jet lag. Biasanya gak pernah begini."
"Apa mungkin karena posisinya benar-benar rebahan dan kamu belum terbiasa jadi seperti itu? nanti akan aku request kembali kalau kita melakukan perjalanan jauh lagi," ucap Danish, membantu Arifa berdiri lalu keluar dari pesawat.
Sebuah mobil berwarna hitam pun telah terparkir ketika mereka turun. Barang-barang juga telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Tiba-tiba ponsel Danish berdering ketika dirinya juga Arifa telah masuk ke dalam mobil.
"Ya To, kenapa?"
"Pak, ada dokumen yang harus segera di tanda tangani. Mengingat perizinan perusahaan yang ada di kota J telah selesai di konfirmasi oleh pemerintah setempat."
"Oh begitu, tunggu di ruang kerja saya aja ya."
"Baik, Pak."
Sambungan telepon pun terputus.
"Kenapa?" tanya Arifa yang tak sengaja sekilas mendengar percakapan Danish dan Rinto di sambungan telepon.
"Ada dokumen yang harus aku tanda tangani sekarang juga Sayang. Maaf ya kalau nanti aku gak mampir, gak apa-apa kan?" jawab Danish seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Oh, iya gak apa-apa kok. Lagi pula gak bagus juga kalau perempuan dan laki-laki dalam satu ruangan tapi belum sah menjadi suami istri," imbuh Arifa, membuat Danish tersenyum lega. Mobil pun kemudian melaju menuju tempat kost Arifa.
...Bersambung ......
__ADS_1