
Danish berbalik badan lalu berjalan kembali ke mobilnya. Ia membuka pintu dan melihat Arifa telah bangun dan duduk juga menatap dirinya.
"Hai. Kamu sudah bangun ternyata," sapa Danish yang tersenyum saat melihat sebagian wajah Arifa membentuk sebuah garis-garis. Perempuan itu hanya mengangguk sambil mengejapkan mata mencoba memulihkan kesadarannya.
"Orang berdua tadi siapa Om? Kita dimana? Kok Om gak masuk ke mobil lagi?" Arifa memborong pertanyaan sambil menatap Danish dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Lebih baik kita keluar, yuk!" ajak Danish setelah melepas kunci mobil.
Arifa melihat ke sekeliling, namun lingkungan di sekitar rumah tampak sepi. Jarak antara rumah satu dengan yang lainnya pun cukup berjauhan. Ia merasa ragu untuk turun dari mobil.
"Tapi Om, hari ini juga kita pasti pulang kan ke kota J?" tanya Arifa yang sedikit gugup. Danish tersenyum melihat tingkah Arifa yang ketakutan.
"Iya, tenang aja. Ayuk turun! memangnya kamu gak mau istirahat dulu di dalam?" bujuk Danish yang masih membuka pintu kemudinya.
"Baiklah kalau begitu." Arifa pun akhirnya nurut dan mau turun dari mobil.
Setelah sama-sama menutup pintu, Arifa mulai melangkahkan kakinya sambil mengaitkan tas ranselnya di bahu. Kini mereka mulai memasuki rumah itu.
Hal yang paling menarik perhatian Arifa ketika ia berada di ruang tamu. Bangunan itu terlihat sudah lama sekali, akan tetapi masih tegak berdiri dengan kokohnya.
"Ini rumah siapa Om?" tanya Arifa lalu melihat deretan foto di dinding ruang tamu itu.
"Rumah ibu saya. Waktu kecil saya tinggal di sini bersama kakak juga ibu. Ayah tinggal di kota D sendiri, mencari nafkah. Juga ... memang keluarga ayah dari golongan orang terpandang."
"Apa ini foto Om sewaktu kecil?" tanya Arifa sambil menunjuk ke sebuah figura dengan pose anak kecil yang begitu menggemaskan didalamnya.
"Iya, sebelahnya itu kakak. Ayahnya Bianka."
__ADS_1
"Om cuma dua bersaudara?"
Danish hanya mengangguk sambil bergumam.
"Lantas kenapa ibu Om disini sedangkan ayah Om di kota D? .... tunggu, pasti hubungan yang gak direstui ya Om?" Arifa mencoba menebaknya.
Danish hanya tertawa mendengar pertanyaan Arifa yang memang seratus persen benar.
"Ya, tapi itu semua bagian dari masa lalu," kilah Danish yang tidak ingin memperpanjang kejadian setelah itu. Karena menghargai perasaan Arifa.
"Sampai umur berapa Om tinggal di sini? sepertinya waktu kecil Om gak pernah keluar rumah ya? makanya bisa seputih ini." Arifa berucap sekenanya menyimpulkan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Pemandangan yang indah, lingkungannya asri, udaranya sejuk. Sepertinya kalau Arifa yang tinggal di sini, hanya ia habiskan untuk makan dan tidur. Oh iya satu lagi, nonton live streaming Haechan.
"Saya disini sampai usia lima tahun. Jangan salah, dulu saya gak seputih ini. Lihat aja di foto ya kan?" jawab Danish seraya menunjuk ke salah satu figura di sana.
Lagi-lagi Danish tergelak dengan tawanya. Arifa benar-benar membuat Danish tergelitik untuk tertawa. Sikap yang masih kekanak-kanakannya membuat Danish merasa kalau dia jauh lebih dewasa atas Arifa. Berbeda jika bersama sang kakak, dia selalu menjadi bulan-bulan seperti anak kecil.
"Nanti kamu akan tahu setelah kita menikah," ucap Danish yang spontan disela tawanya. Namun Arifa tiba-tiba terdiam setelah mendengar kata 'menikah'. Kata itulah yang baru saja tadi siang keluar dari mulut Eliezer. Dia sampai bersusah payah menelan ludahnya.
"Eh kenapa kok diam?" tanya Danish yang seketika menghentikan tawa.
"Gak apa-apa kok Om. Saya cuma ngeri aja kalau denger laki-laki dengan entengnya ngajak nikah. Saya sendiri belum siap."
Danish menarik napasnya dalam-dalam. Itu artinya setelah ini ia akan berusaha sekeras mungkin untuk membuat hati Arifa luluh dan mau menikah dengannya, pikirnya seperti itu.
"Ya sudah, gak usah dipikirkan ya. Nanti malah ganggu fokus kamu belajar lagi," ucap Danish diiringi senyum yang membuat lesung pipinya terlihat. Arifa mengangguk pelan.
__ADS_1
"Om tapi beneran kan kita pulang malam ini juga?" bujuk Arifa dengan nada yang terdengar manja ditelinga Danish.
"Lihat aja nanti ya. Mari biar saya tunjukkan kamar supaya kamu bisa istirahat. Lumayan loh kita perjalanan jauh ke sini," ajak Danish sambil mempersilahkan Arifa. Keduanya menuju sebuah kamar. Dimana kamar itu dulunya ditempati oleh Danish bersama kakaknya. "Nah sekarang kamu istirahat ya, mau sekalian ngerjain tugas kampus juga gak apa-apa kok. Saya tinggal dulu."
"Iya Om."
Danish menutup pintu kamar, membiarkan Arifa leluasa dengan kegiatannya di dalam. Sementara dirinya pergi ke sebuah kamar yang dulunya ditepati oleh sang ibu. Tak lupa Danish menutup pintunya kembali.
Melihat ke sekeliling kamar dengan pikiran yang melayang jauh ke dalam memori masa lalu. Ada canda, tawa di sana. Walau memang sampai usianya 5 tahun, mereka hanya hidup bertiga saja. Ayahnya sama sekali tidak menengoknya. Hingga masuk ke usia 6 tahun, barulah sang ayah menjemput mereka pindah ke kota D. Yang alangkah terkejutnya Danish saat melihat rumah ayahnya di sana sangatlah megah dan mewah. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang hidup di desa kecil yang jauh dari sana.
Danish mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah lemari pakaian, membukanya lalu mengambil sebuah kotak berlapis kain beludru berwarna merah. Pintu lemari pun ia tutup kembali, lalu duduk di kursi tepat di depan meja rias yang ada di kamar itu.
Setelah berhasil dibuka, kotak itu masih menyimpan sebuah surat dan kotak cincin berwarna merah. Dulu, ibunya pernah memberitahukan kepada dirinya, kalau suatu saat nanti dia kembali ke rumah itu. Jangan pernah menjualnya, justru disuruh untuk merawat serta menjaga rumah itu dengan baik. Satu lagi, ibunya juga memberikan kotak itu padanya. Untuk dia gunakan saat dirinya telah menemukan tambatan hati yang pas demi masa depan rumah tangganya kelak.
Akan tetapi sejak mereka pindah, Danish sengaja menyimpannya di sana. Dan kini dia kembali, membawa seseorang yang akan dia taklukan hatinya.
"Bu, Danish udah nemuin perempuan yang bisa bikin Danish menjadi diri sendiri. Walaupun dia adalah anak dari seorang perempuan yang telah membuat Ibu pergi, tapi salahkah kalau Danish jatuh cinta pada anaknya?" kata Danish yang seolah berbicara pada ibunya sambil menatap kotak cincin yang ada di tangannya.
...----------------...
Tak terasa langit mulai gelap, tanda malam pun telah datang. Danish melihat jam dinding yang ada di kamar ibunya telah menunjukkan pukul 10 malam. Danish pun sampai tertidur dikamar sang ibu. Rasanya tidak mungkin untuknya mengantar Arifa pulang malam ini juga.
Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar yang kini di tempati oleh Arifa. Dibukanya pintu itu dengan hati-hati. Danish merasa lega karena Arifa tertidur di atas tempat tidur dengan keadaan tengkurap dan laptop yang masih menyala. Namun bukan hanya itu, layar ponsel yang juga menyala dan terdapat pemberitahuan kalau live streaming telah selesai.
Danish menggelengkan kepalanya. "Kenapa perempuan zaman sekarang rata-rata sangat menyukai artis Korea? Apa artis yang asli Indonesia sudah tersingkirkan?" katanya berbicara pada dirinya sendiri.
Kemudian Danish membenarkan posisi tidurnya Arifa. Tak lupa juga menaruh ponsel dan juga laptop di atas meja belajar yang dulu sering digunakan oleh kakaknya. Setelah itu, dia pun pergi kembali ke kamar mendiang ibunya untuk beristirahat.
__ADS_1
...Bersambung ... ...