Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Penghilang Kepenatan


__ADS_3

Matahari telah tenggelam di ufuk barat. Arifa baru sadarkan diri dari tidur siang yang panjang di hari ini. Setelah sepulang dari kampus, niat hati ingin pergi ke tempat makan, tapi niat itu ia urungkan karena suasana hatinya sedang benar-benar buruk akibat ulah Naura yang sama tidak jelasnya seperti Eliezer.


Arifa pun lekas mandi dan memakai pakaiannya. Tiba-tiba perutnya berbunyi, sepertinya para cacing disana ingin segera diisi. Arifa keluar dari tempat kost lalu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia teringat ada sebuah pasar malam yang letaknya tidak jauh dari tempatnya nge-kost, melihat saat perjalanan pulang dari kampus.


Dan, benar saja. Lapangan yang cukup luas dari sisa lahan sawah yang telah diratakan oleh tanah, berdiri satu per satu permainan dan juga tenda-tenda yang sedang menjajakan dagangan mereka. Ditambah lampu yang menyala warna-warni menambah suatu ketertarikan sendiri untuk bisa mampir melihat-lihatnya. Setelah memarkirkan motornya, Arifa turun dan masuk ke dalam.


"Neng, motornya udah dikunci stang?" tanya tukang parkir sesaat setelah Arifa turun.


"Udah," jawab Arifa dengan singkat dan tukang parkir itu mengangguk paham.


Setibanya di tengah-tengah persimpangan jalan, tujuan Arifa selanjutnya mencari pedagang yang menjual makanan. Lalu, pandangannya berhenti pada sebuah tenda dengan seorang pedagang mie ayam didalamnya. Di sana tampak ramai, pembelinya pun sampai mengantre. Arifa ingin sekali ke sana. Tapi rasa lapar yang semakin tak tertahan, akhirnya ia memilih mencari tempat makan yang agak sepi supaya cepat dilayani.


Pedagang nasi goreng, itulah pilihan Arifa. Pembelinya bisa dihitung dengan jari. Tapi dimata Arifa kelihatannya enak. Ia pun memesannya.


"Bang, nasi goreng seafood satu ya, jangan terlalu pedas."


"Oke, mau makan disini atau dibungkus?" tanya penjualnya.


"Disini aja Bang."


"Siap! tunggu di dalam aja ya. Tuh ada bangku yang masih kosong," kata penjual nasi goreng itu, kemudian Arifa mengangguk lalu pergi ke salah satu kursi semata yang kosong kemudian duduk disana.


Hampir sepuluh menit menunggu, nasi goreng yang Arifa pesan telah selesai dibuat. Uap panas dari nasi goreng tersebut masih jelas terlihat, Arifa semakin berselera makan. Tanpa menunggu lama, ia segera menyantap makanannya dengan hati-hati karena cukup panas.


"Permisi Neng, mau minum apa?" tanya penjualnya lagi, sebab ia hanya berjualan sendiri.

__ADS_1


"Es jeruk ada gak Bang?" Arifa bertanya balik. Penjual itu melihat ke arah meja yang khusus membuat minuman. Pandangannya langsung menjurus ke tumpukan buah jeruk peras di dalam sebuah baskom berwarna ungu.


"Ada Neng."


"Itu aja Bang satu," kata Arifa sambil mengunyah makanannya.


"Tunggu sebentar ya." Penjual itu pergi dari hadapan Arifa dan segera membuatkan es jeruk kepada pelanggannya.


Tak lama kemudian, es jeruk pun telah berada di atas meja yang Arifa tempati. Nasi goreng yang beberapa menit yang lalu masih penuh terisi dalam satu piring berukuran sembilan inch, kini telah habis tak tersisa. Setelah itu, Arifa langsung menghabiskan es jeruk yang terasa sangat menyegarkan. Tiba-tiba suara sendawa yang pelan pun ia keluarkan.


Arifa merasa sudah kenyang, kemudian berdiri dan menghampiri penjual nasi goreng yang sedang membuat pesanan untuk orang lain, membayarnya.


"Bang, saya mau bayar. Semuanya jadi berapa?" tanya Arifa. Penjual itu segera menyelesaikan masakannya, lalu mematikan api kompornya.


"Nasi goreng seafood dua puluh lima ribu sama es jeruk tujuh ribu, jadi totalnya tiga puluh dua ribu." Setelah mendengar total harga dari penjual, Arifa mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan kepadanya. "Sebentar ya, saya ambilkan kembaliannya."


"Makasih Bang."


"Sama-sama."


Arifa pun keluar dari tenda itu untuk melihat-lihat di sekitar pasar malam ini. Kebanyakan yang datang adalah warga pribumi. Terutama para orang tua yang mengajak anaknya bermain di hiburan yang ekonomis ini. Sejujurnya bukan hanya mereka yang senang dengan adanya pasar malam, Arifa pun sama. Baginya disini juga bisa menjadi penghilang kepenatan.


Setelah cukup lama berkeliling dan mencoba beberapa permainan di sana, Arifa hendak pulang ke tempat kost. Lagi-lagi matanya berhenti pada penjual mie ayam yang tadi sangat ramai. Dan sekarang disana terlihat sudah mulai sepi, Arifa masih penasaran. Ia pergi ke tenda penjual mie ayam itu.


"Bang mie ayam-nya masih ada gak?" tanya Arifa memastikan dulu sebelum membelinya.

__ADS_1


"Ada nih Neng, beberapa porsi lagi," jawab penjual mie ayam itu. Arifa merasa terkejut mengingat waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh malam, tapi mie ayam yang dijual hanya tinggal beberapa porsi. Arifa semakin penasaran dengan rasanya, seenak apa sih?


"Saya pesan satu ya, dibungkus aja. Terus saos dan sambalnya dipisah ya Bang," kata Arifa dan dipahami oleh penjual mie ayam itu.


Arifa menunggunya sambil berdiri, karena semua kursi yang ada di dalam tenda masih terisi penuh. Memang tidak heran, karena sejak tadi para pengunjungnya tidak henti-henti. Tak lama, mie ayam pesanan Arifa telah selesai dibuat.


"Ini Neng, jadi lima belas ribu," kata penjualnya sambil memberikan sebuah plastik berisi sebungkus mie ayam, kuah, sumpit, dan saos sambal. Arifa pun menerimanya sambil memberikan uang.


"Makasih Neng."


"Sama-sama Bang."


Sebelum waktu semakin malam dan esok pagi harus kuliah, Arifa pulang kembali ke tempat kost.


...----------------...


Di sebuah ruang kerja, Danish tampak berpikir serius dengan sekertarisnya, Rinto.


"To, untuk orang yang bertugas di bagian legalitas itu bagaimana? apa kamu sudah menemukan penggantinya?" tanya Danish. Ia mendapat masalah di kantor cabang perusahaannya yang berada di kota J.


"Belum Pak. Untuk posisi staf agak sulit, kebanyakan dari mereka bernegosiasi gaji di atas yang kita tentukan. Mengingat mahasiswa jurusan hukum di kota J sulit sekali yang ingin bekerja sebagai staf," jelas Rinto. Ia membeberkan berdasarkan fakta yang ada.


"Oh iya, kamu sudah coba iklanin di kampus tempat Bianka kuliah? disana bukannya banyak lulusan bahkan minat di bidang hukum? kita tidak bisa menunggu terlalu lama. Nanti proyek baru untuk di kota J bisa tertunda karena masalah izin legalitas perusahaan." Danish kemudian berpikir kembali.


Perusahaan di kota J memang belum launching, sebab beberapa dokumen yang harus diurus ke pemerintahan tertunda karena ada beberapa staf bagian legalitas melakukan kecurangan yang fatal. Mereka sampai hati membuat surat keterangan palsu untuk perizinan tanpa melalui tanda tangan dari Danish. Beruntung, Rinto segera menemukan pelakunya. Jika tidak, pemerintah kota J akan memblokir perusahaan milik Danish supaya tidak mendirikannya di sana.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2