Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Kesempatan Terakhir (End)


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Danish berdiri sambil bersandar di gawang pintu. Ia sedang memperhatikan istrinya yang sedang asik yoga sambil mendengarkan musik hypnobirthing lewat ponsel di balkon kamar.


Setelah melihat banyak perubahan yang lebih baik dari Danish, perlahan rasa kecewa di hati Arifa berangsur hilang. Buka hanya Danish yang berubah, tapi Arifa pun sama. Saling terbuka dan menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing.


Kini Arifa tengah mengandung untuk yang kedua kalinya. Usia kehamilannya saat ini sudah memasuki bulan ke sembilan. Untuk kehamilan yang kedua ini, Arifa jarang sekali keluar rumah. Semua yang dibutuhkan olehnya, telah disediakan oleh Danish.


Begitu pula dengan Danish yang sekarang lebih santai bekerja dan memilih menghabiskan banyak waktu bersama istrinya. Terlebih setelah kepergian Farhan satu tahun yang lalu, ia tidak ingin istrinya stres karena merasa sendiri.


Balik lagi ke Arifa yang sedang yoga. Sekarang kedua matanya telah terbuka. Perempuan itu terkejut melihat keberadaan suaminya di gawang pintu itu.


"Astaga Sayang ... sejak kapan kamu di sana?" Dengan sigap Danish membantu Arifa berdiri karena perutnya yang sudah sebesar buah semangka.


"Hati-hati Sayang," ucap Danish saat Arufa mencoba menyeimbangkan tubuh. "Sejak kamu merem," jawabnya kemudian.


"Duh kakiku kesemutan," keluh Arifa yang berjalan sedikit pincang karena terlalu lama duduk bersila di atas matras.


"Duduk di sofa dulu yuk Sayang. Biar aku pijitin kakinya," usul Danish yang seketika membuat Arifa tersenyum sumringah.


"Mauuuu ... " Arifa segera duduk di atas sofa sambil menaikkan kedua kakinya. "Baik banget sih suamiku," pujinya pada Danish yang telah memangku kedua kakinya.


"Terima kasih loh pujiannya." Danish kemudian terbahak.


"Oh iya Sayang, dua hari lagi aku udah masuk HPL tapi kok kontraksinya belum kuat juga ya? aku gak mau dioperasi lagi," rengek Arifa dengan menunjukkan raut wajahnya yang menyedihkan.


"Bagaimana kalau kita ... " Danish tidak melanjutkan ucapannya, melainkan memberi kode melalui matanya ke arah tempat tidur. Namun Arifa hanya mengerutkan alisnya.


"Tidur?" Dengan polosnya perempuan itu bertanya demikian. Seketika Danish pun menepuk keningnya.


"Menurut info yang aku baca, salah satu induksi alami menjelang persalinan itu adalah melakukan hubungan suami istri, dimana sper ma yang dikeluarkan oleh laki-laki mengandung cairan semen yang banyak terdapat prostaglandin. Dimana bisa menyebabkan matangnya leher rahim, melunakkan serta melebarkan leher rahim itu sendiri," papar Danish.


Arifa kemudian mengingat-ingat, untuk berhubungan suami istri pun mereka sudah jarang sekali karena Danish takut istrinya kelelahan lagi dan bisa meningkatkan resiko pada janin. Yang sudah-sudah, ya sudahlah~


Arifa langsung mengiyakan ajakan Danish. Keduanya langsung pergi ke atas tempat tidur.


"Eh, eh Sayang jendelanya belum di tutup!" pekik Arifa yang tidak ingin ada yang melihat ketika mereka sedang berperang dalam semangat empat lima.


Danish pun mengurungkan niatnya untuk naik ke atas kasur lalu menutup rapat jendela serta menguncinya. Setelah itu, pasti tahu kan apa yang akan terjadi? benar, benar dan tidak salah. Pertempuran panas di pagi hari yang mulai beranjak siang.

__ADS_1


Hingga tepat dua jam lamanya, Danish mengakhiri permainannya. Ah! rasanya setelah ini laki-laki itu harus berpuasa selama empat puluh hari.


...----------------...


Benar saja. Saat Arifa baru selesai makan malam dan hendak menaiki anak tangga, perutnya terasa mulas tak tertahankan. Danish yang melihat istrinya mengeluh kesakitan langsung datang menghampiri.


"Sayang, kamu mau melahirkan?" tanya Danish yang mulai panik.


"Ya iyalah Sayang, pake ditanya lagi. Aduh sakit banget." Arifa lalu menjambak rambut Danish.


"Aduh Sayang kenapa jadi rambut aku yang dijambak?" pekik Danish sambil memapah Arifa keluar dari rumah.


"Pak Lee siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Danish. Jambakan Arifa semakin kencang, ditambah lagi perempuan itu mencekal serta menggigit lengan dirinya.


"Bi, Bibi! nanti antarkan koper warna merah yang ada diruang bayi ke rumah sakit ya. Kami duluan."


Dengan segera, Danish membawa Arifa masuk ke dalam mobil. Lee pun dengan sigap melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat dokter Sindy berada. Bukan rumah sakit tempat dulu Arifa di operasi, karena jaraknya lebih jauh.


Sepanjang perjalanan, Arifa berusaha mengatur napasnya. Walau Danish yang selalu jadi sasaran. Biarlah itu menjadi pelajaran berharga untuknya supaya tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.


Wajah tampan khas laki-laki oriental itu kini porak poranda akibat ulah istrinya yang sedang merasakan kontraksi.


Hingga lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Lee tiba di depan IGD rumah sakit. Danish segera turun lalu membantu istrinya untuk keluar dari mobil.


Bless...


Sebuah cairan mengalir begitu saja tanpa terasa oleh Arifa.


"Sayang ketubannya pecah!" pekik Arifa yang masih berusaha tetap tenang di tengah kontraksinya saat ini.


"Tetap atur napas ya Sayang, tenang. Biar tensinya gak naik drastis," kata Danish.


Saat masuk ke dalam ruangan Arifa langsung di arahkan ke salah satu tempat tidur yang kosong di sana lalu dibaringkan. Perawat yang bertugas di ruang IGD itu langsung melakukan pemerikasaan.


"Tuan, ini sudah bukaan sembilan. Lebih baik sekarang kita harus segera ke ruang persalinan. Dokter yang biasa periksa dengan siapa?" ujar perawat itu.


"Dokter Sindy," jawab Arifa dan Danish bersamaan.


Lalu datang perawat lainnya membawa kursi roda untuk Arifa. Danish dan perawat itu membantu Arifa naik ke atas kursi roda. Sedangkan perawat yang tadi, sedang berkomunikasi dengan dokter Sindy. Beberapa saat kemudian, dia pun menghampiri ketiga orang itu.

__ADS_1


"Dokter Sindy oke, beliau langsung ke ruang bersalin."


Arifa pun langsung dibawa ke sana. Sepanjang perjalanan, tangannya tidak lepas menggenggam erat tangan Danish. Terlebih ketika rasa mulas itu semakin gencar.


Mereka menaiki akses lift untuk tiba di lantai khusus tindakan. Setelah sampai, perawat yang mendorong kursi roda segera masuk ke dalam ruang bersalin.


"Ya ampun saya kira siapa, ternyata Nyonya Arifa. Yuk bisa yuk, lahiran normal ya Dek," ucap dokter Sindy sambil mengelus-elus perut Arifa yang terasa kencang.


Danish bersiaga di samping sang istri. Walau dirinya tak kuasa melihat darah. Tapi demi menguatkan istrinya, dia rela menghempaskan rasa takutnya itu.


"Sudah bukaan lengkap. Ikuti aba-aba dari saya ya Nyonya," kata dokter Sindy dan Arifa pun mengangguk paham.


"Yuk Nyonya, tarik napas dalam-dalam ... mulai mengejan!"


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa!"


Oek, oek, oek. Arifa mengatur napasnya kembali. Begitu pun dengan Danish yang seketika merasa lega.


"Sekali lagi ya Nyonya," ucap dokter membuat Danish terperangah. Laki-laki itu sampai lupa kalau anaknya kembar. Sedangkan Arifa mulai bersiap.


"Siap ya Nyonya, tarik napas dalam-dalam ... mulai mengejan!"


"Aaaaaaaaaaaaaaa!"


Oek ... oek ... oek ...


"Hah! kamu hebat Sayang!" puji Danish lalu mengecup kening istrinya.


Setelah kedua bayi mereka lahir, lalu disusul dengan plasentanya. Beruntung pada kelahirannya kali ini, tidak ada jahitan sama sekali pada jalan lahir alias perineum utuh.


Tidak sampai satu jam, Arifa pun masuk ke dalam ruang rawat inap. Akhirnya keluarga mereka lengkap dengan ditambah hadirnya anak kembar sepasang, laki-laki dan perempuan.


Inilah sebuah kebahagiaan dari hasil kesabaran dua orang manusia yang mau berubah menjadi lebih baik. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga orang di sekitar.


Kita tidak pernah tahu berapa kesempatan yang akan didapat. Tapi selama masih ada peluang, jadikan itu sebagai kesempatan terakhir yang kita terima.


Semoga Arifa dan Danish pantang menyerah untuk belajar seumur hidup, supaya keluarga kecilnya bahagia selalu.


...Selesai...

__ADS_1


__ADS_2