
"Jadi gini, sekarang cepat beritahu Om. Arifa itu ambil jurusan apa?" tanya Danish dengan nada suaranya yang selembut mungkin.
"Hukum, Om," jawab Bianka, sambil menghabiskan makan dan juga minumannya. Senyum tipis pun Danish sunggingkan. Tak sengaja, Bianka melihatnya.
"Tuh, tuh, tuh. Om pasti ada apa-apa nih." Bianka mulai merasa curiga sambil memicingkan matanya.
"Kamu tahu tempat kost-nya dimana?" Danish tidak menghiraukan ucapan Bianka barusan.
"Dekat sini kok, ituloh tempat kost punya Om ... tapi ada apa sih Om? kok kayaknya penting banget," kata Bianka, kali ini menatap Danish lebih intens. "Om belum puas sama yang tadi?"
Danish menghela napasnya, ia paham apa yang dimaksud oleh Bianka. "Bukan seperti yang kamu pikirkan Bianka. Yang ditelepon tadi hanya kesalah pahaman saja," ucapnya dengan nada sedikit meninggi tanpa menjelaskan yang sesungguhnya.
Bianka berdecak, "Mau diminta sejujur apapun Om pasti bakal mengelak. Udah ah, telingaku masih kerasa geli Habis dengar suara aneh tadi. Awas loh Om, Arifa jangan diapa-apain!" katanya lalu berdiri sambil meraih tas dan juga ponselnya yang ada di atas meja. Kemudian pergi dari hadapan Danish.
"Astaga kalau ngomong!" Danish tersulut emosi karena kata-kata Bianka, kemudian ia terkejut saat keponakannya itu beranjak dari tempat duduknya. "Loh, kamu mau kemana?" tanya Danish namun tidak ditanggapi. "Bianka!" panggilnya lagi, namun rasanya percuma, Bianka sudah keluar dari kafe itu. Danish begitu kesal karena diabaikan oleh keponakannya sendiri. Lalu tiba-tiba ia berseru, otaknya mendadak cemerlang memiliki ide yang menurutnya sangat bagus.
Setelah kepergian Bianka, Danish membuka layar ponselnya lalu menghubungi Rinto.
"Halo, Pak? ada apa?" tanya Rinto saat menjawab panggilan telepon dari Danish.
"To, kamu dimana sekarang?" Danish bertanya balik.
"Di kantor Pak, masih urus para pendaftar yang sudah kirimkan curiculum vitae ke email saya."
"Baiklah, saya ke sana sekarang!" Danish pun mematikan sambungan teleponnya kemudian. Memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana lalu pergi dari kafe itu.
Beberapa menit kemudian, Danish tiba di depan lobby gedung yang akan dijadikannya kantor cabang yang baru. Sebab, perizinan untuk gedung sebelumnya telah cacat dalam administrasi pemerintahan. Akhirnya Danish memutuskan untuk membeli gedung baru yang tidak jauh letaknya dari gedung yang lama.
"To, bagaimana sudah ada yang sesuai kriteria? saya tidak ingin rugi lagi atas masalah perizinan," kata Danish saat dirinya telah berada di sebuah ruangan yang ditempati oleh Rinto.
"Belum, Pak. Tapi untuk staf, saya sudah menemukan orang-orang baru yang lebih fresh dan juga sesuai dengan kriteria perusahaan kita." Rinto menjelaskan sambil memberitahu yanga ada pada layar komputer kepada Danish. "Untuk surat perizinan operasional dan lain sebagainya, satu per satu mulai saya urus. Karena kita tidak mungkin terus mengandalkan pekerja baru yang akan memegang masalah ini, apalagi belum berpengalaman," sambungnya.
Danish terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan Rinto. Tugas sekertarisnya itu memang sudah banyak, belum lagi untuk perusahaan pusat. Rinto juga yang harus memastikan.
"Oke ... Atau aku cari sekertaris baru ya, To?" tanya Danish yang membuat Rinto sedikit terkejut.
__ADS_1
"Sekertaris Pak? lalu saya?" Rinto tidak ingin posisinya tergeser. Gaji yang diterima saat ini sudah sangat cukup untuk hidupnya juga keluarganya.
"Ya kamu sekertaris saya. Tapi saya butuh sekertaris pribadi untuk mengatur kebutuhan pribadi saya." Danish mencoba menjelaskan. "Setelah saya mendapat sekertaris baru, kamu saya tugaskan untuk fokus mengurusi perizinan gedung perusahaan cabang yang baru ... ya saya ingin seperti itu, tolong kerjakan segera ya!" titahnya lalu pergi dari sana. Rinto menghembuskan napas panjang dan mengangguk patuh pada bosnya, lalu fokus kembali ke layar komputer.
...----------------...
Arifa baru saja tiba di tempat kost, sebelum pulang ia sempat makan siang lebih dulu di sebuah warung nasi untuk mengisi perutnya yang terasa kosong. Karena tabungannya mulai menipis, Arifa pun mulai menghemat ekstra. Biasanya ia selalu makan masakan padang yang harganya cukup jauh dari harga di warung nasi biasa.
Berhubung waktu masih cukup untuk tidur siang, setelah membuka sepatu dan mencuci tangan serta kaki, Arifa langsung pergi ke kamar kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
"Nyaman banget," ucapnya lalu menguap. Diraihnya sebuah guling, lalu dipeluk dan matanya pun akhirnya terpejam.
Setelah dua jam lamanya menikmati tidur siang yang terasa panjang, Arifa pun terbangun. Pakaian yang ia kenakan saat ini masih sama. Karena sepulangnya dari kampus, Arifa tidak sempat mengganti pakaiannya.
Tiba-tiba suara petir mulai bergemuruh. Arifa melongok ke ruang depan, di sana tampak gelap. Karena sinar matahari yang tertutupi awan mendung. Padahal gorden di jendela depan masih ia buka. Kemudian lampu sengaja ia nyalakan.
"Hai."
Entah sejak kapan laki-laki berwajah oriental itu telah berada di tempat kost Arifa. Ternyata setelah pergi meninggalkan Rinto di kantor, Danish mulai menjalankan rencananya.
Danish berdiri lalu berjalan menghampiri Arifa yang bersandar di tembok. Perempuan berwajah tirus itu menahan napasnya, terasa sesak terlebih saat Danish semakin mendekat padanya.
"Salah sendiri penghuninya tidur nyenyak tapi pintu depan tidak dikunci. Beruntung saya yang masuk, barang-barangmu bisa aman. Kalau benar maling, siapa yang disalahkan? maling?" Danish menjeda kata-katanya, lalu maju beberapa langkah lagi ke depan. Tepat hanya berjarak satu kaki, langkah Danish terhenti.
"Om mau ngapain!" sentak Arifa, tubuhnya mulai bergemetar. Bahkan kedua telapak tangannya pun telah basah karena berkeringat. Danish memicingkan matanya.
Kenapa bisa ada dia sih? kok bisa tahu aku ngekost disini? ... Ah! Bianka pasti yang kasih tahu dia!
Arifa tiba-tiba pasang badan. Menatap Danish dengan penuh keberanian. Kini ia mulai melangkahkan kakinya, membuat Danish kini melangkah mundur.
"Saya gak tahu ya maksud Om apa datang ke sini. Tiba-tiba masuk tanpa izin dari penghuni tempat. Walau tempat kost ini milik Om, setidaknya Om harus menghargai yang menyewa tempat ini," kata Arifa dengan nada yang penuh penekanan. Akan tetapi raut wajah Danish masih tetap santai. Bahkan tidak terlihat raut ketakutan disana.
Takut? tidak ada yang Danish takuti di dunia ini. Kalau dia bisa menggenggam bisnis di dunia, maka tidak mungkin ia merasa takut. Kekuasaan yang dimilikinya saat ini, bukanlah semata peninggalan kedua orang tuanya. Tapi ada jerih payah keringatnya sendiri di sana.
Mulai dari staf biasa, manager, direktur, CEO dan sekarang menjadi president eksekutif director. Semua telah dijalani oleh Danish. Di usia yang tidak lagi muda, memang sudah sepantasnya untuk Danish menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Dengan kabar sebuah lamaran yang diutarakan Bianka beberapa hari yang lalu, apa Danish telah menemukan sosok wanita yang tepat untuknya?
__ADS_1
"Oke, sorry," ucap Danish dengan entengnya. Berbeda dengan Arifa yang begitu kesal karena sikap seenaknya dari laki-laki berwajah oriental itu.
"Jadi ada apa Om datang ke sini?" tanya Arifa dengan nada juteknya setelah beberapa langkah mundur ke belakang dan melipat kedua tangan didadanya.
"Saya mau adakan kerjasama diantara kita," jawab Danish, kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Arifa mengerutkan keningnya.
"Kerjasama apa?" tanya Arifa.
"Saya meminta kamu untuk gabung dengan perusahaan saya yang ada di kota ini," jawab Danish dengan percaya diri.
Arifa kemudian tertawa. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba seorang pemilik perusahaan besar seperti Anda, melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh bagian HRD untuk merekrut pegawai?"
"Kamu itu seharusnya bersyukur, saya yang meminta kamu secara langsung bukan orang lain," sanggah Danish. Sedangkan Arifa hanya menggelengkan kepalanya menatap Danish tidak percaya.
"Saya gak yakin kalau Anda benar-benar murni niat dari hati. Pasti ada tujuan lain bukan?" ucap Arifa membuat Danish mengangkat kedua alis matanya seraya menarik napas panjang.
"Perempuan yang cerdik!" kata Danish dalam hatinya.
"Memang, tujuan lain itu akan kamu ketahui setelah menyetujui kerjasama kita," jawab Danish yang begitu pandai bermain teka-teki pada Arifa.
"Maaf, saya tidak setuju dan tidak mau!" kata Arifa dengan tegas.
Danish menggaruk dagunya yang tidak gatal dengan sebelah tangannya yang lain masih berada di dalam saku celana. Ia berpikir sejenak untuk menaklukan Arifa.
"Baiklah kalau kamu tidak setuju, aku akan setiap hari pagi dan sore mengantar jemputmu ke kampus." Danish menggunakan jurus jitu yang sebelumnya ia cari di internet. Selama ini, ia tidak bisa mengenal perempuan manapun dengan baik. Itulah kenapa hubungan yang pernah dijalaninya tidak pernah berjalan mulus dan lama.
Kesibukan juga keras kepala yang dimiliki Danish, menjadi penghambat jalanannya hubungan sehingga tidak terasa keharmonisan itu sendiri.
Berbanding terbalik dengan Arifa yang selalu menutup diri pada laki-laki, dua belas tahun menempuh pendidikan standar anak Indonesia dengan mayoritas siswa perempuan. Hanya Haechan yang selalu dianggapnya pacar.
Arifa menatap semakin tidak percaya. Ternyata ada yang lebih tidak jelas melebihi Eliezer. "Hei Anda siapa? pacar saya bukan kenapa seenaknya sih!" sentaknya. Akan tetapi, Danish tidak menghiraukan Arifa yang sudah sangat emosi. Ia memilih keluar dari sana, kemudian masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya sejak tadi.
Apa-apaan dia! awas aja, tunggu pembalasanku!
...Bersambung ......
__ADS_1