Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Ada Yang Kasmaran


__ADS_3

Eliezer berniat menghampiri Arifa, sebab pandangannya tidak pernah lepas dari perempuan berwajah tirus nan mungil itu sejak tadi. Ia tahu kemana Arifa akan pergi setelah meninggalkannya di bawah pohon itu. Namun saat di persimpangan jalan, Putra yang merupakan ketua panitia ospek itu memanggilnya.


"El ! mau kemana?" teriak Putra seraya menghampiri Eliezer yang seketika menghentikan langkah lalu menoleh ke arah Putra.


"Ke toilet," jawab Eliezer yang menunjuk ke arah toilet khusus perempuan.


Putra menahan tawanya dan menatap Eliezer merasa aneh. "Lo ngapain ke toilet perempuan? jangan bilang mau ngintip!"


"Enak aja lo Kak! ya enggaklah." Eliezer mengelak.


"Aaaaah, gue tahu nih. Ya, ya, ya ... kalau udah begini lo pasti udah ngerasa debar debar didada, bukan?" ledek Putra yang melipat tangan kirinya di dada sambil menunjuk ke arah Eliezer lalu menyenggol bahu adik kelasnya yang sedang kasmaran itu.


"Langsung aja deh Kak, lo ngapain panggil gue?" tanya Eliezer dengan wajah yang mulai kesal karena ledekan Putra.


"Ah iya! gue sampai lupa ... Naura tuh butuh bantuan lo buat siapin acara hari senin penutupan ospek. Besok kan Sabtu sama Minggu libur nih, lo gak ada jadwal kelas kan?" jawab Putra dengan raut wajahnya yang kini serius. Orang yang ditanya olehnya tampak sedang berpikir keras, apalagi disatukan dengan Naura. Nanti yang ada bukannya siapin acara, malah terus menggoda Eliezer.


"Jangan sama gue deh. Males banget ngeladenin si Naura. Ngeri gue Kak," pinta Eliezer sambil memasang wajah melas yang ingin belas kasihan kepada kakak kelasnya.


"Dia maunya sama lo El. Apa lo udah punya rencana lain?" tanya Putra sambil mendelik tajam.


"Gue mau ada misi khusus Kak, jadi jangan ganggu weekend yang udah gue bayangin indah," jawab Eliezer berbisik ke telinga Putra yang membuat wajah keduanya saling mendekat.


"Ehem!"


Suara deheman seorang perempuan membuat keduanya terkejut. Putra maupun Eliezer salah tingkah, ada yang berkacak pinggang, ada pula yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seperti seorang kekasih yang kepergok bermesraan di depan umum.


"Kalian kalau bicara bisa di pinggir aja gak? ini tuh di tengah-tengah. Gak enak di lihatnya," ucap seorang perempuan paruh baya yang berprofesi sebagai dosen.


"Eh iya Bu, maaf," ucap keduanya bersamaan.


Selepas itu, Putra langsung pamit pergi dan mengurungkan niatnya untuk membujuk Eliezer kembali. Sementara Eliezer tetap pergi ke toilet perempuan untuk menunggu Arifa keluar dari sana.


Sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Arifa keluar dari toilet itu. Sampai pada waktu istirahat berakhir, Eliezer akhirnya pergi dari sana, menuju ke lapangan.

__ADS_1


Setibanya di lapangan, Eliezer menepuk keningnya lalu berkacak pinggang saat melihat Arifa telah bergabung pada kelompoknya.


Sial, lama-lama nunggu tapi yang ditungguin ada di sini!


Eliezer menjadi salah tingkah sendiri. Iapun ikut bergabung bersama para panitia lainnya dengan pandangan yang tak lepas ke arah Arifa.


...----------------...


Seusai acara, Arifa berjalan sendiri menuju tempat parkir. Kakinya melangkah dengan pasti, namun tiba-tiba suara ponsel yang berdering memperlambat langkahnya, kemudian berhenti dan menepi.


Tertera nama Bianka di sana. Arifa pun menjawabnya, berharap dalam hatinya tidak terjadi seperti semalam.


"Hallo Ka," sapanya. Menunggu beberapa saat sahutan dari ujung telepon. Arifa bersandar di tembok yang ada di dekatnya.


"Hai, Fa. Mau temani aku gak sekarang?" tanya Bianka yang akhirnya bicara membuat Arifa sedikit merasa lega.


"Temani kemana Ka?" tanya Arifa sambil melihat ke jam analog yang terpasang di tangannya.


"Ke butik, aku mau ambil pesanan gaun untuk acara lamaran nanti," jawab Bianka yang seketika membuat Arifa terkejut.


Terdengar Bianka tertawa di ujung telepon, Arifa mengernyit heran. "Bukan aku Fa yang mau dilamar tapi om Danish. Dia punya kesepakan dengan keluarga pembisnis, jadi mau tidak mau dia harus melaksanakannya. Ya, ribetlah kalau udah ada acara jodoh-jodohan gitu. Semoga gak terjadi sama aku." Bianka kelepasan bercerita kepada Arifa yang kini malah tertegun.


Apa Arifa menyukai Danish? Kenapa tiba-tiba pikirannya melompat jauh mengingat kejadian semalam? beberapa saat kemudian, ia pun sadar.


"Fa ... " panggil Bianka yang masih terdengar lembut seperti suara seorang resepsionis menjawab panggilan telepon.


"Eh iya, Ka. Boleh, boleh. Kamu dimana memangnya sekarang?" tanya Arifa kemudian.


"Aku di depan kampus nih, kamu ke sini ya."


"Terus motor aku gimana ini Ka?" tanya Arifa lagi yang merasa terkejut tentang keberadaan Bianka saat ini.


"Tinggal aja, Fa. Besok pagi kita ambil, sekalian jogging bareng. Aku dengar di dekat sini ada stadion besar yang biasa dipakai orang-orang untuk berolahraga, bahkan di sana juga ada car free day."

__ADS_1


Arifa menghela napas panjang. "Oke deh. Aku ke tempatmu sekarang," katanya kemudian memutuskan panggilan telepon itu setelah mendengar Bianka berkata "Iya."


Ponsel pun ditaruh kembali ke dalam saku celana. Berjalan kembali dan kali ini menuju halaman kampus menghampiri Bianka yang telah menunggunya.


Dari belakang, Eliezer mengikuti Arifa dengan jarak yang tidak jauh. Dan langkah Eliezer terhenti saat Naura menarik tangannya.


"El, kata Kak Putra, kamu gak mau diskusi bareng aku besok? kenapa sih?" Rupanya Naura masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Putra tadi siang.


"Males, apalagi kalau cuma berdua. Kenapa gak kumpul aja sih di kampus diskusi bareng-bareng gitu?" Seperti biasanya nada bicara yang ketus selalu Eliezer lontarkan kepada Naura.


"Masalahnya itu tugas kelompok kita di bagian lapangan El. Jordi sama Lian gak bisa ikut, apalagi Hafsah." Jawaban Naura membuat emosi Eliezer mendidih.


"Kenapa gak bubar aja sekalian? mereka memang pada mau kemana? udahlah, aku sibuk. Males sama panitia yang egois. Pengennya kompak, tapi nyatanya ngeluangin waktu beberapa jam aja buat diskusi pada gak bisa." Setelah mengatakan itu Eliezer pergi begitu saja menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.


Wajah Naura langsung merah padam. Eliezer tidak tahu kalau semua ini adalah rencana Naura yang ingin lebih dekat dengannya.


"Susah banget sih itu cowok di deketin!" Naura menghentak-hentakkan kakinya merasa sangat kesal. Kemudian melipat kedua tangan di dada seolah tampak berpikir. "Oh iya, sebentar lagi kan aku ulang tahun. Apa aku adakan pesta aja ya? hmm ... El tunggu pembalasanku!" ujarnya lalu pergi.


...----------------...


Ternyata butik yang Bianka maksud berada tidak jauh dari kampus mereka. Bianka dan Arifa pun turun dan masuk ke dalam sana.


"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan yang membukakan pintu untuk mereka dengan ramah.


"Sore, aku mau ketemu sama tante Riska," jawab Bianka seraya tersenyum.


"Oh ini Nona Bianka ya." Pelayan itu seperti teringat sesuatu. "Ibu Riska baru saja pergi Nona. Tapi tadi ibu sempat bilang, kalau ada Nona Bianka ambilkan gaun yang ada di ruangannya. Nona Bianka dan temannya boleh tunggu sebentar ya," ucap pelayan itu lalu pergi ke ruang kerja pemilik butik ini.


Bianka dan Arifa pun mengangguk paham, lalu keduanya duduk di sofa yang ada di dalam butik. Tampak deretan gaun pengantin berwarna putih menggantung rapih di setiap sudut butik. Arifa tersenyum dan teringat seperti yang ia lakukan kala di butik milik mamahnya.


Ketika mereka sedang asik menunggu, pintu keluar masuk butik itu terbuka. Bianka dan Arifa seketika menoleh ke arahnya. Orang yang berada di ambang pintu itu mengukir senyum dikedua sudut bibir saat melihat keberadaan mereka di sana.


Siapa dia? apa pemilik butik yang datang?

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2