
Arifa masih berada di dalam kelas, padahal mata kuliah hari ini telah selesai. Namun, kedua matanya enggan berpaling dari ponsel yang sedang di genggamnya, membuatnya belum ada niatan untuk beranjak dari tempat duduknya. Awalnya, Arifa hanya ingin mencari lowongan pekerjaan di sebuah situs web. Akan tetapi berhubung ada pemberitahuan cerita baru pada akun sosial media milik Haechan, alhasil melipir dari niat awalnya.
"Oemji, kenapa ganteng banget sih pacarku ini?" kata Arifa dengan wajah yang berseri-seri dan kedua matanya berbinar.
"Hai, sibuk lihatin apa sih?"
Arifa menyadari ada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya, iapun menoleh. Ternyata Eliezer. Arifa tidak menghiraukannya, memilih kembali melihat layar ponselnya.
"Bisa bicara sebentar gak?" tanya Eliezer yang ikut duduk di kursi kosong bersebelahan dengan Arifa.
"Gak bisa," jawab Arifa dengan ketus. Matanya pun masih enggan berpaling dari wajah Haechan yang lebih menarik dibanding Eliezer.
Tiba-tiba sebelah telapak tangan Eliezer menutupi layar ponsel Arifa. Ia sedang mencari perhatian perempuan berwajah tirus itu, dan sengaja memancing Arifa supaya menoleh kepadanya. Seketika Arifa langsung mematikan layar ponselnya, lalu berdiri. "Ganggu aja sih! minggir sana."
Eliezer ikut berdiri lalu mencegah jalan untuk Arifa, sehingga tidak bisa kemana-mana. "Kenapa buru-buru? aku mau ngomong sama kamu, Fa," ucap Eliezer yang mengikuti pergerakan Arifa yang berusaha untuk bisa pergi darinya. Kali ini nada bicaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Arifa kemudian berhenti sejenak sambil memejamkan kedua matanya dan mengatur napasnya supaya tidak terpancing emosi, padahal sebenarnya ia sudah mulai kesal dengan tingkah Eliezer.
"Saya masih ada urusan. Maka dari itu, tolong beri saya jalan," jawab Arifa yang bersikap sangat masih sambil menyunggingkan senyuman terpaksa kepada laki-laki keras kepala yang ada di hadapannya.
Namun Eliezer tetap memagar di tempatnya tidak menuruti permintaan Arifa. Akan tetapi di sisi lain, pancingan Eliezer berhasil dan membuat Arifa mau berbicara sambil melihat wajahnya.
"Manis banget sih, aku semakin semangat buat ngedeketin dia terus," ujar Eliezer dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Arifa mundur ke belakang, memberi jarak supaya tidak terlalu dekat dengan Eliezer. Ia tidak ingin orang lain memfitnah dirinya, terlebih Naura. "Silahkan mau ngomong apa? waktu saya gak banyak," ucapnya dengan tegas.
"Oke, jadi gini .. Malam minggu ini aku mau adakan pesta ulang tahun ke dua puluh. Kamu mau kan datang sebagai tamu spesialku?" jawab Eliezer yang mengutarakan niatnya.
__ADS_1
Arifa menghempaskan napas kasar sambil melipat kedua tangannya di dada. "Maaf, saya gak bisa."
"Kamu masih ada waktu empat hari lagi. Jadi, kamu pikirkan baik-baik," kata Eliezer kemudian pergi dari hadapan Arifa.
"Udah saya bilang, saya gak mau datang ke acara kamu!" teriak Arifa sambil mengepal kedua tangannya. Eliezer hanya menoleh sejenak lalu pergi hingga menghilang dari hadapannya.
Arifa segera merapihkan pakaian serta memasukkan bindernya ke dalam tas. Setelah itu keluar dari kelas. Akan tetapi saat Arifa hendak melewati pintu, Naura masuk lalu mendorong Arifa kuat-kuat hingga hampir terjatuh ke lantai. Senyum pun sengaja Arifa sungging kan kepada Naura. Sepertinya Naura melihat dirinya dan Eliezer bersama di kelas, pikir Arifa demikian.
Arifa merapihkan pakaiannya kembali. Tiba-tiba Naura yang terbakar api cemburu langsung menghampiri Arifa dan ... PRAK! Satu tamparan mendarat mulus di pipi tirus nan mungil itu. Arifa terkejut bukan main, emosinya kali ini benar-benar sedang diuji.
"Rasakan itu perempuan murahan!" hardik Naura lalu melipat kedua tangannya di dada.
Sebenarnya pintu kelas memang terbuka lebar dan kebetulan Arifa duduk di tempat yang dapat terlihat luas dari luar. Naura yang niat awalnya ingin pulang, lalu tiba-tiba melihat Eliezer dan Arifa. Rasa cemburunya pun jadi meronta-ronta. Tanpa Naura tahu, Arifa sudah lebih dulu menyadari keberadaannya.
Kemudian, hal yang tak terduga pun terjadi. "Hahahahaha." Arifa tergelak dengan tawanya sambil mengelus pipinya yang terasa memar.
"Dasar cewek aneh! ditampar kok malah ketawa," umpat Naura namun masih dapat didengar oleh Arifa.
PROK! PROK! PROK! PROK! "Hebat, hebat, hebat sekali. Saya salut sama kamu. Cuma karena apa yang kamu lihat sampai-sampai bukan cuma mata kamu yang buta tapi hati kamu juga." Arifa melipat kedua tangannya di dada, lalu berjalan mengelilingi Naura. Sedangkan dua ajudannya berdiri di depan pintu.
"Saya heran sih, kamu itu kalau dilihat wajah kamu dari segi cara pandang laki-laki itu cukup menarik. Tapi sayang ... kami sama sekali gak dilirik sama El. Beda sama saya. Berkali-kali saya tolak dia, tetap aja dia ngejar terus. Atau jangan-jangan pelet saya lebih manjur ya?" Kata-kata Arifa seolah menggambarkan semua itu benar di telinga Naura, dan membuatnya percaya seratus persen.
Emosi Naura kian bergemuruh, wajahnya pun sudah merah padam. Mungkin telinganya pun sudah terasa panas. Sementara Arifa melihat Naura seperti itu, tertawa kemenangan dalam hatinya.
"Udahlah Naura, jangan suka meneriaki tentang dirimu sendiri pada saya. And see? sekarang siapa yang murahan? kamu atau saya?" jelas Arifa sambil menunjuk ke dada Naura lalu ke dirinya sendiri. "Saya rasa cukup dan percuma juga sih ngomong sama orang yang gak pernah ngaca!" sambungnya lalu pergi dari hadapan Naura.
Setelah Arifa pergi dari sana, amarah Naura kian menjadi. Kedua kakinya dihentak-hentakkan ke lantai. "Anak baru songong! awas aja lo Arifa! tunggu pembalasan gue," ucapnya kemudian pergi dari sana.
__ADS_1
...----------------...
Di dalam toilet, Arifa baru aja selesai meluapkan emosinya dengan menangis. Beruntung kondisi toilet sedang sepi karena sudah banyak yang pulang. Setelah itu, ia membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran wastafel. Kedua kelopak matanya tampak sembab. Namun setidaknya kondisi hatinya mulai membaik. Sekilas bekas tamparan Naura masih sedikit terlihat memerah.
"Sial, tamparannya keras banget lagi, bisa hilang gak ya ?" kata Arifa sambil bercermin dan mengelus pipinya. Kemudian ia merogoh tangannya masuk ke dalam tas untuk mencari masker wajah yang seingatnya pernah menaruh di sana. Setelah ketemu, Arifa segera memakainya lalu keluar dari dalam toilet.
Dengan langkah gontai, Arifa berjalan menuju tempat parkir. Jarak dari toilet tadi memang lebih jauh ketimbang dari kelasnya. Tiba-tiba ...
"Arifa!" Suara perempuan itu tidak asing ditelinga Arifa dan membuatnya menoleh. Benar saja, itu Bianka.
"Fa, kita nonkrong yuk! di dekat kampus ini ada kafe baru loh," ajak Bianka. Arifa tersenyum tipis seraya berpikir.
"Oh ya? baru pembukaan ya?" tanya Arifa sebagai pembuka sebelum menolak halus.
"Iya, terus banyak ada live music juga. Yuk! aku gak ada teman nih. Aldi lagi sibuk kerja, apalagi om Danish si paling super sibuk." Bianka menggerutu dengan raut wajah yang sedih bercampur kesal.
Arifa menarik napasnya dalam-dalam. "Begitu ya Ka? ... tapi maaf ya hari ini aku gak bisa kemana-mana, lagi gak enak badan nih. Pengen istirahat aja di tempat kost," ucap Arifa sambil memijat lehernya yang sebenarnya tidak apa-apa. Ia hanya malas karena suasana hatinya sedang tidak bagus. Apalagi kalau di sana bertemu dengan Naura juga. Bisa-bisa, Arifa semakin tambah emosi.
"Oh gitu, ya udah deh. Next time mau ya, Fa? ya, ya, ya ?" Bianka masih mencoba bernegosiasi.
"Iya ... kalau gitu aku duluan ya," pamit Arifa seraya tersenyum. Bianka mengangguk pelan.
"Hati-hati dijalan Arifa."
"Oke, kamu juga! bye."
Arifa pun akhirnya pergi dari hadapan Bianka. Ketika Arifa menghilang dari pandangan Bianka, deringan ponsel pun terdengar dari dalam tas miliknya. Ia segera membuka tas dan mencari ponselnya di sana, lalu menjawab panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Hallo?"
...Bersambung ......