
Apartemen, mobil serta peralatan rumah tangga yang mewah serta super canggih begitu memanjakan Arifa berada di kediaman Farhan selama satu minggu ini. Sedangkan sang kakak hanya memiliki waktu di apartemennya hanya untuk tidur dan makan malam.
"Kak, apa waktu kerja seorang CEO di negara ini sangat padat ya?" tanya Arifa ketika masuk ke dalam ruang kerja sang kakak, kemudian mulai protes dengan jam kerja sang kakak yang menurutnya terlalu di forsir. "Rifa jadi gak kebayang deh kalau Kakak punya istri pasti tiap hari di protes terus," ucapnya, kali ini begitu menyentil Farhan.
"Makanya sebelum Kakak puas dengan hasil kerja dan pencapaian yang bagus, Kakak gak mau mikirin perempuan. Yang udah juga udah Fa, kabur semua," jawab Farhan dengan sepasang matanya yang masih menatap layar laptop. "Oh iya, lusa bukannya kamu kembali ke Indo? nanti kalau ada waktu senggang, kakak antar kamu buat beli oleh-oleh," sambungnya lalu berdiri dan berjalan menuju barisan buku yang tertata rapih di raknya.
"Oke, kita sekalian jalan-jalan ya Kak? Rifa mulai bosan di dalam apartemen terus," bujuk sang adik dengan sikap manjanya, mengalungkan tangan di lengannya sambil digoyang-goyangkan.
"Iya, siap!" kata Farhan yang begitu meyakinkan Arifa.
Jam digital yang berada di atas meja Farhan telah menunjukkan pukul tujuh malam waktu setempat. Biasanya, matahari baru saja tenggelam di ufuk barat dan langit pun sudah mulai gelap, hanya ada cahaya bintang juga bulan yang menghiasi hamparan gelapnya malam.
*Ting Tong* Suara bel apartemen berbunyi. Farhan dan Arifa saling bertukar pandang. Karena mereka tidak ada janji temu dengan siapapun hari ini. Bel tersebut berbunyi dari depan pintu lift yang ada di lobby terhubung hingga ke unit.
Farhan keluar dari ruang kerjanya diikuti dengan Arifa. Ia melihat ke sebuah layar kecil di samping pintu lift.
"Loh itu kan om Danish, kenapa dia ada disini Kak?" tanya Arifa yang tidak percaya. Detak pada jantungnya perlahan menjadi cepat, ada apakah gerangan?
Arifa belum sempat cerita banyak kepada Farhan tentang antara dirinya, Danish dan juga Eliezer karena kesibukan Farhan yang menyita banyak waktu. Entah kenapa, Arifa merasa kalau Farhan juga kini menjadi orang yang berbeda. Bagai orang 'gila kerja' padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti itu.
"Kamu mau temui di atau gak? kalau enggak ... " Belum sempat Farhan meneruskan ucapannya, Arifa dengan cepat memotongnya.
"Rifa temuin dia."
Farhan tersenyum, semoga keputusan Arifa itu yang terbaik. Siapapun nanti pilihan hati sang adik, ia akan selalu mendukungnya. Bagaimana pun sebagai kakak, ia hanya menjaga adik semata wayangnya sampai dia memiliki teman hidup yang sah dimata hukum dan agama. Berharap tidak ada yang namanya perpisahan. Setelah itu, terlepas sudah kewajibannya sebagai pengganti kedua orang tua mereka yang telah tiada.
"Oke, sana siap-siap dulu. Siapa tahu mau diajak jalan," usul Farhan dengan ujung yang meledek sang adik.
__ADS_1
"Iya, iya." Arifa langsung pergi ke kamar yang ia tempati selama satu minggu ini untuk mengganti pakaian, menjadi lebih feminim dengan sebuah dress juga heels yang tidak terlalu tinggi. Tidak lupa, rambutnya yang sengaja ia gerai untuk menutupi leher jenjangnya.
"Aih! ini baru perempuan," ledek Farhan lagi saat melihat Arifa yang baru saja keluar dari kamar.
"Apaan sih Kak! kayak gak pernah lihat perempuan cantik aja. Makanya jangan kerja mulu, cari jodoh buruan! nanti kalo dilangkah sama Rifa gimana ?" Arifa berdalih dan membuat Farhan berdecak.
"Iya nanti kalau gak sibuk," jawab Farhan sekenanya. Arifa menggelengkan kepala lalu tertawa.
"Rifa pergi dulu ya Kak," pamit Arifa dengan senyuman yang menunjukkan lesung pipinya. Farhan pun mengangguk pelan juga tersenyum.
"Ingat pesan Kakak, ikuti kata hatimu, dengar dan nilai orang yang menurutmu yakin. Baik buruknya dia tergantung penilaian kamu sendiri. Jangan dengar kata orang lain, sebab kedepannya kamu dan dia yang menjalaninya." Kata-kata Farhan begitu menyentuh hati Arifa yang kemudian memeluk erat sang kakak.
"Thanks a lot, Kak."
"You're very welcome. Go, jangan buat dia menunggumu terlalu lama," ucap Farhan yang kemudian Arifa pun mengangguk seraya melepaskan pelukannya.
...----------------...
Wajah yang sejak lama dirindukan, kini berdiri tepat di depannya. Senyum yang selalu menghantui malamnya, kini telah terbit kembali.
Semenjak pertemuan terakhir antara dirinya dan perempuan berwajah tirus itu, meninggalkan sebuah cerita yang tidak jelas ujungnya bagaimana. Begitupun dengan perasaannya, terasa terombang-ambing di tengah lautan yang diterpa badai.
Bergelut, terpaku, serta hampa. Itulah yang dirasakannya selama beberapa bulan terakhir ini.
"Hai, selamat bertemu lagi, Om!"
"Hallo, Arifa Nazwa."
__ADS_1
Keduanya mengangkat tangan kanan untuk saling menyapa. Senyum pun tak luput dari sudut bibir Danish maupun Arifa.
"Mau ikut denganku berjalan-jalan?" tawar Danish dengan penuh harap. Arifa mengangguk dengan raut wajah yang berseri. "Ayuk!" ajaknya sambil mempersilahkan Arifa untuk jalan lebih dulu.
Keduanya berjalan beriringan, sampai di depan lobby tampak sebuah mobil yang serupa dengan milik sang kakak terparkir rapih sedang menunggu tuannya. Danish pun membukakan pintu untuk Arifa.
"Terima kasih Om!" ucap Arifa dengan senang hati.
"Sama-sama. Silahkan masuk."
Arifa mengangguk seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Setelah menutup pintu mobil, Danish berjalan ke arah kursi kemudi lalu duduk di sana.
"Kita mau kemana Om?" tanya Arifa yang mulai penasaran.
"Dinner," jawab Danish diiringi senyumannya yang sangat manis. Sementara Arifa tidak berkata apapun lagi.
Danish melajukan kendaraannya membelah jalanan malam yang mulai sepi menuju sebuah hotel berbintang yang ada di pusat ibu kota. Sepanjang perjalanan, Arifa begitu takjub dengan apa yang dilihatnya sungguh memukau.
Terlebih selama satu minggu ini, dirinya tidak pernah keluar malam. Paling hanya melihat keindahan kota dari balkon kamar di apartemen Farhan. Yang lebih menakjubkan lagi, ketika mobil yang dikendarai oleh Danish telah berada di depan teras pintu masuk lobby. Dekorasi eksterior hotel itu sungguh berbeda dari hotel kebanyakan di tanah air.
"Yuk turun!" ajak Danish, sambil melepas sabuk pengamannya. Begitu pun dengan Arifa, karena merapihkan rambutnya terlebih dahulu, akhirnya Danish yang membukakan pintu untuknya.
Selepas itu, hal yang tak terduga pun terjadi. Danish melipat tangan kirinya, memberi kode supaya Arifa merangkulnya bak sepasang kekasih. Namun orang yang diberi kode itu tampak canggung dan malu-malu untuk melakukannya.
"Apa harus Om?"
...Bersambung ......
__ADS_1