Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Menolak Tegas!


__ADS_3

Pukul satu siang, Danish menelepon Arifa untuk memberitahukan kalau dirinya telah berada di depan gerbang kampus. Akan tetapi belum ada jawaban. Akhirnya, ia memasukkan mobil ke dalam parkiran khusus mobil di kampus itu.


Hingga tepat di pukul dua, Danish mencoba menghubunginya lagi. Dan akhirnya dijawab oleh Arifa, hatinya merasa lega.


"Ya Om?" jawab Arifa di ujung telepon yang baru saja menyelesaikan kelasnya.


"Saya sudah di parkiran kampus, apa kamu sudah selesai?"


"Udah Om, sebentar ya, tunggu."


"Oke."


Danish menaruh ponselnya kembali ke dalam saku jasnya. Tiba-tiba ada yang mencuri perhatiannya. Seorang perempuan yang ada di acara lamaran Bianka kemarin yang tak lain adalah Naura bersama kedua anteknya dari kaca spion, tengah berjalan ke arah mobilnya.


"Parah banget si Arifa, dia diam-diam pacarin El sama cowok lain yang juga udah punya tunangan," kata Naura berdecak kesal.


"Terus akting hamil lo sama El udah bikin bokap lo percaya?" tanya salah satu anteknya.


"Percaya dong! bokap gue bisa dikongkalikong untungnya. Jadi bisa kerja sama."


"Habis ini rencana lo apa Ra buat di El atau Arifa?"


"Gue mau jebak El biar hamil beneran, malas gue sama si Putra gak mau hamilin gue niatnya biar pura-pura itu anaknya si El. Kalau buat si perempuan udik itu, gue mau hancurin dia sehancur-hancurnya. Kalau perlu gue jebak juga dia biar tidur sama banyak gigolo di club, hahaha."


"Gila lo Ra! kalau anak orang mati gimana?"


"Biarin aja, itu urusan dia. Gue sih bodo amat. Siapa suruh bikin gue iri!"


Kedua anteknya saling bertukar pandang lalu tergelak dengan tawanya. Hingga mereka melewati mobil Danish dan menghilang dari pandangan laki-laki berwajah oriental itu.


Telapak tangan Danish mengepal keras. Bahkan urat-uratnya pun sangat jelas terlihat. Dirinya begitu emosi setelah mendengar perkataan Naura barusan. Benar-benar iblis berwujud manusia. Rasa iri bisa merubahnya menjadi jahat dan tidak memiliki hati nurani.


...----------------...


Di depan kelas, Eliezer masih menunggu Arifa keluar. Ponsel yang sejak tadi dipegangnya pun hanya diputar-putar oleh kedua jarinya. Beberapa saat kemudian, perempuan berwajah tirus itu terkejut dengan keberadaan Eliezer yang benar-benar menunggunya hingga kelas selesai.


"Loh, kamu gak masuk kelas El?" tanya Arifa.


"Nanti jam tiga sore Fa."

__ADS_1


"Terus kenapa dari pagi udah datang? bukannya kamu juga punya urusan lain?"


Eliezer berdiri, kini keduanya saling berhadapan. Arifa mundur satu langkah ke belakang supaya tidak terlalu dekat.


"Aku mau kita jadian."


Empat kata itu berhasil membuat Arifa mengerutkan keningnya. Tidak pernah terbesit dalam benaknya kalau Eliezer akan berkata demikian.


"Maaf aku gak bisa. Pacaran bukan tujuanku saat ini, dan aku gak mau rugi karena itu," tolak Arifa mentah-mentah. "Aku mau fokus kuliah, cari uang, biar suatu saat nanti aku juga bisa sukses dengan bisnis yang aku bangun dar nol."


"Baiklah, bagaimana kalau kita menikah? aku masih sanggup untuk membiayai kehidupanmu, kuliahmu dan kita akan membangun rumah tangga yang bahagia, Fa. Bukankah kamu juga cinta sama aku?"


Arifa membuang pandangannya ke arah lain lalu memberi Eliezer lirikan sinis. Ia mengatur emosinya terlebih dahulu. Seketika kejadian kemarin berputar kembali di memori otaknya.


"Iya sebelum kejadian itu. Sekarang, aku gak tahu. Permisi!"


Arifa bergegas pergi dari hadapan Eliezer yang masih mematung di sana. Air matanya menetes tanpa permisi. Inilah yang ia benci, menangis hanya karena perasaannya terluka. Hati yang pernah retak karena perceraian dan kenyataan pada kedua orang tuanya. Rasanya sama ketika dalam sekejap Eliezer tidak menginginkan dia demi Naura, perempuan yang memiliki rasa iri hati padanya.


Arifa menghapus air matanya dengan kasar kemudian belok ke arah toilet khusus perempuan. Ia memilih membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Danish yang dapat menimbulkan banyak pertanyaan dan dia enggan seperti itu.


Ketika selesai membasuh wajah, tak lupa Arifa keringkan. Kemudian ia pun bercermin. Wajahnya kini telah merasa dan terlihat segar kembali. Barulah setelah itu ia keluar dari toilet untuk menuju tempat parkir menghampiri Danish yang telah lama menunggunya.


"Tok, tok, tok." Arifa mengetuk kaca mobil Danish. Akan tetapi, ia melihat laki-laki berwajah oriental itu sedang berbicara pada sambungan telepon. Namun tak lama dia sadar akan kehadiran Arifa di sana, segera membukakan pintu untuknya.


"Ya, secepatnya saya tunggu."


Itulah kata terakhir yang Danish ucapkan sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


"Maaf ya Om lama, tadi sedikit ada gangguan kecil," ucap Arifa kemudian memangku tas ranselnya.


"Iya gak apa-apa. Sebelum kita ke tempat yang dituju, gimana kalau kita makan siang terlebih dahulu. Saya yakin cacing di perutmu sudah demo minta di isi."


Terdengar datar memang, tapi Arifa tertawa mendengar Danish berkata demikian. Ada kelucuan tersendiri yang terlihat dari wajahnya.


"Om tahu aja, hehe."


Danish pun melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir kampus itu. Di sudut halaman itu pula, ada Eliezer yang menatap nanar kepergian Arifa.


Apa aku harus berhenti sampai disini Fa? Hal yang paling benci setelah aku merelakanmu adalah rasa rindu yang pasti akan terus menghantuiku. Batin Eliezer yang galau.

__ADS_1


...----------------...


Setelah menikmati makan siang bersama, Danish melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia akan membuat Arifa merasa jauh lebih tenang.


Mobil melintas sepanjang jalanan kota yang padat hingga akhirnya melewati batas kota J. Arifa pun seketika menoleh ke arah Danish.


"Om bukannya ini arah ke kota Y? tempatnya jauh banget ya Om? jangan jauh-jauh dong Om, besok saya masih banyak tugas," pinta Arifa, memohon.


"Kamu tenang aja," jawab Danish dengan santainya.


Arifa kemudian diam kembali sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tak selang berapa lama, ia pun tertidur.


Danish menepikan mobilnya sejenak lalu merubah posisi tidur Arifa menjadi rebahan. Setelah itu, dinyalakan musik bergenre melow untuk merasa lebih tenang saat berkendara dan juga tidak mengusik tidurnya Arifa. Kemudian Danish melajukan mobilnya kembali.


Hampir empat jam lamanya berada dalam di perjalanan, mobil yang di kendarai oleh Danish berhenti di depan sebuah rumah di desa terpencil yang terletak di wilayah kota Y. Jika dilihat dari luar, rumah itu memiliki model klasik zaman dahulu. Tidak ada yang dirubah sedikit pun.


Danish keluar dari mobil, meninggalkan Arifa yang masih tertidur nyenyak. Kedatangan Danish disambut oleh dua orang, satu laki-laki dan satunya perempuan. Mereka berusia sekitar 45 tahunan.


"Sore Den. Rumah dan halamannya baru saja selesai kami bersihkan," ucap laki-laki. Yang memang telah disuruh oleh Danish.


"Terima kasih banyak ya Pak Bowo dan Bu Angki. Sekarang, kalian bisa kembali ke rumah. Besok pagi tolong datang lagi ya untuk menyiapkan sarapan," perintah Danish pada kedua orang itu.


"Aden, datang sendiri?" tanya perempuan bernama Bu Angki. Memang tidak ada orang lain disana selain mereka berdua.


"Enggak Bu, sama ... calon istri," jawab Danish dengan percaya diri. Padahal belum tentu Arifa juga mau. Mulai ngarep juga ini, sama seperti Eliezer.


"Aduh, saya ikut senang kalau Aden udah punya calon istri. Semoga lancar sampai hari H ya, Den!" kata Pak Bowo, mendoakan Danish lalu di aamiin kan oleh ketiganya.


"Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang ya, Den."


"Iya, silahkan."


Di dalam mobil, Arifa terbangun dari tidurnya. Ia merasa asing dengan keberadaannya saat ini. Di depan rumah yang dikelilingi pepohonan serta bunga yang bertengger rapih pada tempatnya. Tampak nyaman dan sangat asri.


Namun Arifa merasa penasaran saat melihat dua orang di hadapan Danish pergi dari sana.


"Itu siapa? kok kenal sama Om Danish?" tanya Arifa bermonolog.


...Bersambung ......

__ADS_1


...^Visual Tokoh^...



__ADS_2