
"Hai, Arifa!"
Mendengar suara baritone yang telah dikenali telinga Arifa pun, membuatnya menoleh. Wajah yang selama ini ia hindari, kini muncul lagi di hadapannya.
Entah kenapa Arifa merasa ada yang berbeda dengan wajah itu. Tampak segar dan bahagia. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar mesra pada lengan laki-laki berwajah oriental itu.
Tangan seorang perempuan yang memiliki tubuh perfect dan seksi itu sengaja dia biarkan dilengannya. Seketika kedua mata Arifa pun menyorot ke arah itu.
"Apa benar perempuan ini tunangannya om Danish? ternyata dia yang pernah aku lihat di restauran tempo lalu," ucap Arifa dalam hati, yang mengingat akan pertemuan Danish sewaktu dirinya baru saja keluar dari toilet.
"Hai, Om! kalian berdua aja?" sapa Arifa sambil tersenyum simpul melihat kemesraan dua orang manusia dihadapannya.
"Iya, Bianka disuruh ikut gak mau karena katanya baru putus dari si Aldi itu," jawab Danish, lalu Arifa pun tersentak kaget.
"Memang sih udah lama aku juga jarang ketemu Bianka di kampus, terus dia juga gak hubungi aku. Tapi Bianka masih kuliah di kampus itu kan, Om?" tanya Arifa lagi.
"Oh kamu belum tahu ya kalau Bianka sudah pindah kampus?" Danish bertanya balik. Arifa hanya menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba sebuah tangan merangkul Arifa dengan sikap yang terlihat ada keakraban diantara keduanya.
"Beib, kita cari makan yuk! aku tahu kamu lapar kan? apalagi semalam kita habis panas-panasan."
Arifa seketika menoleh, lalu membulatkan matanya. Ternyata Eliezer juga ada di sana. Dia bingung, kenapa laki-laki itu selalu saja ada dimana pun dia berada. Terlebih ucapannya barusan, membuat Arifa malu di hadapan Danish.
"Maaf ya Om. Kami pergi dulu," pamit Arifa, merasa tidak enak hati. Ia menarik tangan Eliezer supaya pergi dari sana.
Danish hanya menatap dingin kepergian Arifa.
"Sayang, habis ini kita mau kemana lagi?" tanya perempuan yang ada di sebelah Danish.
"Pulang saja," jawab Danish lalu melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sementara itu, masih di acara car free day. Arifa dan Eliezer tengah menikmati ice cream cone sambil duduk dibawah pohon yang cukup rindang.
"El, aku malu tahu gak sih. Kamu tuh kalau ngomong sembarangan aja!" kata Arifa lalu memakan ice creamnya kembali.
"Ya maaf, aku tuh lihat kamu dari jauh kok mukanya kayak gak nyaman gitu ada laki-laki itu di sini. Apalagi pas ada perempuan yang menggelayut mesra sama laki-lakinya. Kayak ada cemburu-cemburunya gitu," ledek Eliezer, seketika langsung mendapat lirikan sinis dari Arifa.
"Enak aja, kamu salah sangka tahu!" Arifa berkilah, padahal sebenarnya ia memang tidak nyaman ada Danish di sana.
"Alah, perempuan tuh pinter sekali kalau berkilah. Asal kamu tahu, insting laki-laki itu jauh lebih kuat loh," ucap Eliezer yang merasa sangat percaya diri.
"Ah masa?" Arifa merasa tidak percaya.
"Iya lah, buktinya kamu jadi salah tingkah kan waktu perempuan itu di depanmu? hayo ngaku, ngaku." Eliezer tetap tidak mau mengalah.
"Enggak El! lagi pula ngapain sih kamu ada di sini?" Arifa sudah terlalu kesal dengan Eliezer saat ini.
"Memangnya kalau gak ada aku, kamu bisa bebas pergi dari laki-laki itu?" Eliezer bertanya balik. Seolah ia tahu siapa laki-laki itu bagi Arifa.
"Memang tempe!"
Arifa segera menghabiskan ice cream-nya lalu berdiri dan ingin pergi dari Eliezer.
"Aku sengaja ke sini, takut kamu membutuhkan bantuanku sewaktu-waktu."
"Percaya diri sekali Anda. Seolah ada yang mengutus Anda untuk terus mengikuti saya!" kata Arifa yang seakan marah dan bernada tinggi.
"Hahaha, maaf maaf. Kamu tuh serem tahu kalau sudah marah gini. Aduh aku jadi merasa bersalah. Maaf ya."
"Udah lah, aku mau nyari jajanan lain. Habis ini aku mau ada urusan." Arifa berdiri sambil membersihkan pakaiannya dari daun dan ranting kecil yang menempel terutama pada celananya.
"Urusan apa? aku ikut dong? pasti mau ke rumah si ibu ya? boleh ya aku ikut?" Eliezer membuntuti Arifa seperti seorang anak kecil yang merengek meminta permen ataupun mainan pada ibunya.
__ADS_1
"Apaan sih kamu El, malu-maluin tahu gak."
"Habisnya kalau gak kayak gini, kamu jadi cuek sama aku."
"Kata siapa?"
"Kata akulah."
Arifa memutar malas bola matanya, tidak ingin lagi meladeni sifat Eliezer yang semakin lama akan semakin konyol. Dibalik semua itu adalah sisi lain dari Eliezer sendiri.
Tanpa Arifa tahu, hadirnya dia telah membuat hidup Eliezer banyak berubah. Bukan hanya dari hal-hal kecil, melainkan juga dari hal-hal besar yang dulu tidak sempat dia pikirkan, yaitu membantu orang lain.
Sifat asli Eliezer yang pendiam, berubah drastis menjadi lebih agresif. Itu semua terpancing dari sikap Arifa yang selalu mengacuhkannya.
Kini keduanya pun sibuk membeli berbagai macam jajanan yang ada di sepanjang trotoar jalan.
"Aku baru ngerasain, rasanya dunia luar. Merasa bebas dan gak lagi dikekang oleh rutinitas yang sangat padat sampai menyita waktuku hanya untuk belajar," ucap Arifa yang tiba-tiba. Sebagai pendengar yang baik tentunya Eliezer dengan senang hati mendengarkannya.
"Kalau boleh tahu, orang tuamu kemana Fa?" tanya Eliezer dengan hati-hati. Demi membangun keakraban yang diantara mereka, sedikit demi sedikit keduanya kini telah saling terbuka.
Arifa mengangkat kedua bahunya, lalu menggeleng pelan. "Udah gak ada."
"Dua-duanya?" tanya Eliezer memastikan.
"Yap." Arifa mengangguk yakin.
"Kalau boleh tahu kenapa?" tanya Eliezer lagi. Tapi kali ini Arifa hanya menarik napasnya dalam-dalam, supaya dia tidak sampai menangis mengingatkan rasa kehilangan itu pagi.
"Entah, aku gak bisa buat cerita banyak tentang mereka pada orang lain. Maaf ya," jawab Arifa seraya tersenyum simpul.
"Kalau mau bersandar gak apa-apa kok, sini bahu aku siap jadi sandaran kamu." Ucapan Eliezer berhasil menghentikan hidup Arifa beberapa detik saja. Terenyuh, itu sudah pasti. Tapi Arifa tetaplah Arifa yang tidak ingin berharap dan diberi harapan oleh laki-laki.
__ADS_1
...Bersambung ... ...