Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Sebuah Kotak Hitam


__ADS_3

Pagi yang sangat syahdu dengan suara gemercik air hujan yang masih terjatuh dari langit kelabu. Seorang perempuan paruh baya tengah duduk sambil menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur. Dia hanya bergeming, mendengar rintik air hujan yang terdengar bergemuruh dari langit-langit ruangan. Sudah dua malam ini, dia tetap terjaga. Kelopak matanya pun mulai menghitam. Apalagi kerutan di wajah semakin terlihat nyata. Apa perempuan itu sedang memikirkan sesuatu? tapi matanya tidak bisa bohong, yang terlihat hanya tatapan kosong.


Pintu ruangan tempat perempuan itu berada, terbuka. Namun tetap saja tidak ada respon apapun, layaknya seorang patung yang bisa bernapas.


Ternyata yang masuk adalah seorang perempuan muda dengan memakai pakaian khas pelayan, berwarna hitam putih sedang mendorong bankar yang berisi makanan serta minuman. Dengan sigap, makan dan minum ditaruh ke atas meja yang berada di samping tempat tidur.


"Selamat menikmati sarapannya, Nyonya."


Pelayan itu lalu pergi tak lupa membawa bankarnya kembali. Setelah pintu tertutup, air mata perempuan itu mengalir tanpa permisi. Dosa apa yang telah diperbuatnya di masa lalu, sehingga begitu malang nasib hidupnya saat ini?


Sesaat kemudian, sayup-sayup terdengar derap langkah yang semakin mendekati ruangan tempatnya berada.


BRAK!!


Setelah sejak lama dia bergeming, gebrakan pintu dari seorang laki-laki yang sedang berdiri di ambang pintu membuatnya menoleh. Tatapan laki-laki itu penuh dengan kebencian, dan menjurus langsung pada perempuan yang masih berada di atas tempat tidur. Sangat tajam, bagai ujung tombak yang sangat runcing.


"Bagaimana? Apa Anda nyaman berada di sini?"


Sungguh pertanyaan yang konyol. Dikurung di dalam ruangan tanpa jendela membuat perempuan itu hampir stres karena tidak bisa melihat ke dunia luar. Bahkan terang dan gelap pun rasanya sudah tidak ingat. Laki-laki itu mengangkat sebelah sudut bibirnya, licik sekali.


"Siapa kamu!"


Perempuan itu akhirnya mengeluarkan suara. Bola matanya mulai memerah. Bahkan bibirnya pun bergetar, dan kedua tangannya meremas sprei tempat tidur dengan sekuat tenaga yang dia miliki. Apa laki-laki itu sungguh kejam?


Dia membuang napasnya, lalu berjalan mendekati perempuan itu. Dendam yang telah mendarah daging sejak lama, sebentar lagi akan terlampiaskan pada target yang selama ini tak luput dari incarannya.


"Oh iya, saya sampai lupa untuk memperkenalkan diri."


Dengan sikap angkuhnya, dia membusungkan dada dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Perkenalkan, saya Danish. Anak bungsu pak Brama."

__ADS_1


"A--pa?" tanya perempuan itu tidak percaya. Seketika terpaku setelah mendengar nama Brama. Kemudian bergeming kembali.


"Kenapa Anda begitu terkejut Nyonya Sinta ?" Danish menyunggingkan senyum menyeringai.


Bagaimana tidak terkejut? selama ini Sinta hanya ingin uang yang diberikan Brama padanya. Bahkan dia sendiri tidak tahu menahu tentang keluarga laki-laki itu.


"Bagaimana mungkin?" tanyanya menatap Danish masih tidak percaya.


Seorang anak Brama mengurungnya di ruangan yang terasa pengap walau ada pendingin ruangan, tetap saja dia membutuhkan udara segar untuk bernapas. Terlebih sekarang seperti seorang tahanan.


"Tidak ada yang tidak mungkin buatku. Nyawa harus ditukar dengan nyawa," tandas Danish membuat Sinta mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Nyawa siapa yang kamu maksud?" tanyanya pada laki-laki itu, membangkitkan rasa penasaran yang begitu menyiksanya saat ini. Kemudian turun dari tempat tidur dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terasa lemah karena sudah beberapa hari ini, ia hanya meminum air putih. Tatapan yang sendu, berharap ada belas kasihan yang dapat Danish berikan padanya. Tapi dugaannya salah.


"Jangan beri saya tatapan seperti itu! Dengar, kalau saja waktu itu kamu muncul. Nasibmu sekarang tidak akan seperti ini!" Amarah pun terluapkan. Danish memberi Sinta bentakan tepat di depan wajahnya.


Inilah keinginan yang Sinta maksud tapi tidak disadari. Kehilangan semuanya, termasuk sosok anak yang seharusnya menjadi penyemangat untuknya. Dia ingin bebas, dia ingin hidupnya seperti apa yang selama ini dia mau dan diidam-idamkan. Tapi nyatanya, semua yang sempat berada disisinya telah pergi dalam sekejap. Apa dia jahat menjadi seorang ibu? tentu tidak, selama ia masih punya hati untuk berdamai dengan keegoisannya. Akankah waktu bisa merubahnya? mungkin iya.


"Jangan, jangan sangkut pautkan Arifa dalam masalah ini. Dia tidak tahu apa-apa tentang masalah rumah tangga kedua orang tuanya," lirih Sinta. Kali ini tangisnya pecah setelah ingat akan Arifa dan juga Farhan.


Menyalahkan diri sendiri bukan waktu yang tepat, dan semua sudah terlambat bagi Danish. Kata maaf pun rasanya percuma karena tidak bisa mengembalikan ibunya untuk hidup kembali.


"Lalu apa?" tanya Danish, matanya pun mendelik tajam.


Lagi-lagi Sinta hanya bergeming. Sangat membingungkan memang. Karirnya tamat, anak-anaknya tidak mungkin mau memaafkannya, untuk apa dia hidup? pikir Sinta demikian.


Otaknya dipaksa untuk berpikir keras, sangat tidak sinkron dengan kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Bahkan asam lambungnya sudah berada diambang batas. Seketika ...


BRUK!


Sinta pingsan dan tergeletak di atas lantai. Namun Danish masih tetap menatapnya dengan penuh amarah sambil menghempaskan napas kasar.

__ADS_1


"Pelayan!" teriak Danish, secepat kilat dua orang pelayan pun masuk ke dalam ruangan.


"Ada apa Tuan?" Mereka terkejut saat melihat Sinta tidak sadarkan diri di atas lantai.


"Urus dia!" sambungnya kemudian pergi dari sana.


Mereka mengangkat tubuh Sinta lalu diletakkan kembali ke atas kasur. Salah satu diantara mereka pergi ke luar untuk menghubungi dokter.


...----------------...


Jauh di lain tempat, Arifa baru saja membereskan kamarnya. Hujan di luar baru saja turun cukup deras. Beruntung kelas yang akan diikuti hari ini sedikit agak siang. Jadi, dia bisa lebih santai untuk datang ke kampus. Berharap saat berangkat nanti, hujan pun akan reda.


Arifa bahkan tidak menggubris ucapan Danish kemarin, menganggap hanya sebuah angin lalu yang tidak akan pernah terjadi. Semakin kesini, tugas dari dosen sudah mulai menyibukkan. Untuk melihat pacar online-nya saja sudah semakin jarang. Tidak sesering dulu.


Ditengah derasnya hujan, ketukan pintu pun sama sekali tidak didengar. Dia masih tetap fokus mengerjakan tugas. Akan tetapi karena tidak ada jawaban, gedoran yang sangat keras membuatnya terperanjat dan hening sejenak untuk fokus dengan suara yang sempat menganggu di telinganya.


DOR ... DOR ... DOR ... DOR!


"Asem, siapa sih itu? gak ada kerjaan banget gedor-gedor pintu orang!"


Arifa bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Namun tidak ada siapapun di luar. Ia masuk kembali, tapi seketika diurungkan setelah melihat sebuah kotak berwarna hitam di atas jok motornya.


"Kotak apa itu ya?" Arifa penasaran. Sambil menoleh ke kanan dan kiri, ia bergerak cepat mengambil kotak itu lalu segera masuk kedalam. Dadanya berdebar dengan napas yang tidak beraturan seperti habis di kejar sesuatu. Ia mengunci pintu lalu membuka kotak hitam itu.


"Apa-apaan ini!" Mulut Arifa menganga saat melihat baju haram berwarna marun dengan renda dibagian dada.


"Gak ada nama pengirimnya, kerjaan siapa ya? Apa jangan-jangan om Danish?"


Prasangka negatif muncul seketika dibenaknya. Apalagi mengingat tingkah Danish yang begitu menakutkan kemarin. Tubuhnya merinding lalu segera menutup kotak hitam itu dan menaruhnya di sudut ruangan.


"Kalau memang ini dari om Danish, benar-benar cari ribut dia!"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2