Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Pindah Ke Tempat Baru


__ADS_3

Arifa baru saja selesai mencuci piring setelah ia bersama kakaknya sarapan beberapa saat yang lalu. Selanjutnya Arifa pergi ke kamar untuk membawa barang-barangnya ke ruang tamu dan dikumpulkan di sana. Sementara itu, Farhan yang juga baru selesai mengemas pakaiannya ke dalam beberapa koper, membantu Arifa.


Saat masuk ke dalam kamar, Arifa mengecek ulang barang miliknya. Dipastikan tidak ada yang tertinggal di sana. Tak lama berselang, Farhan datang sambil berkacak pinggang.


"Fa, ini udah semua?" tanya Farhan pada adiknya.


"Udah, Kak. Semoga gak ada yang tertinggal," jawab Arifa tanpa menoleh ke arah Farhan. "Kakak sendiri, udah selesai masukin baju ke kopernya?" tanyanya kemudian pada Farhan yang hendak mengangkat satu kardus yang berukuran cukup besar.


"Udah kok," jawab Farhan singkat lalu pergi dari sana dengan membawa satu kardus menggunakan kedua tangannya. Arifa pun melakukan hal yang sama.


Setelah menaruh barang, keduanya kembali ke kamar Arifa. Dan begitu seterusnya sampai kardus yang ada disana telah habis. Setelah selesai, Arifa pergi ke dapur untuk mengambil minum, sedangkan Farhan menghempaskan bokongnya di kursi ruang tamu.


"Kak, mau es jeruk gak?" tanya Arifa sambil berteriak. Sebab jarak antara dapur dan ruang tamu cukup jauh dan ada sekat tembok ruang keluarga diantaranya.


"Mau!" jawab Farhan yang juga berteriak.


Arifa mengambil jeruk peras yang ada di dalam lemari pendingin. Akan tetapi, ia terdiam sejenak saat melihat banyak stok makanan yang masih tersimpan di sana. terutama makanan beku yang siap olah.


"Kak ini makanan di kulkas mau dikemanakan?" tanya Arifa yang berteriak kembali.


Farhan yang baru saja memejamkan kedua matanya pun merasa kaget dan membuka matanya kembali. "Kamu packing aja, terus kamu bawa buat stok di tempat kost."


"Tapi kan di sana gak ada kulkas, Kak."


"Nanti kita beli!" sahut Farhan yang kemudian memejamkan matanya kembali dengan sebelah tangan yang berada di keningnya. Dan setelah itu tidak ada teriakan lagi dari Arifa.


Sebelum mengeluarkan isi kulkas, Arifa segera membuatkan es jeruk untuknya dan juga kakaknya itu. Dan setelah selesai, ia membawanya ke ruang tamu untuk diminum bersama.


Arifa segera menuangkan es jeruk yang ada dalam satu teko penuh berukuran satu liter itu ke dalam gelas, lalu meminumnya sampai habis.


"Haus banget, Fa," kata Farhan yang merasa heran melihat Arifa minum dengan cepat.


"Banget, Kak." Arifa beranjak dari sana dan pergi ke dapur kembali.


Setibanya di dapur Arifa pun mencari sebuah tas belanja yang akan digunakan untuk tempat makanan beku, buah serta beberapa minuman seperti susu dan juga jus siap minum. Sementara sayuran yang sebelumnya sempat dibeli, sudah layu dan beberapa bahkan sampai berlendir. Arifa pun mengeluarkan sayuran itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


Beberapa menit kemudian, tas belanja yang sebelumnya diletakkan di lantai pun telah penuh. Arifa segera menutupnya dengan resleting yang ada pada tas belanja itu.


"Selesai!" ucapnya bermonolog. Lalu melihat ke sekeliling dapur kembali, ia pun membuka satu per satu laci pada kitchen set. Lalu ia menemuka dua buah kardus yang berisi sebuah kompor listrik dan juga seperangkat alat masak yang masih dikemas sangat rapih.


Dengan rasa penasaran, Arifa membukanya. Lalu secarik kertas berwarna merah muda yang terlipat jatuh dari tutupnya. Arifa pun mengambil dan membacanya.


"Untuk sahabatku, Sinta. Telah lama kita tidak bertemu, tapi ternyata kamu sudah menikah. Padahal, baru saja aku akan melamarmu. Setelah mendengar kabar penikahanmu, akhirnya aku menerima perjodohan kedua orang tuaku. Dan kami akan segera menikah. Semoga dirimu bahagia selalu, Surya."

__ADS_1


"Surya siapa, Fa?" Suara Farhan sedikit membuat Arifa terkejut.


"Eh, Kakak ... ini, " Arifa memberikan kertas yang tadi ia baca kepada Farhan. "Tadi aku temuin di dalam seperangkat alat masak ini," sambungnya kemudian.


Farhan membaca kembali tulisan di kertas tersebut. Keningnya mengernyit seolah berpikir dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia maupun Arifa tanyakan pada mamahnya itu.


"Kertas ini biar Kakak yang simpan ya," kata Farhan sambil melipat kembali kertas itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana.


"Oh iya, Kakak jadi berangkat malam ini juga?" tanya Arifa sambil bersandar ke meja dapur.


"Iya, jadi. Waktu cuti Kakak terakhir hari ini dan besok harus udah masuk ke kantor. Apalagi sedang banyak-banyaknya kerjaan Kakak di sana. Memangnya kenapa?" jawab Farhan yang kemudian bertanya kembali pada Arifa.


"Oh, enggak apa-apa Kak," jawab Arifa dengan senyum yang sedikit ia paksakan. Sejak perceraian kedua orang tuanya itu, Arifa jadi benci akan sebuah perpisahan. Dan kini ia dan Farhan akan berpisah, bahkan mungkin keduanya akan jarang sekali bertemu.


"Oh iya, lusa bukannya kamu ospek hari pertama?" tanya Farhan.


"Iya Kak."


"Wah asik dong! Kakak jadi ingat dulu sewaktu ospek, ada satu perempuan ... dia itu cantik, putih dan badannya tinggi. Kalau pakai baju ke kampus, kayaknya tuh pas aja. Walau yang dipakai itu selalu baju dress yang panjangnya sebetis. Sayangnya, baru Kakak mau dekatin dia. Eh udah punya pacar," ucap Farhan yang spontan bercerita semasa kuliahnya dulu.


"Oh ya? terus pas lulus Kakak tahu perempuan itu kemana?" tanya Arifa yang mulai penasaran dengan cerita Farhan.


Farhan hanya mengangkat kedua bahunya, lalu kening Arifa pun mengkerut. "Soalnya sampai Kakak semester lima, dia tuh masih ada. Tapi pas Kakak tahu dia udah punya pacar, Kakak ngejauh dong! terus Kakak mulai lupa sama dia, sampai lulus ... udah gak pernah lihat dia lagi," jelas Farhan membuat Arifa mengangguk paham.


"Bisa udah, bisa juga belum."


"Kalau belum terus ketemu sama Kakak lagi gimana? Kakak mau?" tanya Arifa yang seolah ia tahu apa yang akan terjadi pada Farhan kedepannya.


"Jangan ngaco! sekarang pertanyaannya dibalik. Dia mau gak sama Kakak yang cuma seorang karyawan di perusahaan?"


Arifa kemudian tertawa saat mendengar perkataan Farhan. "Loh kok gitu Kak?" tanya Arifa kembali, dan Farhan pun menghela napasnya.


"Sebab, yang Kakak tahu dia itu golongan kelas atas. Teman-temannya aja bermobil semua. Apalah Kakak tipe laki-laki berhemat biar pangkal kaya, terus cuma pakai motor ke kampus, mana maulah sama Kakak," jawab Farhan kemudian pergi meninggalkan Arifa yang masih di dapur.


"Yah kok pergi, takut flashback ya?" ledek Arifa kemudian tertawa. "Kak, ngomong-ngomong bantuin aku!" teriaknya saat Farhan telah menghilang dari pandangannya.


"Angkat aja sendiri!" sahut Farhan yang kini sudah berada di ruang tamu untuk mengambil ponselnya.


"Berat Kak!"


Farhan mendengkus kesal lalu menghampiri Arifa kembali. "Sini sini biar Kakak aja yang bawa, gini aja kok gak bisa!" ucapnya dengan ketus lalu mengangkat tas belanja berisi makan dan dibawanya ke ruang tamu.


Arifa memonyongkan bibirnya, meledek kakaknya dari belakang. Karena membahas masalah masa lalunya semasa kuliah, Farhan jadi sensitif. Selepas itu, Arifa pun mengekor di belakang Farhan sambil membawa kompor dan juga alat masak.

__ADS_1


"Yakin kamu mau masak di sana?" tanya Farhan sesaat setelah menaruh tas di atas sofa dan membalikkan tubuhnya, melihat kedua tangan Arifa membawa barang-barang milik Sinta.


"Ya, kalau lagi kepengen aja," jawab Arifa dengan santainya.


...----------------...


Pukul tiga sore, pemilik rumah yang baru kembali ke rumah yang akan mereka tempati untuk mengambil kunci. Arifa dan Farhan pun baru saja selesai memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil, dan sisanya mereka angkut menggunakan mobil box online termasuk motor matic milik Arifa.


Setelah kunci diserahkan, Arifa beserta Farhan pergi dari sana dan mobil box pun mengikuti dibelakang mobil mereka. Sepanjang jalan keduanya bernyanyi sambil menyetel lagu pop anti galau. Menghilangkan penat yang selama ini mengusik ketenangan mereka. Untuk memulai hari baru di esok hari.


Perjalanan kali ini mereka tempuh selama dua jam lamanya. Sebab di sore hari yang berpapasan dengan padatnya kendaraan pada jam pulang kantor. Ditambah mereka sempat ke toko elektronik untuk membeli lemari pendingin. Setibanya, mereka dibantu sopir mobil box tadi mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil.


"Loh kok koper Kakak diturunin juga?" tanya Arifa saat melihat koper milik Farhan berada di luar.


"Iya, nanti Kakak ke bandara pakai taksi online aja. Mobil dan juga Motor sengaja Kakak taruh sini. Biar sewaktu-waktu ke sini ada kendaraan, daripada Kakak jual kan sayang. Suatu saat kamu udah bisa mengendarainya, kamu juga bisa pakai," jelas Farhan sambil menghela napas panjang.


Malam pun sudah semakin larut, Farhan yang baru saja selesai membantu Arifa. Ia pun kemudian pamit kepada adik semata wayangnya itu.


"Fa, kamu pintar-pintar jaga diri ya di sini. Apalagi jauh dari Kakak. Kurangi rasa malasmu itu. Isi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat. Kuliah yang rajin ya, kasih tahu Kakak kalau kamu bisa jadi adik yang paling Kakak banggakan dan Kakak sayang."


Perkataan Farhan membuat Arifa terharu. Air matanya pun menetes dengan sendirinya. Walau memang Arifa yakin, dia pasti bisa mandiri setelah ini. Tapi berpisah dengan Farhan kali ini, rasanya sulit. Arifa memeluk kakaknya dengan sangat erat.


"Kak, kalau Rifa lebih sering nonton live streaming Haechan gak apa-apa kan?" tanya Arifa yang masih memeluk Farhan.


Seketika, Farhan mendorong tangan Arifa untuk menjauh darinya. "Boleh aja, asalkan itu gak ngaruh sama nilai-nilai kamu. Camkan itu!" hardik Farhan yang seakan marah kepada Arifa.


"Enggak kok, Rifa usahain!" sahut Arifa dengan penuh percaya diri.


"Anak pintar," kata Farhan sambil mengacak rambut Arifa yang masih ia ikat seperti buntut kuda.


Tak lama, taksi online yang sebelumnya dipesan oleh Farhan pun kini telah tiba. Beberapa koper yang akan dibawanya, satu per satu dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


"Kakak pergi dulu ya!" pamit Farhan sambil membuka pintu mobil bagian kursi belakang. Tak lupa ia lambaikan tangan sebagai tanda perpisahan sementaranya dengan Arifa.


Tak ubahnya Farhan, Arifa pun membalas lambaian tangan itu dengan senyum yang tak lepas dari kedua sudut bibir ranumnya. "Hati-hati dijalan Kak!"


Farhan mengangguk cepat lalu masuk ke dalam mobil. Setelah pintu tertutup rapat, mobil pun melaju. Sedangkan Arifa masih tetap tersenyum sampai mobil yang dinaiki Farhan telah menghilang dari pandangannya.


Arifa pun masuk ke dalam dan tak lupa mengunci pintu. Lalu mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna biru langit. Pindah ke tempat baru hari ini, sungguh terasa melelahkan. Setelah membaringkan tubuhnya, Arifa pun tertidur.


Satu jam setelahnya, Farhan yang telah berada di bandara, segera check in dan masuk ke dalam pesawat. Sebab sebentar lagi pesawat yang akan ditumpanginya akan take off.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2