Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Tidak Masalah


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Arifa yang ke sembilan belas tahun. Di usia muda dan telah berstatus menjadi istri seorang pengusaha sukses, tidak membuat Arifa berdiam diri untuk apa adanya dalam segi penampilan.


Telah banyak perubahan yang dia alami selama dua bulan pernikahannya bersama Danish. Bentuk tubuh yang mulai berisi, pipi yang mengembang serta bagian-bagian lain yang kini menjadi sebuah candu untuk suaminya. Dan itu semua tentunya berasal dari modal yang diberikan oleh Danish kepadanya.


Kuliahnya pun berjalan dengan lancar. Tapi Arifa tidak bisa sebebas dulu, karena sekarang ada laki-laki yang selalu menantikan kehadirannya ketika pulang dari kantor. Dibalik semua itu, tentunya ada perjuangan terutama untuk kekuatan mentalnya. Apalagi dengan para kolega Danish yang tidak sedikit perempuan. Disitulah letak kedewasaan Arifa di uji. Untuk berusaha tidak cemburu, berpikir positif serta mampu mengerti di tengah kesibukan Danish.


Saat ini, Danish baru saja menyelesaikan pekerjaan lebih cepat karena harus mempersiapkan kejutan untuk Arifa. Segala persiapan pesta pun telah di konfirmasi ulang olehnya, dan beberapa saat lagi dia harus segera menuju hotel untuk memastikan secara langsung.


Walaupun tidak mewah, setidaknya untuk acara makan malam di dalam kamar pun harus seromantis mungkin. Seorang laki-laki yang tadinya enggan untuk berlaku romantis pada perempuan, kini berubah demi kebahagiaan istrinya. Terlebih Arifa penggemar berat artis Korea yang menjadi pusat kecemburuannya hingga kini.


"Rinto, kalau istri saya ke sini. Tolong bilang padanya saya ada meeting di luar sama client. Terus ... jangan bocorkan rencana saya padanya. Mengerti?" Pesan Danish saat melewati meja Rinto, sekertarisnya.


"Baik Pak, saya mengerti."


Sebelum waktu makan siang, Arifa memang mengirimkan pesan pada Danish kalau dirinya akan ke kantor setelah mata kuliahnya selesai. Akan tetapi oleh suaminya itu tidak dijawab, namun hanya dibaca saja. Danish begitu paham, Arifa paling tidak suka pesannya hanya sekadar dibaca tanpa di balas. Ingin perempuan itu harus dibalas walau dengan satu kata. Karena demi sebuah kejutan, Danish membiarkan Arifa marah untuk saat ini.


...----------------...


Setibanya di hotel, Danish langsung menuju ke resepsionis untuk mengecek pesanannya. Ternyata benar, kamar yang di pesan oleh Danish masih di persiapkan oleh bagian house keeping.


"Bisa antar saya ke kamar itu?" tanya Danish. Laki-laki itu belum puas kalau hanya sekadar infomasi, dia masih butuh bukti yang pasti.


"Baik, Tuan. Mari!" ajak pegawai hotel, mempersilahkan Danish untuk berjalan lebih dulu.


Danish pun di arahkan ke sebuah kamar tipe President Excekutif Room. Sebelumnya pemesanan kamar itu dilakukan oleh Rinto, sedangkan Danish hanya mengarahkan tipe kamar seperti apa yang diinginkannya. Biasa, bos mah bebas, pengen sesuatu tinggal beli. Gesek kartu, selesai pembayaran.


Setelah tiba di kamar, Danish tersenyum lega. Dekorasi yang disuguhkan pun lebih dari ekspetasinya. Benar-benar memuaskan pelayanan hotel yang dipilihkan oleh sekertarisnya itu.


"Oke, bagus! kalau begitu, saya akan check in sekitar pukul delapan malam ya." Danish pun pamit dan beranjak pergi dari hotel itu.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Pegawai hotel menunduk sopan ketika Danish meninggalkan kamar tersebut.


...----------------...


Arifa baru saja tiba di kantor Danish dengan perasaan yang begitu kesal. Namun sebisa mungkin perempuan itu tetap menjaga citra dirinya sebagai istri dari pemilik perusahaan tempatnya berada saat ini. Dia pun masih bisa bersikap ramah dan juga sopan kepada para pegawai yang menyapanya.


"Hah!" Arifa mendesah kasar ketika masuk ke dalam lift khusus menuju ruang kerja suaminya.


Saat lift itu berhenti lalu pintunya terbuka. Rinto tersentak kaget setelah melihat kedatangan istri dari bosnya itu. Dia harus ber-acting senatural mungkin supaya Arifa tidak curiga.


"Selamat sore Bu," sapa Rinto seraya berdiri menyambut kedatangan Arifa di sana.


"Sore." Arifa kemudian bertanya, "Suami saya ada Pak?"


"Mohon maaf Bu, Pak Danish sedang ada meeting di luar dengan client. Kalau Ibu gak buru-buru, silahkan menunggu di ruangannya. Tapi kalau buru-buru, mungkin ada pesan yang ingin Ibu sampaikan kepada Pak Danish?" jelas Rinto. Laki-laki itu sekilas melihat raut kemarahan pada wajah Arifa saat ini.


"Oh gitu ... " Arifa tertegun sejenak. "Ya udah. Saya pulang aja kalau gitu ya," lanjutnya kemudian. Perempuan itu enggan menunggu Danish yang 'katanya' sedang meeting di luar. Baginya dia lebih baik menunggu di rumah bisa melakukan apapun sepuas hati.


"Permisi." Arifa kemudian pamit lalu pergi dari sana.


Setelah Arifa pergi dari kantor, Rinto segera menghubungi Danish.


"Hallo Pak? posisi dimana? barusan istri Bapak ke sini, mukanya kelihatan kesal sekali Pak," jelas Rinto. Namun diujung sambungan telepon, laki-laki itu mendengar ada suara seorang wanita yang sepertinya sedang bersama Danish, bosnya itu.


"Yang ini aja Sayang, seksi loh. Ambil semua juga boleh buat koleksi dan biar gak bosen ganti-ganti deh warna hitam, merah merona, nude, ungu terong. Atau yang model ala-ala catty women? transformer juga ada."


"Pak?" sapa Rinto sekali lagi. Dia mengerutkan alisnya merasa ada yang aneh. Ah! Tapi rasanya tidak mungkin kalau Danish selingkuh dari istrinya, pikir Rinto demikian.


"Eh iya To, saya lagi di toko pakaian dalam. Biarkan aja. Terus istri saya langsung pulang?" Akhirnya Danish menjawabnya. Benar feeling Rinto kalau bosnya itu tidak akan macam-macam pada istrinya. Karena buat jatuh cinta aja sulit, bagaimana bisa selingkuh? nafsu? sepertinya tidak. Danish bahkan memintanya setiap hari pada istrinya, dan dengan senang hati Arifa selalu melayaninya.

__ADS_1


"Sepertinya iya Pak," jawab Rinto menurut feeling-nya. Sebab memang dia juga tidak tahu pasti kemana perginya Arifa.


"Oh ya sudah kalau begitu. Saya mau pergi bayar dulu."


Danish langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu Rinto mengatakan apa-apa lagi. Helaan napas panjang pun dikeluarkan oleh sekertaris itu.


...----------------...


Langit pun mulai gelap. Setelah dari toko pakaian dalam tadi, Danish kembali ke hotel untuk menata beberapa model li*ngerie yang dia beli di dalam lemari. Dekorasi pun telah siap. Namun saat dirinya hendak pulang ke rumah, tiba-tiba saja Rinto memberitahukan meeting dadakan dari beberapa bagian divisi. Mau tidak mau, Danish harus hadir dan kembali ke kantor lagi.


Kini, mobilnya baru saja terparkir rapih di halaman rumah. Dia segera turun dan masuk ke dalam untuk menghampiri istrinya.


Ketika membuka pintu, Danish begitu kaget melihat sang istri telah berdiri menyambut kedatangannya seperti biasa, dengan senyum yang menyejukkan hati serta menghempaskan rasa lelah.


"Sore Sayang, baru pulang?" sapa Arifa lalu mengambil tas juga jas yang ada di tangan Danish.


Namun laki-laki itu masih terdiam dan kikuk melihat tidak ada perubahan pada sikap istrinya setelah seharian mengacuhkannya. Merasa ada yang aneh dan dia masih berpikir keras.


Ada apa ya? kenapa istriku gak marah sama sekali? atau jangan-jangan dia habis nonton selingkuhannya? Aduh Danish! batin Danish terus menerka. Justru sekarang dia yang merasa cemburu dan berprasangka buruk pada istrinya.


"Sayang, kamu mandi dulu ya. Aku udah siapin baju ganti yang aku gantung di hanger," ucap Arifa sambil menaruh tas kerja di atas meja lalu memasukkan jas suaminya ke dalam keranjang pakaian kotor, ketika mereka telah masuk ke dalam kamar.


"Kamu juga siap-siap ya," timpal Danish sambil memainkan kedua alisnya naik turun.


"Siap-siap apa?" Reflek Arifa bertanya dan otaknya mengarah kepada hal-hal yang selalu diminta oleh suaminya itu.


"Siap-siap ganti baju. Aku mau ajak kamu pergi ke suatu tempat," jawab Danish. Mengalihkan hal itu dari pikiran istrinya sejenak dan masih bersikap acuh. Bahkan yang biasanya baru datang lalu mencium kening, kali ini tidak dilakukan oleh Danish.


"Oh ... iya," sahut Arifa seraya menghela napasnya.

__ADS_1


Danish pun kemudian pergi ke kamar mandi. Sementara Arifa justru pergi ke ruang ganti untuk segera bersiap sesuai apa yang diminta suaminya.


...Bersambung ......


__ADS_2