Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Di Deketin Panitia Ospek


__ADS_3

"Tunggu!"


Arifa menghentikan langkahnya saat mendengar suara Danish. Ia berbalik dan melihat laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya. Entah kenapa, Arifa merasakan ada debar pada jantungnya yang sulit untuk dijelaskan jika ditanya kenapa.


"Ada apa?" tanya Arifa yang bersikap sesantai mungkin.


"Sekarang sudah larut malam. Mari saya antar pulang sebagai tanda terima kasih saya, karena kamu sudah berusaha menolong Bianka," jawab Danish dengan wajahnya yang datar dan hanya sesekali melihat Arifa, selebihnya pandangannya terlalu kaku menatap ke depan.


"Maaf, terima kasih banyak Tuan Danish. Biar saya pulang sendiri saja pakai motor. Toh, lagian saya tinggal dekat sini. Permisi." Tanpa menunggu Danish berbicara lagi, Arifa langsung berbalik kembali dan berjalan ke luar rumah.


Setelah kepergian Arifa, satpam yang tadi disuruh untuk menebus obat baru saja tiba dan langsung memberikan obat Bianka kepada Danish yang berdiri di dekat ruang tamu.


"Maaf Tuan lama. Soalnya tadi apoteknya sudah tutup. Untung pemiliknya masih ada di sana, jadi saya minta untuk dibuka kembali, dan untungnya lagi dia mau," kata satpam yang kemudian bernapas lega saat tidak ada protes dari Danish.


"Terima kasih. Kamu boleh kembali ke pos sekarang," ucap Danish sambil mengambil obat itu dari tangan satpam.


"Tuan, temannya non Bianka kok udah gak ada motornya di depan?" tanya satpam.


Danish hanya bersikap acuh. "Saya tidak tahu." Kemudian pergi ke kamar Bianka.


...----------------...


Di pagi harinya, Arifa baru saja tiba di parkiran kampus, ia melepaskan helm lalu berdiam diri sejenak untuk mengusir rasa kantuk yang masih menyelimuti kesadarannya. Beruntung sepulangnya dari rumah Bianka, tidak terjadi apa-apa. Padahal sepanjang jalan Arifa terus menguap.


"Pengumuman untuk para mahasiswa dan mahasiswi baru, segera berkumpul di lapangan. Kegiatan ospek hari ini akan segera dimulai."


Arifa turun dari motor dan berjalan ke lapangan.


"Hai, kamu Arifa Nazwa ya?" pertanyaan seorang laki-laki yang kini berjalan beriringan dengannya, seketika ingat dengan seseorang yang semalam meneleponnya.


Arifa menoleh dengan memberi tatapan tajam pada laki-kaki dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh centimeters itu. "Kamu yang telepon saya semalam ya?" tanyanya lalu mengalihkan pandangan kembali ke arah depan. Kakinya pun masih terus melangkah.


"Iya, maaf ya ... kenalin aku Eliezer," jawab laki-laki sambil memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Seketika membuat langkah Arifa terhenti dan menoleh lagi. Melihat hal itu, Eliezer langsung mengulurkan tangannya.


"Males, orang gak jelas!" sentak Arifa kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan Eliezer yang mematung di tempatnya.


"Benar-benar menarik tuh El. Kejar di sampai dapat!" ucap seorang laki-laki yang baru saja tiba menghampiri Eliezer sambil merangkul.


Eliezer melirik lalu berdesis, "Gak ada yang gak mungkin untuk seorang Eliezer. Benar begitu Kak Putra?" ucapnya dengan percaya diri.


"Good luck, semoga berhasil!" kata laki-laki yang bernama Putra lalu pergi meninggalkan Eliezer.


Kegiatan ospek pun di mulai. Para kelompok yang kemarin telah dibagi, kini memisahkan diri pada kelompok mereka masing-masing. Panitia pun berkeliling memberikan sebuah papan tulis beserta tiga buah spidol dengan warna yang berbeda ke masing-masing kelompok.


"Arifa, ini punya kelompok kamu." Mendengar ada yang berbicara di dekat telinga, Arifa menoleh. Seketika rasa kantuknya sirna.


Astaga! ternyata dia panitia. Tapi kenapa kemarin dia gak kelihatan ya?


Laki-laki yang mengajak kenalan tadi memakai almamater yang sama dengan panitia ospek. Arifa menjadi kikuk. Ia hanya tersenyum sambil mengambil barang yang diberikan Eliezer.


"Bukannya dia itu yang kemarin cuma duduk di depan ruang panitia ya?"


"Eh tapi mukanya ganteng loh."


Kata-kata yang Arifa dengar dari teman satu kelompoknya hanya direspon dengan sebuah senyuman. Ia merasa malas untuk meladeni membahas tentang Eliezer saat ini. Baginya Eliezer itu orang yang tidak jelas dan penganggu.


Mungkin karena selama ini ia hampir tidak pernah berbicara banyak dengan teman laki-laki. Jadi, respon yang ia tunjukkan saat ini hanya sebuah keterkejutannya saja.


Saat waktu istirahat tiba, Arifa memilih duduk di bawah pohon rindang dengan angin yang bertiup sangat lembut menyapu bulu halus di wajahnya. Seperti biasa, ia selalu mengintip sosial media artis kesayangannya.


Hatinya merasa terhibur, saat sosok yang ia idam-idamkan sedang melakukan live streaming. Lagi-lagi, saat sedang asik dengan ponselnya. Eliezer tiba-tiba duduk bersebelahan dengan Arifa.


"Nih es jeruk buat kamu," kata Eliezer sambil menyodorkan satu kap es jeruk pada Arifa. Namun perempuan yang diajaknya bicara hanya melirik sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke layar ponsel kembali.


"Makasih, taruh aja di samping. Saya sibuk," jawab Arifa dengan ketus. Eliezer pun menurut lalu mencoba melihat ke layar ponsel yang ada di tangan Arifa.

__ADS_1


Setelah tahu, muka masam pun terbit dari wajah Eliezer lalu menormalkan kembali posisi duduknya.


"Aku heran deh, kenapa sih banyak banget cewek yang suka sama artis Korea? padahal kebanyakan dari mereka bahkan gak ngerti sama sekali apa yang idolanya bicarain. Tapi kalo lihat wajahnya langsung pada histeris." Eliezer membuka percakapan. Sedangkan Arifa yang mendengar itu merasa tersentil.


"Kalau kamu mau tahu jawabannya, ya harus jadi idola mereka yang kami idolakan," jawab Arifa setenang mungkin namun tidak melihat ke arah Eliezer yang sambil meminum es.


"Gak minat. Bahkan gak tertarik. Yang ada nanti disangka belok. Kan kita gak tahu dia itu jenis kelaminnya diubah atau enggak," kilah Eliezer membuat Arifa berdecak kesal dan kali ini berhasil terpancing oleh kata-kata yang diucapkan oleh Eliezer.


"Ya udah mending ke sana tuh kumpul sama panitia. Gak usah urusin hidup orang!" sentak Arifa kemudian berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan Eliezer kedua kalinya.


Benar-benar menyebalkan! Dasar buldozer!


Arifa mengumpat sambil terus berjalan menuju sebuah toilet.


"Arifa ini es jeruknya!" teriak Eliezer namun tidak dihiraukan oleh Arifa. Akan tetapi ia malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba seorang perempuan yang juga memakai almamater yang sama dengan Eliezer duduk di sebelahnya dan langsung meminum es jeruk yang seharusnya untuk Arifa. Perempuan itu memiliki tubuh berisi dan payudara yang sintal, pakaiannya pun bisa dibilang cukup berani. Benar-benar bisa membuat laki-laki manapun tertarik padanya, terutama tubunnya. Akan tetapi, sepertinya itu tidak berlaku untuk Eliezer.


"Kamu ngapain disini? Pakai segala minum minuman orang lagi," tanya Eliezer dengan ketus.


"Aku tuh ya nyariin kamu dari tadi. El ... pulang dari kampus kita nonton yuk!" ajak perempuan itu sambil menggelayut manja di lengan Eliezer.


"Apaan sih Naura? lepasin gak ini tangan! Aku gak mau, sibuk!" sahut Eliezer yang berusaha melepaskan tangan perempuan yang bernama Naura itu dari lengannya.


"Kamu kenapa sih gak mau terus kalau aku ajakin jalan El!" kata Naura lagi kali ini sedikit berteriak saat Eliezer beranjak dari duduknya.


"Ma - les," jawab Eliezer sambil dieja perkata. Sementara Naura yang mendengar jawabnya merasa kesal. Kemudian Eliezer pergi.


Naura merupakan perempuan yang dinobatkan menjadi putri kampus tahun ini. Walau dalam akademik dia biasa saja, namun penampilannya yang menarik membuat orang yang melihatnya begitu terpana. Dan dia satu dari sekian banyak perempuan di kampus yang tergila-gila dengan Eliezer.


Lantas, bagaimana kabarnya Arifa di toilet? Dan kemana perginya Eliezer?


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2