Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Salah Prasangka


__ADS_3

Undangan kehadiran acara lamaran Bianka menjadi bayang-bayang Arifa sejak bangun dari tidurnya. Ingin rasanya tidak datang, tapi Arifa tidak enak hati karena Bianka sendiri yang menghubunginya beberapa hari yang lalu.


Mata kuliah yang Arifa ikuti hari ini pun telah selesai, ia pergi ke kantin untuk mengisi kekosongan perutnya dan tidak bisa ditunda. Beda sama hati, kalaupun kosong bisa ditutup sementara supaya tidak ada yang sembarangan masuk.


Ketika melewati jalan yang biasanya dilewati menuju kantin, tidak sengaja Arifa mendengar suara yang ia kenali di dalam ruang kelas dengan pintu sedikit terbuka. Ia mendekati pintu dengan langkah hati-hati. Mengeluarkan ponsel lalu mulai merekamnya.


"Gimana Ra, berhasil gak?"


"Gagal. Kesel gue! si Putra gak bisa dihubungi."


"Mana sini test pack gue."


"Nih! bantuin gue dong dapetin Eliezer."


"Aduh, gue gak bisa Ra."


"Sama Ra, lo belum tahu apa tentang Eliezer sekarang?"


"Apa tuh? apa cuma gue yang belum tahu?"


"Gue baca di berita bisnis. Ada muka dia Ra di TV. Menurut berita yang beredar, di satu-satunya pewaris raja bisnis di Indonesia. Dan lo tahu siapa yang mewarisinya? ... neneknya sendiri, tapi sayangnya neneknya udah meninggal."


Fakta mengejutkan di dengar oleh Arifa. Mulutnya pun menganga, dan langsung mematikan rekaman lalu pergi dari sana.


Karena terlalu terburu-buru Arifa sampai menabrak sebuah tempat sampah yang ada di samping kelas itu.


BRAK!!! orang yang ada di dalam kelas tersentak kaget dan mereka saling pandang.


"Jirrr! ada yang nguping kita dari tadi kayaknya deh!" pekik Naura dan kedua anteknya mengangguk cepat. "Lihat cepat siapa yang di luar!"


Para anteknya langsung bergegas keluar ruang kelas, menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada tanda-tanda orang di sana, hanya tempat sampah di dekat kelas sedikit bergeser dari tempatnya semula.


"Gak ada siapa-siapa Ra."

__ADS_1


"Ya udahlah, yuk kita pulang!"


Sedangkan Arifa baru saja sampai di kantin. Ia bernapas lega setelah bisa berhasil pergi dari sana.


Untung aku bisa bebas, duh kalau enggak bisa jadi bulan-bulanan kuntilanak itu lagi. Batin Arifa, tangannya sambil mengelus dada dan menghembuskan napas lega.


Kedua matanya memperhatikan barisan kedai makanan juga minuman di kantin itu. Dia mulai berpikir, makanan apa yang menggugah selera makannya siang ini. Waktunya pun memang tidak banyak, karena sepulang dari kampus, dia harus pergi ke acara lamarannya Bianka.


Akhirnya Arifa makan siang dengan seporsi gado-gado beserta nasi juga jus jeruk. Setelah menyelesaikan makannya, ia pun segera membayar. Lalu pergi dari kantin menuju tempat parkir.


Dari kejauhan seorang laki-laki tengah duduk santai di atas motornya. Arifa menghela napas saat langkahnya semakin dekat, ia tahu siapa laki-laki itu. Orang yang dianggap 'buntut' baginya.


Aku gak nyangka, ternyata dia orang penting di negeri ini. Tapi kenapa aku sendiri masih takut ya buat jatuh cinta sama dia? padahal selama ini dia udah baik banget sama aku. Tadinya aku kira yang bakal berjuang seperti dia itu om Danish. Ternyata aku salah. Om Danish udah nemuin orang yang tepat baginya. Jalan hidup memang sulit ditebak, Apa aku coba buka hati buat Eliezer ya? untuk rekaman yang baru aja aku ambil. Kasih tahu El gak ya? aku takut dia beranggapan karena informasi yang baru kata orang itu, jadi bikin jarak antara aku dan juga dia.


Arifa menatap Eliezer dengan penuh makna, hatinya pun ikut berbicara seiring langkah yang semakin dekat dengan tujuannya, yaitu motor matic kesayangannya di tempat parkir.


"Ngapain kamu duduk di motorku?" tanya Arifa dengan bersikap seperti biasanya.


"Enak aja kalau ngomong!" sergah Arifa, tidak terima. "Ini tuh peninggalan berharga dari papahku tahu," sambungnya sambil mengeluarkan kunci motor dari dalam resleting tersembunyi ada ranselnya.


"Oh iya, habis ini mau kemana? jalan yuk sama aku, mau gak?"


Arifa menyunggingkan tawanya sekilas, "Aku ada undangan acara lamaran, di kafe dekat kampus. Tapi sebelum itu kayaknya aku perlu ke salon juga toko baju," jawabnya kemudian.


"Aku temani aja gimana? kamu gak keberatan kan aku ikut? aku gak jelek-jelek banget kok buat diajak ke acara seperti itu."


Iya kamu gak jelek El. Kamu sebenarnya ganteng, tapi aku terlalu takut buat jatuh cinta sama kamu. Walau aku akui, kondisi kita yang mulai mencair, gak lagi bersitegang kayak sebelumnya, ada setitik rasa untukmu. Aku harap setitik itu akan tetap sama, gak bertambah ataupun berkurang.


"Hei! kok bengong sih!" sentak Eliezer sambil memetik jemarinya saat melihat Arifa yang tiba-tiba tertegun, perempuan berwajah tirus itupun terkesiap.


"Eh iya, maaf maaf ... ya udah kalau kamu mau ikut tiga jam lagi kita berangkat," kata Arifa menyetujui, daripada Eliezer terus merengek seperti anak kecil.


"Okey, jadi sekarang kita kemana dulu nih?" tanya Eliezer sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Aku mau pulang ke tempat kost, mandi terus ke toko baju sama salon," jawab Arifa yang mulai memperhatikan penampilan dirinya sendiri.


"Okey, aku juga pulang dulu ke apartment setelah itu jemput kamu," kata Eliezer sambil memakaikan helm di kepala Arifa.


"Terima kasih."


"Sama-sama, udah sana pulang!" seru Eliezer lalu menjulurkan lidah.


Sedangkan Arifa mengerutkan keningnya seolah merasa risih. "Idih, ngusir nih ceritanya?"


"Kalau iya memang kenapa? kan kampus ini bukan punya nenek moyang kamu," jawab Eliezer yang meladeni Arifa.


"Ah udahlah, kalau begini terus aku gak pulang-pulang," ucap Arifa sambil menyalakan starter motornya. "Bye El." Motor yang dikendarainya pun akhirnya melaju. Sedangkan Eliezer mengangkat sebelah tangannya.


Ketika Arifa telah menghilang dari pandangannya, Eliezer mengeluarkan ponsel dari saku celana. Kedua jempolnya mulai mengetik untuk mencari nama seseorang di kontaknya. Setelah ketemu, dia mulai melakukan panggilan pada orang tersebut.


"Hallo, tolong cari tahu informasi tentang Putra Anggara, saya beri kamu waktu dua hari. Dan kirimkan lewat email saya, jangan ke perusahaan."


Kemudian sambungan telepon itu diputus oleh Eliezer. Kedua telapak tangannya mengepal serta rahangnya mengerat.


Aku gak rela kalau terjadi apa-apa sama Arifa. Atau mungkin malam ini aku lamar dia aja kali ya? batin Eliezer seraya berpikir.


...----------------...


Mobil yang dikendarai Eliezer telah sampai di depan sebuah salon kecantikan. Di dalam, Arifa baru saja selesai di make over sesuai permintaannya.


"Duh cucok meong ini mah Nona manise," kata pegawai salon, setelah melihat hasil karyanya yang sangat terpukau pada wajah Arifa.


"Cucok meong itu apa Mas?" tanya Arifa yang tidak paham apa yang dikatakan oleh laki-laki gemulai itu.


"Itu ... "


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2