Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Tempat Kost Mewah


__ADS_3

Pagi ini, langit terlihat mendung. Suara petir pun sesekali menyambar. Arifa yang baru saja bangun merasa tidak yakin dengan pencarian kamar kost bersama Farhan. Rasa malas pun menghampirinya.


Sayang, apapun cuaca pagi ini tetap tidak berpengaruh terhadap Farhan. Dirinya bahkan telah selesai bersiap.


Arifa menyudahi kemalasannya setelah beberapa menit memejamkan matanya sejenak. Iapun kemudian mandi dan bersiap. Tak lama setelah itu, Arifa keluar dari kamarnya dan berjalan perlahan saat menuruni anak tangga.


"Nah gitu dong, kan cantik bangun pagi terus mandi kayak gini!" seru Farhan yang sedang duduk di sofa ruang keluarga melihat Arifa yang masih menuruni anak tangga.


"Ngeledek aja nih Kakak! memangnya tiap hari gak cantik apa?" sahut Arifa malah membuat Farhan tergelak dengan tawanya.


"Sedikit."


"Ih! nyebelin. Tapi its okay, bebeb Haechan terus sama Rifa kok!" kata Arifa yang penuh percaya diri.


"Iya lah si Haechan mau, kan cuma dalem mimpi aja ketemunya." Lagi-lagi Farhan semakin tergelak, ia merasa puas meledek adiknya itu.


"Huh! jadi gak nih nyari tempat kost?" tanya Arifa yang mulai marah.


"Iya, jadi. ayuk!" jawab Farhan lalu mengajak Arifa. Sebab ia tidak ingin Arifa tambah marah padanya dan merusak rencana hari ini.


...----------------...


Perjalanan dari kota D ke kota J memakan waktu hingga satu jam lamanya. Belum lagi ke daerah kampus tempat Arifa akan kuliah di sana. Jadi, total waktu yang mereka tempuh kurang lebih satu setengah jam menggunakan mobil peninggalan Zakaria.


Ternyata banyak sekali macam-macam tempat kost di dekat kampus. Ada yang bentuknya kontrakan, kamar dalam satu rumah, dan juga rumah tinggal minimalis. Arifa sampai bingung memilihnya.


"Fa, kalau menurut Kakak nih ya, mending kamu ambil yang rumah tinggal. Soalnya biar sekalian taruh motor sama mobik di sana. Apa kamu gak mau lihat dulu dalamnya seperti apa?" usul Farhan membuat Arifa berpikir sejenak.


"Hmm ... ya udah deh kita lihat dulu ya!" seru Arifa dan Farhan memarkirkan mobilnya di lingkungan kost model rumah tinggal.


Tapi setelah turun, keduanya bingung. Sebab mereka belum mengetahui pemilik dari kost-kost an tersebut. Lalu ada seorang perempuan muda yang terlihat hendak berangkat bekerja dari seragam yang ia kenakan, keluar dari salah satu kost rumah tinggal itu.


"Permisi," ucap Farhan pada perempuan itu.

__ADS_1


"Iya ada apa?" tanya perempuan itu dengan nada yang sedikit jutek.


"Kamu tahu gak yang punya kost-kost an ini?" tanya Farhan kembali.


"Oh, sebentar." Perempuan itupun mengeluarkan ponsel dari tas yang ia kaitkan di bahu. Lalu mencari sebuah kontak di dalam ponsel miliknya. "Kamu hubungi nomor ini aja, katanya sih bukan pemilik aslinya. Dia hanya pengelola tempat kost ini," ucapnya kemudian.


"Catet Kak catet!" umpat Arifa di dekat telinga Farhan.


Farhan pun langsung mencatat nomor yang diberitahukan oleh perempuan yang masih ada di hadapannya. "Oke, makasih banyak ya!" ucapnya dan perempuan itu hanya mengangguk lalu pergi dengan tergesa-gesa.


Sementara itu, Farhan langsung coba menghubungi nomor yang kata perempuan tadi pengelola tempat kost.


"Hallo," jawab seseorang diujung telepon.


"Hallo, apa benar ini pengelola tempat kost putri Haryati?" tanya Farhan.


"Iya benar, tapi unit-nya hanya sisa satu," jawab orang tersebut.


"Syukurlah, saya mau ambil satu unit itu. Sekarang saya juga telah berada di halaman tempat kost. Inginnya sih melihat ke dalam lebih dulu," ujar Farhan.


"Oke, saya tunggu." Farhan memutuskan sambungan teleponnya kemudian.


Setelah lima belas menit menunggu, orang yang tadi ditelepon oleh Farhan pun tiba.


"Pagi, ini Mas dan Mbak yang cari tempat kost?" tanya orang itu.


"Benar," jawab Farhan.


"Saya Komar," ucap orang itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan kanan untuk saling berjabat. Farhan dan Arifa pun menyambut uluran tangan Komar. "Jadi siapa yang mau kost di sini?" tanyanya kemudian.


"Adik saya, Arifa. Soalnya dia akan kuliah di kampus dekat sini," jawab Farhan sambil merangkul bahu Arifa. Komar pun mengangguk paham. Karena hanya kampus tempat Arifa akan kuliah yang dekat dari tempatnya berada saat ini.


"Mari kalau gitu, saya tunjukkan kamar kost-nya," ajak Komar sambil mempersilahkan Arifa dan Farhan untuk berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Komar pun membuka kunci pintu lalu membukanya. Arifa tercekat melihat bagian dalam kost-kost an itu.


"Berhubung ini modelnya rumah tinggal, jadi ada ruang tamu, satu kamar khusus, dapur, kamar mandi dan juga satu ruang kosong lainnya yang bisa digunakan untuk menaruh televisi atau mungkin tempat belajar." Komar menjelaskan sambil mengajak Arifa dan Farhan berkeliling.


"Kak, tempatnya nyaman juga ya! Rifa mau ya di sini," kata Arifa sambil menggelayut manja di lengan Farhan dengan tatapan penuh harap.


"Yakin nih?" tanya Farhan pada Arifa untuk memastikan.


"Iya, Kak. Yakin!" jawab Arifa dengan pasti.


"Oh iya, kalau untuk fasilitas lain ada apa aja ?" Kali ini Arifa yang bertanya pada Komar.


"Kalau minat, nanti saya pasangkan AC baru, biaya listrik free serta laundry gratis yang biasanya diambil setiap minggu pagi dan diantar minggu malam ... lalu kami juga menyediakan peralatan alat kebersihan berupa sapu dan pel otomatis, vacum cleaner dan juga pembersihan AC setiap tiga bulan sekali."


Arifa yang mendengar penuturan Komar, bersusah payah menelan ludahnya. Pasti biaya perbulannya mahal, pikir Arifa.


"Biaya perbulannya berapa, Pak?" tanya Arifa ragu-ragu. Ingin rasanya ia menutup telinganya saat ini. Seakan tidak ingin mendengar.


"Dua juta lima ratus ribu rupiah."


Arifa menarik napasnya dalam-dalam sambil menarik ujung kaos yang Farhan pakai. Dua juta lima ratus ribu bukanlah harga yang murah baginya saat ini. Keuangan Arifa pun sedang menipis. Sebenarnya ia tidak ingin terus memberatkan Farhan untuk biaya pendidikannya.


"Kak, apa gak terlalu mahal?" bisik Arifa di telinga Farhan dan tanpa ia sadari, Komar pun mendengarnya.


"Biaya segitu dengan fasilitas yang sangat nyaman untuk penghuni tempat kost ini sebenarnya bisa dibilang murah. Kalau di tempat kost biasa seperti kamar dalam satu rumah rata-rata perbulannya enam ratus sampai satu juta. Itupun belum termasuk fasilitas yang saya sebutkan tadi," ucap Komar kembali.


"Benar juga. Baiklah unit ini saya ambil untuk adik saya. Mohon segera di persiapkan ya, Pak. Untuk pembayarannya tolong kirimkan nomor rekening ke nomor telepon saya tadi. Jadi tiap bulan biar saya yang akan mentransfernya langsung," kata Farhan membuat Arifa melongo.


Apa gaji kak Farhan sangat besar sampai dia sanggup bayarin tempat kost yang dibilang mewah ini?


Arifa bertanya dalam hatinya. Lalu Farhan dan Komar pun melakukan transaksi dengan membayar satu bulan pertama.


Setelah transaksi selesai, Arifa dan Farhan kembali ke rumah mereka.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2