Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Jatuh - Cinta


__ADS_3

"Cantik."


Pujian yang dilontarkan oleh Eliezer, entah kenapa membuat perempuan berwajah tirus itu jadi tersipu malu. Seperti ada desiran darah yang mengalir deras menelusuri setiap nadi dan langsung menjurus ke jantung, alhasil detaknya pun menjadi lebih cepat dari biasanya.


"Terima kasih," ucap Arifa sambil menundukkan kepala dan tersenyum simpul.


"Menggemaskan," gumam Eliezer dalam hatinya.


Sama halnya seperti yang dikenakan Eliezer saat ini. Ia memakai setelan jas berwarna biru dongker yang dipadukan kemeja putih bergaris hitam pada kerah dan pergelangan tangannya. Tak lupa sebuah dasi yang berwarna senada dengan setelan jas tersebut.


"Kamu ke sini naik apa ?" tanya Arifa sambil melihat ke belakang tubuh laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Mobil, tuh ... yang warna hitan." Eliezer menunjuk sebuah mobil Toyota Yaris keluaran terbaru.


"Oh ... kamu duluan aja ya masuk ke dalam mobil, terus jangan lupa buka bagasinya ya," tutur Arifa membuat Eliezer mengerutkan keningnya. Merasa bingung, juga penasaran.


"Untuk apa?" tanya Eliezer sambil menoleh ke arah mobil lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah turutin aja, aku ada sesuatu untukmu." Arifa tidak menyadari celah dari ucapannya.


Sementara itu, senyuman manis terbit dari kedua sudut bibir Eliezer. Bukan sesuatu itu yang menarik perhatiannya, akan tetapi kata 'aku' yang membuat hatinya semakin berbunga-bunga. Sebucin itukah Eliezer kepada Arifa? Atau jangan-jangan dia baru merasakan yang namanya jatuh cinta? apa Arifa juga merasakannya ya?


"Baiklah, aku tunggu kamu di dalam mobil." Eliezer kemudian pergi dari hadapan Arifa, menuruti apa yang diminta pujaan hatinya itu.


"Apa ini awal dari sebuah benih cinta yang hadir di hatinya?" tanya Eliezer dalam hatinya sambil melangkahkan kaki menuju mobil.


Arifa yang tadi sempat masuk kembali ke dalam, kini keluar sambil membawa sebuah benda yang terbungkus oleh kertas kado. Ukurannya tidak main-main, bahkan hampir sama dengan tinggi badannya. Eliezer yang melihat itu tertawa, merasa bahagia atas kekonyolan yang diperlihatkan olehnya.


"Kamu itu memang perempuan terunik, entah apa isi yang ada di dalam kado itu. Tapi kok kenapa dia kuat ya bawa sebegitu besarnya?" kata Eliezer bermonolog, di dalam mobil dengan pandangan yang tidak lepas dari perempuan berwajah tirus itu.


BRAK!! Bagasi mobil pun ditutup kembali oleh Arifa. Sementara Eliezer membenarkan posisi duduknya, juga pakaian serta rambut.


Kemudian, dia duduk di samping kursi kemudi. Tampak interior mobil yang beberapa bagian masih terbungkus oleh plastik.


"Kamu baru beli mobil?" tanya Arifa seraya menoleh ke sebuah dasbor yang tertutupi plastik. Eliezer seketika menangkap arah pandangnya.


"Hehe, iya. Baru semalam sampai. Ayahku baru aja mengusirku beberapa hari yang lalu dan mengambil semua aset pemberiannya. Jadi sekarang aku lagi mulai membeli barang-barangku sendiri."


Arifa melongo setelah mendengarkan penuturan laki-laki yang ada di sampingnya yang mulai mengendarai mobil menuju tempat tujuan.


"Biasa aja mukanya, Fa. Sampai kaget seperti itu," ledek Eliezer kemudian tertawa.


"Ya aku heran aja, baru diusir dan diambil semua asetnya. Kenapa seolah jadi mendadak kaya?"


Kata 'aku' yang kedua kalinya terlontar dari mulut Arifa. Ah, betapa bahagianya seorang Eliezer hanya karena itu. Lagi-lagi dia tersenyum, tapi kali ini senyumannya seperti meledek.


"Kenapa kamu senyum kayak gitu?" tanya Arifa sambil mengerutkan keningnya. Entah kenapa ia merasa canggung. Berbeda, tidak seperti sewaktu duduk berdua bersama Danish. Hm, apa Arifa mulai jatuh cinta sama Eliezer?


"Ciyeee ... sekarang saya udah ganti aku nih?"


Arifa mendadak sulit menelan ludahnya sendiri. Mengatupkan mulut rapat-rapat, bahkan sulit mengelak, tidak seperti biasanya. Pandangannya pun seketika dibuang ke luar jendela mobil.


"Ih, mukanya merah. Pasti malu ya?" ledek Eliezer lagi. Benar-benar menyebalkan bukan? apalagi tatapannya, kali ini ia menang telak dan berhasil membuat Arifa menjadi salah tingkah.


"Kamu belum jawab pertanyaan ... ku tadi." Arifa mengalihkan topik pembicaraannya.


"Pertanyaan yang mana?" Eliezer pura-pura tidak mengingatnya. Ia hanya ingin Arifa akan tahu dia yang sebenarnya di saat waktu yang tepat.

__ADS_1


"Udahlah lupakan," jawab Arifa sambil memutar malas bola matanya.


Setelah itu keduanya saling diam. Rasa canggung yang menyelimuti perasaan Arifa, membuat tubuhnya seolah membeku dan bingung harus memulai percakapan apa lagi. Begitu pula dengan Eliezer.


Mobil mulai melesat dengan kecepatan hampir di atas rata-rata ketika jalanan yang ditempuh mulai sepi dari kendaraan lainnya. Daerah yang berada di atas perbukitan, membuat mobil mengeluarkan tenaga lebih besar lagi untuk naik ke puncak bukit. Acara yang akan di adakan Eliezer berada di sebuah villa miliknya sendiri, pemberian mendiang eyang kesayangannya.


Hampir satu setengah jam lamanya, keduanya tiba di tempat acara. Dekorasi yang unik pun telah terlihat dari pintu masuk. Mereka turun dari motor lalu masuk kedalam.


Salah seorang crew dari Event Organizer acara mengarahkan Eliezer ke belakang panggung. Arifa yang merasa asing akan tempat itu, langsung digenggam tangannya oleh sang pemilik acara tersebut.


Hatinya lagi-lagi berdesir. Ada rasa kenyamanan tersendiri di dalamnya. Arifa tersenyum tipis, tanpa diketahui oleh Eliezer.


Saat di belakang panggung, terdengar sayup-sayup suara tamu yang hadir sangat meriah. Dentuman musik yang cukup kencang pun menambah kemeriahan acara. Tiba-tiba musik pun berhenti saat pembawa acara mulai berbicara.


"El, aku ke depan aja ya," ucap Arifa dengan perasaannya yang tiba-tiba gelisah.


"Gak usah, lagi pula memangnya kamu kenal sama semua tamuku?" jawan Eliezer, terus mempererat genggaman tangannya pada Arifa yang hanya bisa menghela napas dan menuruti apa yang dikatakannya.


"Mari kita sambut dengan meriah yang sedang berulang tahun hari ini. Eliezer," kata pembawa acara, semua hadirin bertepuk tangan sambil bersorak.


"Kamu aja yang naik," kata Arifa, menahan tubuhnya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Eliezer.


"Yakin gak mau ikut aku ke atas panggung?" tanya Eliezer memastikan.


"Yakin banget,' jawab Arifa dengan pasti.


"Ya udah deh, kamu duduk di depan aja ya. Pastikan bisa terjangkau sama pandanganku," ucap Eliezer dan Arifa pun mengangguk paham.


Saat itu juga Eliezer melepaskan genggamannya pada Arifa kemudian naik ke atas panggung dan disambut tepuk tangan yang meriah oleh para tamu undangan yang hadir.


Sementara itu, Arifa melihat-lihat hidangan yang telah tersedia di meja prasmanan. Dia mengambil segelas air sirup berwarna biru lalu membawanya menuju sebuah kursi yang kosong, dan duduk di sana sambil memperhatikan Eliezer berbicara.


"Ada Naura juga, lantas sama siapa dia kesini? bukannya Eliezer pernah mengancamnya waktu itu?" Arifa bertanya-tanya dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, Naura yang merasa di perhatikan menoleh ke segala arah di sekelilingnya lalu terhenti pada Arifa yang tengah duduk memperhatikannya sejak tadi.


"Oh ada perempuan udik itu juga di sini. Bisa-bisanya sih El undang dia di acara elit kayak gini," cemooh Naura yang ia ucapkan dalam hati sambil memberi tatapan sinis. Karena jaraknya juga Arifa cukup berjauhan.


Tiba-tiba Arifa ingin buang air, ia menaruh minumannya di atas meja lalu pergi dari sana. Terlihat senyum menyeringai pada wajah Naura ketika melihat kepergian Arifa. Perlahan, dia menghampiri minuman itu dan mengeluarkan satu saschet berwarna putih dari dalam tas. Merobeknya lalu mencampurkannya ke dalam minuman Arifa.


Saat itu juga tanpa disadari oleh Naura, Eliezer yang baru saja selesai turun dari panggung langsung menghampiri perempuan licik itu.


"Lagi ngapain lo di sini?" tanya Eliezer yang sudah enggan berkata 'aku-kamu' pada Naura.


"Eh, enggak kok. Cuma mau minum."


Seketika, Naura pun kelabakan dengan kehadiran Eliezer yang tanpa sengaja membuang sembarangan bungkus saschet miliknya. Eliezer berdesis, saat melihat tulisan pada bungkus itu.


"Oh, ya udah silahkan di minum," kata Eliezer, ingin tahu apakah Naura berani atau tidak meminumnya.


"Iya nanti diminum kok," sahut Naura dengan jarinya yang diketuk-ketukkan pada gelas berbahan dasar kaca itu.


"Sekarang aja, gue mau lihat lo minum." Eliezer tidak ingin Arifa masuk ke dalam jebakan Naura.


"Nanti aja."


"Sekarang!"

__ADS_1


Dengan jantung yang berdebar, Naura perlahan meminumnya. Sedangkan Arifa yang kini berada tepat di samping Eliezer tampak terkejut karena Naura memegang gelas minuman miliknya.


"Loh, Naura itu kan gelasku. Kenapa gak ambil yang baru aja? atau memang tabiatmu pada dasarnya suka merebut milik orang?" tanya Arifa. Wajah Naura tampak lega karena kehadirannya di sana dan mengakui gelas yang tengah dipegangnya.


"Biarkan Fa. Dia mau ngerasain rasanya minum bekas kamu," cegah Eliezer membuat Arifa mengerutkan keningnya, merasa heran.


"Kenapa?" tanya Arifa lagi yang benar-benar tidak paham.


"Ini Arifa aku balikin minuman kamu," kata Naura sambil menyodorkan gelas itu pada Arifa, yang sekejap merubahnya seperti malaikat.


"Cih, iblis yang berkedok sok suci! Gue bilang minum Naura. Bukannya lo bilang mau minum tadi?" sarkas Eliezer sambil menggertakkan giginya. Naura yang melihat raut wajah Eliezer yang telah berbeda, langsung nurut begitu saja. Dalam satu tegukan, gelas itu kini telah kosong.


"El, ada apa ini?" tanya Putra yang tiba-tiba menghampiri mereka bertiga.


"Dia datang sama lo Kak?" Eliezer bertanya balik. Putra pun menganggukkan kepalanya.


"Setelah ini, urus dia ya. Lebih baik mulai cari hotel dekat sini, sebelum obatnya bereaksi di tubuh Naura," kata Eliezer kemudian pergi dari hadapan Naura dan Putra sambil menggenggam lengan Arifa.


"Apa yang terjadi sama mereka bertiga?" tanya Arifa dalam hatinya.


Eliezer membawa Arifa keluar dari acara menuju sebuah taman kecil yang sangat indah ketika malam di belakang villa itu.


"Maaf," kata Eliezer sambil melepaskan genggamannya. Lalu berjalan mendekat ke sebuah pagar pembatas karena letaknya di ujung tebing. Dengan melipat kedua tangan di dadanya dan menikmati angin malam yang menyapu wajahnya dengan lembut. Pandangannya pun jauh menatap ke depan.


"Maaf untuk apa? aku sendiri masih bingung. Ada apa sebenarnya antara kamu, Naura dan laki-laki yang mengajak dia ke pestamu?" tanya Arifa yang kini telah berdiri tepat di belakangnya.


Eliezer menarik napasnya dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan. Dia berbalik badan, menatap kedua mata Arifa yang juga saling mencari sebuah jawab di dalamnya.


"Sebelumnya kami berteman baik, masuk dalam organisasi yang sama. Tapi sebuah obsesi Naura yang tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku, membuat jarak diantara kami. Diam-diam kak Putra yang suka duluan sama Naura, sedangkan Naura malah terus ngejar-ngejar aku. Salahnya, kak Putra gak pernah berani menyatakan cintanya pada Naura. Tapi, pertemanan kami hanya sebatas teman. Sebenarnya tidak terlalu memahami satu sama lain." Eliezer menghentikan ucapannya, kembali berbalik badan dan menatap jauh ke depan. Arifa pun melangkah dan berdiri tepat di sampingnya.


"Lalu?" tanya Arifa yang masih ingin mendengar penjelasan atas jawabannya itu.


"Ya gak ada lagi. Hanya itu. Asal kamu tahu ... sebelum kamu hadir, pernah juga beberapa perempuan yang hanya dia dengar kalau suka sama aku, eh dilabrak. Tapi kali ini aku gak bisa tinggal diam, dia berbuat seenaknya seperti kemarin," sambungnya dan Arifa pun mengangguk paham.


"Tapi apa kamu tahu tentang ayahnya yang jadi pemilik kedai di kampus?" tanya Arifa lagi.


"Tahu, dan ... ya, itu. Sebelumnya gak ada seperti kemarin selama aku kuliah di kampus itu. Kamu tahu? aku sebenarnya pindahan dari kampus lain. Ayahku sengaja mengirimku jauh darinya, dengan diberi embel-embel fasilitas yang akhirnya dia rebut juga."


"Dan ... " Arifa hendak berbicara. Seketika Eliezer malah tertawa.


"Pasti kamu mempertanyakan pertanyaan yang sama sewaktu di mobil, bukan?"


Arifa tampak marah ketika tahu kalau Eliezer pura-pura lupa. Dia melipat kedua tangannya di dada lalu memalingkan wajahnya.


"Tenang, aku gak sampai main aplikasi binomo kok," kilah Eliezer kemudian tertawa kembali.


"Lantas?" tanya Arifa yang spontan karena dorongan rasa penasarannya. Namun saat itu juga, ia tersadar kalau dirinya sudah melampaui. "Maaf, aku gak maksud ikut campur. Kamu gak perlu menjawab ya kok."


Eliezer justru tersenyum. "Kamu tahu gak?"


"Enggak."


"Hari ini aku senang banget, bisa denger kata 'aku-kamu' dari mulutmu. Aku gak lihat lagi sikap cuekmu, dan satu ... aku lihat kamu tampil beda. Cantik sekali."


"Hem, hem, hem. Mulai deh gombalnya. Tapi terima kasih loh pujiannya," kata Arifa yang sebenarnya dia sangat tersipu malu.


"Hehe ... omong-omong udah malam. Yuk aku antar kamu pulang," ajak Eliezer seraya menoleh ke Arifa, seketika saling melihat waktu di jam yang ada di lengan masing-masing.

__ADS_1


"Iya juga ya, terus acaramu gimana?"


...Bersambung ......


__ADS_2