Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Masih Aman


__ADS_3

"Lantas bagaimana Dok?" tanya Danish. Laki-laki itu berusaha menguatkan istrinya sambil menggenggam serta mengusap kepala.


"Sebentar ya, kita coba lewat pemeriksaan transvagina ya. Sus tolong bantu Nyonya Arifa," kata dokter yang memberikan pilihan lain.


"Kenapa bisa seperti itu ya Dok?" tanya Arifa. Raut wajahnya begitu gelisah, terselip ketakutan dalam dirinya.


"Kemungkinan karena janinnya masih terlalu muda, bisa jadi salah satu penyebab kenapa bisa tidak terlihat jika lewat atas Nyonya. Apalagi baru pertama kali hamil," jelas dokter Sindy. Matanya terus fokus menatap layar monitor.


Perawat mulai memasangkan sebuah pengaman untuk melindungi rahim supaya tidak luka karena terkena alat transvagina itu sendiri. Tak lupa memberikan sedikit gel di atasnya.


"Tarik napas ya Nyonya," ucap dokter saat hendak memasukkan alat itu melalui daerah inti milik Arifa. Sementara Danish yang reflek menggenggam tangan istrinya cukup erat. Laki-laki itu bahkan ikut menarik napas, dia merasa tidak tega.


"Nah, ini baru kelihatan. Iya kan Nyonya?" seru dokter lalu bertanya pada Arifa.


Tanpa permisi buliran air keluar dari salah satu ekor matanya. Perempuan itu terharu.


Arifa menengadah, menatap suaminya yang sejak tadi memberikan secercah kekuatan. Danish kemudian mengecup kening sang istri.


"Aduh so sweet nya ya Dok, Tuan sama Nyonya ini!" seru perawat yang diri tidak jauh dari tempat dokter Sindy duduk.


"Iya ya Sus," sahut dokter tertawa pelan. "Mari kita dengarkan detak jantungnya ya, tuh adik janin lagi bergerak dia," lanjutnya. Memperbesar kantung rahim yang telah ada yang menempatinya, sangat jelas sekali terlihat.


"Bagus ini Nyonya, semuanya normal dan sehat. Ketubannya juga bersih. Kalau dilihat dari hasil USG masih berusia sembilan minggu. Masih sangat kecil dan rentan. Lalu janinnya juga masih sangat butuh asupan yang sangat cukup. Untuk sementara waktu, selama kehamilan ini saya sarankan jangan makan makanan mentah ya, harus yang benar-benar matang."


Danish dan Arifa sangat fokus mendengar penjelasan dokter Sindy.


"Kurangi minuman yang mengandung kafein seperti teh, kopi. Bisa diganti dengan susu hamil, apalagi sekarang sudah banyak variannya. Kalau bosan dengan satu rasa, bisa pindah ke rasa lain ... tarik napas lagi ya Nyonya," papar Dokter Sindy lalu mengeluarkan alat itu kembali. Arifa pun menuruti apa yang dikatakan dokter barusan.

__ADS_1


"Lalu makanan apa yang seharusnya dimakan istri saya Dok?" tanya Danish seraya membantu istrinya memakaikan celana dan turun dari tempat tidur. Sedangkan perawat yang bersama mereka, segera merapihkan kembali hasil pemeriksaan. Tak lupa dokter pun telah membawa beberapa lembar print USG.


Dokter Sindy telah duduk kembali di kursinya, begitu pun dengan Danish dan juga Arifa.


"Makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan juga karbohidrat. Seperti sayur, buah dan susu itu yang utama serta sangat penting. Kalau untuk karbohidrat, selain nasi putih bisa diganti dengan jagung manis, kentang, dan nasi merah."


"Kalau ubi-ubian itu bisa gak Dok? terus yang Dokter maksud makanan yang benar-benar matang seperti apa?" tanya Arifa. Perempuan itu sekarang jadi pemakan segala, tidak pilih-pilih.


"Karena usia kandungan Nyonya masih sangat muda, saya tidak menyarankan untuk memakan ubi-ubian. Kenapa? karena menghindari gas yang sulit terbuang, alhasil tubuh Nyonya akan merasa tidak nyaman. Lalu untuk makanan yang harus benar-benar matang itu, hindari makanan dengan cara masak di bakar. Lebih baik di kukus, rebus ataupun di goreng."


Arifa menganggukkan kepala, ia mulai paham dan mencoba lebih perduli lagi dengan dirinya sendiri apalagi ada satu nyawa yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Begitu pula dengan Danish yang setelah ini akan menjadi semakin protektif terhadap istrinya.


"Iya Dok saya sudah paham, begitu pula dengan istri saya. Benar begitu Sayang?" Danish menoleh ke Arifa yang duduk di sebelahnya. Seolah ia tahu isi kepala istrinya itu.


"Iya benar." Arifa mengangguk lalu tersenyum. Membenarkan prasangka suaminya.


"Gak Dok," jawab Danish dah Arifa bersamaan.


"Nanti kalau ada yang ingin ditanyakan lagi, boleh saya hubungi dokter via WhatsApp?" tanya Arifa dengan hati-hati. Jujur saja ia masih awam dengan masa kehamilan. Terlebih banyak sekali kasus pada persalinan yang tida berjalan semestinya akhir-akhir ini. Begitu marak yang lebih memilih jalur operasi, ketimbang normal alias pervaginam.


"Boleh kok, nomor saya akan saya tulis belakang foto janin ya. Setelah ini, Nyonya lebih baik sekalian meminta buku khusus ibu hamil ke bagian pembayaran. Nanti kontrol ke dua, satu bulan lagi. Nyonya jangan lupa bawa buku tersebut," tutur dokter Sindy lalu menulis nomornya. Beberapa saat kemudian, memberikan foto itu pada Arifa.


Dengan senang hati, Arifa pun menerimanya. "Terima kasih Dok," ucapnya kemudian.


"Sama-sama, sehat selalu ya. Sampai bertemu bulan depan," kata dokter. Sepasang suami istri itu berdiri lalu berjabat tangan dengan dokter sebagai tanda mengakhiri pertemuan mereka hari ini.


Seorang perawat memberikan papan berwarna orange pada Arifa. "Nyonya nanti setelah ini scan barcode pada monitor untuk mendaftar ke bagian farmasi, sebab ada vitamin yang harus ditebus," ucapnya. Arifa menerima papan dengan kertas token yang diselipkan di atasnya.

__ADS_1


Keduanya keluar dari ruang dokter lalu menuruti apa yang diarahkan oleh perawat tadi.


...----------------...


Empat bulan berlalu. Kini usia kandungan Arifa menginjak dua puluh tujuh minggu. Semalam ia bersama sang suami pergi untuk kontrol yang keempat kali. Keduanya bahkan telah berkonsultasi mengenai bepergian jauh ketika hamil.


Dokter Sindy telah memperbolehkannya, dengan catatan Arifa harus lebih 'sadar diri' kalau dirinya sedang hamil. Begitupun dengan Danish yang harus lebih perduli dan perhatian dengan istrinya. Beruntung, masa-masa morning sickness telah Arifa lewati.


Perempuan itu sangat luar biasa. Ditengah peningnya kepala dan rasa mual yang cukup membuat dirinya tidak nyaman. Ia tetap menikmati rasa pada masa itu dengan tenang.


Sebab, ia memiliki support system yang sangat mendukungnya. Tugas yang terkadang menyita waktunya, sering kali membuat Danish lebih banyak membantu ya kali ini. Walau bukan bidangnya, Danish pun ikut belajar mengenai dunia hukum yang ternyata cukup luas.


Dan hari ini adalah hari pertama Arifa libur setelah berakhirnya ujian di semester ini. Danish berencana mengajaknya pergi ke luar negeri untuk menikmati waktu berdua sebelum ada seorang anak diantara mereka.


Segala keperluan berlibur telah Danish siapkan dari jauh-jauh hari dibantu oleh Rinto, sekertaris nya. Sedangkan Arifa hanya tinggal terima beres untuk itu, karena sebelumnya Danish telah menyuruh sang istri untuk fokus pada ujian akhir semesternya.


Mobil yang akan di kemudi oleh Lee telah mengunggu tuan dan nyonya nya di halaman rumah. Beberapa koper pun telah dimasukkan ke dalam bagasi.


Setelah cukup lama menunggu tuan dan nyonya pun muncul. Langkah kaki mereka sangat santai. Bukan tanpa alasan, supaya Arifa tidak kelelahan jikalau berjalan dengan tergesa-gesa.


"Silahkan Tuan, Nyonya."


...Bersambung ......


...****************...


...Mohon dukungannya teman-teman reader semua untuk karyaku ini. Jangan lupa kasih bintang lima juga ya. Terima kasih. 🤗...

__ADS_1


__ADS_2