Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Tulus atau Modus?


__ADS_3

"Dia sekarang pindah Neng, katanya sih tempat tinggal yang baru di belakang pasar. Terus dia juga jualan di pasar jadinya. Emang Neng gak tahu kejadian yang bikin warung si ibu berantakan kayak gini?"


Arifa hanya menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak tahu menahu soal kejadian yang dimaksud perempuan yang ada disebelahnya saat ini.


"Kejadian apa memang Bu?" tanyanya yang begitu sangat penasaran. Akan tetapi tiba-tiba ada feeling lain yang menjurus kepada Naura.


Perempuan itu menempelkan telapak tangannya untuk menutup mulutnya sendiri lalu berbisik pada Arifa.


"Semua ini ulah si Naura, dia nyuruh anak buah ayahnya untuk merusak dagangan si ibu."


Arifa tersentak kaget, tidak salah dengan feeling-nya barusan. Apa karena Eliezer? pikirnya demikian.


Memang, ibu penjaga kedai camilan itu usianya bisa dibilang paling tua diantara penjaga kedai lainnya, yang rata-rata masih sekitar tiga puluh hingga empat puluh tahunan. Apa Naura sebegitu kuasanya atas kantin ini? pikirnya lagi.


"Pasar di sini jauh gak Bu? soalnya saya belum hafal juga seluk beluk tempat di kota ini." tanya Arifa lagi, memang belum tahu betul dengan lokasi yang ada di kota ini. Yang dia tahu hanya tempat kost dan sepanjang jalan menuju kampus.


"Lumayan Neng, kalau dari sini naik angkot nomor tiga lima, terus ada mall besar di pinggir jalan berhenti, turun deh. Pasarnya ada di belakang mall itu, nanti lewatnya pintu samping. Bisa sih lewat mall kalau mau ngadem, tapi kalau pagi kan mall belum buka."


Arifa mengangguk paham. Dia berusaha mencerna apa yang diberitahukan oleh perempuan itu barusan.


"Oh gitu, terima kasih banyak Bu informasinya. Kalau gitu saya permisi mau ke kelas," pamit Arifa seraya tersenyum.


"Sama-sama Neng."


Arifa pergi dari sana menuju kelas, sedangkan perempuan itu langsung kembali ke kedai tempatnya berjualan.


...----------------...


Eliezer baru saja selesai membayar sarapan paginya di restauran junkfood. Dia menyebrang lewat penyebrangan jalan yang ada di atas, sehingga tidak membuat pengendara yang berlalu lalang terganggu. Sebab sebelumnya, di depan kampus itu, banyak terjadi kecelakaan yang diakibatkan penyebrang jalan yang tidak hati-hati dan membuat para pengendara kepanikan.


Setelah melewati gerbang kampus, dia pergi ke mobil lebih dulu untuk mengambil sesuatu. Akan tetapi tiba-tiba, dua orang laki-laki berpostur tubuh tinggi dan besar menghampirinya. Kerah baju yang dipakainya di tarik hingga sang empunya berbalik badan seketika, lalu disandarkan ke pintu mobil.


Salah seorang dari mereka menunjukkan layak ponsel dengan panggilan sedang berlangsung. Di sana tertera nama 'Pak Bos' yang tak lain adalah ayah dari Eliezer. Tentunya wajah Eliezer hanya biasa saja. Dia tahu apa yang akan dilakukan kedua orang itu serta perintah dari ayahnya.


"El, berani-beraninya kamu pergi dari rumah! sekarang kamu tidak usah pulang lagi. Hidup saja sana di jalanan! Cepat, berikan semua fasilitas yang sudah ayah berikan padamu! kamu tidak boleh memakainya lagi!"


Eliezer hanya tersenyum menyeringai. Dia sama sekali tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan santainya, Eliezer mengeluarkan kunci mobil serta dompetnya. Lalu dia keluarkan semua kartu pemberian sang ayah kepada kedua orang laki-laki.


"Ini buat kalian. Nikmati aja semua harta kekayaan milik eyang itu. Saya udah gak butuh. Semoga kalian mendapatkan ganjaran yang setimpal!" Dengan nada kesal, Eliezer sengaja berbicara seperti itu. Ayahnya di sebrang telepon terkejut mendengar perkataan anaknya itu. Ironisnya, semua kartu sang ayah telah diketahui Eliezer sebelum pergi dari rumah. Tinggal menunggu waktu, dia akan membongkar semuanya.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" sergah Eliezer. Saat kedua orang itu mulai menaiki mobil. Panggilan ayahnya pun telah berakhir beberapa saat yang lalu. "Saya mau ambil pakaian. Tolong ambilkan di dalam bagasi mobil!" perintahnya kemudian.


Kedua laki-laki itu menurut saja apa yang dikatakan olehnya. Setelah dua buah koper berwarna merah dengan ukuran berbeda diturunkan, bagasi pun ditutup kembali. Dengan segera, mereka pergi membawa mobil dari hadapan Eliezer.


Raut wajah Eliezer tampak santai dan tidak ada beban. Dia menarik ke dua koper itu keluar dari halaman kampus untuk mencari tempat yang akan dia tinggali. Tiba-tiba dia pun teringat akan sebuah apartemen di dekat kampus ini.


Setelah beberapa saat yang lalu sempat memesan taksi online. Kini mobil taksi itupun berhenti tepat di depannya. Dia segera masuk kedalam tak lupa dengan dua buah kopernya.


"Pak, ke apartment Atlanta ya."


"Baik, Tuan."


Mobil pun melaju menuju sebuah apartment yang Eliezer maksud.


...----------------...


Di kampus, Arifa masih berjalan santai menuju kelasnya yang cukup jauh dari kantin. Suasana hatinya benar-benar sedang bahagia. Walau demikian, dia tetap berempati dengan adanya musibah yang dialami oleh ibu penjaga kedai camilan, yang digadang-gadang karena ulah Naura.


Naura tidak mungkin melakukan tanpa alasan, dan Arifa sendiri mampu menerka alasan tersebut.


Ketika Arifa hendak melewati sebuah koridor, dari kejauhan dia melihat ada Naura di sana bersama dengan seorang laki-laki yang kalau dilihat dari punggungnya itu, laki-laki yang sama sewaktu di mini market tempo lalu. Iya! dia tahu betul. Sebab postur tubuhnya berbeda dari Eliezer.


Arifa mengambil jalan lain tapi masih bisa melihat mereka. Kondisi sekitar kampus pagi ini memang benar-benar masih sepi. Batin Arifa pun bertanya-tanya.


Matanya mendadak membola saat melihat Naura saling meneguk kenikmatan dengan sebuah pertukaran saliva bersama laki-laki itu. Dia langsung memalingkan wajahnya yang sejak tadi berlagak seperti seorang detektif Naura. Rasanya dia menjadi malu sendiri dengan apa yang dilihatnya barusan. Benar-benar konyol.


"Aih! Memang itu perempuan murahan kali ya. Masa iya dia tergila-gila sama Eliezer tapi kok mau-maunya ciuman sama laki-laki lain gitu. Kalau begini kasih juga tuh si El, nanti judulnya dia yang mengejarku, dia pula yang mengkhianatiku. Sungguh miris."


Arifa bermonolog sambil mempercepat langkahnya menuju kelas. Sesekali dia sampai tertawa karena aneh melihat cinta segitiga perempuan penguasa itu.


...----------------...


Setelah melakukan transaksi, Eliezer langsung diarahkan menuju unit apartemen yang barusan dia beli. Ajaib bukan? baru saja diusir oleh sang ayah dengan mencabut segala fasilitas, tapi sekarang dia malah membeli apartemen kelas bintang lima.


Tentunya itu semua dari sebuah akal licik dan modus licinnya Eliezer yang dia raup dari harta kekayaan yang memang sudah menjadi haknya dari mendiang eyang kesayangannya. Dia memiliki dompet lain di dalam salah satu koper yang isinya barang berharga miliknya semua. Bisa dipastikan, sang ayah tidak mengetahui hal itu. Karena eyangnya sebelum meninggal, telah mengganti semua aset terpenting dengan nama Eliezer.


Setelah ini, sang ayah pasti tidak akan berkutik. Serta ruang gerak untuk terus melakukan hal-hal keji pun semakin sempit. Sebab, inilah pembalasan tahap awal atas dendam Eliezer untuk sang ayah yang mengakibatkan ibunya kecelakaan hingga meninggal dunia di tempat kejadian.


Setibanya di unit apartemen, Eliezer langsung menaruh barang-barang ke dalam lemari yang ada di kamarnya. Lalu mengganti pakaian dan berangkat ke kampus kembali.

__ADS_1


...----------------...


Tak terasa matahari telah bersinar seolah tepat di atas kepala. Teriknya mampu membuat jok motor Arifa merasa panas saat hendak diduduki.


Kelas yang ada di hari ini telah usai. Arifa bergegas pergi dari kelas untuk segera menuju sebuah pasar, menghampiri ibu yang pernah menjaga kedai di kantin kampus. Akan tetapi, saat hendak memakai helm dia melihat sosok ibu itu tengah berdiri di pinggir jalan. Arifa berlari untuk mengejar.


Di tempat lain, Eliezer yang baru keluar dari mini market melihat Arifa berlari langsung mengikutinya. Laki-laki itu masih begitu penasaran untuk dekat dengannya.


"Bu!" panggil Arifa membuat ibu itu menoleh. Tatapannya kali ini berbeda, dia begitu sinis melihat keberadaan Arifa di sana.


"Ngapain kamu disini? gara-gara ulahmu saya gak bisa dagang lagi di kantin!" Ibu itu langsung menghakimi Arifa begitu saja, tanpa mendengar penjelasannya lebih dulu.


"Maaf, Bu. Ibu salah paham." Arifa berusaha menahan supaya ibu itu tidak pergi dari hadapannya.


"Salah paham gimana, Neng? saya tuh jualan buat anak cucu saya. Neng kok tega bikin masalah sama si Naura itu sih, jadi saya kan yang kena."


Tanpa Arifa sadari, Eliezer ada di belakangnya. Mendengar nama Naura, laki-laki itu tersentak kaget lalu menghampiri Arifa juga ibu itu.


"Apa yang udah Naura perbuat sama Ibu?" tanya Eliezer, berdiri di samping Arifa.


Entah apa yang Arifa rasakan saat adanya kehadiran Eliezer disana, dia hanya meminta satu yaitu bantuan menjelaskan yang sebenarnya pada ibu itu.


"Kantin ibu ini rusak, bahkan gak berbentuk sama sekali. Barang-barang berantakan semua. Saya tadi sempat bicara sama penjaga kedai lain, dia bilang kalau anak buah ayahnya Naura yang membuat seperti itu. Kejadiannya pun kemarin sore." Arifa membatu menjawab yang seharusnya menjadi pertanyaan ibu itu.


"Oh, kayaknya aku tahu deh kenapa dia lakuin itu," sahut Eliezer dengan entengnya.


"Iyalah pasti kamu kan?" tanya Arifa. Langsung menuduh tanpa bukti yang kuat.


"Sok tahu kamu, bukan." Jawaban Eliezer membuat Arifa mengerutkan kening, merasa bingung.


"Lalu?"


Ibu itu masih diam di tempatnya mendengarkan pembicaraan kedua orang di hadapannya.


"Dia itu iri sama kamu, semenjak kamu dapat penghargaan saat ospek. Cap primadona yang tadinya bergelar pada dia jadi berpindah semua ke kamu. Itulah selama ini dia gak suka dengan orang-orang yang berhubungan denganmu pasti akan dapat masalah, termasuk aku."


"Termasuk kamu?" Arifa semakin penasaran.


"Udah gak penting! yang penting sekarang, kita bantu ibu ini supaya bisa berjualan dengan lancar lagi." Eliezer tidak menghiraukan pertanyaan Arifa barusan.

__ADS_1


"Apa dia bilang 'kita bantu?' maksudnya aku sama dia gitu? ini orang tulus atau modus sih!" tanya Arifa dalam hatinya.


...Bersambung ... ...


__ADS_2