
Setibanya di apartemen, Eliezer membuka kancing jasnya, menggantungkan kunci mobil pada kapstok lalu membuka jas dan melemparkannya ke atas sofa. Perasaannya sedang kacau, ia mengacak rambutnya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang satunya berkacak pinggang.
Gelisah dan terasa tidak sabar ingin segera bertemu dan meminta maaf kepada Arifa. Menunggu esok rasanya tidak sanggup. Penat yang ia rasakan saat ini, membuatnya ingin segera mandi dan berganti pakaian.
Eliezer berjalan menuju kamarnya, namun ketika hendak membuka knop pintu, suara bel pun berbunyi. Kemudian dirinya hendak menghampiri pintu depan dan mengintipnya terlebih dahulu pada celah kecil sejajar dengan matanya. Seperti telah di rancang menyesuaikan penghuni apartemen ini.
Ternyata yang datang adalah orang kepercayaan Eliezer. Ia pun langsung membukakan pintu.
"Malam Bos."
"Masuk! kita bicara di dalam," titah Eliezer dan di jawab anggukkan kepala pada orang kepercayaannya. "Ada apa?" sambungnya seraya duduk di sofa bersamaan.
"Ada hal yang harus saya beritahukan, Bos," ucap orang itu lalu Eliezer membalikkan telapak tangan, mempersilahkan orang itu bicara kembali. "Orang yang Anda maksud saat ini sedang dalam pencarian polisi. Karena menurut laporan yang di terima oleh polisi itu kalau dia telah melakukan tindak penipuan terhadap sejumlah ibu-ibu yang tengah berkumpul arisan."
Eliezer mengerutkan keningnya, "Kenapa bisa seperti itu?" tanyanya yang mulai penasaran.
"Menurut saksi mata, kalau orang yang Anda maksud menjual barang yang katanya orisinil kepada mereka. Akan tetapi setelah mereka hendak dijual kembali dengan teman yang lainnya. Justru mengatakan kalau barang yang dibeli dari orang itu ternyata palsu. Dan menurut kacamata saya, sepertinya orang itu memiliki backing-an. Karena semenjak diajukan kasus itu kepada pihak berwajib oleh si pelapor, dia langsung menghilang bagai di telan bumi."
"Kapan kasus itu masuk ke dalam laporan polisi?" tanya Eliezer dengan wajah yang sangat serius.
"Kurang lebih hampir dua minggu yang lalu."
Kalau memang dua minggu yang lalu, itu artinya sebelum dia datang ke acara di villa ku waktu itu. Eliezer mulai berpikir.
"Baiklah, saya masih butuh banyak informasi. Segera lakukan tugasmu dengan baik!" perintah Eliezer dengan tegas.
"Siap laksanakan Bos! saya permisi." Orang itu berdiri lalu berjalan ke arah pintu utama diikuti oleh Eliezer. Dan setelah orang itu keluar, pintu pun di tutup kembali. Eliezer langsung menuju kamarnya untuk mandi dan juga berganti pakaian.
Setelah hampir setengah jam berlalu, Eliezer keluar dari ruang ganti pakaian lalu duduk di tepi tempat tidur, meraih ponsel yang ada di atas meja kecil yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
Layar benda pipih persegi panjang itu ia nyalakan, terpampang nyata foto Arifa yang diam-diam dipotret olehnya. Dipandangi foto itu dalam-dalam, lalu terbesit dalam pikirannya untuk menghubungi Arifa saat ini.
Ia mulai membuka panggilan terakhir yang tak lain adalah Arifa, kemudian melakukan panggilan kembali. Tidak ada salahnya mencoba daripada ia tidak bisa tidur sama sekali, pikirnya demikian.
__ADS_1
"Tuuuuuuuut Tuuuuuuut Tuuuuuut"
Eliezer dengan sabar menunggu Arifa menjawab telepon darinya. Akan tetapi, sudah sepuluh kali memanggil tetap tidak ada jawaban sama sekali. Eliezer akhirnya menaruh ponselnya kembali ke atas meja tadi, lalu tidur.
...----------------...
*Tok, tok, tok*
Arifa merasa terusik dengan suara ketukan pintu yang berbunyi bukan hanya sekali. Ia membuka sebelah matanya untuk melihat jam dinding yang ada di kamar.
"Masih jam lima, siapa sih pagi-pagi udah ketuk pintu?" gumamnya lalu bangun dan berjalan ke arah pintu depan.
Dengan keadaan yang masih belum pulih sepenuhnya, Arifa langsung membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu lewat jendela.
Terlihat seorang laki-laki yang mengenakan seragam kurir pengantar makanan dari aplikasi online, tersenyum ramah ketika Arifa membuka pintunya.
"Selamat pagi, dengan Nona Arifa Nazwa?"
"Maaf Nona, bukan Anda yang memesannya, melainkan seseorang. Dia tinggal cukup jauh dari sini, atau mungkin teman Anda?"
Arifa terdiam sejenak sambil mengerutkan keningnya. Merasa aneh tentang orang yang mengirimkannya makanan sepagi ini.
"Mungkin kali ya."
Kurir itu menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna putih kepada Arifa. "Mohon di terima Nona, karena setelah ini saya sudah ada pesanan yang harus diantar kembali."
Arifa menerima makanan itu, kemudian kurir itu pun pergi dari tempat kostnya. Suara deringan telepon membuat Arifa segera masuk dan menutup pintunya kembali.
Sambil melangkahkan kaki ke kamar, Arifa mencari sesuatu di dalam kantong plastik berwarna putih itu, mungkin ada secarik kertas dengan tertera nama pengirimnya di sana, pikirnya. Akan tetapi, tidak ada satu pun tanda pengirim di dalam makanan itu.
Ketika masuk ke dalam kamar, suara deringan ponsel pun telah berhenti. Arifa duduk di tepi tempat tidur sambil menaruh makanan itu di atas meja. Kemudian meraih ponsel dan memeriksanya.
Matanya membelalak sempurna. Sebagian besar yang memanggilnya sejak semalam adalah Eliezer. Akan tetapi setelah di scroll ke atas, panggilan terakhir yang masuk adalah Danish.
__ADS_1
Apa makanan ini dari om Danish ya? batin Arifa mencoba menerka.
Selanjutnya, Arifa masih ragu untuk berterima kasih kepada diantara dua laki-laki itu, atau mungkin makanan yang baru saja diantar bukan dari keduanya. Arifa mengurungkan niatnya lalu menaruh kembali ponsel di atas meja, samping plastik putih.
Karena masih mengantuk, Arifa memilih naik ke atas tempat tidurnya kembali lalu menarik selimut dan memejamkan kedua matanya. Tidak lama setelahnya, ponselnya berdering kembali. Mata yang baru saja terpejam dan merasa nyaman, harus terpaksa dibuka kembali.
Sebelah tangannya meraih ponsel lalu setelah di dapat Arifa justru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja Farhan menelponnya. Segera mungkin Arifa pun menjawabnya.
"Hallo Kak? tumben masih pagi gini telepon?" tanya Arifa yang kemudian terduduk di atas tempat tidur dengan setengah tubuhnya yang masih ditutup selimut.
"Makanannya udah sampai Fa? Kakak sengaja beliin buat kamu, soalnya ada kafe teman Kakak yang buka dua puluh empat jam. Terus dia menawarkan ke Kakak karena bertemu di kantor. Jadi dia kirim lewat kurir."
"Oh." Arifa tercekat. Untung saja dia belum bilang terima kasih pada Eliezer maupun Danish. Bisa-bisa dia malu sekali, yang ternyata bukan ulah kedua orang laki-laki itu, melainkan kakak kandungnya sendiri.
"Loh kok biasa aja sih responnya? gak bilang makasih gitu sama Kakak?" sindir Farhan membuat Arifa tersenyum meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terima kasih Kakakku tersayang, yang paling baik sedunia. Tapi omong-omong wangi masakannya sedap banget Kak. Aku sambil makan ya? mendadak jadi lapar, hehe."
"Jangan!" seru Farhan yang kebetulan kata-katanya terpotong karena bolpoin yang sejak tadi di pegangnya terjatuh ke lantai.
"Loh kok jangan Kak? kan sayang udah di beli tapi gak dimakan, gimana sih!" ujar Arifa yang tidak jadi meraih kantong plastik itu.
"Jangan sambil makan maksudnya, biar teleponnya di matiin dulu aja, Fa. Kakak juga lagi banyak kerjaan nih. Kalau gitu udah dulu ya!"
"Oh oke Kak, semangat kerjanya, Babay!"
Pembicaraan kakak beradik di sambungan telepon itupun berakhir. Arifa melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur lalu turun untuk mengambil kursi serta meraih kantong plastik putih itu.
Astaga! sampai lupa ada kelas pagi, mandi dulu deh kalau gitu.
Makanan pun ditaruh kembali lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
...Bersambung ......
__ADS_1