
Arifa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Separuh tubuhnya tertutup oleh selimut dan kedua matanya pun terpejam. Hembusan napas yang tenang menandakan kalau ia benar-benar sudah tertidur pulas.
Sementara itu, Danish yang baru saja tiba di rumah dihampiri oleh seorang pelayan.
"Maaf Tuan ... Nyonya Arifa baru saja tiba di rumah sekitar dua jam yang lalu, sekarang lagi istirahat di kamar tamu," ucap pelayan itu sambil menundukkan kepala.
Danish mengerutkan alisnya serta memiringkan sedikit kepalanya. Lalu menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Kamar tamu?" tanya Danish. Pria itu merasa heran. Seharusnya Arifa tidur di kamar mereka. Terlebih di rumah itu telah tersedia lift, jika tidak ingin menaiki tangga.
"Iya Tuan," jawab pelayan itu mengangguk sopan.
"Oh iya Bi, terima kasih infonya," kata Danish yang kemudian pelayan itu mengangguk sopan lalu pergi dari hadapannya.
Danish merasa ... terkejut. Kepulangan Arifa sama sekali tidak diketahui olehnya, hal ini begitu mendadak baginya.
Setelah selesai menemui Amora, Danish memang memilih langsung pulang ke rumah. Padahal sebenarnya, Amora mengajak Danish untuk menemui ayahnya, tapi sayangnya laki-laki itu menolak. Entah mungkin instingnya tahu kalau sang istri sudah berada di rumah.
Danish pun memilih pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk berniat mengganti pakaiannya. Sebab, suasana hatinya sedang tidak baik dan malas untuk kembali ke kantor. Lagi pula kalaupun kembali, memang sudah waktunya jam pulang.
Namun, ketika membuka pintu yang menuju ke lemari pakaian dengan konsep terbuka itu, Danish dikejutkan kembali. Pakaian yang ada di sana hanya tersisa miliknya, sedangkan tempat khusus untuk pakaian Arifa telah kosong.
"Dimana semua pakaiannya? apa mungkin dipindahkan ke kamar tamu?" Danish bermonolog. Seketika ada rasa bersalah dalam hatinya. Ia segera mengambil satu stel pakaian dari dalam sana lalu memakainya.
Setelah selesai, Danish menyakinkan diri untuk melangkahkan kakinya menemui Arifa yang sedang beristirahat di kamar tamu. Walau ia sendiri bingung harus berkata mulai dari mana, tapi itu semua disingkirkan sesaat.
Setibanya di depan pintu kamar tempat Arifa berada, Danish terdiam sejenak. Laki-laki itu menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka perlahan pintu tersebut. Tak di sangka, Arifa terbangun dan keduanya saling berpandangan.
Sejujurnya, Arifa sangat merindukan suaminya itu. Tapi ia merasa kecewa karena Danish tidak menjadikannya prioritas utama pada masa-masa titik terendahnya sejak kemarin.
__ADS_1
Apa masih belum terlambat untuk mengatakan kata maaf, jika baru sekarang muncul dan meminta maaf? jawabannya sih tergantung dari hati Arifa sendiri. Tapi sepertinya itu akan sulit bagi Danish.
"Kamu sudah bangun Sayang?" tanya Danish. Laki-laki itu menutup masuk ke dalam tak lupa menutup pintunya kembali, lalu berjalan menghampiri sang istri yang hanya menatap dingin padanya.
Tidak ada jawaban sama sekali. Perempuan itu hanya terus menatap. Bibirnya seakan tak sudi untuk bicara apapun pada suaminya, karena dia sungguh terlanjur kecewa.
"Gimana keadaanmu Sayang?" Danish bertanya lagi. Kini laki-laki itu duduk di tepi tempat tidur, bersebelahan dengan istrinya.
Ketika tangan Danish hendak membelai kepala Arifa, saat itu juga wajah Arifa pun berpaling. Danish pun menaruh lagi tangannya di atas paha.
"Kemana aja kamu selama aku di rumah sakit? pergi, asik-asikkan sambil ketawa-ketawa sama mantan tunanganmu itu? iya?" Arifa akhirnya angkat bicara, ia tidak bisa lagi menahan amarah hang bergemuruh di dalam hati.
"Sayang, bukan bermaksud demikian, hanya .... " Danish menghentikan ucapannya.
Sayang, Arifa sedang tidak ada kekuatan saat ini. Untuk meninggikan suaranya pun rasanya sulit, karena luka bekas jahitan belum kering. Kalau saja perempuan itu dalam keadaan sehat, mungkin suaminya sudah ditampar bolak-balik olehnya.
Danish berdiri, "Maaf aku belum bisa menjelaskannya sekarang, aku masih butuh waktu." Setelah berkata demikian. laki-laki itu hendak pergi dari kamar itu.
Arifa begitu geram. "Kamu pengecut!" Dua kata yang baru saja keluar dari mulutnya membuat Danish seketika menghentikan langkahnya.
Kedua telapak tangan laki-laki itu mengepal. Rupanya dia mulai tersulut emosi. Sebisa mungkin dia harus bisa mengontrolnya.
"Kalau kamu udah gak mau lagi sama aku, bilang. Jangan menghindar dan bersikap acuh. Antarkan aku kepada kak Farhan, kembalikan aku padanya. Jangan siksa aku seperti ini," keluh Arifa. Suaranya bergetar, bahkan air matanya mengalir begitu saja. "Ku mohon, aku ini perempuan. Siapa sih yang mau ngerasain kehilangan? Aku pun gak mau ... dengan kamu yang juga menjauh, membuatku merasa berjuang sendiri. Tubuhku udah terluka, tolong .... jangan buat luka pada hatiku juga."
Berharap Danish yang sedari tadi mematung memunggunginya bisa luluh. Tapi setelah Arifa menghentikan suaranya, Danish pergi begitu saja dari kamar itu dan menutup pintu cukup kencang.
"Seburuk itukah aku di matamu? sampai melihatku terpuruk seperti ini pun rasanya kamu tak sudi." Arifa bermonolog dalam hatinya. Ia tergugu, hingga bantal yang dipakai basah karena air matanya.
Sementara itu, Danish langsung pergi keluar rumah menuju garasi mobilnya. Kemudian ia memilih salah satu dari beberapa mobil sport yang ada di sana. Setelah itu ia pun pergi mengendarai mobil dengan cukup cepat.
__ADS_1
...----------------...
Beberapa jam berlalu, Danish tiba di sebuah rumah peninggalan mendiang ibunya di kota Y. Kebetulan hanya ada Bowo di sana. Laki-laki itupun menyambut kedatangan tuannya.
"Malam Aden. Loh kok sendirian aja? istrinya mana?" tanya Bowo ketika baru saja mengunci rumah itu.
"Malam Pak Bowo, istri saya di rumah Pak. Saya mau menginap malam ini di sini," jawab Danish. Wajahnya tidak seramah biasanya, Bowo pun menyadari itu.
"Oh, kalau gitu ini kuncinya Den. Saya mau pulang dulu ya, permisi," ucap Bowo sembari memberikan kunci rumah lalu pamit dari hadapan Danish.
"Iya Pak."
Setelah Bowo pergi, Danish masuk ke dalam rumah, tak lupa ia mengunci pintunya kembali dari dalam. Sesaat kemudian, napasnya terasa berat. Untuk menghela saja rasanya tertahan. Danish segera ke dapur untuk mengambil air.
Habis itu, Danish duduk di kursi makan. Bayangannya tertuju pada Arifa yang tampak sedang duduk berhadapan dengannya. Memori itu berputar ketika mereka masih menikmati indahnya pengantin baru di bulan-bulan awal pernikahan. Bahagia, penuh dengan canda dan tawa, serta makan sepiring berdua pun begitu sangat romantis.
Laki-laki itu cukup lama tertegun di meja makan. Sampai malam tak terasa beranjak pagi, Danish pun baru merasakan kantuk. Akhirnya ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
...----------------...
Pagi menjelang, di kediaman Danish. Sebuah mobil baru saja terparkir di halaman rumah. Lalu seorang perempuan berparas cantik pun turun dari sana.
Balutan dress model span berwarna hitam dengan lekukan tubuh yang terekspose, membuat perempuan itu tampak seksi. Ia berjalan menuju pintu.
Dan setelah tiba di depan pintu rumah besar itu, ia pun menekan bel yang ada di samping pintu tersebut. Sorot matanya sangat berseri. Hingga pintu itu terbuka, ia melihat seorang pelayan rumah berdiri dihadapannya.
"Danish nya ada Bi?"
...Bersambung ......
__ADS_1