Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Sekali Seumur Hidup


__ADS_3

"Apa mempelai perempuan sudah siap?" tanya seorang crew wedding organizer yang memastikan kalau acara pernikahan hari ini harus berjalan dengan lancar.


"Sudah," jawab perias pengantin yang baru saja keluar dari ruang ganti. Lalu tirai pun dibuka olehnya.


Tampak perempuan berwajah tirus yang berbalut kebaya putih, dengan kepala yang disanggul serta ditancapkan berbagai macam aksesoris untuk mempercantik tampilannya. Perempuan itu tersenyum, menatap pantulan dirinya sendiri dari kaca besar yang ada di depannya.


Mempelai perempuan itu adalah Arifa Nazwa. Setelah tiga bulan lebih mempersiapkan segalanya, Arifa dan Danish telah mantap mengucap janji suci pada hari ini.


Dekorasi ballroom hotel yang begitu mewah bertemakan sebuah kerajaan negeri dongeng berwarna putih dengan dasar langit-langit berwarna ungu muda. Sebuah acara pernikahan yang menjadi impian banyak perempuan, terutama Arifa.


Semua anggota keluarga baik dari pihak Arifa maupun Danish tampak hadir dalam acara tersebut. Dress code yang mereka pakai pun senada yaitu berwarna biru dongker. Memang itulah konsep yang telah kedua mempelai inginkan sejak awal.


Tidak hanya itu, ketika Arifa berada di gawang pintu ballroom, hendak masuk ke dalam. Wajah-wajah bahagia pun turut mengiringi langkahnya untuk menghampiri sang mempelai laki-laki yang telah menunggu di pelaminan. Senyum merekah dari kedua mempelai, seakan menyambut cinta masa depan yang begitu cerah.


Setelah ini, Danish dan Arifa akan mengarungi sebuah mahligai rumah tangga yang tidak akan selalu berlayar di laut yang tenang. Ombak ketika badai menerpa pun akan menjadi silih berganti, menguji kekuatan cinta pada keduanya.


Satu jam sudah acara janji suci telah diikrarkan bersama. Kini Danish maupun Arifa telah resmi menjadi sepasang suami istri. Tangis haru begitu dirasakan para tamu yang hadir. Sebab keduanya telah ditinggal oleh orang tua masing-masing untuk selama-lamanya.


Kedepannya, berharap bahagia akan menyambut mereka. Sekali menyucap ikrar janji pernikahan, untuk seumur hidup mengarungi air kehidupan bersama.


Para tamu pun dipersilahkan menyantap hidangan yang telah disediakan. Dan juga bisa berfoto ria dengan kedua mempelai yang tampak serasi itu.


"Teh, kita mau foto ya!" ucap Dinda yang bersama tunangannya naik ke atas pelaminan, disusul dengan kedua orang tuanya serta adik semata wayangnya, Zaki. Mereka pun berswafoto dengan senyum sumringah.


Setelah mereka turun, tampak Bianka yang menggandeng tangan Aldi serta kedua orang tua Bianka maupun Aldi ada di belakang mereka. Satu per satu naik ke atas pelaminan, lalu semuanya.

__ADS_1


Bukan hanya itu, hidangan hotel bintang lima sengaja Danish kerahkan untuk menjamu para tamu undangan supaya puas dengan adanya pernikahan ini. Tak lupa buah tangan yang telah kedua mempelai siapkan sebagai kenang-kenangan untuk mereka bawa pulang.


Di sudut ruangan, terdapat foto booth dengan sebuah figura besar tanpa kaca dengan tulisan 'Happy Wedding Arifa & Danish'.


Tak terasa acara pernikahan yang diselenggarakan di ballroom hotel telah memasuki batas waktu yang telah di tentukan yaitu hanya selama empat jam lamanya. Tamu yang kebanyakan dari kolega Danish serta konsumen tetap camilan Arifa datang silih berganti. Dan kini mereka telah meninggalkan tempat acara.


Kedua mempelai pun diarahkan crew ke ruang ganti. Memang, Danish serta Arifa mengadakan acara sekaligus dalam satu hari, tujuannya agar sekalian capek.


Setelah berganti pakaian dan menghapus make up lalu menggantinya dengan make up tipis yang biasa sehari-hari Arifa pakai. Keduanya pun langsung bertolak ke kota Y untuk berbulan madu.


Sebelum acara pernikahan, barang-barang milik Arifa yang ada di tempat kost telah pindah ke kediaman Danish yang kini menjadi rumahnya juga. Jadi, koper yang mereka bawa untuk ke kota Y isinya barang mereka berdua.


Mobil pun telah terparkir di depan lobby hotel. Tangan Arifa pun dilingkarkan pada lengan Danish ketika keduanya berjalan dari ruang ganti menuju mobil. Sesampainya di lobby, mereka pun bergegas masuk ke dalam. Setelah pintu tertutup, mobil pun melaju.


"Iya, very very happy!" seru Arifa sambil tersenyum lebar.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Arifa dari sang suami.


"Sayang, apa kamu akan memintanya malam ini juga?" tanya Arifa dengan hati-hati. Sebenarnya perempuan itu merasa canggung membahas hal sensitif baginya. Tapi demi komunikasi bisa berjalan dengan baik, dia singkirkan lebih dulu rasa segan itu.


"Ya ... kalau kamu sudah siap, kenapa enggak? kamu penasaran ya rasanya bagaimana, hayo? atau jangan-jangan kamu sudah edukasi lebih dulu?" ledek Danish yang berhasil membuat pipi istrinya memerah karena malu.


Sebab, Lina dan Dinda yang hampir setiap hari main ke kediaman Danish selalu mendoktrin Arifa tentang malam pertama. Awalnya perempuan berwajah tirus itu merasa geli, seolah menggelitik serta darah yang berdesir lebih cepat di dalam nadinya.


Lambat laun, pengetahuan akan hal itupun dapat Arifa pahami. Niatnya agar dirinya tahu, batas normal ketika berhubungan suami istri. Akan tetapi balik lagi pada hasrat masing-masing individu. Selama dalam batas normal, kenapa tidak melakukannya? Terlebih Danish seorang laki-laki dewasa yang tidak pernah memberikan 'soda' nya pada para wanita bayaran.

__ADS_1


Satu lagi, seseorang yang sangat bahagia dari pernikahan Arifa dan Danish tak lain adalah Farhan. Laki-laki itu merasa lega karena telah memindah tangan kewajiban seorang kakak kepada suami adiknya.


Selepas itu, Farhan akan lebih selektif lagi dalam memilih calon masa depannya. Supaya tidak gagal seperti sebelumnya. Akan tetapi, laki-laki itu juga menjadi orang yang paling sedih saat kedua mempelai mengikrarkan janji mereka. Tangis pun tidak bisa dia hindari selama acara.


...----------------...


Cukup lama Arifa dan Danish berada dalam perjalanan, mereka pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di sebuah restauran mewah yang tidak jauh dari perbatasan kota menuju kota Y.


"Pak, makan dulu ya. Pesan aja yang Pak Lee mau, nanti biar billnya di satukan oleh kami," ucap Danish ketika mereka telah masuk ke dalam restauran tersebut. Sopir pribadinya pun mengangguk sopan.


"Terima kasih, Tuan."


"Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu ya Pak," pamit Danish lalu meraih tangan istrinya dengan lembut dan pergi ke sebuah meja yang masih kosong.


"Baik Tuan."


...----------------...


Di tempat lain, Farhan yang masih berada di salah satu kamar yang ada di hotel tempat acara pernikahan adiknya, sedang merapihkan barang bawaannya lalu dimasukkan kembali ke dalam koper. Karena sore ini juga, dia harus segera kembali ke negara tempat tinggalnya.


Tiba-tiba saja ada sorang perempuan dengan wajah cantik menghampirinya.


"Pemisi ... "


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2