Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Hampa dan Hambar


__ADS_3

"Orang suruhan saya menemukan ibumu pingsan ditengah hujan deras tepat di halaman rumah lama kalian."


Arifa merasa tersentak. "Apa Om Danish mengetahui semua tentang keluargaku sampai ke lubang semut sekalipun?" tanyanya dalam hati sambil melirik dan terdiam.


"Kemudian saya suruh mereka membawanya ke sebuah mansion pribadi saya. Dan menaruh dia di sebuah ruangan. Saya beri dia mulai dari makan dan minum. Tapi entah kenapa beberapa hari terakhir pelayan di mansion bilang, dia tidak makan sama sekali. Akhirnya dokter beranggapan asam lambung naik, itu membuat nyawanya tak tertolong. Sebelum dia meninggal, saya sempat memberinya sebuah pilihan. Pertama kamu harus menikah dengan saya atau dia yang akan saya bunuh sebagai balasannya karena telah menghilangkan nyawa ibu saya."


Penjelasan Danish dengan nada yang penuh penekanan itu, membuat Arifa merasa dia memang bukan orang yang benar-benar baik. Seperti dugaannya di awal, perangai Danish patut untuk dihindari. Laki-laki itu bukan orang sembarangan.


Sedangkan Arifa saat ini hanya orang biasa. Hari esok pun dia tidak pernah tahu akan bagaimana dan seperti apa. Seketika Arifa berdiri, menatap Danish dengan lekat.


"Apa selama ini Om memang udah tahu siapa saya dan bagaimana keluarga saya ... dan semuanya?" tanya Arifa, matanya mulai memerah. Emosinya mulai diluapkan.


Danish memang ya, bikin perempuan emosi ditengah-tengah area pemakaman seperti itu. Apa tidak malu dengan para batu nisan yang ada di sana?


"Tepat sekali," jawab Danish, merasa kali ini menang telak atas Arifa.


"See? terima kasih telah menunjukkan dan memberitahu saya tentang semua ini. Setelah ini, jangan pernah muncul lagi di hadapan saya apalagi di hidup saya. Mamah saya udah gak ada, itu artinya hutang nyawa yang Om maksud pun lunas. Permisi!" Arifa begitu puas mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya sejak lama. Kehadiran Danish yang tiba-tiba di hidupnya, memang sudah jadi tanda tanya besar baginya. Kini, wajah laki-laki itu sangat enggan dilihatnya lagi.


Arifa merasa sekarang hidupnya begitu hampa. Sebelumnya, dia selalu berharap bertemu dengan mamahnya ketika sudah berada dimasa tenang. Tapi kini malah menjadi hambar, seseorang yang diharapkan telah pergi meninggalkannya, bukan sementara tapi selama-lamanya.


Dengan langkah gontai, Arifa pergi meninggalkan makam mamahnya dan juga Danish yang masih mematung di sana. Tidak ada raut rasa bersalah pada wajah laki-laki itu.


Semua yang telah didengar dan dilihat oleh Arifa hari ini, benar-benar membuatnya sangat terpuruk. Akan tetapi kelemahan dari sisi lain dirinya itu, sengaja tidak dia tunjukkan. Karena jika itu terjadi, seorang musuh akan bersorak kemenangan di depan wajahnya. Ya, mulai detik ini Danish adalah musuhnya.


Arifa segera memesan taksi online melalui sebuah aplikasi yang ada di ponselnya. Ingin rasanya segera sampai di tempat kost dan meluapkan rasa sedih di atas kasur. Bahkan, terlintas dipikirannya ingin pindah juga dari tempat kost yang ditempatinya saat ini.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, taksi online berhenti di depannya. Danish sama sekali tidak mengejar Arifa yang kini telah masuk ke dalam sebuah mobil dan kemudian pergi dan menghilang dari pandangannya.


Sepanjang jalan, air mata itu tak henti-henti berderai membasahi pipi tirusnya. Dia hanya terus memandang ke luar jendela mobil. Padahal tidak ada yang menarik di sepanjang jalan yang dia lalui. Hanya deretan pertokoan serta para pedagang kecil yang tengah sibuk menjajakan dagangannya.


"Hah!" Arifa berseru seolah ada sebuah cahaya yang sekelebat lewat di depan matanya. Otaknya tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.


"Apa aku berjualan camilan secara online aja ya? lagi pula bisa membantu si ibu penjaga kedai itu kalau ramai pembeli. Kenapa gak dicoba? Oke Arifa, cukup nangisnya. Sekarang harus bangkit, kamu pasti bisa!" kata Arifa dalam hatinya, menyemangati dirinya sendiri. Lalu menghapus air matanya.


...----------------...


Pukul tujuh malam, Arifa baru saja tiba di tempat kost. Dilihatnya, pintu depan yang tadi sempat rusak ternyata telah selesai di ganti. Kendati demikian, dia langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali.


Arifa bersandar dibalik pintu, menghembuskan napas panjang karena merasa hatinya sudah lebih lega. Setelah itu, dia pergi mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Tak butuh waktu lama, Arifa telah selesai mandi dan memakai piyama tidurnya. Perutnya yang berbunyi sejak tadi, sampai tidak dihiraukan. Ironisnya dia merasa perih pada bagian ulu hatinya. Warung makan di dekat tempat kostnya lumayan jauh, mode mager pun telah menguasai dirinya. Alhasil dia memesan makanan lewat aplikasi online.


Dia benar-benar ingin menghindari Danish sebisa mungkin. Walau sebenarnya apa yang dikatakan laki-laki itu tadi hanya secara garis besarnya saja. Baginya, tidak ada urusan apapun lagi dengan Danish itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuk kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang.


Tok, tok, tok, tok.


Arifa beranjak dari kamarnya dan pergi ke ruang depan setelah mendengar suara ketukan pintu yang ia sangka seorang driver online yang membawa pesanannya.


Ceklek. Setelah pintu terbuka, perempuan berwajah tirus itu tercekat. Tenggorokannya pun terasa kering seketika. Apalagi orang yang dilihatnya kini adalah ... Danish.


Laki-laki berpostur tubuh tinggi dan berwajah oriental itu tegak berdiri dihadapan Arifa. Dengan raut wajah tanpa ekspresi membawa sebuah kotak yang dibungkus oleh plastik berwarna putih ditangannya. Dapat dipastikan itu bisa jadi makanan atau ... sesuatu yang disukai oleh perempuan.

__ADS_1


"Kenapa harus dia!" umpatnya dalam hati. Tidak terima dengan kedatangan Danish yang malam-malam gini mengunjunginya.


"Permisi, Mbak saya mau antar makanan."


Arifa menoleh ke samping kiri Danish, ternyata makanan yang dipesannya baru tiba. Dengan cepat Danish membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribuan lalu hendak memberikannya pada driver itu.


"Gak usah! makanannya udah saya bayar lewat aplikasi! lagi pula uang segitu gak cukup buat bayar makanan yang saya pesan," ujar Arifa dengan rasa kesal yang masih menguasai dirinya setiap kali melihat wajah laki-laki itu.


Makanan pun diambil olehnya. "Makasih Pak."


"Sama-sama, saya permisi," pamit driver itu ketika melihat dua orang yang ada di depannya terlihat sedang bersitegang. Arifa pun mengangguk dan driver online itu pergi.


Dengan santainya, Arifa berjalan begitu saja melewati Danish sambil membawa makanan kesukaannya.


"Tidak baik makam junkfood di malam hari. Ini saya bawakan makanan yang sehat supaya kamu tidak pingsan lagi."


"What! tahu darimana dia kalau tadi pagi aku pingsan? astaga! aku harus lebih hati-hati dan cepat segera pindah dari sini," gumam Arifa dalam hati. Napasnya mulai naik turun karena terlalu kesal.


"Makasih udah diingetin. Tapi maaf saya gak bisa nerima. Mulai detik ini jangan muncul lagi dihidup saya. Bukannya Anda akan segera lamaran? kenapa masih mengganggu saya? Udah sana pulang. Saya gak butuh perhatian dari Anda."


JEBRET! Pintu pun ditutup oleh Arifa. Danish yang hendak menahannya, seketika diurungkan. Tangannya mengepal dan entah kenapa dia merasa kesal karena perhatiannya ditolak oleh perempuan 'ingusan' macam Arifa. Padahal banyak perempuan di luar sana yang mengidam-idamkan sebuah perhatian dari seorang Danish.


Kali ini dia mengalah, ditaruhnya makanan yang dibawa tadi di depan pintu. Lalu pergi dari tempat kost Arifa.


"Kenapa dia jadi marah padaku? Padahal aku belum benar-benar membunuh ibunya dengan tanganku sendiri. Dan Sinta meninggal pun karena kesalahan dirinya sendiri." Danish bergumam dalam hatinya seraya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2