Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Jangan Menunggu Kehilangan


__ADS_3

"Iya mau tanya apa?" Danish menatap Rinto. Laki-laki itu siap untuk ditanya.


"Hubungan Pak Danish sama Bu Arifa baik-baik aja kan? lalu apa bu Arifa sudah pulang dari rumah sakit Pak?" cecar Rinto. Sebab akhir-akhir ini, bos nya itu selalu terlihat di kantor dibanding menemani istrinya di rumah sakit.


"Saya gak tahu To. Dan dia sudah pulang dari rumah sakit kemarin siang. Lalu melihat saya bertemu Amora di kafe, sepertinya dia dari arah yang berlawanan. Dia marah dan ... saya belum bisa menjelaskan padanya." Kini Danish terlihat resah, wajahnya murung tidak seperti yang ia tampakkan di depan Arifa.


Rinto mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres dengan bosnya itu. Bahkan ia berpikir, penyakit lamanya muncul lagi.


"Apa karena bu Arifa keguguran?" tanyanya dengan hati-hati. Sementara Danish tertawa menyeringai.


"Pak, bicaralah baik-baik dengannya sekarang. Sebelum orang lain memanfaatkan celah dari permasalahan yg sedang Pak Danish atau bu Arifa terjadi. Siapapun bisa masuk di antara kalian. Entah dari masa lalu Bapak ataupun bu Arifa. Jangan menunggu kehilangan terlebih dahulu baru Bapak menyesal," papar Rinto. Walau usianya dibawah Danish, tapi pemikirannya cukup dewasa.


Danish hanya terdiam, bahkan ia semakin masuk ke dalam pikiran juga hatinya.


"Maaf Pak. saya tidak bermaksud menggurui. Karena saya sangat melihat perubahan sikap Bapak dari sebelum menikah dengan bu Arifa sampai sesudah. Pak Danish sangat lebih bahagia setelah menikah dengannya. Saya harap pernikahan kalian berdua selalu bahagia sampai maut memisahkan," lanjut Rinto. Laki-laki itu sebenarnya sudah tahu sejak awal kalau Arifa keguguran. Tapi dirinya memilih diam dan tidak menyentil soal itu.


Namun rasanya lama-lama menjadi boomerang untuk rumah tangga bosnya. Dengan segenap keberanian yang ada Rinto pun mencoba membantu Arifa supaya Danish bisa terbuka hatinya dan terbebas dari masa lalunya yang selama ini menjadi penyakit mental tersendiri.


"Saya butuh waktu To. Biarkan saya sendiri," titah Danish, memalingkan wajahnya ke arah lain. Rinto tidak bisa berkata lebih banyak lagi kalau raut wajahnya sudah tampak memerah karena berusaha meredam amarah.


"Baik Pak, kalau gitu saya permisi." Rinto menunduk sopan lalu pergi dari ruangan Danish.


Di saat pintu baru saja tertutup, ponsel Danish berdering. Ia segera melihat nama orang yang memanggil di layar ponselnya. Setelah tahu siapa yang memanggil, Danish merasa malas untuk menjawabnya. Akhirnya ia diamkan.


Hingga sampai panggilan yang keempat kalinya, Danish terpaksa menjawabnya.


"Hallo Nish kok lama banget sih jawabnya. Aku nungguin banget loh dari tadi," seloroh suara seorang perempuan yang tak lain adalah Amora.


"Ada apa?" tanya Danish bernada ketus. Perempuan itu masih berusaha menarik hati Danish kembali untuk mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Kamu udah terima bingkisan aku kan?" Amora bertanya balik. Namun Danish hanya mengerutkan keningnya.


"Bingkisan? Oh mungkin masih di rumah," jawab Danish sekenanya. Padahal melihat wujud bingkisan yang di maksud oleh Amora saja belum.


"Apa pelayan itu gak kasih tahu kamu? menyebalkan. Aku sengaja memberikan kado ulang tahun untukmu. Happy birthday ya Danish. Semoga kamu segera meng-acc kerja sama kita lagi," ucap Amora kemudian tanpa memberi kesempatan Danish untuk memotongnya.


Oh iya, Danish sendiri sampai tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Iya terima kasih," jawab Danish bersikap acuh.


"Sama-sama, bagaimana kalau nanti kita makan siang bareng lagi?" Amora masih berusaha mengambil hati Danish.


"Gak bisa! saya sibuk." Akhirnya panggilan dari perempuan itu diputus langsung oleh Danish.


Laki-laki itu langsung menuju sebuah ruangan yang ada di balik ruang kerjanya. Ruangan itu sama sekali belum ada satu perempuan pun yang masuk ke sana. Termasuk Arifa.


Danish menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat kemudian merebahkan tubuhnya disebuah kasur di sana. Matanya menatap langit-langit ruangannya yang berwarna putih itu. Tak lama ia terlelap dalam tidurnya.


Didepannya ia melihat seorang perempuan yang bermain riang dengan anak kecil. Tawa lepas pun terdengar dari keduanya. Danish tanpa sadar tersenyum dan hatinya merasa bahagia. Bagai memiliki keluarga yang sangat sempurna.


Anak kecil itu kemudian memanggilnya.


"Daddy ... ayuk main sama kami!"


Danish kebingungan, mencari orang lain ke sekeliling taman itu tapi nyatanya tidak ada laki-laki lain selain dirinya. Danish pun mengangguk lalu berdiri.


Sayang sungguh sayang, ketika hendak melangkah kan kakinya mendekat ke arah mereka. Kaki Danish terasa sangat berat, bahkan sulit sekali untuk digerakkan. Suara anak kecil dan perempuan itu terdengar semakin menjauh darinya. Danish mulai menangis.


"Daddy! ayuk kemari."

__ADS_1


Semakin tergugu dan air mata membanjiri kedua pipinya. Hatinya begitu sakit terlebih melihat kedua orang yang tadi bermain riang di depannya kini telah menghilang dari pandanganya.


Hanya ada cahaya putih yang menyelimuti, lama kelamaan berubah dari setitik hitam dan menjadi kelam. Danish pun terbangun dengan napas tersengal-sengal duduk di tepi tempat tidur.


Tampak peluhnya bercucuran di sekitar kening dan terjatuh ke atas celananya. Tangisan pun pecah kembali.


Kenapa aku harus merasakan kehilangan lagi? Aku gak sanggup melihatnya dengan wajah sedih itu. Aku gak bisa menahan air mataku ketika berhadapan dengannya. Sulit aku menahan segala amarah yang menjadi titik akhir setiap aku bicara padanya.


Danish kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari sisa keringat dan air mata. Setelah itu merapihkan pakaiannya dan keluar dari ruang rahasia itu.


Matanya tanpa sengaja menangkap seseorang yang tidak asing di depannya. Tepat berhadapan dengannya.


"Selamat ulang tahun, suamiku." Wajah perempuan itu memakai polesan make up dan pakaian yang belum pernah dipakainya di hadapan laki-laki yang kini mematung tanpa berkedip.


Cantik.


Itulah yang dikatakan dalam hatinya. Perempuan itu bahkan tidak lupa dengan hari kelahirannya.


Terlalu lama senyumnya tidak di respon sama sekali, Arifa menaruh kue yang ada ditangannya ke atas meja. Kemudian berjalan menghampiri suaminya lalu langkahnya terhenti tepat berjarak satu kaki diantara mereka.


Dua pasang mata itu saling bertatap dan terpaku.


"Mungkin, ini adalah ucapan ulang tahun dariku yang terakhir. Setelah ini, saya dan kamu bukan menjadi kita lagi ... " Arifa menarik napasnya dalam-dalam. Sementara Danish masih menunggu ucapan Arifa selanjutnya.


"Sekuat dan sesabar apapun saya berusaha mempertahankan pernikahan ini, tetap aja gak ada artinya buat kamu. Saya perempuan yang kamu minta dari kak Farhan untuk dijadikan seorang istri. Bahagia memang awalnya. Tapi setelah saya butuh sosok kamu untuk berada di samping saya pun kamu gak ada. Kamu kira pernikahan ini tuh cuma tentang mengerti kamu aja? saya juga! maaf, saya gak bisa lanjutkan kisah kita. Saya udah terlanjur kecewa sama kamu."


Arifa segera berbalik badan, membelakangi suaminya. Tangis pun kini tidak lagi keluar dari matanya.


"Sayang ... "

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2