Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Suara ponsel yang berdering membangunkan Arifa dari tidurnya. Sebelah matanya ia buka untuk melihat waktu pada jam yang terpasang di dinding kamar barunya. Seketika iapun terkejut dan melihat sekeliling, kemudian ia menghela napas panjang.


Arifa mencari keberadaan ponsel dengan mengikuti suara dan getaran yang dihasilkan dari ponsel miliknya. Ternyata barang yang ia cari, terjatuh ke lantai.


"Untung aja gak sampai retak atau pecah," kata Arifa yang berbicara pada diri sendiri. "Hah? nomor siapa ini?"


Arifa pun menjawab panggilan itu. "Hallo?"


"Neng Arifa dimane? kok Bibi ke rumah sepi banget sih. Padahal masih pagi gini."


Arifa mengenali suara itu yang tak lain adalah bibinya sendiri, Lina.


"Astaga, Bi. Maaf. Rifa udah pindah, nanti Rifa kasih tahu alamatnya lewat pesan ya," jawab Arifa sambil menepuk keningnya.


"Lah pindah? pindah kemane? terus nih rumah siape yang nempatin? abang Neng kemane emang?" Lina menyerbu Arifa dengan berbagai pertanyaan.


"Nanti Rifa jelasin kalau Bibi udah sampai sini ya. Ngomong-ngomong, ada yang anterin Bibi gak?" kata Arifa yang kemudian bertanya pada Lina.


"Ade sih, bapaknya lagi libur hari enih. Iye dah kirim alamatnya sekarang ye."


"Iya Bi."


Sambungan telepon pun kemudian terputus. Arifa segera mengirimkan alamat ke nomor yang tadi menelponnya, setelah itu ia menaruh ponselnya kembali di atas kasur. Lalu bangun dan pergi ke kamar mandi yang tak lupa membawa pakaian ganti.


Tidak lama waktu Arifa untuk mandi, ia pun keluar dan sudah mengganti pakaiannya. Handuk yang ada di tangannya pun ia jemur di jemuran dinding samping kamar mandinya itu.


Dibukanya lemari pendingin yang semalam sempat ia isi dengan bahan makanan yang sengaja dibawa dari rumah. Lantas ia berpikir sejenak untuk memilih makanan yang akan ia jadikan sarapan pagi ini. Lalu pilihannya pun tertuju pada olahan sup krim jagung serta daging cincang, kemudian ia mulai memasaknya.


Setelah menyelesaikan sarapan, mencuci piring, Arifa pun merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil seperti biasa melihat live streaming Haechan. Namun, saat dirinya tengah asik memandangi wajah oriental khas Korea yang dimiliki Haechan, tiba-tiba Arifa mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia segera mengunci layar ponselnya kemudian bangun dan berjalan ke arah pintu.


Sebelum itu ia sempat mengintip ke luar jendela. Ternyata Lina, suaminya dan juga Zaki telah berada di sana. Arifa pun membuka pintu.


"Bi," sapa Arifa dan Lina langsung memeluknya.


"Neng kenape pindah ke sini? jauh banget loh ini. Ape neng bakal sekolah di kampus depan itu?" tanya Lina dengan seberondong pertanyaan lagi. Arifa hanya terkekeh geli.


"Sebelum Rifa jawab, yuk masuk dulu. Gak enak sama tetangga kalau diluar gini," ajak Arifa sambil memberi jalan untuk Lina dan keluarganya.


"Ngomong-ngomong, Dinda kemana Bi? sekolah ya dia?" tanya Arifa setelah mereka duduk di sebuah karpet.


"Iye, biasa si Dinda mah. Berangkatnye pagi banget," jawab Lina."

__ADS_1


"Oh gitu ... Bibi, om, Zaki, mau minum apa? nanti Rifa ambilin." Arifa menawarkan mereka suguhan.


"Gak usah repot-repot Neng. Ini tadinya juga Bibi mah anterin neng makanan ke rumah. Lah pas Bibi tanya tetangga Neng katanya udeh pindah, terus udeh di jual. Itu pegimane ceritanye?"


Arifa menahan napasnya sejenak, kemudian berkata. "Sebentar ya Bi, biar Rifa ambilin minum dulu. Kasihan kan jauh dari rumah ke sini."


Lina pun mengangguk dan Arifa pergi ke dapur. Tak lama, Arifa membawa nampan yang berisi minuman dan juga beberapa makanan ringan.


"Ini diminum sama dicicipi, silahkan Bi, Om, Zaki."


Ketiga tamu Arifa pun meminum dan mencicipi yang dihidangkannya. Lalu Arifa mulai menceritakan kejadian awal kenapa rumahnya itu bisa dijual termasuk masalah Zakaria dan pak Brama.


Setelah diceritakan dengan panjang lebar oleh Arifa, Lina pun kali ini paham.


"Terus mamah Neng sekarang gimana? die tahu kalau Neng jual rumah entuh?" tanya Lina dan Arifa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kalau suatu saat mamah Neng dateng gimane?" tanya Lina lagi.


Arifa mengangkat kedua bahunya, memberi isyarat ketidaktahuannya. "Sampai sekarang pun, Arifa gak tahu mamah dimana. Padahal jarak butik sama rumah gak terlalu jauh, tapi pas papah meninggal, mamah sama sekali gak ada tuh nengokin Arifa atau gak kak Farhan."


Arifa yang merasa sudah lelah dengan Sinta yang sangat keras kepala itu. Air matanya bahkan kini sudah tidak mengalir seperti sebelumnya. Ia merasa telah habis waktu sedihnya. Yang ia tahu dan diingat dalam benaknya, apapun yang telah terjadi dalam hidupnya. Cap apapun yang orang lain berikan untuk dirinya. Arifa berhak bahagia dengan dirinya sendiri. Ia yakin, balasan seperti apapun nanti terhadap apa yang orang tuanya perbuat kepada dirinya, Arifa pasti kuat dan bisa melewatinya.


"Oh iye, ini makanan taro dulu sana di dalam buat makan siang Neng," ucap Lina sambil menggeser rantang yang sejak tadi ada di dekatnya untuk mendekat ke Arifa.


"Same-same. Oh iye Neng, Bibi boleh lihat-lihat gak ini tempat kost nya?" tanya Lina kemudian.


"Boleh, ayuk Bi," ajak Arifa seraya berdiri.


"Mak, Zaki ikut," sahut Zaki yang juga ikut berdiri.


"Saya tunggu di luar ya, mau ngerokok," kata suaminya Lina.


Arifa pun mulai memberitahu ada ruangan apa saja dalam satu rumah ini. Lina pun tercekat dengan design tempat kost yang menurutnya memang sangat mewah dari tempat kost kebanyakan.


"Enih berapa duit sebulannya Neng?" tanya Lina yang mulai penasaran.


"Dua juta lima ratus ribu rupiah, Bi."


Mendengar harga yang disebutkan Arifa, Lina pun terkejut. Tapi dibalik keterkejutannya, ia pun tidak heran dengan harga itu.


"Ye bagus sih emang, wajar aja harganya segitu. Apelagi di tengah kota begini Neng."


"Iya Bi."

__ADS_1


"Oh iye Neng, Bibi gak bisa lama-lama ye. Si Dinda takut nyariin apelagi Bibi lupe kalo kunci rumah malah kebawa sama Bibi," pamit Lina saat mereka telah berada di ruang depan.


"Yah kok sebentar sih Bi," ucap Arifa yang merasa sedih.


"Entar ye, kalo pas lagi pade libur. Kite main lagi ke mari," ucap Lina membuat Arifa terhibur dan tersenyum.


"Bener ya, Bi!" seru Arifa dan Lina pun mengangguk cepat.


Arifa mengantar Lina dan Zaki ke depan tempat kost. Suaminya Lina yang baru saja selesai merokok mengerutkan keningnya.


"Lah mau pada kemane ini?" tanya suami Lina.


"Mau pulanglah Bang. Itu si Dinda ntar nyariin. Pan kunci aye bawa, lupa ditaro di palang pintu," jawab Lina dengan logat betawinya yang sangat kental, begitu pula dengan suaminya.


"Yahilah, atuh kenape lupa. Ye udah nyok! ... kite pulang dulu ye Neng. Bae-bae disini, pinter-pinter jaga diri," kata suaminya Lina dan Arifa pun mengangguk paham.


Mereka telah menaiki motor matic-nya. Arifa pun melambaikan tangan. "Hati-hati dijalan ya Bi, Om ... Zaki awas jangan tidur!" ucap Arifa sambil memberi peringatan kepada Zaki yang duduk di depan.


"Iya Teteh," sahut Zaki.


Setelah mereka pergi, Arifa masuk kedalam dan menutup pintunya kembali. Ia membereskan minuman dan makanan ringan yang masih berada di atas karpet itu dan di taruh kembali ke dapur. Selanjutnya ia pergi ke kamar untuk memainkan ponsel.


Saat membuka layar ponsel, Arifa melihat banyak pemberitahuan di sana, diantaranya ada ia dimasukkan ke dalam grup kampus untuk ospek yang anggotanya lebih dari lima ratus orang.


Saking banyaknya chat yang masuk dari grup itu, Arifa pun mematikan pemberitahuannya. Lalu di salah satu chat di sana mengumumkan tentang ospek esok hari.


"Jadi harus beli peralatan juga," kata Arifa bermonolog. Tanpa berlama-lama, ia menuju meja belajar dan merobek selembar kertas dari dalam binder barunya itu dan menulis bahan apa saja yang akan ia beli di toko alat tulis.


Setelah selesai, ia mencari toko terdekat lewat maps. "Ah ternyata dekat," ucapnya. Arifa langsung mengambil helm dan menyambar kunci motornya untuk pergi ke toko tersebut.


Setibanya di toko, Arifa pun masuk ke dalam dan tak lupa melepas helm lalu menaruhnya di kaca spion motor. Tapi, tiba-tiba ...


BRUK!!


"Aw!" pekik Arifa sambil memegangi bahunya. "Huh siapa sih yang nabrak!" ujarnya yang merasa kesal lalu mengangkat wajahnya sambil melihat ke orang yang menabraknya barusan.


Arifa bersusah payah menelan ludahnya saat ia mengetahui orang yang kini ada dihadapannya.


"Kamu!"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2