
Sepanjang perjalanan, ke empat orang penumpang yang duduk di kursi belakang tidak ada yang bersuara sama sekali. Hingga akhirnya mereka tiba di stadion. Keempatnya pun satu per satu turun dari mobil.
"Ayuk, Ka!" ajak Arifa pada Bianka, sambil berlari kecil sebagai pemanasan.
"Kamu duluan aja ya, aku mau sama Aldi," ucap Bianka, menolak secara halus supaya bisa berduaan dengan kekasihnya itu.
"Oh, oke," kata Arifa, memaklumi Bianka. Kemudian pergi dari hadapan mereka.
Benar apa yang dibilang oleh Bianka semalam. Akhir pekan di stadion ini sangat ramai. Rata-rata yang datang ke sini untuk sekadar lari pagi ataupun olahraga lainnya. Salah satunya bulu tangkis. Namun tidak sedikit juga yang berswafoto, karena memang tempatnya sangat estetik dan cocok untuk dijadikan background.
Saat Arifa sedang asik berlari sambil membuang segala penat yang ada akhir-akhir ini. Seorang laki-laki ikut berlari beriringan dengannya. Arifa menoleh sejenak lalu beralih kembali.
"Ngapain ikutin saya?" tanya Arifa pada Danish.
"Biar ada teman lari," jawab Danish dengan percaya diri.
Arifa berdesis lalu mengulum bibirnya menahan tawa. "Memangnya Anda gak punya teman buat lari pagi kayak gini?" tanyanya kemudian.
"Bisa saja kalau saya mau. Tapi sayangnya saya tidak mau."
Ucapan Danish membuat Arifa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyeringai. Tanpa memperdulikan Danish, Arifa mempercepat larinya mendahului laki-laki itu. Sebisa mungkin, Arifa menghindari.
"Hei! kenapa kamu tinggalin saya?" teriak Danish saat Arifa sudah hampir menghilang dari pandangannya. Ia tidak ingin kalah, ikut mengejar Arifa.
Sementara itu, Bianka dan Aldi malah asik berswafoto di dalam stadion. Sebelum mereka masuk, Aldi bersusah payah membujuk petugas yang menjaga stadion untuk bisa mengizinkan mereka. Hingga akhirnya mereka bisa masuk tanpa menjatuhkan harga diri. Namun dengan syarat, salah satu petugas penjaga stadion lainnya berjalan dibelakang mereka.
Walaupun Aldi memang terkesan tak acuh bahkan tidak perduli, namun siapa sangka jika Bianka yang meminta sebisa mungkin ia wujudkan. Kalau ditanya tentang perasaan Aldi terhadap Bianka, dia tidak pernah mau untuk menjawabnya. Bianka sering mempertanyakan hal itu.
Di luar stadion, Arifa sesekali menoleh ke belakang, iapun terus berlari saat ia tahu Danish mengejarnya. Dan tiba-tiba ...
BRUK! Arifa menabrak seseorang sampai orang yang ditabraknya itu memeluknya sekuat tenaga supaya Arifa tidak jatuh.
__ADS_1
"Sorry, sorry." Arifa melepaskan diri dari dekapan orang itu. Ketika ia mengangkat kepala dan melihat wajah, kedua matanya terpejam sejenak sambil menghela napas panjang.
Kenapa kebetulan terus sih? Kenapa juga ada buldozer disini? tadi segala peluk-peluk juga lagi!
Umpat Arifa dalam hati. Beberapa langkah tidak jauh dari tempat mereka, Danish menghentikan larinya dan mulai memperhatikan.
"Hai, Arifa. Kebetulan banget ya kita ketemu disini. Kamu sendiri?" sapa Eliezer yang kemudian bertanya padanya.
"Enggak sendiri kok, sama teman-teman," jawab Arifa sambil merapihkan pakaiannya.
"Oh, tapi kok teman-teman kamu gak kelihatan. Mana? gak ada tuh. Lari bareng aku yuk!" kata Eliezer, mengambil kesimpulan.
Arifa tidak menjawab iya ataupun tidak. Ia justeru pergi meninggalkan Eliezer dan lanjut berlari. Akan tetapi rupanya Eliezer masih tak gentar dan malah mengekor di belakang Arifa. Sementara Danish juga mengekor dan terus memperhatikan mereka.
"Arifa tunggu!" Eliezer terus memanggil, namun Arifa tetap berlari tanpa memperdulikan panggilannya. Karena tidak sabar, Eliezer mempercepat larinya lalu menarik tangan Arifa yang membuat perempuan berwajah tirus itu kembali ia dekap.
"Apaan sih tarik-tarik!" kata Arifa yang merasa kesal.
"Arifa, aku cuma mau kenal sama kamu. Mau berteman sama kamu, itu aja. Kamu kenapa sih?" ucap Eliezer membuat Arifa kikuk dan bingung untuk menjawabnya.
Danish yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat mereka, mendengar apa yang diucapkan oleh Arifa barusan. Ia justeru tersenyum, tidak ada rasa heran. Apa Danish tahu latar belakang Arifa? Sementara Eliezer terkejut mendengarnya dan malah mematung di tempat. Kini giliran Danish yang mengejar kemana perginya Arifa sekarang.
Saat telah berlari mengelilingi satu puteran stadion, Danish malah bertemu Bianka dan Aldi yang baru saja keluar dari dalam stadion dengan tangan Bianka yang sambil menggelayut manja pada lengan Aldi.
"Kalian lihat Arifa tidak?" tanya Danish. Bianka dan Aldi saling bertukar pandang lalu menggelengkan kepala bersamaan.
"Enggak, tidak."
"Om, bukannya tadi om sendiri yang nyusul dia? kenapa sekarang jadi kehilangan? Om gak apa-apain Arifa, kan?" tanya Bianka dengan berbagai pertanyaan.
"Ya enggak lah," jawab Danish. Matanya masih melihat ke sekeliling area luar stadion.
__ADS_1
Tiba-tiba, Arifa bergabung dengan mereka dengan napas yang tersengal-sengal serta detak jantung yang cukup cepat. Arifa membungkuk dengan kedua tangan yang ditaruh lutut sambil mengatur napas.
"Kalian udah selesai lari?" tanya Arifa yang telah berdiri kembali.
"Kalian aja, kita mah enggak," jawab Bianka dengan percaya dirinya.
"Loh, kamu kemana emang Ka? bukannya kemarin kamu sendiri yang semangat ajak aku lari pagi?" tanya Arifa kembali yang merasa heran.
"Hehehe, aku sama Aldi abis dari dalam stadion. Terus foto-foto deh. Bagus tahu pemandangannya di dalam, berasa mau nonton piala dunia!" seru Bianka sambil kegirangan. Arifa menghela napas panjang sambil memutar malas bola matanya. "Lain kali, aku ajak kamu ga Fa ke dalam buat foto," lanjut Bianka sambil memainkan alis matanya naik turun lalu tersenyum.
"Hahahaha, ada-ada aja deh kamu, Ka!" kilah Arifa yang juga ikut tersenyum.
"Matahari sudah terik, yuk kita sarapan!" ajak Danish tiba-tiba.
"Dimana om?" tanya Bianka. Sedangkan Arifa dan Aldi menjadi pendengar.
"Ke restauran dekat sini saja," jawab Danish sambil mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh Arifa, Bianka dan juga Aldi.
...----------------...
Setiba di restauran yang Danish maksud, mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam.
"Kalian cari tempat duduk ya sekalian pesan makan sama minum. Saya mau ke toilet dulu," kata Danish sebelum akhirnya pergi dari hadapan mereka.
"Oke Om!" sahut Bianka.
Setelah mendapat meja dan memesan makan serta minum. Arifa merasakan tidak enak pada perutnya. Akhirnya iapun pamit pergi ke toilet.
Dengan tergesa-gesa, Arifa masuk ke dalam toilet khusus perempuan. Beruntung ada satu pintu yang terbuka, ia segera masuk ke dalam. Setelah selesai dan merasa lega, Arifa keluar dari toilet.
Di sudut restauran yang masih dapat terlihat dari depan toilet, Arifa melihat Danish bersama seorang perempuan dengan wajah yang cantik, kulit mulus, serta pandai ber- makeup dan memakai dress span di atas lutut berwarna nude sedang asik bersenda gurau. Lalu, pandangan Arifa pun menoleh ke arah Bianka dan Aldi yang sedang menikmati makanan mereka.
__ADS_1
Oh, jadi daritadi dia gak gabung sama Bianka. Apa perempuan itu yang bakal jadi tunangannya?
...Bersambung ......