Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Babymoon


__ADS_3

Danish sengaja memakai pesawat pribadi untuk liburan kali ini bersama istrinya, karena sedang hamil. Segala fasilitas yang mumpuni pun telah tersedia di dalam pesawat yang akan terbang selama dua puluh lima jam dengan dua kali transit itu. Meskipun awalnya Arifa ragu dengan destinasi tempat rekomendasi dari sang suami yang menurutnya sangat jauh, tapi setelah pertimbangan dan diskusi dengan dokter Sindy, akhirnya di perbolehkan.


Nafsu maka Arifa pun semakin bertambah. Di awal kehamilan, berat badannya bahkan sempat turun tiga kilo. Tapi seiring berjalannya waktu, perempuan itu mampu melawan rasa mual yang kian hadir dengan sugesti pikiran. Tidak mudah memang, karena rasa sayangnya pada sang buah hati harus tetap ia lakukan.


Ketika telah memasuki cabin pesawat, Arifa begitu takjub dengan design yang ada di sepanjang cabin tempatnya berdiri saat ini.


"Sayang, ini seperti bukan di dalam pesawat!" serunya. Danish pun terbahak. Perempuan itu tidak tahu kalau pesawat ini telah lama dimiliki suaminya, tapi sempat terbengkalai karena tidak dipakai lagi dengan dirinya.


Saat tahu sang istri hamil, Danish langsung memerintahkan Rinto untuk melalukan pemeriksaan pesawat di bandara tempat keberangkatan mereka saat ini. Bagian mekanik yang bertugas pun tidak sembarangan, mereka sangat profesional dan ahli di bidangnya. Tidak rugi bagi Danish, kalau pada akhirnya pesawat itu bisa dioperasikan kembali.


"Iya aku sengaja merancang designnya seperti berada di rumah. Aku terinspirasi dari film kartun masa kecil dengan rumah yang dapat terbang dengan ratusan ribu balon berwarna warni," papar Danish merangkul pinggang Arifa yang kemudian dieratkan padanya.


"Aku suka Sayang. Sepertinya perjalanan kali ini akan menyenangkan," ucap Arifa kemudian memeluk sang suami.


"Pasti dong!" sahut Danish lalu terbahak. "Yuk kita duduk, sebentar lagi pesawat akan take off," ajaknya dan Arifa pun mengangguk.


...----------------...


Delapan jam setelah take off, pesawat pun mendarat di sebuah bandara untuk mengisi bahan bakar. Danish dan Arifa turun dari pesawat lalu berjalan-jalan di sekitar bandara. Danish sengaja memilih tempat pendaratan pertama di bandara yang memiliki fasilitas lengkap. Mulai dari mall, tempat makan dan juga hotel.


Berhubung waktu transit ini tidak lama, keduanya hanya berburu makanan mengikuti keinginan Arifa. Bilangnya sih karena bawaan bayi, padahal memang dianya lagi lapar.


Setelah cukup lama berkeliling, mereka masuk lagi ke dalam pesawat. Pilot pun langsung menerbangkan kembali pesawat itu menuju tempat tujuan sang tuan juga nyonya nya.

__ADS_1


"Sayang, perut aku kok kerasa kencang sekali ya?" keluh Arifa yang mulai tidak nyaman dan serba salah dengan posisi rebahan nya saat ini. Danish berusaha untuk tenang dan tidak panik. Laki-laki itu mengelus lembut dan penuh kasih sayang pada perut Arifa yang mulai membuncit.


"Hallo my baby, apa sekarang kamu juga merasa gak nyaman seperti yang dirasakan oleh mommy mu, hm? Tenang Sayang, kita akan liburan bareng kok. Adek baik-baik ya di dalam," ucap Danish lalu memberi kecupan pada perut Arifa.


"Iya Daddy, aku baik-baik kok di sini." Suara Arifa yang tiba-tiba menirukan anak yang ada di dalam kandungannya membuat Danish tertawa lepas. "Sayang, aku mau tanya deh!" serunya.


"Tanya apa tuh Sayang?" Danish memiringkan sedikit kepalanya lalu mengernyit.


"Kalau setelah lahiran nanti badan aku gak seksi lagi gimana? kamu gak bakal tinggalin aku kan?" Arifa bertanya dengan hati-hati. Sejujurnya itu yang sedang ia takuti. Apalagi diluar sana banyak sekali perempuan yang akan terlihat lebih seksi dari dirinya.


"Ya gak gimana-gimana Sayang. Kamu istriku, aku bahkan sudah mengucap sumpah. Mana mungkin aku melanggar janjiku sendiri," papar Danish selembut mungkin supaya Arifa paham akan dirinya yang sebenarnya.


"Mau bagaimana pun bentuk tubuh kamu berubah setelah lahiran, itu hal yang wajar. Sudah ya, jangan memikirkan hal-hal yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya. Aku gak mau kalau kamu dan anak kita malah jadi stres nantinya," lanjut Danish berusaha meyakinkan Arifa.


Semakin mendekati persalinan, perempuan itu sering merasa minder dengan lekuk tubuhnya yang mulai tidak berbentuk. Namun bagi sang suami, tubuhnya saat ini sudah benar-benar selalu membuat mabuk kepayang.


...----------------...


Suasana alam yang masih sangat asri dengan udara sejuknya, membuat mata sepasang suami istri itu begitu dimanjakan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya, silahkan masuk. Saya akan mengantar Anda ke penginapan," ucap seorang laki-laki yang mempersilahkan mereka masuk ke dalam mobil. Tak lupa memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Sepanjang perjalanan, suasana kota kecil ini begitu sepi. Memang sesuai data yang ada di sebuah situs resmi, kalau kota ini hanyalah sebagai kota wisata para konglomerat yang ada di seluruh dunia. Kebanyakan mereka yang berkunjung di sini hanya ingin melepas penat di tengah padatnya kesibukan yang selalu menyita waktu.

__ADS_1


Tidak jauh dari bandara, Danish serta Arifa tiba di sebuah penginapan yang letaknya didekat dengan pantai.


"Terima kasih," ucap Danish pada sopir itu yang juga telah menurunkan beberapa koper miliknya.


"Sama-sama, kalau ada butuh diantar kemanapun yang ada di kota ini, saya siap membantu," ujarnya. Sopir itu memang pegawai dari penginapan yang akan ditempati Danish dan Arifa selama beberapa hari ke depan. Tak lupa ia pun memberikan kunci untuk membuka penginapan tersebut.


"Baik," sahut Danish. Sopir itu menunduk sopan lalu pergi dari hadapannya.


Danish menarik koper-koper itu menuju teras penginapan. Ia pun segera membuka pintunya.


"Waah! bagus banget Sayang!" seru Arifa yang merasa takjub dengan dekorasi di dalam penginapan. Terlebih pada view yang ada di luar jendela kamar, mengarah langsung ke pantai dengan laut lepas berwarna hijau itu.


Danish melingkarkan tangannya pada pinggang sang isti ketika keduanya berada di kamar. "Are you happy?" tanyanya tepat di samping telinga Arifa.


Hembusan napas yang keluar dari hidung Danish membuat Arifa merinding hingga bulu halus yang ada di tangannya seketika berdiri. Walau bukan pertama kalinya, tapi sentuhan Danish yang tahu itu merupakan kelemahan istrinya, membuat sang empunya menjauh dari wajah Danish.


"Hayo! kamu kepancing ya?" ledek Danish. Laki-laki itu semakin mengeratkan tangannya pada pinggang Arifa.


"Ih jangan jahil deh Sayang! kita baru sampai loh ini," timpal Arifa yang tiba-tiba saja suaranya meninggi.


"Yee! siapa juga yang jahil, gak ada tuh," kilah Danish lalu melepaskan pelukannya. Berbalik badan dan berjalan ke arah tempat tidur. "Sini Sayang kita istirahat dulu. Kasihan kamu sama calon anak kita butuh istirahat setelah perjalanan jauh," lanjutnya yang sudah terbaring sembari menepuk-nepuk kan bantal yang masih kosong di sebelahnya.


"Iya Sayang," sahut Arifa lalu menghampiri suaminya.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya memejamkan mata untuk menikmati waktu istirahat yang sangat menenangkan ini.


...Bersambung ......


__ADS_2