
Segera aku keluar dari kamar mandi. Dengan tergesa-gesa aku menggunakan bajuku dan celanaku. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Entah mengapa ketakutan itu tiba-tiba datang. Takut akan ketahuan hubunganku dengan Reni dan takut jika aku dipisahkan dengan Dave, anak laki-lakiku, keturunan pertamaku dan penerus keluargaku.
Braaak...
Pintu kamar mandi terbuka. Tanpa sadar aku membukanya dengan kasar dan terburu-buru. Diana menatap ke arahku dengan tatapan yang... entahlah tidak bisa ku artikan.
Aku harap itu bukan Reni. Ya Tuhan.. tolong aku sekali ini saja, biarkan aku sendiri yang menjauhkan diriku dari Reni meskipun aku tidak yakin bisa segampang itu menjauhinya.
Aku tidak yakin bisa menjauhinya, bukan karena aku mencintainya. Demi Tuhan, sama sekali aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya bingung bagaimana caranya bisa menjauhinya bahakan menghindarinya saja tidak bisa.
Dia bahkan seperti mempunyai radar keberadaanku. Dia selalu ada di manapun aku berada.
"Ada apa? Kenapa gugup begitu?" Diana menatapku penuh curiga.
"Ti-tidak... aku hanya mendengar ponselku berbunyi, jadi... jadi aku cepat-cepat keluar takut itu telepon penting," sungguh bodohnya diriku yang gugup sehingga berkata dengan gagap menunjukkan seperti aku tertangkap basah melakukan sesuatu.
"Telepon ini?" ucap Diana sambil memperlihatkan ponselku hang ada ditangannya.
Aku mengangguk, dan bingung bagaimana caranya aku bisa mengambil ponselku dari tangan Diana.
__ADS_1
Aku mengulurkan tanganku ke arahnya. Diana tersenyum dengan raut wajah yang entahlah aku tidak bisa membacanya.
Dia menaruh ponsel itu di telapak tanganku, namun setelah aku akan menggenggamnya, dia malah mengambilnya kembali, persis seperti sedang mempermainkan anak kecil.
"Diana, apa yang kau lakukan?" tanyaku kaku.
"Kamu menginginkannya kan?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Ada apa sebenarnya denganmu?" tanyaku kembali.
"Kenapa? Kenapa bagaimana?" tanyanya dengan senyum yang mengejekku.
"Anak kecil? Anak kecil katamu?" tiba-tiba dia histeris.
"Ya udah aku minta maaf. Tolong kembalikan HP ku," aku mengiba padanya.
"Kamu pikir aku Dave yang katamu anak kecil?"
"Aku kan udah minta maaf Diana, aku harus bagaimana lagi?"
__ADS_1
"Dan kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu bodohi?"
Aku frustasi, aku bingung harus mengatakan apa pada Diana, sedangkan aku tidak tahu apa yang dia lihat di ponselku.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Lalu kenapa kamu seperti ini? Kita masih dalam situasi berduka, jangan seperti ini, tidak enak jika ada yang mendengar," aku memelankan suaraku dan aku mengiba padanya.
"Siapa Reni? Apa dia selingkuhanmu? Atau dia j****g yang kau sewa?.Atau pelakor yang merayumu?"
Duar....!!!
Hancurlah sudah pertahananku. Aku tidak bisa lagi berkelit. Mungkin bisa aku mencari alasan, tapi mungkin kepercayaannya tidak bisa 100% lagi seperti dulu.
Aaarghhh....!!!
Dasar wanita sialan! Dalam hati aku merutuki wanita itu. Reni si perusak rumah tanggaku. Wanita yang hadir pada saat tidak aku butuhkan. Dan sialnya lagi aku bisa dengan mudahnya masuk dalam jebakannya.
Aku memang bodoh! Ya, ku akui, aku memang bodoh. Aaah... kini aku mengerti apa yang dikatakan oleh Celine, dia mengkhawatirkan keutuhan rumah tanggaku meskipun aku pernah menorehkan segores luka di hatinya.
Dia tetap Celine yang ku kenal, Celine yang baik hati, dan Celine yang tetap ada di hatiku yang terdalam. Dan di setiap apapun aku selalu mengingatnya. Bahkan disaat seperti inipun penuturannya terngiang jelas di telingaku.
__ADS_1
"Apa ini? Cepat jelaskan!" Diana kembali histeris ketika ada suara notifikasi pesan masuk dan dia melihatnya.